BAB 43 - RESTU BUNDA

1158 Kata
            “Bunda,” panggil Saira di suatu malam saat Fatih, Salman dan Asma sudah naik ke lantai atas dan tidur. Sejak pernikahan Salman dan Asma, bunda meminta anak pertama dan istrinya itu untuk menetap di rumah bunda paling tidak satu bulan, sambil menunggu renovasi rumah baru mereka selesai dan siap untuk ditinggali.             “Hem?” tanya bunda yang baru saja selesai mandi sepulangnya ia dari kantor. Handuk masih membungkus rambut bunda dan bunda sedang duduk di depan tv sambil menonton acara komedi sketsa.             “Bunda kan udah sering ketemu Gibran,” kata Saira memulai.             “Iya, terus?” tanya bunda hati-hati. Fokusnya langsung teralihkan ke anak perempuan semata wayangnya.             “Menurut Bunda, Gibran orangnya baik gak?”             “Baik dong. Orangnya sopan dan gak awkward juga sih. Kenapa sayang?”             “Jadi, Bunda restuin Saira sama Gibran kan?” tanya Saira.             “Restu? Emang kamu mau nikah?” tanya bunda sambil tertawa. Ia merapihkan rambut Saira yang sedikit berantakan.             “Bukannya gitu, Bunda. Kalau menurut Bunda, Saira sama Gibran itu gak baik untuk Saira, Saira gak akan lanjut,” kata Saira.             “Baik kok. Gak baik kenapa emangnya? Kamu sendiri, menurut kamu Gibran baik enggak? Kan Gibran lebih sering sama kamu dari pada sama bunda.”             “Gibran baik banget, Bunda. Tapi, kalau kata Gibran nih, Gibran itu beda sama kita.”             “Beda gimana?”             Saira menarik napas panjang. Ia ingin jujur mengenai kondisi keluarga Gibran sebelum semuanya menjadi rumit. Saira sudah siap membela Gibran dan menyebutkan semua kebaikannya jika bunda mulai menolak. Dan terakhir, jika bunda juga tidak suka, Saira harus siap untuk memilih backstreet atau putus.             “Gibran itu anak beasiswa, Bunda. Gibran kan kapten basket sekolah, jadi Gibran dapat beasiswa karena bakatnya dilirik sama ketua yayasan dan direkomendasiin sama couch basket dia yang udah ngelatih dia dari SMP. Dan ayah Gibran udah gak ada, karena sakit kanker waktu dia SMP…” Bunda mendengarkan dengan serius. Dan Saira tidak bisa menebak apa yang ada di pikiran bunda saat ini.             “Terus ibunya?” tanya bunda saat Saira berhenti sejenak dari ceritanya mengenai Gibran.             “Ibunya jualan roti goreng di sekolah.” Sebenarnya dari semua hal yang ingin Saira ceritakan mengenai Gibran, pekerjaan Ibu Dewi-lah yang paling membuat Saira takut bunda tidak bisa menerimanya. Bagaimana kalau bunda tidak setuju jika anaknya berpacaran dengan anak ibu kantin?             “Oh,” sahut bunda. Bibir bunda membentuk huruf O dengan eskpresi yang tidak bisa Saira tebak. Namun ia optimis karena mengetahui bahwa bunda dulunya jika tidak langsung kuliah, melainkan bekerja dahulu dan lanjut kuliah di tahun berikutnya setelah memiliki cukup uang bersama ayah.             “Jadi gimana, Bun?”             “Kamu cerita tentang kondisi keluarga Gibran atau enggak, dari awal bunda seneng kenal sama Gibran karena anaknya sopan dan gak aneh-aneh. Dan bunda seneng dan setujua aja kamu punya teman dekat kayak Gibran. Asalkan kamu jaga diri, dan…” kata bunda.             “Dan?”             Bunda tersenyum. “Dan kamu masih terlalu kecil Saira untuk minta restu ke bunda. Harusnya yang minta restu itu Gibran, itupun nanti pas kalian udah serius.”             “Tapi Bunda gak ngelarang Saira pacaran sama Gibran kan?” tanya Saira memastika.             “Kamu mau Bunda larang? Semua orang tua kan maunya anak-anaknya fokus sekolah, gak pacaran-pacaran dulu, temenan boleh.”             Saira menghela napas. “Tapi Bunda gak ngelarang karena Gibran cuma anak penjual roti goreng kan?”             “Saira,” panggil bunda dengan nada serius. “Gibran anaknya baik, sopan, punya kelebihan, rajin, dan easy going. Dan kayaknya kamu gak pantes deh bilang Gibran cuma anak penjual roti goreng.”             “Iya, maaf Bunda. Maksud Saira, Saira takut Bunda gak suka sama Gibran karena hal kayak gitu. Padahal Gibran anaknya baik banget.”             “Enggak mungkin dong bunda kayak gitu.”             “Oke Bunda!” kata Saira senang.             “Intinya, kalau untuk temenan dekat, bunda gak apa-apa. Asalkan, kalian bisa jaga diri. Karena jodoh gak ada yang tau. Jadi, kalau kalian udah gak deket lagi, kalian gak terlalu menyesal.”             Saira mengangguk, ia berjanji pada bunda untuk menjaga diri.             “Dan kalia masih terlalu kecil buat mikirin restu. Tapi bunda seneng kamu kenalin Gibran ke bunda, daripada kamu diem-diem. Bunda gak suka.”             Saira tersenyum. Ia memeluk bunda hingga gulungan handuk di kepala bunda terbuka, membuat rambut bunda yang masih basah karena habis keramas jatuh ke kepala Saira. Namun Saira tidak peduli, ia sangat berbahagia memiliki bunda yang pengertian.             “Halo!” sapa Saira saat mengangkat telepon dari Gibran setelah ia dan bunda sudah masuk ke kamar masing-masing.             “Halo, Saira. Saya nelpon kemaleman gak?”             “Gak kok, Gibs. Saira baru aja selesai ngobrol sama bunda.”             “Oh iya? Ngobrol apa?” tanya Gibran.             “Ada, deh!”             “Dih! Sombong banget main rahasia-rahasiaan. Kamu tadi habis tata boga langsung pulang ya?” tanya Gibran. Saira memang hari ini ada jadwal ekskul dan bertemu dengan anggota club tata boga, sementara Gibran juga ada jadwal latihan basket, sehingga mereka tidak bisa bertemu sepulang sekolah.             “Iya. Kamu nyariin ya? Tadi Saira capek banget, jadi gak sempet ngabarin kamu.”             “Kamu masak apa hari ini?”             “Tadi sharing resep ayam goreng lengkuas. Tapi kan Saira udah biasa masak di rumah,” kata Saira sombong sambil tertawa cekikikan.             “Ya ampun emang kamu sombong, ya.”             Saira tertawa lagi.             “Sayang,” panggil Gibran.             “Iya?”             “Besok istirahat bareng yuk, di taman anak aksel?”             Hampir saja Saira mengiyakan ajakan Gibran, kalau bukan surat elektronik yang masuk ke inbox email sekolahnya yang tertera di netbook. Sebuah email dari Adnan mengingatkan Saira bahwa ia berjanji pada Adnan untuk berdiskusi mengenai tugas biologi tahap dua dengan teman sekelompoknya. From: Adnan Ali XI.IPA4 (adnanaliipa4@smaspm.co.id) To: Saira Bayu XI.IPA4 (sairabayuipa4@smaspm.co.id) Saira, Kelompok lo bikin ide untuk metode kbm biologi chapter selanjutnya apa? Thankyou, Adnan             “Yah, Saira gak bisa,” kata Saira dengan nada menyesal.             “Oh, yaudah gak apa-apa. Mau ngapain emangnya besok?”             “Mau diskusi kelompok biologi,” jawab Saira.             “Biologi? Sama Adnan dong?” tanya Gibran dengan nada memburu.             Entah mengapa dari semua kelompok belajar yang Saira ceritakan pada Gibran, Gibran mengingat semua kelompok-kelompoknya bersama Adnan. Bahasa Indonesia, Bahasa Asing, dan juga Biologi, meskipun Saira tidak satu kelompok dengan Adnan di pelajaran Biologi, namun Gibran tau bahwa ada beberapa waktu dimana Saira harus berdiskusi dengan Adnan.             “Enggak kok. Diskusinya sama kelompok yang beneran. Barengan Bela, Rania, sama Ais.”             “Oh,” sahut Gibran tenang kembali.             “Kamu kenapa sih sama Adnan?”             “Gak apa-apa.”             Kemudian hening. Sejak Gibran bilang bahwa ia cemburu pada Adnan, keadaan selalu mendadak hening setiap mereka membicarakannya.             “Nighty night, Saira.”             “Kok tiba-tiba?”             “Saya ngantuk. Bye Saira, I love you.”             “I love you more. Jadi jangan mikir aneh-aneh ya.”             Gibran terdengar tertawa. “Dah sayang.” *** “Saya mau snack dan masakan yang dibawa Saira” – Adnan
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN