Hari ini kelas XI. IPA4 akan mengadakan kegiatan menyenangkan lainnya di pelajaran biologi. Sejak Bu Nova memilih beberapa orang untuk menjadi ketua kelompok tanpa melihat nilai atau apapun, semua hal yang berkaitan dengan kegiatan belajar mengajar bersama Bu Nova adalah hal yang menyenangkan.
Ternyata benar kata-kata Gibran mengenai Bu Nova, ia memuji guru wanita tegas itu bukan karena ia anak beasiswa, tapi karena Bu Nova memiliki kemampuan mengajar yang baik.
Seluruh teman-teman sekelas Saira antusias mengetahui mempersiapkan kelas hari ini. Menurut informasi dari Bu Nova minggu kemarin, hari ini setiap kelompok akan memberikan ide bagaimana metode belajar yang paling baik, dan kemudian setiap anak akan diberi soal dari Bu Nova setelah masing-masing kelompok menyelesaikan metodenya. Di akhir, semua nilai akan dibandingkan, dan kelompok yang paling banyak membuat teman-temannya mendapat nilai tinggi, maka akan diberikan kue. Sebelum ini, setiap anak sudah diberi tugas untuk membawa kue.
“Kelompok lo jadi pakai metode apa?” tanya Adnan. Diskusinya tempo lalu dengan kelompok Saira tidak berjalan baik karena banyak anggota yang izin pulang duluan, padahal diskusi belum selesai. Saira yang tidak ingin berduaan dengan Adnan terpaksa berbohong dan pamit pulang.
“Gue pakai flashcard buat hafalin nama ilmiah. Terus ada lagi sih, jadi pakai reward untuk setiap post test juga,” kata Saira menjelaskan dengan semangat, karena beberapa dari metode yang akan diajukan oleh kelompoknya merupakan idenya. “Kalo kelompok lo apa?”
“Sebenernya kelompok gue bingung. Karena masing-masing dari kita kayaknya metode belajarnya ya dengerin aja dengan serius pas di kelas. Atau Aliyyah kan rajin, jadi gak heran kalo nilainya semakin bagus. Nothing special…” jawab Adnan merendah.
Saira mengerutkan dahi dan cemberut mendengar jawaban Adnan. Ia curiga bahwa Adnan tidak ada maksud untuk rendah hati, melainkan ingin menyombong. “Itu metode untuk anak-anak yang terlahir pintar gitu ya?” sindir Saira sambil bercanda.
“Serius gue. Ais bukannya the top one, ya?” tanya Adnan sambil melirik Ais yang sedang membalik halaman buku catatannya.
“Yes, he is…,” jawab Saira, ikutan melirik Ais.
“Terus idenya apa?”
“Ide dia persis kayak yang kelompok lo bilang.”
“Fokus pas dengerin guru di kelas?”
“Iya,” Saira mengangguk lemas. Ia pasrah. “I think genius is nature. Right?”
“Yap, but the execution is nurture. Kalau cuma mengandalkan kepercayaan diri bahwa kita itu jenius dan gak usaha apa-apa sih, gak mungkin kayaknya.”
Saira mengangkat bahu, “Gue gak relate. Gak pernah jadi jenius, Nan.”
Adnan tertawa. Tawa langka yang jarang sekali Saira lihat. Saira bahkan baru tau kalau Adnan bisa tersenyum. Meskipun hanya beberapa detik dan kemudian lelaki kembali memasang wajah dingin dan meninggalkan Saira. Ia kembali ke tempat duduknya.
“Afternoon, class!!” sebuah suara perempuan dewasa memasuki kelas Saira. Ia adalah guru yang ditunggu-tunggu oleh seluruh anak-anak kelas IPA4. Bu Nova terlihat ceria sekali hari ini. Cocok dengan suasana kelas yang juga antusias menyambutnya.
“Good Afternoon, Ma’am,” jawab seisi kelas dengan riuh. Beberapa anak sudah siap dengan peralatan masing-masing untuk menunjang metode yang akan mereka presentasikan.
“Hari ini kita ujian ya?” tanya Bu Nova pura-pura lupa. Jelas sekali ia ingin membuat anak-anak muridnya yang sudah bersiap itu kesal.
Anak-anak langsung riuh dan berisik, mereka protes dan mencoba mengingatkan guru mereka itu bahwa mereka sudah siap untuk metode baru.
“Minggu depan aja, ya?” tanya Bu Nova lagi.
Beberapa anak semakin kesal dan menunjukkan wajah kecewa, sementara beberapa yang lain hanya tertawa, mengetahui guru biologi itu hanya menggoda mereka.
“Semangat banget, sih. Ketua kelas mana?” kata Bu Nova sambil berkeliling mencari keberadaan Bian.
Bian langsung memakai kacamatanya dan mengangkat tangan. Ia kemudian berdiri. “Iya, Bu?”
“Eh, kamu gak pakai kacamata tadi pantes saya saya gak ngenalin,” kata Bu Nova dengan logat bataknya yang berusaha ia hilangkan.
“Iya, lupa saya Bu,” jawab Bian ala kadarnya.
“Kelompok siapa yang duluan? Poin paling rendah sekarang kelompok siapa?” tanya Bu Nova. Ia memang selalu menghitung poin setiap kelompok dan diakumulasi untuk dijadikan penentu siapa yang akan presentasi duluan di pertemuan selanjutnya.
“Kelompok Arm, Bu. Kelompok Nattawut,” jawab Bian.
“Bukannya saya membagi kelompok berdasarkan angka? Kelompok satu, dua, dan seterusnya? Arm itu angka berapa?” tanya Bu Nova. Seisi kelas tertawa.
“Maaf Bu, maksudnya kelompok tiga,” koreksi Bian. Ia juga tidak bisa menyembunyikan senyumnya karena komentar Bu Nova.
“Okay, please.”
Setelah Bu Nova mempersilahkan, Arm sebagai ketua kelompok langsung berdiri diikuti dengan ketiga anggota kelompoknya. Ia kemudian mengirim beberapa halaman materi kepada setiap ketua kelompok melalui email. Materi yang diterima oleh setiap ketua kelompok adalah materi yang sama. Kemudian, setiap kelompok wajib membagi materi yang berbeda kepada setiap anggotanya untuk mereka pelajari.
“Oke, setelah dipelajari nanti bagaimana?” tanya Bu Nov masih belum paham dengan maksud Arm.
“Jadi, sekarang masing-masing kelompok punya expert di setiap materi. Misalkan dari kelompok kami, saya expert di digestive system, nanti tugas saya adalah mengevaluasi anggota saya sehingga mereka bisa menguasai materi digestive system atau pencernaan. Terus Luisa itu expert di respiration, jadi tugas dia adalah mengevaluasi anggota kelompok kami untuk materi respirasi,” jelas Arm.
Bu Nova mengangguk-anggukkan kepalanya. “Good idea. Terus? Cara masing-masing expert supaya anggota kelompok bisa expert juga gimana?”
“Nah, jadi gini bu,” jawab Arm antusias, seolah-olah dia telah menunggu pertanyaan ini diajukan. “Kemarin kita sempat dapat materi konseling dari guru BK. Jadi, masing-masing anak punya metode belajar yang berbeda. Nah, jadi sekarang masing-masing expert jadi punya tugas untuk memberi pengajaran sesuai dengan metode belajar anggotanya. Karena satu expert hanya bertanggung jawab sama tiga anggota, we believe it will be fine,” kata Arm berapi-api.
“Oh…. Good! Give applause, guys!” perintah Bu Nova kepada seluruh anak muridnya setelah Arm selesai mempresentasikan. Ia bahkan lebih dulu memberikan tepuk tangan pada kelompok tiga.
“Thank you,” jawab Arm dengan sopan.
“Okay, jadi perlu berapa lama, Arm?” tanya Bu Nova kemudian.
“Untuk materi yang baru saya kasih, mungkin sepuluh menit cukup untuk masing-masing expert. Setelah itu sepuluh menit lagi untuk expert evaluasi anggotanya,” jawab Arm.
Kemudian setiap orang mulai sibuk dengan email yang mereka terima. Setiap anak kini membuka netbook di depan mata mereka, termasuk Saira yang langsung panik begitu tau bahwa ia merima materi Sistem Produksi. Kayaknya gue gak mampu jadi expert, deh, keluh Saira dalam hati. Ia langsung mencoba menghapalkan materi satu halaman yang ditampilkan di laman emailnya.
Saira menghapal materi semampu yang ia bisa, dan ia tidak mengalami kesulitan sama sekali saat menjadi expert. Ia sangat menikmati mengevaluasi anggota kelompoknya, dan ia juga menikmati saat dievaluasi oleh teman-temannya. Hanya saja, tidak semua anggoata kelompok bisa menjadi expert yang baik. Beberapa tidak berbakat dalam hal mengajar. Saira mendapat nilai 80 untuk setiap materi, namun sayang teman-temannya yang lain unggul, beberapa bahkan mendapat nilai sempurna.
Selanjutnya, Bu Nova memanggil kelompok satu, sebagai kelompok dengan poin paling tinggi. Adnan selaku ketua kelompok, langsung maju ke depan kelas dan menjelaskan metode yang sudah didiskusikan dengan anggota kelompoknya.
Saira mengira Adnan akan mengatakan persis seperti yang ia katakan pada Saira tadi sebelum Bu Nova masuk kelas. Namun ternyata itu hanya intro, Adnan melanjutkan presentasinya mengenai metode yang mereka ajukan.
“Jadi, di setiap materi itu ada kata kunci dan konsep. Nah, di sini kelompok kami ingin semua orang mengerti bahwa konsep dan kata kuncilah yang paling penting dari setiap materi. Konsep itu ibarat fondasi bangunan. Kalau fondasi kuat, maka materi tambahan di atasnya akan kuat juga, dengan catatan, perhitungannya tepat…” jelas Adnan, seluruh kelas langsung mendengarkan penjelasannya yang mudah dimengerti. Apalagi, Adam menampilkan animasi di layar tv di depan kelas dari netbook-nya. Membuat penjelasannya semakin mudah dimengerti.
“Kalau kata kunci, ibarat apa, Nan?” tanya Daud, teman sekelas Saira yang tiba-tiba mengangkat tangan. Ia tampak tertarik dengan yang dijelaskan oleh Adnan.
“Kata kunci itu ibarat identitas gedung itu. Dengan melihat kata kunci itu, kita tau kita sedang membahas materi apa. Karena kata kunci biasanya, berisi tentang sesuatu yang iconic, yang menyebabkan membuat kita notice sesuatu. Contoh, kalau kita lihat bangunan, rumah sakit misalnya, dengan bentuknya, lambangnya, namanya, baleho di depannya misalkan, papan daftar dokter-dokter yang bekerja di sana, dari luar kita tau kalau itu gedung rumah sakit. Mall juga sama. Kalau kita lihat ada logo brand pakaian, ada juga logo restaurant, kita tau kan kalau itu mall? Nah, kata kunci seperti itu,” kata Adnan menanggapi pertanyaan Daud.
“Ada lagi?” tanya Bu Nova, menyadari Adnan sudah berhenti bicara.
“Ada satu metode dari anggota kami, Aliyyah. Dia selalu mencatat semua informasi yang dia terima. Konon, untuk mengikat informasi itu. Jadi, bagi kami mencatat ibarat perhitungan yang matang. Bisakah sebuah bangunan berdiri dengan perhitungan yang tidak benar?” Adnan bertanya kepada seisi kelas.
“Bisa,” jawab beberapa anak.
“Ih, roboh kali,” jawab beberapa anak yang lain. Sementara sisanya diam saja.
“Betul. Bisa, dan tidak akan tahan lama. Gedung akan cepat roboh. Sama seperti informasi yang tidak dicatat. Hanya bertahan sebentar, dan akan hilang. Karena, fungsi mencatat, bukan hanya untuk memindahkan informasi dari kepala kita ke lembaran kertas. Tapi, juga memindahkan informasi dari kertas ke kepala kita. Dengan kata lain, kita harus sering membukanya.” Adnan mengakhiri kalimatnya dengan menujukkan animasi seseorang anak yang sedang mengulang pelajarannya. Di animasi tersebut, anak itu terus menerus mengulang pelajarannya dan sebuah indikator di sebelah gambar anak itu terus bertambah seiring sang anak mengulang pelajarannya.
Seluruh kelas bertepuk tangan tanpa diminta oleh Bu Nova. Bu Nova baru tersadar saat mendengar gemuruh tepuk tangan dari anak-anak muridnya. Ia kemudian mengalihkan matanya dari layar tv ke murid-muridnya.
“Oke, kita coba?” tanya Bu Nova pada Adnan.
Adnan mengangguk dan mengambil modul biologinya. Ia menunjukkan sistem respirasi dengan beberapa kata kunci di sampingnya seperti inspirasi, ekspirasi, alveolus, faringitis, paru-paru, dan lain sebagainya. Adnan menggunakan perumpamaan di setiap penjelasannya agar konsep yang ia maksud bisa diterima. Terakhir, banyak anak sekelasnya yang mengangguk dan menyukai metode pembelajarannya. Namun tentu saja metode ini tidak bisa digunakan untuk sistem kebut semalam, karena seperti penjelasan Adnan, metode ini disempurnakan denga pengulangan dari catatan.
Kemudian sampailah pada giliran kelompok empat, yaitu kelompok yang diketuai oleh Saira. Saira menarik napas panjang untuk menghilangkan groginya. Ia maju ke depan saat Bu Nove mempersilahkannya dan langsung saja melihat Adnan memberikan isyarat untuk menyemangatinya. Ia tersenyum.
“Tell us what you got, Saira,” kata Bu Nova.
Saira mengeluarkan flashcard yang ia sudah siapkan sebanyak jumlah teman-temannya. Ia kemudian membagikannya. “Ini flashcard untuk memudahkan kita menghafal nama ilmiah. Apalagi, biologi itu kan banyak hafalannya. Jadi, ini akan membantu. Flashcard sendiri biasanya digunakan untuk menghafalkan huruf Kanji, Katakana, Hiragana, Hangeul, Hijaiyah, dan lain-lain. Mostly bahasa sih. Tapi, gak ada salahnya kita menghafal nama ilmiah dengan metode ini.”
“Oh I see. Good, impressive. Lalu?”
“Di flashcard ini kita sudah siapin nama ilmiah dan jawabannya serta penjelasannya di sisi yang berbeda, jadi setiap orang bisa menguji dirinya sendiri…” kata Saira menjelaskan dengan malu-malu. Saira melirik ke arah sahabatnya, Bian dan Aliyyah. Mereka berdua tersenyum bangga pada dirinya, sementara saat Saira melirik Adnan, lelaki itu mengangkat jempol kanannya diam-diam. Kemudian Saira melanjutkan, “Terus, supaya semakin semangat di post test nanti, kelompok kami sudah siapin snack, tapi ini buatan saya sendiri untuk rewards. I hope this can motivate you,” kata Saira mengakhiri.
“Kalau seterusnya, yang siapin snack siapa dong? Masa Saira harus kasih snack ke temen-temen yang nilainya bagus terus?” kata Bu Nova. Anak-anak kelas tertawa, namun mereka menunggu jawaban Saira.
“Poinnya adalah, kita harus punya motivasi untuk belajar, Bu,” jawab Saira.
“I like it, Saira. Give applause, guys!”
Seisi kelas lantas bertepuk tangan untuk Saira. Mereka mungkin juga bertepuk tangan karena bersemangat mengetahui bahwa Saira membawa kue. Meskipun mereka sendiri juga membawa kue untuk dibagikan di akhir kelas nanti, sesuai permintaan Bu Nova.
Setelah nilai seluruh kelas sudah diakumulasi, Bu Nova memberi komentarnya seperti biasa. Ia masih merahasiakan kelompok mana yang akan mendapat poin tertinggi untuk metode ini, namun semua anak sudah terlihat sangat antusias.
“Kelompok 1, Adnan?” panggil Bu Nova.
“Ya, Bu,” sahut Adnan sambil mengangkat tangan.
“Inti dari metode kamu sesuai banget dan akan berfungsi untuk semua orang. Tapi sayang, beberapa anak gak suka mencatat, meskipun bagi saya mencatat itu kewajiban. Tapi, jika kamu suka mendengarkan, silahkan kamu dengarkan audio catatan kamu. Karena betul, catatan itu tali yang mengikat ilmu. Jadi, you did well,” kata Bu Nova.
“Terima kasih, Bu.”
“Next, kelompok 2, Cindy?”
“Ya, Bu,” Cindy yang mempresentasikan metode animasi mengangkat tangan.
“Metode kamu menarik. Menonton sebuah animasi yang berkaitan dengan materi tersebut. Tapi tetap, harus berulang kali agar tertanam di kepala. Tapi, apakah semua materi tersedia animasinya? Atau semua anak harus mengedit video sendiri? Tentu saja, kalau itu metode kamu, kamu harus berusaha sendiri dan dengan mengedit, saya yakin itu akan sama seperti mengulang-ulang informasi. Tapi, kelebihan dari animasi ini adalah, targetnya bisa mencakup semua orang. Well done!”
“Terima kasih, Bu.”
“Lalu Arm ya? Nattawut?”
“Yes, Ma’am,” jawab Arm dengan mengangkat tangannya seperti yang lain.
“Metode kamu bagus. Hanya saja, apakah semua orang pantas jadi expert yang membant temannya? Tapi, ide kamu untuk memberi tanggung jawab kepada setiap orang untuk membantu tiga orang lainnya sangat bagus. Hanya tiga orang, saya rasa tidak akan sulit. Kerja yang bagus, kelompok tiga!”
“Terima kasih, Bu.”
“Kelompok empat ya? Saira?”
“Ya, Bu.”
“Saira, flash card is too good. It’s so smart. I can’t believe you suggest it. Mungkin sekedar tambahan, bukan hanya nama ilmiah yang bisa dihafal, tapi juga sistem dan penjelasan lain. Oke, good job, my dear!”
Saira tersenyum. Ia berterima kasih pada Bu Nova dan sangat senang karena mendapat pujian. Ia mengucapkan terima kasih pada Rania, Bela, dan Ais karena kerjasama dan kerja keras mereka juga.
Setelah kelompok lima mendapat komentar dari Bu Nova, Bu Nova mengumumkan kelompok mana yang memberi nilai terbaik. Namun, Bu Nova mengurungkan naitnya, ia bilang bahwa hari ini semua kelompok memberikan hasil kerja yang sangat baik sehingga ia tidak bisa menentukan nilainya, bahkan dengan nilai hasil post test sekali pun.
“Okay, jadi kita voting saja. Siapa yang dapat kita pakai metodenya?” tanya Bu Nova.
Hasil voting menunjukkan ada yang nilai seri antara kelompok Adnan dan kelompok Saira. Maka, Bu Nova menawarkan hadiah untuk kedua kelompok.
“Adnan kamu mau hadiah apa?”
“Saya mau snack dan masakan yang dibawa Saira, Bu,” jawab Adnan dengan wajar serius.
Awalnya seisi kelas diam. Namun, mereka kemudian berisik dan mengatakan bahwa Adnan seenaknya meminta kue Saira. Jelas-jelas semua orang menunggu untuk mencicipi kue Saira karena sudah tau bahwa kue buatan Saira pasti enak.
“Yee enak aja loh. Semuanya juga nungguin dari tadi,” kata Bayu.
“Tau nih Adnan,” kata yang lain menambahkan.
“Tapi bukannya Adnan belum pernah coba masakan Saira ya? Kan anak baru,” komentara Nadia. Membuat anak-anak lain ikut mempertanyakannya.
***
“Ini aku yang sebenarnya.” – Gibran