BAB 49 - KADO DARI IBU

1783 Kata
            Saira memasuki area kantin bersama Bian dan Aliyyah. Mereka baru saja menyelesaikan pelajaran terakhir, dan sedang kelaparan karena tes dadakan yang diadakan oleh Bu Mala, guru kimia kelas 2.             Kantin masih sangat sepi, Saira yakin karena semua siswa masih sibuk dengan pelajaran yang belum berakhir. Dan beberapa siswa lain memilih langsung pulang. Saat pulang sekolah kantin memang tidak terlalu diminati. Itulah kenapa para penjual makanan di kantin menutup lapak mereka tidak lama setelah bel pulang sekolah.             Saira melihat berkeliling dan menemukan Bu Dewi sedang sibuk di kantinnya dan tidak melihat Saira, membuat Saira tidak ingin mengganggu dan hanya duduk di sebelah Aliyyah.             “Adnan mana?” tanya Bian pada diri sendiri dan melihat ke arah kelas.             “Lo ngajak Adnan?” tanya Saira. Ia tidak ingin jika terlalu dekat dengan Adnan dan membuat Gibran cemburu nantinya.             “Iya. Kenapa?” tanya Bian.             “Gak apa-apa,” jawab Saira.             “Al, gak apa-apa kan aku ajak Adnan?” tanya Bian, kini pada Aliyyah yang sedang menenggak air dari botol minumnya.             “Gak apa-apa. Emang kenapa?” jawab Aliyyah dengan balik bertanya.             “Gapapa sih. Takut kamu gak suka aja,” jawab Bian. “Al, kamu mau minta bantu apa ke aku?”             Saira mengerutkan dahinya. Baru kali ini ia tidak mengerti percakapan dua temannya itu. Biasanya ia selalu tau maksud mereka, karena mereka tidak mungkin saling mengobrol atau bertukar pesan tanpa dirinya.             Aliyyah diam dan memandang Bian. Kemudian ia menoleh pada Saira.             “Wait… aku ga boleh tau, Al?” tanya Saira yang bisa membaca situasi. Jelas-jelas Aliyyah mengisyaratkan pada Bian untuk tidak membicarakan hal yang ia tanyakan di depan Saira.             “Bukan gitu. Tapi, aku…” Aliyyah menjawab dengan ragu-ragu. Bian menunggu Aliyyah selesai berbicara dengan menatapnya tanpa berkedip.             “Biasa aja dong, ngeliatinnya.” Tiba-tiba seorang dengan rambut cepak dan jaket kanvas datang dan memukul pundak Bian pelan. Saira menoleh, meski ia tau betul suara siapa itu. Adnan.             “Apaan sih loh, Nan,” jawab Bian.             Saira menaikkan satu alisnya. Ia tidak tau bahwa Bian dan Adnan seakrab itu. Ia hanya tau bahwa Adnan satu kelompok biologi dengan dua sahabatnya. Namun, apakah itu membuat mereka akrab dengan sangat cepat? Sampai-sampai Adnan bisa menggoda Bian yang memandang Aliyyah. Apakah Adnan tau bahwa Bian menyukai Aliyyah, padahal tidak banyak orang yang tau? Saira bahkan tidak akrab dengan teman kelompok biologinya, Rania, Bela, dan Ais.             Adnan memijak pundak Bian pelan dan duduk di sebelah Bian. “Hai, Sar,” sapa Adnan.             “Hai, Nan.”             “Hai, Al.”             “Hai, Nan.”             Kemudian keadaan menjadi canggung, dan tidak ada satu orang pun di antara mereka yang bisa mencairkan suasana, kecuali Bian.             “Gimana sekolah di sini? Udah hampir enam bulan, nih,” tanya Bian pada Adnan.             “Enak-enak aja sih,” jawab Adnan. Saira merasa Adnan kemudian meliriknya. “Sar, lo inget gue ga sih?” Dan benar saja, setelah itu Adnan mengajaknya bicara.             “Hah, inget apaan?” tanya Saira tidak mengerti.             “Lo kan dulu pernah nyebrangin nenek-nenek gitu, terus gue bantuin,” jawab Adnan.             Saira mengingat-ingat kapan ia pernah membantu seseorang menyeberang jalan dan kemudian dibantu oleh Adnan saat masih bersekolah di sekolah lain….., “INGAT!” tiba-tiba Saira menjawab antusias.             “Itu gue,” jawab Adnan dengan serius. Kadang Saira tidak tau kenapa Adnan selalu berbicara dengan kaku dan serius, padahal yang dibicarakan adalah hal ringan seperti ini.             “Iya, gue inget!” kata Saira sambil menunjuk Adnan. “Kok lo bisa inget gue?”             “Enggak tau, inget aja. Soalnya lo pendek sih,” jawab Adnan tanpa rasa bersalah, masih dengan wajah datar tanpa senyum.             “Why are you so mean?” tanya Saira.             Adnan tersenyum. Namun bukan senyum manis, melainkan senyum licik, membuat Saira menyipitkan mata.             “Kalian lucu, deh,” kata Aliyyah.             ”Thanks, Al,” jawab Adnan.             See? They’re so close now.             “Kalian akrab, ya,” kata Saira.             “Lo jealous? Pacaran mulu, sih,” kata Bian meledek.             “Enggak ah. Gue aja selalu pulang bareng kalian. Bian sekarang udah bawa mobil sendiri ya?” tanya Saira.             “Iya dong. Gue kan udh punya SIM.”             Sedang asyik mengobrol dengan teman-temannya, Saira mendengar suara Gibran memanggilnya. Saira menoleh dan Gibran sudah ada di depannya dan berdiri di belakangan Adnan.             “Hai, Nan,” sapa Gibran.             Adnan menoleh ke belakang, “Oh. Hai, Gibran.”             Saira mulai panik. Apakah baru saja ia telah bersikap terlalu dekat dengan Adnan?             “Saira, saya pulang ya, mau pergi sama ibu,” kata Gibran sambil menunjuk Ibu Dewi yang sedang membereskan dagangannya.             “Hah?” sahut Saira kaget. Sebelumnya Gibran tidak bilang apa-apa. Bahkan lelaki itu memintanya menunggu di kantin karena ingin bicara dengannya dan memiliki kejutan yang ingin ia berikan pada Saira.             “Iya. Bye,” kata Gibran sambil tersenyum. Saira hanya membeku di tempat duduknya. Bian dan Aliyyah tidak menyadari itu. Namun, Adnan sempat meliriknya dengan wajah datar. Saira tidak tau apa arti wajah Adnan dan ia tidak peduli untuk saat ini.             Gibran pergi meninggalkan Saira dan ketiga temannya. Ia berbicara sebentar dengan Ibu Dewi dan pergi keluar dari area kantin tanpa ibunya. Ia tidak melirik Saira sama sekali ketika pergi dan Saira yakin betul bahwa Gibran tau Saira melihatnya dan menunggu Gibran melambaikan tangan seperti biasa. Apakah Gibran marah?             Saira bangkit dari duduknya setelah Gibran sudah pergi dan menghampiri Ibu Dewi yang terlihat sudah selesai membereskan barang dagangannya dan bersiap untuk menutup kantin.             “Ibu, ada yang mau Saira bantu?” tanya Saira.             Ibu Dewi menoleh dan tersenyum. “Udah, Nak. Ini ibu udah mau pulang,” jawab Ibu Dewi dengan lembut.             “Kata Gibran, Ibu sama Gibran mau pergi ya? Kemana?” tanya Saira memberanikan diri. Ia tau itu bukan urusannya, namun ia benar-benar ingin tau.             “Enggak. Pergi kemana?” Ibu Dewi balik bertanya.             Dugaan Saira benar. Itu hanya alasan Gibran agar bisa menunjukkan kalau ia marah pada Saira. Namun Saira berusaha berpikir positif.             “Tapi, Ibu akan pulang sama Gibran hari ini?” tanya Saira lagi. Ia berharap Ibu Dewi mengiyakan pertanyaannya.             “Enggak. Ibu pulang sama teman-temen seperti biasa. Kenapa, Nak?” tanya Ibu Dewi.             Saira merengut. Ternyata benar, Gibran berbohong. Ia pasti jengkel.             “Gak apa-apa. Kayakya Saira salah denger tadi pas Gibran pulang.”             “Loh, Gibran gak jadi pergi sama Nak Saira?” tanya Ibu Dewi.             “Pergi kemana?” tanya Saira bingung.             “Oh. Gak jadi?”             “Gibran gak bilang apa-apa, Bu,” jawab Saira jujur.             “Yaudah, mungkin Gibran akan ajak perginya besok…,” kata Bu Dewi menenangkan Saira yang terlihat bingung. “Eh, tapi besok kan dia latihan.”             “Iya, Bu…”             “Yaudah, mungkin lusa. Gak apa-apa. Coba Nak Saira telepon Gibran. Setau Ibu hari ini Gibran gak ada kegiatan apa-apa,” kata Bu Dewi.             “Iya, Bu,” jawab Saira singkat.             Saira kemudian berjalan cepat keluar dari area kantin. Ia melewat ketiga temannya dan mulai berlari saat sudah bayangannya sudah hilang dari pandangan Bian, Aliyyah, dan Adnan.             Beruntung, Saira masih bilang melihat punggung Gibran. Lelaki itu berjalan malas. Saira duga, pastilah karena dirinya.             “Gibs! Kamu kok bohong?” tanya Saira saat sudah berada di belakang Gibran. Napasnya terengah.             Gibran menoleh. “Kamu ngapain lari-lari?” tanya Gibran dengan wajah bingung.             “Abis kamu bohong,” jawab Saira.             “Maaf, ya,” kata Gibran, menandakan bahwa ia memang berniat berbohong, dan tidak mengelak saat ketahuan oleh Saira.             “Kenapa bohong?”             Gibran membuka tas ranselnya dan mengeluarkan sebuah kotak berwarna hitam dari sana dan meletakkannya di atas telapak tangan Saira.             “Ini apa?” tanya Saira. Kotak itu terlihat seperti kotak perhiasan, namun kulit yang membalutnya sudah banyak yang terkelupas.             “Itu kado dari ibu buat kamu. Dulu, pas ayah dinas di Turki dan masih ngedeketin ibu, ayah beliin itu sebagai oleh-oleh. Masih ibu simpen sampai sekarang,” kata Gibran.             Saira membuka kotak itu dan terdapat sebuah kalung dengan tali hitam dan bandul berwarna biru seperti mata. Saira tau itu adalah oleh-oleh yang terkenal dari Turki. Bunda pernah membelikannya dulu, namun sudah hilang entah kemana.             “Bukan barang mahal. Tapi, historical buat ibu,” kata Gibran.             Jadi ini kejutan yang akan diberikan Gibran padanya…             “Kamu kenapa bohong?” tanya Saira lagi. Pertanyaannya tidak dijawab.             “Saya mau kasih itu ke kamu. Tapi, kayaknya kamu lagi sibuk. Saya jadi gak enak mau ganggu,” jawab Gibran.             “Kamu marah ya?”             “Enggak,” jawab Gibran. Lalu laki-laki itu tersenyum pada dirinya.             “Bilangin makasih ya, sama ibu. Saira akan jaga kalung ini,” kata Saira.             “Iya. Kamu bilang makasih juga langsung ke ibu, ya?” pinta Gibran.             Saira mengangguk. “Iya. Tapi…”             “Kenapa?”             “Kamu kenapa bohong? Gak mungkin cuma karena kamu gak mau ganggu.”             “Saya gak apa-apa, sayang… kamu pulang gih, nanti kesorean. Kan harus masak kue,” kata Gibran.             Saira tersenyum. Gibran sudah kembali seperti Gibran yang Saira kenal. Saira hendak memasukkan kotak berisi kalung dari Ibu Dewi, namun ia sadar bahwa ia tidak membawa tasnya saat mengejar Gibran. Tas sekolahnya masih ia tinggal di kantin.             “Kenapa?” tanya Gibran yang melihat Saira kebingungan.             “Saira!” Saira mendengar suara Adnan memanggilnya dari jauh.             Saira menoleh. Adnan berjalan menuju ke arahnya sambil menenteng tas ransel hitam miliknya.             “Nih tas lo. Tas kok ditinggal-tinggal,” kata Adnan.             “Tumbler gue…”             “Nih!” Adnan memberikan tumbler dengan gambar bunga matahari besar. “Tumbler matahari lo juga lo tinggal.”             Saira menerima semua barang yang dibawakan Adnan. Saira mencari Bian dan Aliyyah, dan tidak menemukan keberadaan kedua temannya itu.             “Thanks. Aliyyah sama Bian mana?” tanya Saira.             “Masih di kantin,” jawab Adnan.             “Terus kok lo bawain barang-barang gue?”             “Ya takutnya lo pulang. Jadi gue bawa biar lo gak balik lagi ke kantin.”             “Terus lo mau pulang?”             “Enggak, gue mau balik lagi ke kantin. Udah ya, bye.” Adnan mengakhiri pembicaraan dan berbalik menuju ke kantin lagi.             Saira menoleh pada Gibran. Wajahnya sudah tidak ada senyum lagi. Saira menyesali Adnan yang repot-repot membawakan barang-barangnya. Semuanya hanya membuat hubungannya dengan Gibran menjadi canggung.             “Adnan baik, ya,” kata Gibran. Saira tidak tau apakah itu sindiran atua pujian yang Gibran katakana mengenai Adnan.             “Gibs, kamu jangan marah ya. Saira kan gak tau kalau Adnan akan ke sini bawain barang Saira,” kata Saira memelas.             “Gak marah, kan saya bilang Adnan baik. Udah ya, saya pulang dulu.”             Saira mengangguk. Ingin sekali rasanya ia menahan Gibran, namun tidak tau bagaimana caranya dan harus berkata apa.             “Oh iya. Kado dari ibu dipakai ya, sampai kamu jadi menantu ibu,” kata Gibran sebelum benar-benar berlalu. *** “Kamu marah sama Saira?” – Saira 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN