BAB 38 - BUNDA DAN GIBRAN

2143 Kata
            Saira dengan harap-harap cemas menunggu jawaban Gibran untuk bersedia menemui bunda. Seperti permintaan bunda dua minggu yang lalu, Saira berniat untuk membawa pacar pertamanya ke rumah untuk dikenalkan pada bunda, Salman, dan Fatih.             Dua minggu berlalu tanpa Saira berani meminta Gibran untuk datang ke rumahnya. Saira khawatir akan banyak hal. Saira khawatir jika Gibran tidak mau datang ke rumahnya, atau Gibran akan merasa terbebani dengan permintaan Saira, atau Gibran merasa terlalu serius untuk dikenalkan dengan keluarga, Saira juga takut Gibran akan minder, dan yang paling Saira takutkan adalah jika Gibran mengajak Saira ke rumahnya. Meskipun Saira sudah sering bertemu dengan Ibu Dewi, namun atmosfernya akan berbeda jika mereka bertemu di rumah.             Gibran tersenyum saat Saira mengutarakan permintaan bunda. Ia dengan semangat berkata, “Wah, serius? Saya seneng banget sih kalau bisa dikenalin sama bunda dan  dua kakak kamu. Langsung merasa jadi orang penting nih, saya,” kata Gibran.             “Kamu mau?” tanya Saira tidak percaya begitu saja.             Gibran mengangguk kemudian meletakkan tangan kanannya di bagian dadanya, “Sebentar!” katanya. Lalu Gibran menarik napas panjang dan tersenyum, “Aku deg-degan sih? Bunda dan kakak kakak kamu akan terima saya gak ya?”             Saira mendengus. “Terima? Emang kamu mau nembak bunda, Mas Salman, sama Mas Fatih?”             “Maksud saya, kan kamu tau kita beda. Siapa tau keluarga kamu punya kriteria lain?”             “Kan Saira udah pernah bilang, bunda gak pernah ngajarin hal yang culas gitu,” kata Saira.             “Pingin yang terbaik untuk anaknya itu bukan hal culas, Saira,” kata Gibran.             “Anyways, kamu mau kan ke rumah ketemu bunda, Mas Salman sama Mas Fatih?” tanya Saira kembali ke topik awal.             “Dengan senang hati!” jawab Gibran mantap. Kemudian senior tingkat akhir itu menambahkan dengan nada bercanda, “Kasih tau dong kalo saya kapten basket, biar saya punya nilai lebih.”             Saira tertawa, “Apaan sih, narsis banget!”             Gibran ikut tertawa dan saat diam, dia menatap Saira.             “Kenapa?” tanya Saira, menyadari Gibran memperhatikannya.             “Cantik,” jawab Gibran membuat Saira tersipu.             Gibran kemudian mengambil botol air mineral yang ada di depannya dan menenggaknya sampai habis. Ia kemudian mengelap keringatnya setelah latihan basket dengan handuk biru yang ia kalungkan di lehernya. Prittt!             Coach sudah memanggil seluruh anggota tim basket untuk kembali latihan. Saat ini Saira memang sedang menemani Gibran latihan basket. Ia sengaja menyempatkan diri untuk membicarakan undangan bunda yang sudah ia simpan pada Gibran.             “Saira pulang, ya?” kata Saira saat Gibran beranjak dari tempat duduknya dan hendak melepaskan handuk birunya.             “Hati-hati, sayang!” balas Gibran.             Saira mengangguk dan berjalan keluar dari lapangan basket dengan perasaan lega dan rasa syukur karena memiliki pacar yang bisa diandalkan seperti Gibran. ***             Saira bangun pagi di hari minggu karena tau Gibran akan datang ke rumah hari ini. Ia bersemangat sekaligus nervous karena khawatir hari ini tidak berjalan sesuai rencananya.             Ia sudah bilang pada bunda dan kedua kakaknya kalau Gibran hanya bisa di hari Minggu karena ia harus bekerja sebagai guru olahraga di taman kanak-kanak di hari Sabtu, sementara di hari biasa, Gibran sibuk dengan latihan basket dan harus membantu ibunya untuk menyiapkan barang jualan untuk keesokan harinya. Tentu saja ini menambah poin plus di mata keluarganya.             “Cieee semangat bener yang hari ini mau diapelin,” goda Fatih saat melihat adiknya memasuki dapur dan mempersiapkan bahan untuk membuat kue.             “Apaan sih Mas Fatih. Biasanya juga Saira bikin kue buat jualan,” kata Saira berkilah.             “Hari Sabtu gini biasanya kamu masih tidur, nanti sore baru bikin kue lagi,” balas Fatih tak mau kalah.             “Awas ya, kalo Mas Fatih ambil kue bikinan Saira,” kata Saira mengancam.             Salman dan bunda yang juga ada di sana hanya tersenyum melihat tingkah kakak beradik ini.             “Gibran ke sini jam berapa, Sar?” tanya bunda sambil membolak-balik kanal di tv pintar dengan remote.             “Katanya sih mungkin sampai sini jam 10, Bun,” jawab Saira. Ia baru saja menerima kabar dari Gibran lewat pesan singkat. Gibran: sayang Saira: hi Gibran: kira2 saya sampai rmh km jam 10 ya Saira: ok hati2             “Sayang…” tiba-tiba saja Fatih berada di belakang Saira saat ia sedang membaca pesan dari Gibran. kemudian, Fatih melanjutkan bicaranya yang seolah-olah menggantung, “sayang banget nih kue kemarin belum habis. Fatih abisin ya, Bun?”             Saira melirik sinis pada Fatih dan segera menutupi layar telepon genggamnya dengan telapak tangannya.             “Oke,” sahut bunda menjawab Fatih.             Fatih kemudian membalas tatapan sinis Saira dengan menjulurkan lidah, seolah-olah berkata “Gue gak ngomong sama lo.”             Saira segera mengunci layar handphone-nya dan mulai membuat beberapa kue basah. Saat ini jam menunjukkan waktu 7 pagi, masih ada tiga jam sebelum Gibran sampai. Saira bisa menyiapkan beberapa jenis kue basah dan lauk pauk untuk Gibran.             Saira memilih brownies sebagai hidangan andalannya yang ia ketahui juga merupakan kue yang Gibran sukai. Selain brownies, Saira membuat beberapa risoles dengan isi potongan wortel dan kentang yang dibalut dengan kulit lumpia dan tepung panir, juga pempek tanpa ikan beserta cuko pelengkapnya.             Setelah selesai dengan makanan ringan, Saira mulai menghaluskan bumbu untuk membuat sayur sop, telur geprek, dan tempe-tahu geprek lengkap dengan sambalnya. Dalam waktu dua setengah jam, Saira selesa menyiapkan semuanya dengan bantuan bunda dan sedikit bantuan Salman.             “Wih, ada yang ulang tahun, Bun?” tanya Fatih meledek Saira.             “Mas Fatih! Dari tadi komentar mulu deh!” karena kelelahan memasak, Saira menjadi mudah marah dan kesal pada kakaknya yang kekanakan itu.             “Hus, ah!” bunda memperingatkan kedua anaknya.             Saira kemudian mandi dan bersiap-siap. Ia memakai pakaian casual agar tidak diledek lagi oleh Fatih. Ia memilih celana chino dengan warna khaki dan kaus hitam dengan lengan 7/8 sebagai atasannya. Selain itu, ia sengaja mencari tutorial messy bun di youtube dan mempraktikkannya.             Pukul sepuluh kurang lima menit, Gibran mengucapkan salam di depan rumah Saira. Bunda memuji Gibran yang datang tepat waktu dalam bertamu dan membuat janji. Tidak terlalu cepat, juga tidak terlalu lambat.             Dalam hati Saira tertawa, ia mengirim pesan pada Gibran saat pacarnya itu mengabarkan kalau ia sudah sampai di sekitar rumah Saira. Gibran: sar, saya udh mau sampai Saira: msh jam 9 Saira: jgn skrg, blm pd siap Gibran: ok             Bunda mempersilahkan Gibran masuk tanpa basa-basi dan menyuruhnya duduk. Sebelum duduk, gibran memberikan buah tangan yang dibawanya dari rumah. Beberapa buah roti goreng buatan ibu yang sudah dijamin rasanya oleh Fatih.             Bunda menerima pemberian Gibran dengan sungkan dan mengucapkan terima kasih, bunda juga menambahkan bahwa lain kali tidak perlu repot-repot.             Saira segera membawa semua yang sudah ia buat—kecuali lauk pauk—dan meletakkan di ruang tamu. Ia juga tidak lupa menghidupkan penyejuk ruangan, karena tau Gibran pasti kepanasan setelah naik TransJakarta dari rumahnya ke rumah Saira.             “Ayo, dimakan ya kuenya. Gibran apa kabar? Gimana sekolah?” tanya bunda. Salman dan Fatih ada di lantai atas, di kamar masing-masing. Bunda sengaja menyuruh mereka masuk ke kamar agar Gibran nyaman.             “Alhamdulillah baik, tante. Tante sehat?” tanya Gibran malu-malu namun sopan.             “Alhamdulillah tante juga sehat. Kata Saira, kamu jadi guru olahraga di TK? Wah seru banget dong,” kata bunda.             “Iya, Tante.”             “Ehm, rumah kamu dimana?”             “Di dekat Pasar Rangun, Tante,” jawab Gibran.             “Oh, tante kurang familiar sih sama daerah itu. Ibu di rumah sehat?”             “Alhamdulillah, Tante.”             “Yaudah, kan tante undang ke sini karena pingin kenalan aja. Abis Saira belakangan ini kalo ditanya lagi apa, jawabnya lagi telpon Kak Gibran, lagi chat sama Kak Gibran, tante jadi penasaran ini Gibran yang sama dengan yang waktu itu bukan sih? Eh ternyata bener. Yaudah, kalian hari ini gausah kemana-mana ya? Saira udah masak banyak, tuh. Dimakan ya? Nanti siang kita makan bareng, Saira juga udah masak lauk-pauk,” kata bunda panjang lebar.             Gibran tersenyum, memamerkan gigi putihnya, “Iya Tante. Makasih banyak.”             “Tante ke kamar dulu ya, pingin istirahat sebentar. See you on lunch, ya,” kata bunda pamit. Membuat Saira bingung setengah mati. Ia pikir bunda akan lama menginterogasi Gibran dan menanyakan macam-macam, begitu juga dengan kedua kakaknya. Namun nyatanya, semua santai saja.             “Iya, Tante. Selamat beristirahat,” kata Gibran.             “Terima kasih,” sahut bunda sembari berjalan ke kamarnya.             Saira menunggu bunda masuk kamar, kemudian pindah ke tempat duduk di sebelah Gibran.             “Nih, cobain kue Saira,” kata Saira membalut satu buat risoles dengan tissue kering dan memberikannya pada Gibran.             Kemudian Saira mendengar suara pelan-pelan dari pijakan di anak tangga. Saira segera menoleh, dan menemukan Fatih dengan senyum usil memandangan Gibran dari belakang.             “Gimana risoles bikinan Saira? Pagi-pagi loh dia masak, kirain mau kedatangan presiden,” kata Fatih sambil menepuk punggung Gibran dengan gaya yang dibuat-buat. Membuat Gibran yang sedang mengunyah hampir tersedak dan batuk-batuk.             “Uhuk, uhuk.”             “Sar, ambil minum gih!” kata Fatih dengan gaya ngeboss. Saira yang melihat Gibran kesulitan bicara langsung menurut pada perintah kakaknya.             Saat Saira kembali dari dapur dengan segelas air mineral, ia melihat Fatih sudah duduk di sebelah Gibran sambil mengunyah kue yang ia buat. Fatih berbicara sesuatu dengan panjang lebar, sementara Gibran mengangguk dengan wajah santai.             Sebenarnya Saira baru saja meninggalkan Gibran dan Fatih sepuluh menit. Agak lama karena ia tidak sengaja menyenggol kue yang membuat kue itu menggelinding sampai di bawah kulkas, sehingga ia harus susah payah mengambilnya.             “Ngomongin apa?”             Fatih menoleh. “Kamu mau ikut gak?”             “Kemana?” tanya Saira kaget. Bisa-bisanya mereka sudah ada janji padahal baru saja ditinggal sebentar.             “Jadwal Mas Fatih sama Gibran hari ini penuh banget, ya gak Gibs?” tanya Fatih dengan menaikkan kedua alisnya, meminta jawaban.             “Iya.”             Saira memandang mereka berdua dengan curiga. “Mau ngapain sih? Kak Gibs, kamu janjian apa sama Mas Fatih?”             “Kak Gibs? Kalian pacaran jangan pakai kak dong. Aneh banget. Panggil aja Gibs, atau sayang!” kata Fatih berkomentar.             Saira dan Gibran diam. Mereka berdua jadi salah tingkat membuat situasi menjadi hening.             “Aduh! Jadi kalian mau kemana sih?” tanya Saira memecah keheningan.             “Kamu tunggu di rumah aja! Ayo Gibs, gue udah ganti baju nih. Lo bawa apa ke sini? Motor apa mobil?” tanya Fatih. Saira memang tidak menceritakan apapun pada keluarganya mengenai kondisi keluarga Gibran, ia merasa tidak perlu.             “E….” Saira berusaha membuat alasan.             “Bis, Mas. Saya gak ada motor atau mobil,” kata Gibran jujur.             Fatih tidak menunjukkan tanda-tanda kaget atau terkejut, dia bahkan tidak berkomentar. Ia hanya berkata,    “Kalo gitu pakai mobil bunda. Bisa bawa mobil kan?” tanya Fatih, seolah tidak memiliki motor atau mobil untuk anak Pelita Mulia adalah hal yang biasa.             “Bisa,” jawab Gibran. Saira mengerutkan dahi, ia bahkan tidak tau bahwa Gibran bisa mengendarai mobil.             Fatih mengangguk dan segera mengambil kunci mobil dari tempat kunci-kunci rumah terkumpul.             “Let’s go. Sar, kamu di rumah aja!”             Saira kemudian mengangguk meski masih penasaran kemana rencana Gibran dan Fatih. Namun pikirannya teralih saat mendengar suara bunda dari dalam kamarnya.             “Saira!” Panggil bunda.             Saira bergegas ke kamar bunda dan melihat bunda sedang memegang kepalanya sambil menahan sakit.        “Bunda kenapa?”             “Bunda pusing banget. Kepala bagian belakang bunda juga sakit. Mual juga,” jawab bunda. “Tolong panggil Salman ya, minta antar bunda ke rumah sakit.”             Saira mengangguk dan berlari ke lantai atas untuk memanggil Salman, namun ia ingat bahwa mobil bunda dibawa oleh Fatih dan Gibran. Saira langsung menepuk dahinya, ia cepat-cepat turun lagi kelantai bawah dan keluar rumah untuk mengejar Gibran dan Fatih.             Di luar rumah, Saira melihat mobil bunda baru saja berhasil meninggalkan rumahnya. Ia cepat-cepat berlari dan berteriak memanggi nama dua orang di dalam mobil.             “Mas Fatih! Kak Gibran!”             Sepertinya Gibran melihat Saira berlari mengejar mereka dari kaca spion. Ia segera memberhentikan mobil dan berjalan mundur.             “Kenapa sayang?” tanya Gibran panik melihat Saira yang kelelahan mengejar mobilnya.             “Bunda sakit, anter bunda ke rumah sakit,” jawab Saira masih ngos-ngosan.             Gibran langsung masuk ke dalam rumah diikuti dengan Fatih. “Mas, saya deketin mobil ke pagar aja. Biar tante gak kejauhan jalannya,” kata Gibran memberi saran. Fatih mengangguk. ***             Atas pemintaan bunda, Saira menunggu di rumah. Sementara Salman, Fatih, serta Gibran ikut mengantar bunda ke rumah sakit.             Saira menggenggam handphone-nya sambil menunggu kabar dari Gibran. Ia khawatir, namun yakin bunda baik-baik saja. Saira: kak gibs             Lama Gibran tidak menjawab, Saira hanya tidur-tiduran sambil memandang layar handphone yang tidak berubah. Kemudian, Gibran memberi kabar setelah beberapa jam. Gibran: iya, sayang Gibran: bunda gak apa2 Gibran: ini mau otw balik Gibran: kata bunda tolong angetin makanan Gibran: bunda lapar Gibran: saya jg *emot menjulurkan lidah*             Saira bingung. Ia berulang kali membaca pesan dari Gibran. Bunda tidak apa-apa, namun bilang lapar dan minta Saira menghangatkan makanan? Saira mengerutkan dahi, namun tetap berjalan menuju dapur untuk mengerjakan perintah bunda. *** “Gibran baik, ya. Bunda seneng liatnya.” – Bunda
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN