“Minggu depan Mas Salman sama Mba Asma pindah ke rumah mereka sendiri. Saira, Bunda sama Mas Fatih akan ke sana. Kamu ikut kan?” tanya Saira suatu malam di telepon. Ia sedang berbincang dengan Gibran.
“Saya diajak?” tanya Gibran terdengar ragu.
“Kan kata bunda kamu anaknya bunda,” jawab Saira. Ia mengambil sebuah keripik dari dalam toples yang ia bawa masuk ke dalam kamar dan mengunyahnya. Ia belum makan, dan baru selesai membuat brownies untuk diambil besok.
“Kamu lagi makan ya?”
“He’em. Sa ‘apar, ‘um ma’an,” jawab Saira tidak jelas karena keripik singkong memenuhi mulutnya.
“Kamu jangan sampai sakit, loh.”
“Iya, Gibs,” sahut Saira. “Terus? Huh… Hah…”
“Kamu kenapa?”
“Pedes!” Saira beranjak dari tempat tidur dan mengambil botol bertuliskan, “Tuesday, Nov 13th.”
“Minum, gih!”
“Saira minum minuman yang kamu kasih ya?” tanya Saira sambil memandang air mineral bertuliskan tanggal dan hari ia pertama kali berbicara dengan Gibran.
“Minuman apa?”
“Nanti Saira fotoin! Boleh ya?”
“E… yaudah deh,” jawab Gibran, meskipun sudah jelas ia bahkan tidak tau apa yang Saira bicarakan.
Saira menyelesaikan minumannya dan mengambil gambar botol yang kini kosong lengkap dengan tulisan di sticky note-nya.
“Udah Saira kirim,” kata Saira memberi tahu.
“Ini…. minuman yang saya kasih ke kamu waktu dulu saya ajak nonton latihan basket?” tanya Gibran setelah beberapa lama. Saira menduga pacarnya itu memeriksa pesan darinya.
“IYA! Kamu inget?”
“Ingetlah. Setelah itu saya diledekin terus sama Kemal.”
“Diledekin apa?”
“Diledekin modus. Saya waktu itu bener-bener iseng abis saya perhatiin kamu diem aja nunggu dijemput. Kasian anak kelas satu masih polos,” kata Gibran bercanda.
“Hahahaha.”
Kemudian ada keheningan di antara mereka.
“Jadi, kamu mau ikut ke rumah Mas Salman?” tanya Saira lagi.
“Saya sih mau banget. Tapi apa saya gak ganggu?” tanya Gibran.
“Wait!”
Saira keluar dar kamarnya dan menemukan orang yang ia cari sedang menonton tv. Bunda.
“Bunda, Gibran katanya mau ikut minggu depan tapi takut ganggu,” teriak Saira.
Bunda menoleh. “Ganggu apa? Kan Gibran anak bunda juga,” jawab bunda tanpa mengalikan pandangan dari layar tv.
“Tuh denger kan?” tanya Saira di telepon sambil masuk lagi ke kamarnya.
“Ya ampun, beruntung banget ya saya.”
“Mau gak?”
“Iya, mau.”
***
Bagimu, apa itu keluarga? Bagi Saira, keluarga adalah semua orang yang membuat ia bertahan sampai saat ini. Dan ia beruntung, di antara bunda, Salman, dan Fatih, tidak ada satu orang pun yang tidak membuatnya bertahan. Mereka lolos menjadi keluarga di mata Saira.
Selain ketiga keluarga inti yang Saira miliki, ia memiliki ayah, yang meskipun belum pernah ia temui sepanjang hidupnya, ia tau ayah akan melakukan persis yang bunda lakukan selama ini. Maka, Saira selalu menganggap ayahnya keluarga, yang terlambat ia temui, dan kesempatan itu sudah hilang.
Belakangan ini, Saira menemukan beberapa keluarga yang lain di masa SMA-nya. Ia mengakui bahwa ia menganggap Aliyyah dan Bian bagian dari hidupnya. Apalagi setelah apa yang dirinya dan Aliyyah lalui. Cerita Aliyyah saat Aisyah dinyatakan berbeda dari anak biasa, dan saat Aliyyah menenangkannya saat ia terlalu sedih karena Gibran.
Sementara Bian, entah bagaimana, Saira merasa ia sudah terlalu sering mengandalkan temannya itu. Ia senang mendengar cerita-cerita Bian tentang Aliyyah, ia juga senang dimarahi Bian saat ia salah. Dari semua teman yang seumuran dengan dirinya, ia paling menghormati Bian. Bian has different value.
Dan kini ia memiliki Gibran. Sebenarnya Saira bingung harus menempatkan Gibran di posisi apa. Saira menyayanginya lebih dari teman biasa. Ia adalah pacar yang selama ini ia bayangkan saat menonton film-film romansa. Namun lebih dari itu, Gibran sudah seperti kakak baginya. Ia sering merasa Gibran membantunya dalam banyak hal, mendengarkan semua hal yang ia ceritakan, dan menanggapi semua hal yang dia lakukan.
Ya, Gibran lebih dari keluarga dan Saira ingin Gibran merasakan hal yang sama.
“Kamu yang nyetir gak apa-apa?” tanya Saira saat memberikan kunci mobil pada Gibran. Fatih dan bunda masih bersiap-siap di kamar masing-masing.
“Gak apa-apa,” jawab Gibran sambil tersenyum. Ia mengambil kunci mobil di tangan Saira dan bergegas ke mobil.
Hari ini Saira, bunda, Fatih, dan Gibran pergi ke rumah baru Salman. Salman sendiri sudah berjalan lebih dahulu sehari sebelumnya dengan Asma. Mereka ingin mempersiapkan rumah dulu sebelum kedatangan tamu, katanya. Dan bunda mengizinkan.
“Eh ada anak bunda. Apa kabar kamu, Gibran?” tanya bunda saat ia keluar dari kamar. Sudah rapih dengan kerudung dan tas di tangan.
“Alhamdulillah baik, bunda. Bunda kelihatan sehat, saya seneng lihatnya,” kata Gibran sopan.
“Iya Alhamdulillah. Udah yuk, takut kesiangan,” kata bunda sambil berjalan ke mobil.
Dalam waktu satu jam, mereka sudah sampai di rumah Salman dan Asma. Tidak perlu terlalu lama untuk berkeliling mencari alamat karena Salman sudah mengirimkan lokasinya pada Fatih melalui chat, sehingga mereka hanya perlu mengikuti petunjuk.
Rumah Salman dan Asma bukanlah rumah besar dua lantai seperti rumah bunda yang ditinggali oleh bunda, Fatih, dan Saira. Rumah Salman sedikit lebih kecil dengan dua kamar tidur dan belum banyak barang. Saira bisa melihat beberapa kotak kardus yang belum selesai dirapihkan oleh Salman dan Asma.
Begitu pintu depan dibuka, Saira bisa langsung melihat ke seluruh ruangan dan tidak ada pendingin ruangan, hanya sebuah kipas angin besar yang anginnya cukup untuk mendinginkan semua orang yang ada di dalam rumah.
Duduk di sebuah sofa, Saira bisa melihat tiga buah pintu yang Saira yakini adalah dua kamar tidur dan sebuah kamar mandi. Sementara di ujung, terdapat sebuah dapur dan keran untuk mencuci piring. Rumah Salman belum memiliki meja makan.
“Selamat datang di rumah sederhana Salman dan Asma, Bunda,” kata Salman dengan sopan.
“Bagus rumahnya, kalian hebat,” kata bunda. Rumah ini memang dibeli sendiri oleh Salman dan Asma dengan uang yang mereka miliki. Bunda sama sekali tidak membantu. Itulah mengapa, sebagai pasangan muda, Salman dan Asma baru mampu membeli rumah sederhana. Itu pun bukan di daerah Jakarta, melainkan sebuah rumah di dekat kampus mereka dulu.
“Alhamdulillah, makasih Bunda,” kata Asma malu-malu. Ia masih sama seperti pertama kali Saira melihat Asma dan menghabiskan beberapa waktu dengan Asma di rumah bunda.
“Asma apa kabar? Bunda kangen, deh,” kata bunda pada menantunya itu.
“Alhamdulillah baik, Bunda. Bunda baik, kan?”
“Alhamdulillah. Kamu makin cantik aja, Asma,” puji bunda.
“Alhamdulillah, Bunda. Bunda juga cantik. Selalu, sih.”
“Alhamdulillah,” sahut bunda.
“Kayak pengajian ya? Alhamdulillah mulu,” bisik Fatih pada Gibran dan Saira.
“Ck, jangan gitu,” jawab Saira sambil menyenggol perut Fatih yang duduk di sebelahnya, sementara Gibran hanya tersenyum dan tertawa pelan.
“Kayak baru pertama ketemu aja deh Bunda sama Asma,” kata Salman. “Sayang, tolong siapin minum dan cemilan dong,” pinta Salman. Ia sepertinya ingin menyudahi percakapan kaku antara bunda dan istrinya.
Asma langsung bangun dari duduknya dan berjalan ke dapur. Ia mengambil beberapa barang dari kulkas dan membawanya ke dapur.
“Kamu gak bantuin?” tanya Gibran sambil berbisik.
Saira mengangguk dan bergegas ke dapur.
“Mba Asma,” panggil Saira. “Ada yang bisa Saira bantu gak?”
“Jangan repot-repot Saira. Kamu duduk aja, aku sendiri bisa kok,” jawab Asma.
“Gak apa-apa, Mba. Sambil ngobrol, boleh gak?”
“Boleh,” sahut Asma.
Saira melihat Asma yang sedang sibuk membuat es teh manis dan memotong pudding. Asma juga sudah mengeluarkan bolu coklat dan sepiring penuh tahu isi pedas yang tinggal digoreng.
“Saira, Gibrna itu teman dekat kamu, ya?” tanya Asma saat Saira sedang menggoreng tahu isi pedas dan Asma menata pudding serta vla vanilla.
“Iya, Mba,” jawab Saira malu-malu.
“Anaknya baik,” jawab Asma.
“Iya. Waktu Mba Asma nikah sama Mas Salman juga Gibran bantu banyak. Dia kayak bukan tamu, malah kayak panitia,” jawab Saira jujur.
“Udah berapa lama?” tanya Asma.
“Belum setahun sih, tapi kenalnya udah lama.”
“Oh…”
“Mba Asma dulu kenal sama Mas Salman kayak gimana?” tanya Saira penasaran. Ia belum pernah mendengar cerita dari mulut Asma.
“Hm…. Dulu kenal dari panitia acara. Terus lost contact, dan dapet kabar dari teman ada yang mau ngajak taaruf. Jadi, aku mau aja karena Mas Salman itu orangnya baik, pinter, dan sopan,” kata Asma panjang lebar. “Kamu gimana kenal Gibran?”
“Ya, kenal aja,” jawab Saira bingung.
“Bukannya Gibran itu kakak kelas? Emang kamu kenal dari mana?”
“Jadi waktu itu, Gibran ngajak Saira ngobrol, terus lama kelamaan jadi kenal,” jawab Saira polos. Ia berharap itu akan menjawab pertanyaan Asma.
“Hah? Teman main?”
“Enggak juga sih, Mba…”
Asma tertawa. Mungkin ia sadar bahwa Saira bahkan tidak bisa mendeskripsikan bagaimana ia bisa mengenal Gibran. Saira merengut, ia tidak tau kenapa ia mengenal kakak kelas, yang hanya memberinya air mineral pada saat ia menunggu di jemput.
“Kalo Sasha? Kok gak diajak?” tanya Asma. Ia menyadari ada seseorang yang absen. Ia juga tidak pernah menanyakan ini saat tinggal di rumah bunda.
“Gak tau. Kak Sasha itu kan bukan pacar Mas Fatih lagi.”
“Oh, gitu.” Terlihat jelas bawah Asma tidak ingin bergosip dan membicarakan tentang adik iparnya.
Saira mengangkat tahu isi pedas yang sudah ia goreng semua dan ia letakkan di atas piring berwarna putih polos. Di sebelahnya terdapat dua buah piring lain dengan bolu coklat dan pudding di atasnya. Asma sudah berjalan duluan untuk menghidangkan minuman. Saira mengikutinya di belakang.
“Lama banget, ngegosip ya kalian?” tuduh Salman sambil tersenyum menggoda.
“Mba Asma nanya kenapa Kak Sasha gak ikut,” jawab Saira sembari melirik Fatih yang sedang menenggak es teh manisnya.
Mendengar perkataan Saira, Fatih terbatuk. “Uhuk!”
“Gausah pura-pura deh. Disebut nama Sasha aja, langsung batuk-batuk,” ledek Salman.
“Sasha emang gak aku ajak, Mba,” jawab Fatih. “Kan ini acara keluarga.”
“Kana da Gibran,” kata Asma.
“Gibran kan calon keluarga,” kata Fatih membuat Saira senang. Saira yakin Gibran juga sedang menyembunyikan senyum karena senang.
“Soalnya Fatih gak ada niat jadiin Sasha keluarga. Ya gak?” ledek Salman lagi.
“Ya, bukannya gitu, Mas,” kilah Fatih.
“Udah, ah. Kupingnya Sasha panas nanti, kasian,” kata bunda menengahi. Kemudian bunda mengambil sepotong bolu coklat dan melahapnya. Hmmm enak.
***
“Dipakai ya, sampai kamu jadi menantu ibu.” – Gibran