BAB 46 - CERITA GIBRAN

2188 Kata
            “Ayo, bisa gak naiknya?” tanya Gibran pada Saira yang terlihat sulit menaiki jalanan yang agak terjal. Konon, di atas sana ada sebuah lapangan basket dan sebuah taman yang terdapat beberapa ayunan. Gibran mengulurkan tangannya, meminta Saira untuk meraihnya.             Saira dengan cepat meraih tangan Gibran yang berotot dan menanjak dengan menopang badannya sendiri dengan kaki kanannya yang lebih maju dari kaki kirinya.             “Kamu…,”             “Berat ya?” tanya Saira langsung memotong perkataan Gibran dengan napas tersengal. Menaiki jalanan terjal berumput barusan rasanya seperti menaiki gunung dengan bawaan beberapa kilo makanan.             Gibran tertawa. Tangan kanannya masih memegangi tangan Saira, sementara tangan kirinya sibuk dengan sebuah plastic kresek berisi dua botol minuman dan cemilan buatan Ibu Dewi.             Mendengar perkataan Saira, Gibran langsung melepas tangan kanannya dan menarik hidung Saira dengan mengempitnya di antara jari tengah dan jari telunjuk. “Kebiasaan deh, mikir negative!”             “Ya, abisan kamu kayak ngos-ngosan gitu pas narik Saira,” jawab Saira keki.             “Kata siapa? Kamu lebih ngos-ngosan. Gak pernah olahraga ya?” ledek Gibran.             “Sibuk ngurus dapur,” jawab Saira. Ia jujur, sejak ia memutuskan untuk membuat brownies dan menyuplainya ke café Pak Ali, ia tidak lagi punya waktu luang, bahkan untuk sekedar menonton serial di laptopnya.             “Cocok deh jadi istri…,” kata Gibran dengan nada yang sengaja ia biarkan menggantung.             Saira diam saja. Ia malah merasa canggung membahas hal serius itu dengan gaya bercanda seperti yang baru saja Gibran lakukan.             Gibran juga sepertinya merasa canggung dengan perkataannya barusan. Ia hanya diam dan berjalan menuju sebuah lapangan basket kecil dengan sebuah ring basket yang sudah tidak lagi memiliki jaring. Gambar atau tulisan di papannya pun sudah tidak terlihat.             “Ih, fancy banget punya lapangan basket kayak gini deket rumah,” komentar Saira. Sesungguhnya ia tidak mengira bahwa di dekat rumah Gibran yang masuk g**g, ada sebuah lapangan basket.             “Bukannya di Baguette Village juga ada?” tanya Gibran. “Saya pernah jalan-jalan di sekitar rumah kamu, ada lapangan basket, lapangan tenis, playground, apa ya yang gak ada?” Gibran kini berpikir.             “Iya, sih…,” jawab Saira.             Gibran berjalan menuju sepasang ayunan yang sedang tidak terpakai. Saira bisa melihat taman itu sedang ramai pengunjung berupa anak-anak umur 5-12 tahun, namun tampaknya mereka sedang bermain perosotan yang terbuat dari semen.             “Duduk, yuk,” ajak Gibran. Ia kemudian meletakkan plastiknya di atas pangkuannya. “Bersih, kok.”             Saira merasa tidak enak karena Gibran perlu meyakinkannya bahwa ayunan itu bersih, meskipun ia sama sekali tidak keberatan.             “Kamu berlebihan banget. You don’t have to make sure it’s clean,” kata Saira tak suka.             “Sorry. Just in case,” kata Gibran.             Saira mengambil kantung kresek yang ada di pangkuan Gibran dan mengambil satu botol minum di dalamnya. Ia juga mengambil sebuah roti goreng yang masih terbungkus rapih. Bukannya karena ia lapar, melainkan karena ia memang ingin mencicipi apa yang dibawakan Bu Dewi.             Melihat Saira menikmati pemberian ibunya, Gibran tersenyum, dan Saira memergokinya.             “Kenapa senyum gitu?” tanya Saira yang tengah sibuk dengan mayonnaise yang lumer kemana-kemana.             “I’m glad it’s you,” jawab Gibran.             “Orang-orang ngeliatnya kamu terlalu baik buat Saira. Saira sering denger anak-anak pada bilang, kapten basket kok mau sama Saira? She has no value katanya,” kata Saira yang telah selesai melahap habis roti gorengnya. Ia meremas bekas bungkus roti itu dengan amarah, lalu mengambil botol minuman yang tutupnya sudah dibuka oleh Gibran dan menengguknya sampai habis.             “Pelan-pelan, sayang. Nanti keselek,” kata Gibran.             “Katanya kamu cocoknya sama Aliyyah. Kata mereka, kenapa sih Gibran gak sama Aliyyah aja? Lebih cocok. Terus ada yang bilang kalo Aliyyah itu udah sama Bian, jadi kamu kan juga deket sama Bian, kamu gak enak deketin Aliyyah. Terus ada juga yang bilang kamu sama Kak Amanda aja, atau Kak Kamila, atau siapa gitu di sekolah yang cantik-cantik atau berprestasi juga,” kata Saira panjang lebar. “Sakit hati Saira,” tambahnya.             Gibran yang mendengarkan hanya tertawa terbahak-bahak melihat celoteh Saira yang tidak ada habisnya. Sepertinya semua yang Saira rasakan selama berpacaran dengannya akhirnya mampu ia tumpahkan. Namun tampaknya semua itu membuat Gibran gemas.             “Kok kamu malah ketawa?” tanya Saira saat mendengar Gibran tertawa. Ia kemudian mengambil lagi kantung kresek yang kini sedang Gibran pegang, dan mengambil roti goreng kedua.             “Kamu laper?” tanya Gibran, kaget melihat Saira mengambil roti goreng, padahal Gibran masih merasa kenyang karena nasi dan ayam goreng barusan.             “Karena kamu ngetawain Saira, jadi jatah roti kamu Saira ambil,” jawab Saira jengkel sambil membuka bungkus roti yang dipegangnya.             “Kamu udah gak punya minum, loh,” kata Gibran usil.             Saira langsung cekatan mengambil kantung kresek untuk botol minum kedua juga, tapi sayangnya kapten basket sekolah lebih cekatan dari dirinya. Gibran langsung meraih kantung kresek yang hampir jatuh ke tangan Saira. Membuat Saira semakin kesal.             “Ih!” sahut Saira kesal. “Saira marah.”             Gibran tertawa. “Kamu gemes banget. I love you!”             Saira berpura-pura muntah mendengar pernyataan cinta Gibran. Dalam hatinya, Saira sebenarnya tersipu dan ingin menjawab pernyataan itu. Namun karena ia sedang dalam keadaan marah, ia mengurungkan niatnya.             Alih-alih menjawab pernyataan Gibran, Saira berdiri dan berusaha membidik dahi Gibran dengan sangat kencang. Namun, karena Gibran juga ikut berdiri dan lelaki itu jauh lebih tinggi dari dirinya, Saira tidak mengenai sasaran. Tangannya hanya mendarat di atas mulut Gibran.             “Aduh!” ujar Gibran mengaduh. Ia menggosok area di bawah hidungnya dengan pelan.             “Eh! Maaf Gibs. Kamu sih tiba-tiba berdiri,” kata Saira malah menyalahkan Gibran.             Gibran menoleh pada Saira. “Huh, dasar cewek, malah nyalahin!” Gibran menarik hidung Saira lagi dengan kedua jarinya persis seperti tadi.             “Aduh! Mancung deh Saira lama-lama,” sahut Saira.             Gibran tertawa terbahak-bahak karena mendengar candaan Saira saat mengomel. Ia kemudian bertanya, “Udah siap belum?”             “Apa?” tanya Saira.             “Siapa dengerin cerita dan rencana saya,” jawab Gibran.             “Ada hubungannya sama Saira gak?” tanya Saira lagi. Ia kembali duduk di atas ayunan mengikuti Gibran yang sudah duduk terlebih dahulu.             “Ada dong. Kamu tuh bagian dari cita-cita aku. Makanya cerita dan rencana saya, pasti juga ada kamunya,” jawab Gibran.             “Oke. Jadi apa cerita dan rencananya?” tanya Saira. Ia memperlihatkan wajah penasaran dan siap untuk mendengarkan.             Gibran menarik napas panjang. Ia menatap Saira dengan serius, seolah sudah siap jika Saira tidak setuju dengan rencananya dan akan meninggalkannya.             “Awalnya, saya gak tau kalau saya akan deket dan suka sama Saira. Kamu tau kan, saya itu cuma anak beasiswa di sekolah swasta mewah yang mayoritas muridnya dari kalangan kelas atas?” kata Gibran mengawali ceritanya.             Saira tidak mengangguk. Ia hanya diam mendengarkan.             “Ibu udah kasih tau kalau saya gak boleh main-main di sekolah ini. Tugas saya cuma satu. Sekolah yang bener, terus main basket, bantu ibu, dan kalau bisa lanjut kuliah entah bagaimana caranya. Coach juga dari awal udah bilang, kalau saya serius, dia akan rekomendasiin saya untuk dapat beasiswa di Universitas Pelita Mulia, karena coach cuma punya link di sana. Dengan syarat, track record saya harus bagus di sekolah. Paling enggak, meskipun gak juara kelas, nilai saya harus cukup dan saya gak boleh cari masalah dengan guru siapapun.” Gibran menghentikan kata-katanya dan menengguk botol minumnya yang masih terisi penuh. “Tapi, sampai saat ini ibu gak tau soal tawaran kuliah dari coach untuk kompetisi nanti. Saya takut kecewain ibu,” lanjut Gibran sambil tersenyum kecut. “Karena saya dan ibu gak punya apa-apa dan siapa-siapa, kami memang lebih sering berusaha untuk gak saling ngecewain sih dari kecil.” Kata-kata Gibran terhenti lagi, ia menahan rasa sakit yang tiba-tiba muncul.             “It’s okay, babe,” kata Saira menenangkan.             “Karena ayah pergi tiba-tiba banget. Saya sama ibu sebenarnya gak yakin bisa bertahan waktu itu. Semua yang kita punya udah kita jual untuk biaya pengobatan ayah. Tapi, setelah semuanya bener-bener habis, dan hanya tersisa motor yang kemarin saya jual untuk ibu, ternyata ayah udah gak ketolong,” kata Gibran. “Saira… saya bukannya gak tau diri, tapi sekarang saya punya dua alasan untuk menang di kompetisi supaya bisa kuliah, supaya bisa selevel sama keluarga kamu, meskipun butuh waktu.”             “Apa alasannya?” tanya Saira sambil memandang Gibran yang kini tertegun memandang anak-anak kecil yang berebutan memakai perosotan semen.             “Ibu,” kata Gibran sambil menoleh pada Saira dengan wajah serius, “dan kamu.”             Saira hanya bisa diam tanpa mengubah pandangannya. Kini ia dan Gibran saling menatap. Kemudian, saira mendengar Gibran berdeham dan mengalihkan pandangannya lagi dari Saira, begitu juga dengan Saira. Keduanya salah tingkah.             “Hahahahaha,” tiba-tiba Gibran tertawa, menyadari sikapnya barusan.             “Kenapa?” tanya Saira bingung.             “Saya janji akan jagain kamu, Saira. I will protect you from myself too,” kata Gibran masih menyisakan senyum.             Saira diam lagi. Ia bersyukur, sekaligus terlalu senang untuk saat ini. “Kamu mau lanjutin cerita tentang kamu dan rahasia kamu lagi?”             “Iya, kamu harus tau semuanya,” kata Gibran sambil mengangguk.             Saira ikut mengangguk. Ia menanti apa yang akan diucapkan Gibran.             “Sar, saya tadinya gak berani untuk ajak kamu jadian sebelum saya sudah pasti keterima di Universitas Pelita Mulia dan dapat beasiswa. Tapi waktu itu, kita salah paham. Saya pikir kamu terlalu kekanakan untuk pingin sesuatu yang jelas. Padahal udah jelas, gak ada selain kamu. Dan semua gosip di sekolah itu bohong. Saya gak pernah deketin siapapun. Bahkan niat aja enggak. Saya bener-bener cuma pingin sekolah, lulus, dan bantu ibu…,” kata Gibran dengan agak kesal. “Tapi saya bisa ngerti kalau kamu pasti stress banget digosipin kayak gitu. Saya sih udah biasa digosipin gak jelas sama anak-anak. Persaingan di club basket sekolah itu keras, Sar. Saya digosipin deket sama couch, makanya bisa jadi kapten. Ada juga yang bilang saya tau sesuatu tentang couch korupsi, dan saya dapet bagian. Mereka bilang semuanya bukan karena kemampuan saya.”             “Oh, really?” tanya Saira kaget. Ia tidak tau ada gosip seperti itu tentang pelatih basket. Saira hanya tau dia orang yang baik dan memang tulus membantu Gibran karena Gibran adalah anak yang baik.             “Iya. Apalagi tim cadangan yang suka nambah-nambahin. Mereka marah banget karena saya dipilih jadi kapten. Saya kadang kasih sih sama couch, tapi dia santai aja. Dia punya anak perempuan yang baru dua tahun. Kata dia, selama ada anaknya, dia fine-fine aja sama gosip atau fitnah. Lagi pula, dia kan alumni Pelita Mulia juga, dan track record dia bagus. Jadi, kayaknya ketua yayasan dan Pak Arnon sih percaya sama couch,” kata Gibran.             Saira berpikir pastilah Gibran sangat menyayangi pelatih basket seperti kakaknya sendiri. Saira sering melihat mereka mengobrol di pinggir lapangan basket, tertawa, bahkan kadang saling mengejek. Benar-benar seperti saudara kandung.             “Gibs, pasti kamu pingin punya kakak ya?” tebak Saira.             “Yes,” aku Gibran, persis seperti dugaan Saira. “Saya sirik tau sama kamu. Punya dua kakak yang baik-baik.”             Saira tertawa, dalam hati ia bersyukur. “Balik dong ke cerita kamu. Terus?”             “Terus saya takut kamu jauhin saya. Padahal deketin Saira lumayan bikin deg-degan. Abis Saira temenan sama Bian, terus kayak gak gampang deket sama orang asing. Terus Saira itu orangnya gak banyak nuntut. Saya jadi takut gak bisa baca isi pikiran Saira,” kata Gibran jujur, membuat Saira takjub. Ia tidak tau bahwa Gibran merasa sulit dekat dengannya. Sebaliknya, Saira merasa Gibran hanya main-main saja, maka ia berusaha tidak serius dan hanya menurut saja apapun perlakuan Gibran padanya dulu.             “Terus?”             “Terus sebenernya saya seneng pas kamu bilang kamu suka sama saya. Saya kira kamu akan capek terus lama-lama ninggalin saya. Atau karena gak ada kepastian, kamu cuma anggap saya senior biasa pada akhirnya. Terus kita pisah deh,” jawab Gibran. “Tapi pas kamu ngejauh, saya beneran takut. Serius!” tambah Gibran sambil mengangkat dua jari di kedua tangannya. Kantung kresek di pangkuannya hampir jatuh. “Ups.”             “Apaan sih,” kata Saira sambil tertawa. “Tapi abis itu kita jadian.”             “Iya. Sebenernya saya mikir lama untuk jadian, kan saya cuma anak ibu kantin.”             “Ih, kamu mah,” kata Saira menyenggol Gibran.             “Tapi saya cerita sama couch, katanya kelihatannya kamu baik. Jadi, saya coba beraniin diri walaupun gak pede.”             “Terus?”             “Terus….” Gibran terdiam cukup lama. Saira menunggunya, namu tidak ada kelanjutan dari mulut Gibran. “Hei.” Akhirnya Saira menyenggol Gibran lagi.             “Terus kalau ternyata saya gak dapet beasiswa gimana?”             Saira melotot. Sebelumnya ia berpikir bahwa tidak aka nada kemungkinan Gibran tidak diterima. Gibran kan jenius dalam bermain basket. Seperti kata Gibran, dia kan kapten.             “Hahahahaha,” tiba-tiba Saira tertawa.             “Kok kamu ketawa?” tanya Gibran bingung.             “Soalnya kamu tuh gak cocok banget jadi orang pesimis.”             Gibran tersenyum. “Masa?”             “Iya. Ngomong-ngomong, Gibs…”             “Apa sayang?”             “Bunda seneng banget kayaknya sama kamu.”             “Masa sih?” tanya Gibran dengan mata berbinar. “Tapi saya mau nanya deh sama kamu.”             “Apa tuh?” tanya Saira penasaran.             “Kok kamu gak pernah manggil saya sayang sih?” *** “Kamu tuh bagian dari cita-cita aku.” – Gibran
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN