BAB 45 - TENTANG GIBRAN

2242 Kata
            “Kan Saira jual brownies, gue pernah coba,” jawab Adnan reflek setelah tampak berpikir untuk beberapa waktu.             Saira mengerutkan dahinya. Bikin gaduh aja nih Adnan, katanya dalam hati.                                                                                     ***             Gibran berjalan di samping Saira saat mereka telah menyelesaikan semua kelas masing-masing hari ini. Gibran berjalan di samping Saira dengan cara yang lebih antusias dari biasanya. Saira menoleh, melihat apakah pacaranya baik-baik saja.             “Kamu kenapa? Hari ini kayak seneng banget,” kata Saira sambil mengucek mata kanannya yang gatal.             “Eh, mata kamu kenapa? Jangan dikucek. Sini.” Gibran menggiring tubuh Saira dan menyuruhnya duduk di pinggir kelas di salah satu bangku kayu berlengan di sana. Saira masih sama mengucek matanya yang gatal.             “Gak tau gatel banget,” jawab Saira setelah ia dan Gibran telah duduk.             Gibran menurunkan tangan yang Saira gunakan untuk meredakan gatal di matanya. Gibran menurunkannya dengan perlahan. “Sini dulu sebentar, lihat,” pinta Gibran.             Saira menuruti Gibran. Ia membiarkan tangannya diturunkan oleh Gibran, kemudian ia memperlihatkan matanya pada Gibran agar Gibran bisa memeriksanya.             Gibran berdehem. Ia menelan ludah. “Biasa aja dong Saira ngeliatinnya, saya jadi salting,” kata Gibran. mendengarnya, Saira mengernyitkan dahi.             “Yaudah gausah,” kata Saira. Ia kembali mengucek matanya dan hendak bangkit dari duduk.             “Eh, jangan ngambek dong sayang,” bujuk Gibran. Ia menarik tangan Saira dan menggiring kedua bahu Saira dengan kedua tangannya untuk kembali duduk.             “Merah ya?” tanya Saira setelah Gibran selesai memeriksa matanya.             “Kamu tunggu di sini ya. Saya ambil obat tetes mata. Jangan kemana-mana!” perintah Gibran dengan tegas. Ia membuka tasnya dan meletakkannya di sebelah Saira.             Saira mengangguk. Ia melihat tas Gibran yang ditelakkan di sebelahnya. Kini ia punya tanggung jawab menjaganya sampai Gibran kembali.             Tidak ada yang bisa Saira lakukan sembari menunggu Gibran, Saira memandang tas Gibran yang menarik perhatiannya. Tas Gibran sudah usang. Namun karena Gibran yang memakainya, Saira selama ini tidak menyadari bahwa tas itu sudah terlihat tidak layak pakai. Warna coklatnya sudah tidak lagi berwarna coklat, melainkan pudar dimana. Kepala resleting-nya sudah lepas, Gibran mengikatkan beberapa helai benang wol yang sepertinya ia ambil di ruang basket. Dan sebenarnya, resleting itu sudah tidak berfungsi, karena kain tempat resleting itu sudah robek. Beberapa bagian lain juga sudah robek.             “Sayang, nih. Kamu angkat kepala kamu deh, saya pakein,” kata Gibran yang sudah sampai dan berada di samping Saira.             Saira menurut. Ia mengangkat kepalanya agar Gibran bisa meneteskan obat tetes mata ke mata Saira yang merah.             “Udah?” tanya Saira setelah ia merasa matanya mulai sejuk setelah terkena tetes mata. Ia menurunkan kepalanya dan sisa tetesan obat mata turun, ia seperti habis menangis sekarang.             Sebelahnya?” tanya Gibran.             “Kan sebelahnya gak merah kata kamu,” jawab Saira menolak.             “Nanti sebelahnya juga gak ikutan merah,” kata Gibran ngotot.             Saira memandang Gibran. Ia merasa Gibran begitu perhatian. Membuatnya merasa aman di dekat Gibran.             “Oke,” jawab Saira sambil mengangkat kepalanya kembali.             Gibran dan Saira berjalan kembali hendak pulang setelah urusan tetes mata Saira selesai. Saira belum mengucapkan terima kasih, karena rasanya banyak sekali yang Gibran lakukan untuk dirinya. Haruskah ia membelikan Gibran tas baru? Sebagai rasa terima kasihnya pada Gibran.             “Gibs,” panggil Saira.             “Apa?” tanya Gibran tanpa menoleh.             “Makasih, ya,” kata Saira tiba-tiba.             Gibran menoleh. “Apaan sih kamu?” tanya Gibran sambil tertawa.             “Abis kamu baik banget. Saira merasa terlalu beruntung. What did I do to deserve you?”             Gibran tertawa terbahak-bahak, membuat Saira mengernyit bingung.             “Kamu kenapa sih?” Gibran mengacak rambut Saira, seolah tidak sadar bahwa mereka ada di area sekolah.             “Gak apa-apa,” jawab Saira merengut.             Gibran menarik hidung Saira dengan usil kemudian berlalu ke arah gerbang. Hari ini mereka berjanji akan pergi bersama karena Gibran ingin mengajak Saira ke suatu tempat yang Saira tidak tau.             Seperti biasa, Gibran berjalan menuju Halte TransJakarta diikuti dengan Saira.             “Kita mau kemana?” tanya Saira sambil berbisik saat mereka sudah sampai di dalam TransJakarta. Hari ini TransJakarta terasa lebih sepi. Mungkin karena hari siang menjelang sore.             “Ada deh.”             Saira memandang Gibran bingung. Ia tidak ingin terlalu memaksa Gibran untuk memberitahunya. Ia ingin mengikuti alur saja agar kejutan yang Gibran siapkan tidak gagal.             Dalam waktu setengah jam, mereka sampai di halte yang sama sekali belum pernah Saira hampiri. Halte ini tidak dekat dengan mall atau tempat apapun. Sekitarnya juga bukan tempat makan atau lain sebagainya. Setau Saira, halte ini memang halte kecil, itu mengapa hanya mereka berdua yang turun.             “Mau kemana kita?” tanya Saira lagi tanpa ia sadari, padahal ia sendiri sudah berjanji untuk mengikuti alur dan membiarkan Gibran menyiapkan kejutan untuknya.             Gibran tidak menjawab. Ia hanya menoleh pada Saira dan tersenyum, seolah-olah ia ingin Saira percaya padanya dan dengan begitu Saira tidak akan kecewa. Maka, Saira diam, meski penuh dengan tanda tanya.             Saira dan Gibran berjalan cukup jauh untuk sampai ke sebuah rumah yang Gibran yang tuju. Mereka melewat sebuah g**g sempit yang hanya muat untuk satu buah mobil. Dan di rumah-rumah itu, Saira sama sekali tidak melihat rumah yang cukup besar atau rumah yang memiliki garasi mobil.             “Ini rumah… oh, sorry. Ini kontrakan saya dan ibu,” kata Gibran. Ada senyum pahit di wajahnya yang membuat Saira iba.             Rumah yang Gibran akui sebagai rumah yang ia dan Ibu Dewi tinggali adalah sebuah rumah sederhana tanpa garasi. Begitu pagar kecil dibuka, rumah hanya cukup beberapa langkah untuk sampai ke pintu masuk rumahnya. Sebenarnya, Saira tidak sama sekali melihat bahwa rumah ini terlalu kecil, atau ia perlu iba pada pacarnya, hanya saja jika dibandingkan dengan rumah anak-anak Pelita Mulia, wajar saja jika Gibran rendah diri.             “Ayo, masuk,” kata Gibran setelah membuka pagar dan pintu depan rumahnya.             Saira tersenyum dan berusaha tidak memandang dengan tidak sopan. “Oke,” jawab Saira dengan kecewa.             “Saya biasanya taro motor di sini,” kata Gibran menunjuk sebuah sempit antara pagar dan jendela rumah, yang tentu saja jika ada motor di sana, jendela itu tidak akan bisa dibuka. “Assalamualaikum, Bu. Saira udah sampai, nih,” kata Gibran memberi salam pada Ibu Dewi.             Ibu Dewi keluar dari area belakang dan dengan celemek terpasang di dasternya. Saira tidak tau bahwa Ibu Dewi sudah sampai di rumah sejak tadi. Biasanya, Ibu Dewi akan pulang bersama dengan penjual-penjual kantin sekolahnya dengan kendaraan yang mereka sewa bersama.             “Eh, Assalamualaikum, Bu,” kata Saira sopan. Ia segera menghampiri Ibu Dewi dan meraih tangan ibu itu untuk menyalaminya. Ada aroma bahan makanan yang Saira kenali.             “Waalaikumsalam, Nak Saira. Maaf ya, rumahnya kecil. Ayo, masuk. Silahkan duduk dulu, ya. Semalam Gibran udah bersih-bersih dan rapih-rapih rumah, loh,” kata Ibu Dewi sambil melirik Gibran yang tiba-tiba saja melotot karena perkataan ibunya. Membuat Saira terkekeh.             “Ampe dibersihin, mau kedatangan siapa?” tanya Saira meledek.             Gibran merengut. Baru kali ini Saira melihat Gibran bersikap kekanak-kanakan.             “Nak Saira pasti laper ya? Ibu udah masak. Tadi begitu sampai rumah langsung masak karena kata Gibran, Nak Saira mau datang,” kata Ibu Dewi. Saira memandang wajah Ibu Dewi dan itu membuatnya senang. Ia merasakan ketulusan Ibu Dewi dari cara bicaranya.             “Ya ampun Bu, ngerepotin dong jadinya. Sini, Saira bantuin, Bu,” kata Saira.             “Iya Bu, Saira ini masakannya enak banget, loh,” kata Gibran membanggakan. Saira tersenyum malu.             “Iya, ibu sampai minder nih. Bingung jadinya mau masak apa,” jawab Bu Dewi jujur. Saira tertawa. “Tapi ibu sudah selesai masak. Nak Saira duduk aja dulu. Tunggu sebentar, ya.”             Ibu Dewi kemudian berjalan menuju dapur. Saira yang merasa tidak enak, langsung berjalan mengikuti Ibu Dewi.             Dapur rumah Gibran, meskipun tidak besar, namun sangat bersih dan terang. Saira bisa melihat beberapa hidangan yang sudah siap memenuhi meja dapur. Ternyata Ibu Dewi sudah menyiapkan ayam goreng dengan sambal, tahu tempe, dan lalap. Ibu Dewi juga menyiapkan kol mentah dan daun kemangi sebagai lalapannya.             Saira merlirik ke sebuah piring lain yang di atasnya berisi beberapa bungkus roti goreng yang biasa dijual di sekolah.             “Itu sisa jualan hari ini, sengaja ibu pisahin. Kata Gibran, Nak Saira suka banget roti goreng ibu. Yang waktu itu dibawa ke rumah Nak Saira, gimana? Pada suka, gak?” tanya Ibu Dewi.             Saira mengingat bahwa terakhir kali Gibran ke rumahnya, ia membawa roti goreng untuk bunda, Salman, dan Fatih. Namun, Saira bahkan tidak mencicipinya karena roti goreng itu sudah dihabiskan oleh Salman dan Fatih.             “Bahkan Saira gak dapet, Bu. Keburu dihabisin sama kakak-kakak Saira,” jawab Saira jujur.             “Kebetulan dong.”             Ibu Dewi kemudian membawa piring berisi roti goreng ke ruang tamu. Sementara Saira membawa piring-piring yang bisa ia bawa.             Di ruang tamu, Gibran sudah duduk dan berganti baju. Ia memakai kaus lengan pendek dan celana pendek.             “Kamu kok pakai celana pendek? Malu ih, ada Nak Saira,” kata Ibu Dewi melihat anaknya yang sudah berganti pakaian.             “Oh iya,” sahut Gibran. Ia langsung masuk lagi ke pintu kamar sambil menurun-nurunkan celana pendeknya agar melebihi lutut. Saira cekikikan.             Saira melihat perlatan makan yang dimiliki oleh Ibu Dewi. Seluruh perlatannya bagus dan terlihat mahal. Saira yakin piring, sendok dan gelas-gelas tersebut pastilah peninggalan ketika ayah Gibran masih ada.             “Ibu, piring dan mangkuknya bagus-bagus, deh,” puji Saira.             “Iya, ini belinya waktu ayah Gibran masih ada. Selera ayahnya Gibran memang agak tinggi,” jawab Ibu Dewi. Saira bisa melihat bahwa Ibu Dewi mengenang almarhum suaminya saat ia menjawab pujian Saira.             “Iya Bu, bagus-bagus soalnya,” tambah Saira.             “Dulu tuh, ayahnya Gibran suka banget belanja-belanja peralatan rumah sama Gibran. Ibu ditinggal sendiri di rumah, malah mereka yang belanja”, kata Bu Dewi mengenang. “Ini salah satu yang dibeli sama ayahnya Gibran pas jalan sama Gibran. Dulu katanya Gibran yang minta. Padahal kan gak mungkin anak kecil minta piring,” tambah Bu Dewi.             “Udah Bu, jangan bahas yang udah lewat. Orang waktu itu emang Gibran yang minta piring ini,” kata Gibran keluar dari kamar dan sudah mengganti celananya dengan celana jeans biru.             Bu Dewi menoleh, kemudian tersenyum pada anaknya. Gibran juga tampak tersenyum pada Bu Dewi. Saira yakin pasti perbincangan tentang almarhum ayah Gibran pasti sudah sering terjadi antara keduanya. Mereka hanya setuju untuk tidak banyak membicarakannya di depan Saira.             “Ayo, dimakan Nak Saira,” kata Bu Dewi. Ia mengambil sebuah piring, mengisinya dengan nasi dan memberikannya pada Saira. Ia juga sempat menambahkan lauk pauk dan lalapan.             Saira menerima piring, dan mencoba masakan Bu Dewi segera. Kebetulan sekali ia sudah sangat lapar karena belum makan apa-apa setelah pulang sekolah, dan presentasi biologinya benar-benar menguras tenaga.             Saira takjub dengan masakan Bu Dewi. Bahkan dari ayam gorengnya saja Saira tau bahwa itu tidak sekedar ayam biasa. Bumbu ungkepnya pastilah spesial dan gorengannya juga pas, ditambah nasi hangat dan sambal bawang yang urih, nikmat sekali.             “Bu, enak banget deh masakan Ibu,” kata Saira memuji. Ia sering mencoba berbagai macam masakan karena di rumah dialah yang bertugas memasak, dan ia masih bertanya-tanya bagaimana ayam goreng ini bisa seenak ini.             “Masa sih? Alhamdulillah, Ibu hampir takut karena kan Nak Saira pintar masak,” kata Bu Dewi.             “Biasa aja, Bu. Soalnya emang di rumah yang tugas masak, kan Saira. Soalnya bunda kerja dan kakak Saira laki-laki semua. Jadi terpaksa,” kata Saira masih terus mengunyah. Ia sangat menikmati makan siang yang disiapkan di rumah Gibran.             Ibu Dewi tersenyum. Ia tampak senang.             Selesai makan dan mendengarkan Ibu Dewi sibuk bercerita tentang suaminya yang sudah tidak ada, Saira berinisiatif untuk mencuci piring dengan ditemani Gibran. Sementara Ibu Dewi sedang ke tetangga untuk mengantarkan pesanan kue.             “Ini saya yang sebenarnya,” kata Gibran tiba-tiba saat Saira sedang membilas piring dan Gibran mengelap piring yang sudah bersih.             “Maksud kamu?” tanya Saira. Ia tidak mengerti apa yang Gibran katakan.             “Ya, saya bukan si kapten basket Pelita Mulia yang famous. Saya cuma Gibran, anaknya ibu yang jual roti goreng di sekolah dan ayah yang udah gak ada. Setiap hari hidup saya sederhana kayak gini. Dan setelah sekolah, saya dan ibu sibuk cari tambahan juga. Kayak hari ini Alhamdulillah ibu ada pesanan kue,” jelas Gibran dengan suara tanpa nada. Saira yakin berat untuk Gibran mengatakan ini semua.             “Saira gak liat perbedaan kapten basket Pelita Mulia sama anak ibu dan ayah. Kamu ya orang yang sama, Gibs,” jelas Saira. “Saira cuma taunya ya Gibran, yang selama ini baik sama Saira. Masalah kapten basket, anak siapapun itu, itu semua cuma informasi pelengkap,” tambah Saira lagi.             Gibran tersenyum. “Makanya saya kemarin gak berani ajak kamu jadian karena saya belum punya apa-apa untuk bisa sepadan sama Saira,” kata Gibran rendah diri.             “You’ve got everything that I need,” jawab Saira menenangkan pacarnya.             “Tapi Sar, saya itu udah ada rencana harus apa. Saya bukan orang yang pasrah sama keadaan.”             Saira sudah selesai mencuci piring. Ia kemudian mengelap tangannya yang basah dengan handuk yang diberikan Gibran. Saira menghadap ke arah Gibran, “Apa tuh rencana kamu?” tanyanya.             “Assalamualaikum!” suara Ibu Dewi memenuhi kontrakan mungil yang dihuni Gibran dan dirinya sendiri.             “Waalaikumsalam, Bu,” Gibran dan Saira menjawab dengan kompak.             “Kok tamu malah disuruh cuci piring? Bikinin teh tawar dan ajak makan cemilan, gih,” perintah Ibu Dewi saat melihat Saira memakai celemek agar bajunya tidak basah saat cuci piring.             “Oke,” sahut Gibran sambil tersenyum. Cocok sekali. Banyak hal yang ingin ia sampaikan pada Saira. *** “Kok kamu gak pernah manggil saya sayang sih?” – Gibran
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN