“Ih, kamu cantik banget, Sar,” kata Gibran saat melihat Saira keluar dari ruang make up wanita untuk keluarga mempelai pria. Saira mengenakan sebuah brokat berwarna pink tua dengan beberapa mutiara sebagai hiasan dan kain batik berwarna senada.
Sementara Gibran memakai jas hitam yang dibuat seragam dengan Fatih, dengan sebuah korsase disangkutkan di d**a sebelah kirinya.
“Kamu….” Saira ingin memuji Gibran juga, namun ia ragu.
“Ganteng juga ya?” tanya Gibran percaya diri, membuat Saira mengurungkan niatnya, namun tidak kuasa menahan senyum.
Saira dan Gibran berjalan dibelakang mempelai yang kini sudah sah menyandang status suami istri, Salman dan Asma. Mereka sedang menunggu untuk dipersilahkan memasuki gedung resepsi dan melakukan kirab bersama kedua mempelai. Bunda berpasangan dengan Om Ardi, adik kandung bunda. Sementara Fatih, entah bagaimana berhasil mengajak Kak Sasha, mantan pacarnya.
“Kok Kak Sasha mau pasangan sama Mas Fatih lagi?” tanya Saira saat bertemu Sasha di ruang ganti baju perempuan untuk keluarga mempelai pria.
“Kan kita temen, Sar. Masa putus terus musuhan,” kata Sasha.
Saira menduga bahwa Sasha masih menaruh harapan karena di kampus Fatih tidak dekat dengan siapa pun. Namun Saira tau, hal itu dikarenakan hati Fatih ada pada perempuan lulusan pesantren di sekolahnya, Aliyyah.
“Katanya kamu udah punya pacar ya, Sar?” tanya Sasha.
“Iya, Kak,” jawab Saira malu-malu. “Nanti Saira kenalin, ya,” kata Saira.
“Kapten basket sekolah katanya? Lucu banget sih,” kata Sasha menggoda Saira.
Yang digoda hanya tersenyum malu-malu sambil pura-pura bersikap biasa saja. Saira berusaha tidak terlihat begitu senang punya pacar, meskipun pada kenyataannya, ia ingin memberi tau seluruh dunia bahwa Gibran, si kapten basket sekolah adalah pacarnya.
“Mas Fatih serasi banget sama mantannya,” bisik Gibran iseng pada Saira. Mereka berdiri tepat di belakang Fatih dan Sasha.
Saira tertawa.
“Kayak kita, serasi,” lanjut Gibran.
“Jangan ngomong gitu! Nanti kita putus kayak mereka!” kata Saira menolak disamakan dengan Fatih dan Sasha. Ia bicara dengan bisikan.
“Mereka pasti balikan lagi, karena Aliyyah pasti akhirnya sama Bian, bukan Mas Fatih,” bisik Gibran lagi.
Saira tertawa lagi. Namun sayangnya ia tidak bisa tertawa dengan bisikan. Tawanya pecah. Membuat Fatih menoleh ke belakang. “Sssst!”
Sebelum pesta pernikahan, Saira sudah beberapa kali melihat momen-momen mengharukan antara Salman dan Asma. Setelah akad dinyatakan sah, Saira bisa melihat bagaimana Salman dan Asma masih sangat malu-malu satu sama lain. Mereka terlihat menggemaskan sekali, apalagi ketika Salman mencium puncak kepala Asma yang tertutup kerudung dan Asma mencium punggung tangan Salman dengan lembut. Saira tau, itu adalah kali pertama mereka saling bersentuhan.
Semua hal yang terjadi saat akad, membuat Saira teringat pada saat ia bertemu dengan Asma untuk pertama kali dan langsung mengetahui mengapa Salman jatuh hati. Karakter Salman yang kuat dan tegas, sangat cocok jika didampingi oleh Asma yang tegas, namun lembut. Cara Asma berbicara mengingatkan Saira pada perempuan-perempuan keibuan dengan karir cemerlang. Tidak heran bahwa Asma merupakan asisten dosen. Ia tegas, dan tidak ragu-ragu dalam berbicara. Ia lembut dan tidak terkesan menggurui dan tidak terlihat ada keinginan mendominasi.
Dilihat dari fisiknya, Asma juga cantik. Kulitnya sawo matang, senyumnya manis, tubuhnya tinggi semampai, dan matanya bulat dengan kelopak mata tebal, serta hidung yang mancung.
“Hai, Saira. Aku Asma,” kata pertama yang diucapkan oleh Asma ketika pertama kali Salman mengenalkannya pada Saira. Asma langsung tersenyum. “Mirip Tante, ya?”
Salman mengangguk, “Banyak yang bilang begitu.”
“Hai Kak Asma. Aku Saira,” kata Saira menjawab Asma. “Aku boleh panggil Mba?”
Mata Asma berbinar saat mendengar permintaan calon adik iparnya. “Boleh. Aku suka dipanggil Mba.”
Saira tersenyum mendengar permintaannya dikabulkan. Ia sangat ingin memiliki kakak perempuan yang bisa dipanggil “Mba” dan diandalkan soal masalah dapur dan hal rumah tangga lainnya. Ia lelah memiliki dua kakak laki-laki yang hobi menyuruhnya menyiapkan makanan.
Saira menangis saat waktunya Salman dan Asma sungkem pada bunda dan Pakde Ardi. Hal ini juga terjadi setelah akad dan sebelum resepsi. Saira membayangkan bagaimana saat ia nanti harus sungkem pada bunda dan Mas Salman. Semoga saja ketika saat itu tiba, Gibranlah laki-laki yang berada di sebelahnya dan meminangnya.
Gibran yang selalu siap dengan sapu tangan di salah satu kantung celananya, memberikannya pada Saira. Saira mengambilnya dengan tangan kanannya dan segera menghapus air matanya dengan perlahan agar dandanannya tidak rusak. Gibran kemudian menenangkan Saira dengan menggenggam tangan kiri Saira dan mengelus punggung tangannya dengan ibu jarinya.
“Bunda… kini sudah waktunya Salman untuk mempersunting gadis pilihan Salman yang insya Allah akan menjadi ibu dari anak-anak Salman kelak. Terima kasih atas kebaikan Bunda yang mau merestui kami. Kini kami bersimpuh sebagai tanda bukti pengabdian kami pada Bunda. Terima kasih karena Bunda selalu merawat kami dengan penuh cinta, tanpa kekurangan suatu apapun, meski keadaan terlalu sulit ketika ayah pergi lebih dulu….” Kemudian tangis Saira meledak lagi. Ia tau betapa sulit keadaan keluarganya saat itu. Gibran menenangkannya dan mengelus punggunggnya.
“Udah Saira, jangan nangis terus,” kata Gibran.
Saira mengangguk.
“…..kini kamu harus menjalani kehidupan kami yang baru, menjalankan sunnah Rasulullah. Doakan kami agar kami bisa menghadapi apapun yang terjadi di rumah tangga kami nanti. Doakan kami, kami bisa menjalankan rumah tangga kami di jalan yang Allah SWT ridhoi.”
Tak hanya Saira yang menangis. Salman dan Asma pun juga tampak menangis dan hampir tidak bisa mengendalikan diri mereka. Saira melihat pada saat mereka sudah selesai sungkem pada masing-masing orang tua, masih ada sisa-sisa tangisan di bawah Asma, dan Salman menenangkan Asma dengan mengenggam tangannya dan mengelusnya, persis seperti yang dilakukan Gibran padanya.
Saat kirab selesai, tamu mulai memadati gedung pernikahan. Saira melihat banyak teman Salman yang ia kenal karena sering datang ke rumah. Beberapa dari mereka adalah teman Salman saat SD, SMP, SMA, dan satu orang teman kuliah Salman yang Saira kenal. Dan Saira juga melihat Pak Ali, pemilik café tempat Salman magang dulu beserta beberapa pekerja café yang Saira ingat sering dipanggil Mas Angga yang membawa anak perempuannya yang masih kecil beserta istrinya.
Selain Mas Angga dan Pak Ali, Saira melihat beberapa pekerja café lain yang Saira tidak tau sama sekali namanya. Dan di antara semua itu kenalan Salman yang Saira temui, yang membuat Saira kaget meskipun sebenarnya tidak perlu adalah... ADNAN!