Saira menempelkan layar handphone di telinganya dan mendengar dering telepon Gibran untuk kesekiankalinya hari ini. Ini sudah kali keempat ia mencoba menelepon Gibran karena ingin tau apakah pacarnya itu marah atau tidak. Selain itu, ia juga ingin mengucapkan terima kasih pada Ibu Dewi atas kalung pemberiannya.
Saat kelima kali Saira tidak mendapat jawaban dari Gibran dan hanya mendengar nada dering, Saira menutup telepon dan hendak mematikan dayanya sekalian. Kini ia juga berbalik marah pada Gibran.
Kenapa semua jadi seolah-olah salahnya? Ia tidak tau Adnan akan datang khusus untuk membawakan semua barang-barangnya. Ia juga tidak salah sama sekali karena Adnan duduk di depannya dan mereka mengobrol bersama. Toh, saat itu mereka bersama dengan Bian dan Aliyyah juga. Saira kesal. Tidak, Saira marah. Marah sekali karena merasa tidak adik.
Namun, belum sempat Saira mematikan daya telepon genggamnya, Saira mendengar nada dering dan nama Gibran tertera di layar. Gibran menelepon. Saira marah, namun ia merasa bersyukur karena Gibran meneleponnya balik.
“Halo,” kata Saira dengan hati-hati.
“Halo. Sorry, saya tadi lagi bantu ibu masak,” kata Gibran dengan nada lebih serius dari biasanya. Tidak seperti Gibran yang Saira kenal.
“Gibs, ini Saira,” kata Saira.
“I know. Saya belum hapus kontak kamu,” jawab Gibran.
“Kok bilangnya gitu?” tanya Saira.
“Kenapa nelpon? Gak ada tugas? Udah masak kue untuk besok?” tanya Gibran.
“Kamu sibuk ya?”
“Lumayan.”
“Maafin Saira, ya,” kata Saira memelas.
“Emang salah apa?” tanya suara di seberang.
“Ya, makanya Saira gak ada salah. Kamu jangan marah,” kata Saira membela diri.
“Kalo gak ada salah kenapa minta maaf?”
“Gibs…”
“Ya?”
“Kamu kok gini?”
“Gini gimana?”
“Kamu marah sama Saira?”
“Nice question,” kata Gibran tanpa benar-benar menjawab pertanyaan Saira.
“Kamu marah?” tanya Saira lagi.
“Enggak,” sahut Gibran.
“Kok jutek?”
“Enggak, ah,” kata Gibran mengelak. “Kamu kenapa nelpon?”
“Gak boleh nelpon ya?”
“Boleh. Terus, setelah nelpon mau diem-dieman aja?”
“Mau minta maaf,” kata Saira.
“Minta maaf kenapa? Kalo gak salah jangan minta maaf,” kata Gibran.
“Saira tadi ngobrol sama Adnan,” kata Saira, meskipun ia sendiri tidak tau bahwa mengobrol dengan Adnan adalah kesalahan.
“Emang salah ya ngobrol sama Adnan?”
“Gak tau. Abis kamu kelihatan marah setelah Saira ngobrol sama Adnan. Kamu maafin Saira, dong!” kata Saira ngotot. Ia kesal dan merasa dipermainkan.
“HAHAHAHAHA,” tiba-tiba Gibran tertawa. “Kamu lucu banget kalo lagi panik dan merasa bersalah. I love you!”
“IH!”
“Saya emang agak bete sih karena kamu ngobrol deket banget sama Adnan. Apalagi dia sengaja bawain tas kamu, pula. Emang kamu deket sama dia ya sekarang? Kayak kamu deket sama Bian gitu?” tanya Gibran.
“Enggak. Gak sama sekali,” jawab Saira jujur.
“Terus?”
“Ya terus Saira gak tau kenapa dia kayak gitu. Dan tadi kan kita ngobrol berempat, bukan cuma berdua.”
“Mungkin dia suka kali sama kamu.”
“Saira… gak peduli,” jawab Saira. Dan ia yakin bahwa Adnan tidak mungkin menyukainya. Sikap Adnan padanya selama ini selalu kejam.
“Baguslah. Saya tenang dengarnya. Walaupun… dia lebih baik dari saya,” kata Gibran. “Ya paling enggak untuk sekarang ini.”
“Jangan bilang gitu!” kata Saira. Lalu Saira mengulang, “Saira minta maaf, ya?”
“Iya, sayang. Saya gak marah lagi kok. Lagi pula saya ngerasa terlalu kekanakan aja kalau marah karena hal sepele gitu.”
Saira tersenyum. Ia lega karena Gibran tidak marah lagi padanya.
“Saira mau ngomong sama ibu, dong,” pinta Saira.
“Halo,” suara Ibu Dewi memenuhi telinga Saira seteleh beberapa saat tidak ada jawaban dari seberang. Gibran pasti tengah memberikan teleponnya pada Ibu Dewi.
“Halo, Ibu. Ini Saira, Bu,” sapa Saira sopan. “Assalamualaikum.”
“Waalaikum salam warohmatullah,” kata Ibu Dewi menjawab salam.
“Ibu, Saira udah terima kado dari Ibu. Makasih banyak, ya Bu. Saira suka banget. Kalungnya cantik banget,” kata Sambil memegang kalung pemberian Ibu Dewi yang kini dia kenakan.
“Alhamdulillah kalo Nak Saira suka. Dijaga ya, Nak. Itu dulu dikasih ayahnya Gibran loh, pas sebelum kami menikah. Dari Turki,” jelas Ibu Dewi dengan semangat. Saira perhatikan Ibu Dewi memang selalu semakan jika membicarakan hal yang berhubungan dengan almarhum suaminya.
“Iya, Bu. Kalungnya bagus,” kata Saira.
“Iya, Nak. Kalau gitu, ibu mau tidur dulu ya. Ngantuk sekali, capek habis siap-siap untuk jualan besok. Nak Saira juga jangan tidur malam-malam, ya,” kata Ibu Dewi.
“Iya, Ibu…” jawab Saira. Ia tersentuh karena Ibu Dewi begitu tulus, persis seperti Gibran pada dirinya.
“Halo,” suara Gibran kembali ke sambungan.
“Halo.”
“Kamu udah ngantuk?”
“Udah. Kamu tidur juga ya. Pasti capek abis bantuk ibu,” pesan Saira.
“Iya, sayang. Bye. Nighty night!”
“Bye,” jawab Saira. “Bye sayang,” kata Saira lagi. Namun kali ini Gibran tidak bisa mendengarnya karena telepon sudah ditutup.
Saira bersyukur. Sungguhnya besyukur memiliki Gibran, dan kini memiliki Ibu Dewi yang sangat tulus kepadanya.
Meskipun Saira tidak tau bagaimana nanti hubungannya dengan Gibran, ia yakin dan optimis pada pada kemampuan Gibran. Ia yakin pacarnya itu tidak main-main, itulah kenapa ia bisa menjadi kapten basket. Bahkan, tanpa iming-iming akan diterima pun, Gibran pasti bisa masuk dan lolos seleksi. Semua itu hanya perkara mudah baginya.
Hari ini Saira akan tidur nyenyak, ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak memikirkan Gibran, meskipun agaknya sulit karena ini ia terlalu bersyukur. Bahkan Saira masih tetap mensyukuri Gibran yang cemburuan dan lain sebagainya. Sekecil papaun itu, semuanya masih selalu Saira syukuri. Selama ini bersama Gibran.
Saira memejamkan matanya selesah meletakkan telepon genggam di samping tempat tidurnya. Ia tersenyum. Ia tertawa sendiri mengingat kecemburuan Gibran. Sayang sekali. Lelaki itu tidak mendegar Saira memanggilnya sayang.
***
“Gibs, bukannya kamu udah janji sama Saira?” tanya Saira dengan wajah sedih yang tidak biasanya. Kali ini wajahnya seperti seorang anak kecil yang merajuk karena tidak jadi diberikan es krim yang sudah dijanjikan sebelumnya.
“Masa sih gue pernah janji?” tanya Gibran berusaha menyangkal.
“Kamu lupa?” tanya Saira. Air matanya sudah tidak sabar ingin mengalir, matanya sudah berkaca-kaca sejak tadi.
“Apa sih Saira? Kamu harus dewasa dong. Namanya pacaran ya pasti ada putusnya. Kita kan udah gak cocok,” kata Gibran mulai tidak sabar.
“Katanya kamu minta Saira untuk tunggu sampai kami lolos seleksi. Tapi sekarang gilira kamu udah lulus, kamu mau ninggalin Saira?”
Gibran menghelas napas. Ia menoleh pada Saira dan menatap pacarnya yang ingin ia jadikan mantan. “Sar, makasih ya kamu udah nemenin saya sampai sekarang. Tapi, kita memang sepertinya gak cocok. Kamu kayaknya cocok sama Adnan.”
“Adnan? Saira gak ada apa-apa sama dia,” kata Saira membelas diri. “Kamu jangan jadiin dia alasan, ya!”
“Saya udah capek liat kamu kecentilan sama dia,” kata Gibran jahat.
“Saira gak kecentilan!”
“Udahlah Sar. Intinya kita putus, ya. Saya mau fokus kuliah.”
Seketika Saira berteriak memanggil nama Gibran, napasnya memburu karena ia merasa semakin jauh dari pacarnya itu. Dan kemudian beruntunglah, Saira terbangun dari mimpi buruknya. Ia masih pacar Gibran.
***
”Dah Saira.” – Gibran