Bunda dirawat di rumah sakit selamat lima hari. Salman dan Fatih menjaga bunda bergantian di waktu malam. Sementara di waktu siang, Sairalah yang memiliki tugas untuk menjaga bunda, bergantian dengan Fatih. Selama tiga hari, Saira izin tidak masuk sekolah karena harus menjaga bunda.
Hari terakhir bunda dirawat, Saira pulang cepat dari sekolah setelah berkata jujur pada Bian dan Bu Lisbet bahwa bunda sedang dirawat di rumah sakit. Bu Lisbet memberikan izin. Setelah sholat zuhur, guru matematika itu menyuruh Saira segera pulang dan titip salam untuk bunda.
“Lo mau kemana lagi?” tanya Adnan yang menyadari Saira memakai tas punggung hitamnya setelah tiga hari berturut-turut tidak masuk sekolah.
“Gue izin pulang cepet. Soalnya bunda pulang dari RS hari ini,” jawab Saira.
“Oh.”
Saira berpamitan pada Aliyyah, Bian, dan Nadia lalu berjalan keluar dari kelas. Sesampainya di anak tangga terakhir, Saira mendapati Gibran sedang menunggunya.
“Ngapain kamu? Nanti ketahuan guru, loh,” kata Saira.
“Saya antar sampai gerbang,” jawab Gibran.
Saira menyetujui dengan diam. Dia rindu sekali pada Gibran. Sejak Gibran pulang dari rumah sakit, Saira tidak bertemu Gibran sama sekali. Saira tidak masuk sekolah selama tiga hari, dan Gibran juga tidak sempat menjenguk bunda di hari bisa karena harus latihan basket dan membantu ibu.
“Eh,” kata Gibran dan Saira bersamaan tanpa disengaja.
Mereka berdua tertawa.
“Kenapa?” tanya Gibran.
“Gak apa-apa. Kamu kenapa?”
“Gak penting. Cuma pingin bilang kalo sayang kangen,” jawab Gibran jujur. Ia lalu bertanya lagi, “Kamu kenapa?”
“Waktu itu bunda bilang kamu baik orangnya, bunda seneng liat kamu,” kata Saira.
Gibran diam, tidak langsung berkomentar. Kemudian dia berkata, “Saya seneng dengernya. Bersyukur, malah,” kemudian Gibran menambahkan, “Ibu juga seneng liat kamu, Sar. Katanya kamu mungil dan sopan.”
“Alhamdulillah,” kata Saira bersyukur.
“Ibu pingin ngajak kamu ke rumah. Itu pun kalau kamu mau,” kata Gibran. “Eh, awas!” Gibran menarik lengan Saira karena Saira hampir saja menginjak jalan yang tidak rata. Membuatnya ingin terjatuh.
“Makasih, Kak,” kata Saira. “Saira mau ke rumah Kak Gibs.”
“Tapi rumah saya gak kayak rumah kamu. Gak apa-apa?”
“Emang kenapa-kenapa?” tanya Saira bercanda.
“Oke. Nanti saya bilang ibu.” Kemudian mereka diam lagi, dan Gibran melanjutkan, “Kamu gak usah panggil saya Kak. Panggil Gibs aja atau…”
“Atau?”
“Atau sayang?”
Saira tertawa kecil, “Oke.”
Sampailah mereka di gerbang. Gibran buru-buru berjalan kembali ke kelas sebelum ketahuan oleh security sekolah dan diadukan ke guru. Karena ia mengaku pada guru bahwa ia ada urusan sebentar berkaitan dengan klub basket dan akan segera kembali.
“Gibran kamu ngapain? Katanya basket?”
Saira mendengar suara Pak Ismail, wali kelas Gibran, meneriaki Gibran karena memergokinya tidak sedang berada di ruang olahraga atau lapangan, melainkan di gerbang. Untungnya, ojek Saira sudah datang, sehingga Pak Ismail pastilah tidak melihat Saira.
***
“Halo,” sapa Gibran di seberang telepon di malam hari saat Saira menghubunginya di hari Kamis. Sudah dua minggu sejak bunda pulang dari rumah sakit.
“Halo.”
“Kenapa, sayang?” tanya Gibran.
“Minggu ini kamu mau ikut Saira nyiapin nikahannya Mas Salman gak?” tanya Saira to-the-point.
“Mas Salman jadi nikah?” tanya Gibran.
“Jadi!” jawab Saira excited.
“Sama… Siapa nama seniornya?” tanya Gibran, sebelumnya Saira sudah pernah bercerita lengkap mengenai apa yang didengarnya saat bunda dan Salman bicara serius.
“Asma,” jawab Saira.
***
Gibran benar-benar datang ke rumah Saira di hari Minggu dengan mengenakan kaus lengan pendek dan celan jeans, serta sebuah topi hitam polos.
Gibran sampai di depan rumah Saira tepat pukul delapan pagi dan ternyata Saira dan Fatih sudah menunggu dan memanaskan mobil. Gibran yang sadar sudah membuat satu keluarga menunggu, langsung minta maaf dengan wajah tidak enak.
“Eh, maaf ya? Saya kesiangan ya? Maaf, saya kira maksud Saira pagi-pagi itu…” kata Gibran dengan nada panik.
“Gak apa-apa. Itu tuh, Mas Salman yang mau nikah kelewat semangat, jadi pagi-pagi kita udah dibangunin,” kata Fatih mencairkan suasana yang tadinya awkward karena permintaan maaf Gibran, sementara Salman adalah orang yang kikuk.
“Hahahah kamu mukanya panik banget. Rencana kita emang pergi jam delapan, kok,” kata Saira menenangkan.
Gibran hanya menunjukkan senyum tidak enak. Apalagi ia tidak melihat Salman ada di rumah. Mungkinkah Salman tidak sabar menunggunya sehingga jalan duluan?
“Gibran, kamu apa kabar? Makasih ya waktu tante sakit, kamu mau bantuin,” kata bunda begitu melihat Gibran saat keluar dari kamar dengan pakaian rapih.
“Sama-sama, Tante? Tante udah sehat?”
“Udah, Alhamdulillah. Kamu udah sarapan? Tadi tante bikin nasi uduk tuh, cobain gih,” kata bunda sambil berjalan menuju sofa dan duduk santai di depan tv.
Gibran bingung harus merespon apa. Di satu sisi ia tau bahwa ia sudah ditunggu sejak tadi, tapi di sisi lain ia tidak ingin menolak tawaran bunda, apalagi ia juga belum sarapan karena baru saja pulang mengantar ibu ke pasar. Paling tidak itu yang Gibran ceritakan pada Saira.
“Makasih, Tante. Saya udah makan,” jawab Gibran berbohong.
Saira tau bahwa pacarnya belum makan. Ia kemudian berbisik pada Fatih, “Mas, Gibran belum sarapan. Ajak makan dong.”
Bisikan Saira membuat Fatih langsung ke dapur dan mengambil dua porsi nasi uduk. Meskipun ia sudah makan, ia juga mengambil satu lagi porsi nasi uduk untuknya agar Gibran tidak sungkan.
“Gibs, temenin gua ngobrol di depan yuk, sambil sarapan,” kata Fatih.
Gibran yang diajak Fatih dan melihat dua piring nasi uduk di tangan Fatih, tentu saja tidak bisa menolak. Ia segera mengikuti Fatih ke teras rumah.
Saira tersenyum melihat kakak keduanya itu mau membantunya.
Semalam Saira sudah bercerita panjang lebar mengenai Gibran dan meminta bantuan Fatih untuk lebih baik pada Gibran, agar Gibran tidak merasa rendah diri di antara keluarga Saira.
“Mas, Gibran baik gak?” tanya Saira saat Fatih sedang membaca komik di dalam kamarnya. Saira memang sengaja mendatangi Fatih.
“Baik. Kenapa?”
Saira menceritakan semua tentang keluarga Gibran, dan juga meminta Fatih untuk merahasiakannya dari bunda dan Salman. Biar Gibran saja yang jujur pada keluarga Saira. Saira juga ingin melihat apakah Gibran akan jujur.
“Pantes roti gorengnya familiar. Ternyata emang bikinan Bu Dewi, ya,” kata Fatih saat mendengar bahwa Gibran adalah anak ibu kantin penjual roti goreng.
“Besok kan Gibran ke rumah, Mas Fatih yang baik ya sama Gibran. Jangan diajak yang aneh-aneh kayak kemarin. Biar dia betah,” pinta Saira. Ia tidak menanggapi omongan Fatih.
“Betah sama kamu?”
Saira melempar bantal pada Fatih. “Serius!”
“Iya. Lagian dia gak akan minder. Santai aja.”
“Ya Saira takut aja. Soalnya Saira aja jadian sama Gibran gak sengaja,” kata Saira jujur sambil mengingat kejadian saat Gibran dan dirinya akhirnya resmi pacaran.
“Kok bisa?”
Saira melihat Gibran mulai makan nasi uduk dengan lahap, membuat Saira menertawakan kebohongan pacarnya yang mengaku sudah sarapan. Saira berpindah lebih dekat dengan pintu menuju teras. Ia ingin mencuri dengar apa yang Fatih dan Gibran bicarakan.
“Mas Salman kemana, Mas?” tanya Gibran.
“Pergi ke rumah Pak RT. Mau ngurus tempat akadnya,” jawab Fatih sambil makan dengan ogah-ogahan.
“Mas Fatih udah sarapan ya?” tanya Gibran. Sepertinya ia sadar bahwa Fatih tidak terlihat bersemangat.
Fatih kaget karena terpergok. “Abisan lo gak mau makan, sih. Lain kali makan aja, anggap kayak rumah sendiri,” kata Fatih.
Kata-kata Fatih cukup membuat Saira bersyukur hari itu dan kembali duduk di dekat bunda. Ia bersandar pada bunda yang sedang menonton tv.
“Kamu kenapa sayang?” tanya bunda menyadari ada yang aneh dengan anak perempuannya.
“Gak apa-apa, Bun. Lagi seneng aja,” jawab Saira jujur.
Bunda mengelus kepala Saira yang bersandar pada bahunya. “Gibran itu baik, bunda percaya sama dia. Tapi kamu juga harus pandai jaga diri, ya,” kata bunda menasihati.
“He em, Bunda!” jawab Saira.
Salman pulang tidak lama kemudian dan telah selesai mengurus urusan administrasi dengan otoritas setempat, tepat saat Gibran dan Fatih sudah selesai makan.
“Gibs, gue aja yang nyetir ya. Lo pas pulang,” kata Fatih masuk ke kursi pengemudi.
“Beneran Mas? Saya nyetir pergi pulang juga gak apa-apa, kok,” kata Gibran tidak enak hati.
“Udah, gak apa-apa,” kata Saira menenangkan. Ia kemudian menarik Gibran untuk ke dalam mobil. Bunda duduk di depan, sementara Salman, Gibran, dan Saira duduk di kursi penumpang.
Selama delapan jam bersama keluarga Saira, Gibran sudah diajak kesana kemari untuk mempersiapkan pernikahan Salman. Salman mencari cincin untuk lamaran dan jas yang akan ia kenakan untuk lamaran. Salman meminta bunda untuk memilihkan pakaian terbaik. Meski Salman selalu bilang bahwa pakaian yang ingin dia pilih adalah pakaian yang dibelikan bunda. Entah karena Salman memang sangat dekat hingga memiliki selera yang sama dengan bunda atau karena ia selalu setuju saja dengan yang bunda pilihkan.
“Jadi kamu pilih yang ini juga, Man?” tanya bunda sambil memegang satu stel jas lengkap dengan celananya. Sebuah jas berwarna hitam dengan kerah shanghai yang menurut Saira tak ada bedanya dengan jas lain.
“Iya, Bun.” Salman memberikan jas yang ia pilih kepada penjaga toko di sana.
“Yaudah. Ini berarti tinggal dua anak laki-laki saya yang lain nih belum pilih jas. Fatih, Gibran, pilih jas untuk kalian, ya,” kata bunda bicara pada Gibran dan Fatih.
Mata Gibran membesar. Ia menggeleng pelan kemudian menjawab, “Saya gak usah, Tante. Saya gak usah,” kata Gibran menjawab dengan nada sungkan. Ia terlihat berat hati menerima pemberian bunda.
“Kenapa? Nanti pas lamaran Salman kamu gak datang?” tanya bunda.
“Hah?” Gibran menunjukkan wajah bingung. Sudah pasti ia tidak mengira bahwa ia akan ikut serta ke acara amaran Salman.
“Pilih aja, Gibs,” kata Salman. Gibran baru melihat Salman lunak dan ikut mengajaknya. Biasanya Salman selalu memperlakukannya seperti orang lain, membuat Gibran tidak enak hati jika harus menolak. Namun ia masih ragu.
“Udah ayo sama gue,” kata Fatih sambil merangkul Gibran menuju ke sederet jas formal berwarna gelap. Saira tidak mengikuti mereka. Ia ingin membiarkan Gibran dekat dengan keluarganya.
Sekitar jam dua siang, bunda mengajak ketiga anaknya serta Gibran untuk makan dia sebuah restoran masakan Asia. Bunda memesan sebuah tom yam ayam porsi besar, satu ekor ayam goreng terasi yang dipotong kecil-kecil, aneka macam gorengan, dan sayur kailan.
Saira dengan semangat mengambil nasi untuknya dan untuk bunda, sementara kedua kakaknya mengambil nasi sendiri-sendiri, begitu juga dengan Gibran.
“Ouch,” seru Saira saat tangannya tidak sengaja terkena cipratan kuah tom yam yang masih berasap.
Gibran dengan cekatan mengambil tissue dan membersihkan tangan Saira. Ia juga meniup-niup tangan Saira yang sudah tidak mengaduh lagi. Gibran kemudian membersihkan area di sekitar meja Saira agar tangannya tidak kotor terkena bekah cipratan kuah yang juga mengenai meja.
“Kamu mau ambil tom yam?” tanya Gibran yang langsung mengambil mangkuk kecil di depan Saira dan mengisinya dengan tom yam. Kemudian ia juga menambahkan, “Kamu mau apa lagi?”
“Ayam sama sayur,” jawab Saira.
Gibran mengambil ayam dengan garpu miliknya dan meletakkan di piring Saira, juga sayur kailan yang Saira minta.
“Udah?” tanya Gibran. Saira mengangguk.
“Bukannya hati-hati kamu, Sar. Udah gede masih suka kecipratan kuah,” tegur bunda sambil mengunyah nasi. Sementara Salman dan Fatih sudah tenggelam dengan kunyahan masing-masing.
“Iya, Bun,” jawab Saira.
“Gibran, ayo makan jangan ngurusin Saira terus. Udah gede, dia,” kata bunda sambil mengambil kerupuk udang.
“Iya. Makasih, Tante,” kata Gibran dengan sopan.
Gibran kemudian mengambil beberapa potong ayam dan sayur dengan malu-malu.
“Eh Gibran, kamu panggil bunda aja, jangan tante. Samain kayak Saira,” kata bunda tiba-tiba dengan santai. Bunda kemudian mengambil gelas bening berisih es jeruk dan minum, seolah-olah kata-katanya barusan biasa saja.
Saira tersenyum malu-malu. Belum pernah ada teman Saira yang ditawari bunda untuk memanggil ibunya itu dangan panggilan yang sama dengan dirinya.
“Hah? Gak apa-apa, Tante?” tanya Gibran, ia berhenti melanjutkan makannya.
“Gak apa-apa. Calonnya Mas Salman juga besok manggilnya bunda setelah akad nikah,” kata Fatih santai. Ia kemudian sibuk lagi dengan makanan di piringnya.
“Sasha juga manggilnya bunda. Padahal belum akad,” kata Salman menanggapi omongan Fatih.
“Yeee,” kata Fatih sewot.
“Kak Sasha itu mantannya Mas Fatih yang terakhir. Bunda restuin Kak Sasha, orangnya baik,” bisik Saira pada Gibran.
Bibir Gibran membentuk huruf O.
“Udah, lanjutin makannya, Gibran. Kok langsung berhenti?” kata bunda.
“Hai, anggota keluarga baru,” kata Saira berbisik pada Gibran untuk menggodanya. Gibran menyikut Saira, menyuruhnya diam.
Keluarga dengan satu orang tua dengan tiga anak dan satu anak tambahan itu menyelesaikan urusan mereka di luar hinggal pukul tujuh malam. Salman meminta untuk ditemani mencari hadiah yang ingin ia berikan pada Asma, Fatih pun memiliki keperluan dan ia minta ditemani juga untuk itu. Setelah kembali, barulah Saira tau bahwa yang Fatih maksud dengan urusan adalah game terbaru.
Saira juga turut meminta ditemani oleh seluruh anggota keluarga karena ia harus berbelanja bahan kue dan keperluan dapur. Ia juga minta untuk dibelikan sebuah komik yang baru saja keluar.
Di perjalanan pulang, tiga dari lima orang di dalam mobil tertidur pulas. Saira yang pertama kali tidur, dan bunda menyusul. Sementara Salman entah tidur, atau hanya memejamkan mata sambil menggantungkan earphone tanpa kabel di telinganya. Hanya ada Fatih yang duduk di samping pengemudi yang menemani Gibran menyetir.
“Semua pada tidur, Gibs,” kata Fatih.
“Iya, Mas. Mungkin pada capek,” jawab Gibran.
“Lo mau lanjut kuliah dimana?” tanya Fatih hati-hati.
“Doain saya dapet beasiswa Pelita Mulia ya, Mas,” kata Gibran.
“Wah hebat banget lo. Udah SMA beasiswa, kalau kuliah beasiswa lagi, keren banget sih,” kata Fatih. “Lain kali aja gue sparring dong. Penasaran sama atlet Pelita Mulia kayak apa.”
“Ayo, Mas. Waktu itu kan gak jadi karena mau antar bunda ke RS.”
“Berarti lo kesayangan guru-guru ya, Gibs?”
“Enggak juga sih Mas. Soalnya akademik saya biasa aja.”
“Gapapa. Sama kayak gua.”
***
“Udah Saira, jangan nangis terus” – Gibran