Bau rumah sakit memang menyebalkan. Sebab, terakhir kali Saira mendapati bunda harus dirawat, membuatnya cukup panik dan tidak tenang saat berjalan di koridor. Warna dindingnya yang putih dan wajah-wajah kelelahan yang duduk di ruang tunggu, membuat Saira mengiba. “Duh, gue gak tau kamar berapa, Nan,” kata Saira saat mereka sudah masuk ke dalam lift dan Saira bingung harus menekan tombol lantai berapa. “Gak apa-apa, tadi Aliyyah udah kirim kamarnya. Kayaknya Aliyyah dapat info…,” belum selesai Adnan menyelesaikan kata-katanya, Saira langsung memotong. “Yaudah. Oke,” kata Saira memotong. Ia tidak peduli Aliyyah, mendapat kabar dari mana. Ia hanya ingin segera menemui Gibran. Mendengar jawaban Saira, Adnan diam saja. Pintu lift

