BAB 47 - RENCANA GIBRAN

1609 Kata
            Saira membeku. Ia memang tidak pernah berani memanggil Gibran dengan panggilan sayang. Ia belum berani dan malu.             “Gimana kalau kita buat perjanjian?” kata Saira tiba-tiba. Bukannya menjawab pertanyaan Gibran, ia malah mengajaknya membuat perjanjian.             “Apa?”             “Kalau kamu keterima di Universitas Pelita Mulia, Saira panggil kamu sayang,” jawab Saira.             “Ayo,” jawab Gibran tanpa berpikir dua kali. Kini ia terlihat lebih optimis dari sebelumnya.             “Gitu dong, optimis! Tadi tuh gak kamu banget, tau!”             Gibran tersenyum.             “Sar, nanti kalau saya udah keterima di Pelita Mulia, saya akan kuliah dengan serius terus lulus dan cari kerja. Abis itu, saya akan beli rumah untuk ibu, dan kalau perasaan kamu belum berubah dan kamu mau, kita nikah,” kata Gibran menjabarkan rencananya tiba-tiba.             “Ehe,” sahut Saira masih mendengarkan. Ia tidak tau kenapa Gibran tiba-tiba berbicara begitu.             “Kok cuma ehe?” tanya Gibran tampak kecewa.             “Saira bingung. Terus, kita nikah?”             “Iya, kamu gak mau?”             “Saira sih gak ada pikiran sejauh itu,” kata Saira jujur. Bisa jadian dengan Gibran dan diperlakukan begitu baik saja, Saira sudah senang. Ia tidak berpikir jauh hingga menikah dan lainnya.             “Tapi, kalau saya lamar, kamu mau?” tanya Gibran.             Saira berpikir keras. Ia tidak tau harus menjawab apa. Bukannya aneh jika ia menjawab mau, padahal Gibran hanya menceritakan cita-citanya? Saira tidak mau terlihat gampangan, tapi lebih dari itu, ia tidak memiliki keinginan untuk menikah selian dengan Gibran.             “Mau gak?” tanya Gibran lagi.             “Gibs, kalau ternyata nanti kamu yang gak mau sama Saira gimana?” tanya Saira menyakiti diri sendiri. Membayangkan Gibran dengan orang lain tiba-tiba membuatnya kesal.             “Gak mungkinlah,” jawab Gibran reflek.             “Gak mungkin kenapa?” tanya Saira menantang.             “Kamu tuh bagian dari cita-cita aku,” jawab Gibran.             Saira tersipu. Ia tau terkadang semua yang ia pikirkan berlebihan. Entah karena mereka berdua memang sedang sayang-sayangnya atau karena semua hal yang meyenangkan ini terasa nyata, bukan lagi harapan Saira. Namun, di sisi lain Saira takut bahwa hal ini akan hilang sekejap mata.             “Gibran,” panggil Saira dengan nama asli Gibran untuk pertama kalinya semenjak mereka berpacaran. Biasanya Saira selalu memanggil Gibran dengan sebutan Gibs.             “Iya, Saira?”             “Cerita lagi dong tentang kamu, cita-cita kamu, rencana kamu, rahasia kamu. Saira suka dengernya,” kata Saira jujur.             Gibran berpikir, terlihat dari dahinya yang berkerut. “Cerita tentang saya, ya?”             “Iya.”             “Kamu buka telapak tangan kamu deh,” perinta Gibran.             Saira menurut saja. Ia membuka telapak tangannya dan melihat Gibran merogoh saku celana mencari sesuatu. Kemudian ia mengeluarkan sebuah cincin manik-manik berwarna hitam. Cincin itu memiliki sebuah manik dengan ukuran lebih besar dan berwarna bening. Di antara manik-manik berwarna hitam yang membentuk cincin itu, terdapat sebuah manik dengan ukuran lebih bersar berwarna bening. Membuatnya terlihat seperti pusat dari cincin.             “Nih buat kamu,” kata Gibran. Ia meletakkan cincin manik di tangan Saira.             “Ini apa?” tanya Saira bingung sambil memperhatikan cincin manik di telapak tangannya.             “Kemarin di tk, anak-anak belajar buat DIY. Terus ada satu anak namanya Selena. Dia pernah liat foto kamu di handphone saya. Terus kemarin dia ngasih cincin itu, katanya disuruh kasih ke kamu,” jelas Gibran. Maksud DIY adalah Do It Yourself, semacam kerajinan tangan.             “Kok kasih ke Saira?”             “Waktu itu Selena tanya kamu siapa. Terus saya jawab, ini calon istri saya. Jadi kemarin dia bilang, tolong kasihin ini ke istri bapak,” kata Gibran menirukan suara anak kecil.             “Serius? Lucu banget!” kata Saira antusias. “Cincinnya juga bagus deh, Saira suka.”             “Kamu pakai itu dulu, nanti kalau saya udah kerja, saya beliin cincin beneran,” kata Gibran. Ia berlagak cuek saat mengatakannya.             Saira mengangguk. Ia langsung memakai cincin manik pemberian Gibran di jari manis kirinya. Ia berjanji pada diri sendiri bahwa ia tidak akan melepasnya.             “Jadi, Saira itu calon istri kamu?” tanya Saira meledek Gibran.             “Ya, kalau kamu mau. Tadi belum dijawab, kamu mau gak?” tanya Gibran lagi. Kali ini nadanya seperti menuntut.             “Gimana ya?” kata Saira pura-pura mempertimbangkan pertanyaan Gibran.             “Eh nanti dulu. Kamu harus janji satu hal sama saya,” kata Gibran tiba-tiba serius.             “Apa?”             “Kalau saya gak diterima di Universitas Pelita Mulia, kamu jangan terima saya. Kamu jangan mau sama saya, kecuali kalau saya udah pantas sama kamu.”             “Kok gitu?” tanya Saira. Ia merasa kata-kata Gibran barusan sama sekali tidak adil. Memang kenapa kalau tidak diterima di Pelita Mulia? Memang kenapa kalau tidak kuliah?             “Iya, harus gitu. Janji, ya?”             “Kamu pasti keterima, Gibs.”             “Janji, ya? Jangan terima saya. Kamu boleh langsung ninggalin saya.”             Mendengar permintaan Gibran yang menuntut, awalnya Saira tidak bingung harus menjawab apa, namun karena ia tau bahwa Gibran pasti diterima dan ia tidak akan pernah meninggalkan Gibran, ia mengangguk setuju. “Iya.”             Gibran diam, namun ia menjawab dengan senyum tipis, “Oke.”             “Makasih ya cincinnya. Bilangin makasih sama Selena, ya.”             “Iya,” jawab Gibran. “Kamu tau gak dia bilangnya gimana?”             “Gimana?” tanya Saira excited. Ia senang sekali mendengar Gibran bercerita.             “Mr. Gibran! Give it to your wife,” kata Gibran menirukan suara Selena, muridnya di TK tempat ia mengajar olahraga.             “So cute. I want to see her,” kata Saira.             “Anaknya emang imut dan lucu banget. Kamu pasti bakal suka banget sama dia.”             “Kamu suka anak kecil ya, Gibs?” tanya Saira melihat wajah bahagia Gibran saat membicarakan Selena.             “Iya. Saya pingin banget punya anak banyak. Kamu mau punya anak berapa?”             “Anak?”             “Iya. Kamu mau berapa?”             “I love kids. Saira pingin punya anak cewek biar lucu dan imut. Mungkin dua orang? Dan mereka harus punya kakak laki-laki untuk jaga mereka. Mungkin dua orang juga,” jawab Saira sambil membayangkan nanti jika ia memiliki anak-anak yang baik dan lucu.             “Ide bagus. Aku pingin punya anak ganjil, sih. Mungkin lima? Kan lucu kalau kakak-kakak pertamanya udah gede, terus punya adik bayi. Dia pasti akan sayang banget,” kata Gibran tak mau kalah.             “Iya juga, ya,” kata Saira setuju.             “Nanti kita buat perpustakaan kecil di rumah. Jadi mereka suka baca buku dan pinter kayak Bian,” kata Gibran.             “Ngapain kayak Bian? Mending kita buat lapangan basket di rumah. Biar kayak kamu semua,” kata Saira.             “Terus saya mau bikin dapur yang besar. Biar mereka pinter masak kayak ibu dan neneknya,” kata Gibran lagi.             “Terus apa lagi?”             “Saya mau ceritain ke mereka tentang kakeknya. Biar mereka kenal meskipun belum pernah ketemu.”             “Iya. Tapi, Saira juga belum pernah ketemu ayah, sih,” kata Saira mengasihani dirinya sendiri.             “It’s okay. Tapi kan kita tau kalau ayah kamu itu orang yang baik,” hibur Gibran.             “Iya.”             “Kita tinggal di luar, yuk?” kata Gibran tiba-tiba. Obrolan mereka kini semakin jauh ke depan.             “Dimana?”             “US?”             “Kanada?”             “Atau London ya? Can you gimme a bottle of wotah?” kata Gibran menirukan aksen British.             “Hahahaha, atau Asia aja? Jepang?”             “Boleh. Tapi kita harus belajar bahasanya lagi.”             “Gak apa-apa, kan kita masih muda,” kata Saira enteng.             “Kita ambil S2 yuk di sana?”             “Ayuk!”             “Sambil kuliah, sambil jalan-jalan!”             “Nanti kita bisa jalan-jalan ke Korea juga!”             “Kemana pun, kalau sama Saira saya ikut aja. Pasti seru!”             Saira menghabiskan waktu mereka untuk membicarakan masa depan. Mereka membicarakan rencana mereka tinggal di luar negeri, jumlah anak yang mereka ingin miliki, dan hal-hal lainnya.             “Eh, bunda nelpon,” kata Saira, membuyarkan khayalannya dan Gibran. “Halo, Bunda!” kata Saira dengan telepon genggam tertempel di telinganya.             “Saira, kamu udah jalan pulang dari rumah Gibran? Coba bunda mau ngomong sama ibunya,” kata bunda di seberang telepon.             “Yah, Saira lagi di luar rumah. Lagi di taman deket rumah Gibran.”             “Coba video call!”             Saira menekan tombol video call dan mengarahkannya ke anak-anak kecil yang sedang berebutan perosotan. Sementara Saira bisa melihat latar kantor bunda. Ibunya itu masih di kantor dan menelepon Saira untuk sekedar memeriksa apakah ia berada di rumah Gibran atau tidak.             “Oh, yaudah. Salam buat Gibran, ya!” kata bunda. Gibran tentu bisa mendengarnya karena Saira mengaktifkan loud speaker.             “Halo, Bunda!” sapa Gibran dengan suara merdunya.             “Halo Gibran anak bunda!” jawab bunda terdengar bersemangat.             “Iya. Bunda sehat?” tanya Gibran.             “Alhamdulillah. Bunda titip Saira, ya.”             “Oke Bunda.”             “Yaudah bye.” Kemudian telepon ditutup.             “Cie anak bunda,” kata Sair menggoda Gibran. Ia tadi mendengar bundanya menyebut Gibran anaknya.             “Padahal kan bukan anak ya?” kata Gibran seperti kecewa.             “Kenapa?”             “Saya kan calon menantu.”             Seketika Saira tertawa, “Yaudah nanti Saira bilangin bunda.”             “Kamu juga.”             “Juga apa?”             “Kamu belum jadi menantu ibu aja, udah manggil ibu. Gimana kalau udah jadi menantu nanti?” kata Gibran. Yang ia maksud adalah Ibu Dewi, ibu kandungnya.             “IH! Semua anak kan manggil ibu kamu, ibu,” jawab Saira membela diri.             “Tapi gak apa-apa kok, sayang. Itung-itung latihan,” kata Gibran usil.             Saira hanya tertawa mendengar kata-kata Gibran. “Kita pulang, yuk,” ajak Saira.             “Tapi rumah kita kan belum jadi,” sahut Gibran masih melanjutkan candaaannya.             “Serius!”             “Yaudah ayok. Saya anterin ya. Saya pinjam motor tetangga dulu.” “Oke.” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN