Saira belum selesai menghangatkan semua makanan saat bunda, Gibran, Salman, dan Fatih sampai di rumah. Ia baru saja selesai menghangatkan sayur sop. Ia belum sempat menghangatkan nasi dan cuko pempek buatannya. Ia berpikir toh cuko pempek juga tidak seharusnya dimakan ketika hangat.
Bunda pulang dengan wajah pucat, namun kali ini tidak begitu parah seperti saat berangkat tadi. Bunda tersenyum pada Saira dan duduk di bangku ruang tamu dengan dibantu Salman dan Fatih.
“Nyariin Gibran? Masih parkir mobil. Takut banget hilang!” kata Fatih saat melihat Saira celingak celinguk mencari sesuatu.
Saira nyengir, namun kemudian memandang Fatih dengan kesal. Ia malu pada Salman dan bunda karena ketahuan mencari Gibran.
Gibran masuk rumah dengan santai sembari mengembalikan kunci mobil pada tempat Fatih mengambilnya tadi. Saira tersenyum, Gibran sudah seperti penghuni asli rumah ini.
“Aduh, bunda pusing banget pingin langsung minum obat,” kata bunda sambil mengambil plastik sesuai resep dokter.
“Eh, jangan tante! Harus minum obat, soalnya obatnya keras. Nanti tante malah maag. Soalnya ibu juga minum itu,” kata Gibran reflek saat melihat bunda hendak memasukkan obat ke mulutnya.
Melihat kondisi bunda yang urgent, Saira langsung memanggil semua anggota keluarga untuk makan. Ia dengan cepat memindahkan nasi hangat ke dalam mangkuk besar dari dandang.
“Ayo makan, Bunda. Udah siap.”
Fatih dan Salman yang baru saja selesai bersih-bersih dari kamar mandi lantai atas dan lantai bawah langsung menuju ke meja makan. Sementara bunda dan Gibran yang menunggu di sofa ruang tamu, turut menuju meja makan.
Bruk!
Saira segera menoleh. Dilihatnya tubuh bunda tergeletak tidak berdaya di lantai. Saira berteriak histeris, “BUNDA!”
Gibran segera menghampiri tubuh bunda dan memanggil “Tante, tante,” namun bunda sama sekali tidak menjawab. Bunda pingsan. Gibran segera mengangkat bunda ke kamar bunda dengan bantuan Salman.
“Gibran, tolong siapin mobil. Fatih, bawa bunda ke mobil ya. Mas ambil dompet dulu ke kamar. Kita balik lagi ke rumah sakit,” kata Salman memberi perintah dengan reflek. Saira melihat kedua kakaknya beserta Gibran panic mengerjakan perintah Salman. Sementara Saira hanya diam memandang. Ia kemudian segera memasukkan kue-kue yang ia buat tadi untuk dibawa kakak-kakaknya ke rumah sakit.
Saira kembali menunggu di rumah sendirian. Ia mendadak merindukan ayah yang belum pernah dilihatnya secara langsung seumur hidup. Hanya foto-foto pernikahan ayah-bunda dan beberapa foto saat bermain dengan Salman da Fatih di waktu kecil. Serta satu foto di Belanda bersama nenek waktu ayah liburan saat lulus kuliah.
“Ayah, bunda kenapa?” tanya Saira kepada foto mendiang ayahnya. Satu-satunya yang ia simpan di kamarnya sendiri.
Pikiran-pikiran buruk langsung mendatangi Saira. Pikiran-pikiran buruk mengenai bunda yang tidak mampu Saira jabarkan. Ia takut ditinggal bunda seperti ayah meninggalkannya bahkan saat ia belum mengenal ayahnya sama sekali.
Saira menangis tanpa disengaja. Ia merengek seperti anak kecil, bahkan saat kedua kakaknya dan Gibran belum memberi kabar. Saira memeluk pigura foto ayahnya. Ia merindukan ayah seperti sudah sering bertemu dan bercengkrama. Ia merindukan ayah seolah-olah banyak kenangan indah antara dirinya dan ayah. Saira merindukan ayah saat ini, yang bahkan akan membuat orang mengira bahwa Saira sangat dekat dengan ayahnya.
Jika saat ini ayah masih ada, mungkin ayah akan mengantar bunda ke rumah sakit, menenangkan dirinya, dan meyakinkan seluruh anggota keluarga bahwa bunda akan baik-baik saja. Membayangkannya, tangis Saira semakin keras.
Saira kemudian dikejutkan dengan suara mobil di depan rumah. Ia mengintip dan melihat mobil bunda sudah ada di depan, “Bunda udah pulang?”
Saira berjalan menuju pintu masuk rumah dan melihat Fatih berdiri di sana dengan telepon genggamnya. “Kok ditelpon gak diangkat, Sar?” tanya Fatih serius.
“Handphone-nya Saira tinggal di ruang tamu. Saira tadi lagi di kamar. Bunda mana?” jawab Saira sambil menghapus sisa air matanya.
“Saira kenapa nangis?” tanya Fatih yang baru menyadari adiknya sesenggukan. Ia tidak menjawab pertanyaan Saira.
“Saira kangen ayah,” jawab Saira sambil memeluk Fatih. Tangisnya pecah lagi saat ia mengakui bahwa ia merindukan almarhum ayah mereka.
Fatih membalas pelukan adiknya dan menenangkannya. Ia mengelus kepala Saira dan memintanya untuk berhenti menangis.
Saira melepas pelukan Fatih dan mengulang pertanyaannya, “Bunda mana?”
“Bunda gak apa-apa. Tapi, bunda harus dirawat. Kamu siapin baju-baju bunda dan any supplies, ya? Mas Fatih juga siapin baju Mas Fatih. Kayaknya Mas Fatih yang akan jaga bunda,” kata Fatih menerangkan.
Meninggalkan Saira, Fatih bergegas menuju kamarnya, sementara Saira langsung memasuki kamar bunda dan mengambil beberapa baju dan kebutuhan bunda lainnya. Setelah itu, ia merapihkan meja makan dan memastikan tidak ada listrik yang berbahaya jika ditinggal.
Saat Fatih turun dari kamarnya, Saira juga sudah berganti baju dan siap untuk ke rumah sakit.
Saira sampai di rumah sakit saat bunda sudah mendapat kamar rawat dan pindah dari UGD. Bunda sedang makan siang dan orang Saira terkejut saat mengetahui bahwa yang menyuapi bunda adalah Gibran. Bunda dan Gibran tampak akrab sekali.
“Bunda!” panggil Saira dari pintu kamar dan berlari menuju bunda lalu langsung memeluknya. Bunda menyambut pelukan Saira.
“Sayang,” panggil bunda pada Saira.
“Bunda kenapa?” tanya Saira saat ia sudah melepas pelukan bunda.
“Bunda gak apa-apa. Cuma sakit karena tekanan darah tinggi dan beberapa hari ini bunda makan sembarangan,” jawab bunda suara pelan. Bunda terlihat lemah. Lebih pucat dari saat di rumah tadi.
Saira beralih pada Gibran yang berhenti menyuapi bunda karena kedatangannya. “Boleh Saira yang suapin Bunda, gak?”
Gibran tersenyum, “Cuci tangan dulu,” jawabnya.
Saira mengangguk dan berlari menuju toilet di kamar bunda. Kebetulan, bunda dirawat di kamar VIP.
“Jangan lari-lari, Saira,” kata Gibran.
Saira kemudian mengambil makanan di tangan Gibran dan duduk di tempat duduk sebelah bunda. Gibran pindah ke tempat duduk satunya lagi.
“Mas Salman mana?” tanya Saira yang sejak awal belum melihat kakak pertamanya.
“Masih urus administrasi, ketemu dokter, dan urusan lain tadi bilangnya,” jawab Gibran.
Di dalam kamar hanya ada bunda, Gibran, dan Saira. Seperti kata Gibran, Salman sedang ada urusan, sementara Fatih belum kembali karena parkiran rumah sakit penuh. Saira turun duluan di lobi rumah sakit.
“Gibran, maafin tante ya. Tante undang ke rumah malah ngerepotin kamu gini,” kata bunda.
“Gak apa-apa, Tante. Gibran seneng kok bisa bantu. Semoga Tante cepet sembuh, ya.”
Saat Gibran sudah pulang duluan, sementara Saira masih di rumah sakit menunggu Salman kembali dari urusannya, bunda mengatakan sesuatu yang membuat Saira senyum-senyum sendiri.
“Gibran baik, ya. Bunda seneng liatnya,” kata bunda.
Saira tersenyum malu, meskipun yang dipuji bukanlah dirinya. Dan Fatih yang saat itu sudah sampai di kamar, hanya tertawa dan meledek adiknya yang terlihat salah tingkah.
***
“Hai, anggota keluarga baru.” – Saira