“Sar,” sapa Adnan saat melihat wajah Saira yang kaget karena bertemu dengannya. Ia lupa bahwa Adnan mengenal Salman, dan tidak aneh bahwa ia berada di sini.
“Lo sama siapa?” tanya Saira.
Adnan tidak menjawab, ia hanya mengarahkan wajahnya ke arah Pak Ali yang sedang mengobrol dengan beberapa pekerja café yang menanggapi Pak Ali dengan sungkan.
Mata Saira berkeliling karena ingin mencari Gibran. Ia tidak nyaman mengobrol berdua dengan Adnan sementara Gibran tidak ada. Saira ingat kata-kata Gibran saat ia terlihat terlalu akrab setelah tugas biologi tempo lalu.
Bian sama Aliyyah mana sih? Please at least ada mereka, dong, kata Saira dalam hati. Ia tidak mau mengusir Adnan, namun ia juga tidak enak hati jika ketahuan Gibran. Mata Saira berkeliling lagi. Ia menemukan Gibran sedang berbicara dengan salah seorang wedding organizer. Di acara ini memang Gibran banyak membantu mereka, seperti acaranya sendiri.
“Saira!” Saira menoleh mendapati Aliyyah berjalan menuju Saira. Hari itu Aliyyah cantik sekali. Ia memakai baju terusan panjang berwarna ungu muda berbahan satin yang dipercantik dengna brokat warna senada. Aliyyah juga memakai sepatu hak tinggi berwarna hitam dan Saira bisa melihat Aliyyah menutupi kakinya dengan kaus kaki warna krem sebelum sepatu.
“Aliyyah! Aku tungguin!” kata Saira perasaan lega karena akhirnya ia tidak hanya berdua dengan Adnan.
“Maaf ya, tadinya aku mau dianter abah, tapi abah ada kerjaan. Jadi aku dianter sepupuku. Namanya Fadhil sama Faiza,” kata Aliyyah menunjuk dua orang yang sedang berdiri sambil memandang Saira.
“Hai, aku Saira,” kata Saira memperkenalkan diri.
Fadhil dan Faiza pun turut memperkenalkan diri mereka. Gaya keduanya sama dengan Aliyyah dan sesuai dengan eskpektasi Saira mengenai keluarga Aliyyah.
“Nih, ada Adnan, Al,” kata Saira menunjuk Adnan di sebelahnya.
“Hai, Nan,” sapa Aliyyah sekedarnya.
“Al.” Adnan menyapa balik dengan kaku seperti biasa.
Saira melihat mata Aliyyah berkeliling mencari sesuatu. Kini Fadhil dan Faiza sudah pergi untuk menyantap hidangan yang tersedia setelah sebelumnya mereka sudah menyelemati Salman dan Asma di pelaminan.
“Kamu cari siapa?” tanya Saira.
“Adnan!” seseorang memanggil Adnan dari kejauhan dengan agak keras. Saira menoleh dan dilihatnya Pak Ali menunggu anaknya.
“Gue balik ya,” kata Adnan. Sepertinya ia sudah bisa menebak bahwa Pak Ali mengajaknya pulang.
Saira dan Aliyyah mengangguk dengan ramah, namun setelah itu Saira bisa melihat mata Aliyyah berkeliling lagi, dan berusaha agar tidak terlihat.
“Al,” panggil Saira.
“Hah?”
“Kamu nyari Bian?” tanya Saira.
“Enggak!” kata Aliyyah mengelak.
“Bian gak bisa datang. Barusan nge-chat aku,” kata Saira.
“Oh, kenapa?”
“Ayahnya minta diantar kemana gitu. Aku juga gak terlalu nanya-nanya,” jawab Saira.
“Oh.”
Aliyyah mengelak saat Saira menebak ia mencari Bian, namun setelah Saira bilang bahwa Bian tidak akan datang, Saira melihat mata Aliyyah berhenti berkeliling.
“Saira!” Tiba-tiba Saira mendengar suara Fatih memanggilnya dengan keras. Fatih pasti sudah mengetahui bahwa Aliyyah ada di sampingnya dan ingin mencari perhatian temannya itu.
Entah hanya perasaan Saira atau memang benar, Saira merasa bahwa Aliyyah langsung menundukkan kepalanya saat mendengar suara Fatih. Dan Aliyyah menunjukkan tanda bahwa ia tidak nyaman. Membuat Saira iba pada kakaknya, namun ia mengerti sahabatnya.
“Kenapa?” tanya Saira.
“Sasha mana?” tanya Fatih.
Apa apa-apaan nih? Mas Fatih nyari Kak Sasha di depan Aliyyah?
“Gak liat, Mas,” jawab Saira.
“Kasian dia belum makan,” kata Fatih memberti tahu sesuatu padahal Saira tidak tanya.
“Itu,” kata Saira sambil menujuk sosok yang mirip Sasha sedang mengambil makanan sendirian. “Kak Sasha!”
Orang yang dipanggil menoleh, dan benar saja itu Sasha. Ia segera menghampiri mereka dengan sepiring nasi yang belum dimakan di tangan kanannya.
“Kamu kemana aja?” tanya Fatih pada Sasha yang tiba-tiba menggandeng tangan kirinya yang kosong. Sasha langsung melepaskan tanggannya dari genggaman Fatih dengan perlahan, ia tidak mau membuat Fatih malu.
“Aku abis ambil makanan, baru sempet soalnya abis ngobrol sama temen aku. Ternyata dia temennya Mas Salman,” jawab Sasha.
“Oh iya? Aku kenal nggak?” kata Fatih. Saira merasa suara Fatih bicara pada Sasha kali ini lebih manis dari biasanya.
“Enggak kayaknya, dia temen SMP aku,” jawab Sasha yang agaknya juga menyadari perubahan Fatih.
“Yaudah makan di sana, yuk,” kata Fatih pada Sasha.
Sasha mengangguk.
“Eh ini Aliyyah? Hai, Al,” sapa Fatih dengan suara yang dibuat secuek mungkin. Ia seolah-olah baru menyadari keberadaan Aliyyah di sana.
“Hai, Kak,” jawab Aliyyah.
“Yuk, Sha,” kata Fatih pada Sasha dan keduanya berlalu.
Saira menggeleng-gelengkan kepalanya karena melihat sikap Fatih barusan. Sikap paling kekanak-kanakan Fatih yang pernah Saira lihat. Di antara Fatih dan Salman, Fatih memang lebih manja dan kekanakan. Salman sendiri tidak akan pernah menunjukkan sikap seperti itu.
“Sayang!” kata Gibran mengagetkan tiba-tiba dengan menepuk pundak Saira.
Saira menoleh. Gibran kelihatan sedikit lelah. “Kamu abis ngapain?”
“Itu, tadi bunda sempet pesentolong tamu dari kantor bunda bisa makan di area VIP. Jadi tadi saya bilang ke orang WO-nya, tapi mereka kesulitan nentuin VIP gitu. Kayaknya ada miskom, jadi tadi saya ubah sedikit,” kata Gibran.
“Maafin Saira ya, kamu jadi sibuk banget. Padahal bunda undang kamu buat jadi tamu, bukannya ngerepotin gini,” kata Saira.
“Gak apa-apa,” kata Gibran. “Saya seneng kok.”
Gibran kemudian menyadari ada Aliyyah di sebelahnya, “Eh Aliyyah. Tuh ada Bian,” Gibran menunjuk seorang yang baru saja datang dengan tergesa. Bian memakai kaca matanya dan mengenakan baju batik coklat dan celana hitam serta sepatu pantofel hitam mengkilap. Bian yang pada dasarnya sudah tampan, terlihat lebih tampan dari biasanya.
Aliyyah bingung dan menoleh pada Saira. Saira melipat bibirnya karena ketahuan berbohong.
“Sorry ya gue telat, Sar. Acaranya belum selesai kan?” tanya Bian yang baru sampai.
“Gak apa-apa, baru mau foto-foto kok,” jawab Saira.
Wajah Aliyyah penuh tanda tanya, namun ia tidak akan berani bertanya karena pasti takut ketahuan menunggu Bian.
“Gue salamin Mas Salman dulu, deh,” kata Bian. “Temenin dong, Bang.” Bian meminta Gibran.
Gibran mengangguk dan mengajak Bian menuju pelaminan. Kemudian ia menunggu Bian di bawah pelaminan.
“Kamu nungguin Bian, ya, Al?” tanya Saira saat Bian dan Gibran sudah pergi.
“Enggak,” jawab Aliyyah seperti biasa. Mengelak. Saira hanya tersenyum.
***
“Cewek tadi ya, Tih?” tanya Sasha saat acara sudah selesai dan ia baru saja berganti baju. Sasha dan Fatih berada di luar ruang ganti baju dan secara kebetulan berpapasan degan Fatih.
“Maksudnya, Sha?” tanya Fatih bingung.
“Cewek tadi yang bikin kamu pingin putus?”
“Kan kamu yang putusin aku.”
“Tapi kan karena kamu diemin aku.”
“Aku cuma lagi sibuk aja, Sha.”
Sasha diam, kemudian dia menelan ludah. Mungkin sudah saatnya ia menutup harapan pada laki-laki di depannya. Ia pikir ia masih memiliki kesempatan. Ia masih diterima di keluarga Fatih, dan Fatih tidak terlihat dekat dengan siapa pun.
Tapi ternyata Sasha selama ini salah. Ia kenal betul dengan Fatih. Dan cara Fatih bicara dengan gadis cantik berkerudung bernama Aliyyah tadi, juga perubahan gaya bicara Fatih yang dibuat-buat, terlebih, Sasha sempat menyadari bahwa Fatih terus menerus memandang Aliyyah dari kejauhan, semuanya membuatnya sadar. Tidak ada tempat lagi untuk Sasha.
“Makasih ya Tih buat semuanya. Bye, Tih. Aku pamit sama bunda sendiri aja. Kamu gak usah nemenin,” kata Sasha yang segera berlalu meninggalkan Fatih.
“Sha, kamu mau aku anter pulang?”
Sasha tersenyum tipis, ia menggeleng.
***
“…” – Bunda