BAB 53 - FIRASAT

2167 Kata
Seleksi basket akan diadakan dua hari lagi. Gibran sudah menyelesaikan Ujian Nasionalnya dan ia sudah tidak sabar untuk mengikuti pertandingan. Hampir setiap hari sejak hari terakhir Ujian Nasional, Gibran selalu menelepon Saira dan bilang bahwa ia sangat nervous. “Kamu pasti bisa, Gibs,” kata Saira menenangkan. Ia mengambil medali yang Gibran berikan tempo hari dan menggenggamnya. Waktu itu bisa, sekarang Gibran pasti bisa juga, kata Saira dalam hati untuk menenangkan diri sendiri. “Aamiin, doain saya ya, Sar,” pinta Gibran. Terdengar dari nada bicaranya yang bergetar, Gibran pasti benar-benar nervous. “Iya, Gibs. Saira juga mau kamu lolos seleksi,” kata Saira tulus. “Thank you. Besok saya mau antar ibu ke Bogor. Terus saya istirahat seharian, besoknya seleksi, deh.” “Ibu mau ke Bogor ngapain?” tanya Saira. “Ada kerjaan di sana,” jawab Gibran. “Jangan kecapekan ya kamu,” kata Saira. “Iya,” sahut Gibran. Saira sebenarnya ingin Gibran tetap di rumah besok seharian, tidak perlu kemana-mana agar ia tetap fit saat lomba. Namun, menyangkut urusan Ibu Dewi, Saira tidak mungkin melarang Gibran. Jika ia jadi Gibran pun, ia pasti akan melakukan hal yang sama. *** Gibran: sayang, udh tidur ya? Gibran: saya baru mau jln pulang dr bogor (22.00) Saira tidak membaca pesan Gibran saat lelaki itu memberi tahu bahwa ia baru saja akan pulang ke rumah dari Bogor. Saira tidak menanyakan kenapa Gibran tidak sesuai dengan rencananya untuk segera pulang dan istirahat untuk besok. Saira terbangun jam 12 malam karena benar kata Gibran, bahwa ia sudah tertidur ketika pesan dari Gibran masuk ke handphone-nya. Saira membaca dengan mata menyipit karena cahaya dari layar handphone mengusik pupil matanya. Saira: hati2 kamu udh malem (00.20) Dan pesan dari Saira tidak sampai ke Gibran. Pesan itu tidak berhasil terkirim, entah karena handphone Gibran sedang dalam keadaan mati, atau karena nomor Saira diblok oleh Gibran. *** Esoknya Saira terbangun pagi-pagi sekali dan hingga rasanya ia masih sempat untuk membereskan seisi rumah, dandan yang cantik, memasak untuk bunda dan Fatih, juga membawakan Gibran hadiah karena hari ini ia aka nada pertandingan untuk penentu masuk Universitas. Saira memeriksa handphone-nya dan mendapati pesannya semalam tidak terkirim ke Gibran. Ia menduga handphone Gibran mati karena kehabisan daya Gibran pasti terlalu lelah untuk mengisi daya telepon genggamnya tersebut. Saira hanya berharap Gibran tidak kesiangan untuk mengikuti seleksi hari ini dan tampil prima nanti. Saira memandangan langit dari jendela kamarnya. Hari ini suasana begitu cerah, hingga Saira rasanya bisa menggambar ulang bentuk awan dan memilahnya dari langit. Jendela kamar Saira buka sedikit, dan ia bisa merasakan udara pagi yang sejuk. Belum ada satu kendaraan pun yang lewat di depan rumahnya, begitu pun tidak ada suara mesin mobil atau motor yang dipanaskan karena akan dipakai. Inilah atmosfer yang paling Saira sukai. Sejuk, tenang, dan damai. Ia sudah menunggu-nunggu hari ini. Ia sudah berkali-kali berdoa agar Gibran dipermudah hari ini dan hubungannya juga Gibran semakin membaik. Sebuah botol minuman yang sudah hampir kosong dengan selembar kertas tertemepl di sana bertuliskan hari pertama Saira dan Gibran bercengkerama, mengenal, dan tau bahwa mereka ada. Saira memandangnya. Saksi pertama antara dia dan Gibran. Kalung biru khas Turki yang tergantung di leher Saira juga kini menjadi perhatian Saira. Saira memandang pantulan dirinya di cermin dan melihat kalung itu, mengingatkan dirinya pada Ibu Dewi. Sungguh ia tidak bisa bersyukur lebih dari saat ini. Ia tidak tau bahwa perlakuan Ibu Dewi pada dirinya akan sebegitu baiknya, dan ia bersyukur dengan semua kebaikan keluarga kecil itu. Konon kalung itu adalah pemberian dari ayah Gibran saat ia dinas ke Turki. Betapa Saira sungguh merasa seperti diistimewakan oleh keluarga Gibran. Kebaikan Ibu Dewi dan Gibran benar-benar membua Saira tidak akan pernah tega menyakiti mereka. Terakhir, Saira memandang sebuah medali yang tergantung di gantungan pakaian di kamarnya. Sebuah medali pemberian Gibran yang lelaki itu dapatkan dari perlombaan terakhir yang ia menangkan. Saira tersenyum lagi. Udah kayak drama Korea aja, katanya dalam hati. Lalu, Saira tertawa sendiri. Saira memandang lagi jendela kamarnya. Embun pagi masih terlihat dengan jelas di jendela kamarnya, menandakan perbedaan suhu di antara kamar Saira dan bagian luar jendela. Dan hal sepele seperti itu pun bisa membuat Saira tersenyum, seolah embun pagi tidak pernah dilihatnya seumur hidup. Bergantian memandang botol minum kosong, kalung biru dari Ibu Dewi, dan medali dari Gibran, membuat Saira mengingat saat-saat ia bertemu Gibran, gosip-gosip menggemaskan yang mewarnai hubungan mereka yang tidak jelas, rumor buruk tentangnya dan Gibran, hingga saat Gibran hingga mereka resmi pacaran secara mendadak. Semuanya begitu menyenangkan, meski diwarnai dengan momen-momen menyebalkan saat Gibran sibuk, ia sibuk dengan penjualan kue, Gibran yang cemburu pada Adnan, pada Bian, ia yang sempat cemburu pada Aliyyah, pada Amanda, dan seluruh hal menyebalkan lainnya, Saira tetap merasa hubungannya dan Gibran sempurna. Ditambah lagi, Saira dan Gibran sudah berhasil berkenalan dengan keluarga masing-masing. Tampaknya bunda, Salman, dan Fatih menyukai Gibran. Begitu pula dengan Ibu Dewi yang juga menyukai Saira, terbukti dengan kalung biru pemberian Ibu Dewi. Lama-lama membahagiakan diri sendiri dengan memandang satu-satu barang yang mengingatkannya pada Gibran, Saira lupa bahwa sudah waktunya ia bersiap untuk sekolah. Saira belum mandi dan membereskan barang-barang untuk dibawa ke sekolah. “Sairaaaa!” suara bunda mengagetkan Saira yang masih tenggelam dengan pikirannya mengenai Gibran dan ia masih memandang pantulan dirinya di cermin. Saira menepok dahinya. Ia baru sadar bahwa ia sudah menghabiskan waktu lebih dari setengah jam hanya untuk drama membosankan yang ia buat sendiri. Ingat! Ini bukan drama yang seru untuk dikhayalkan setiap hari, kata Saira dalam hati, mengingatkan dirinya sendiri. “Iya, Bunda!” jawab Saira, sebelum bunda memanggilnya dengan memburu karena menduga bahwa ia belum bangun. “Kok belum mandi? Udah jam berapa ini?” Tanpa menunggu apapun atau melanjutkan aktivitas sebelumnya, Saira langsung bergegas mengambil handuk dan berlari menuju kamar mandi di luar kamar. Ia berusaha secepat kilat agar tidak perlu mendengar bunda mengomel karena sikapnya yang tidak disiplin. Percayalah Bunda, Saira udah bangun pagi hari ini, kata Saira dalam hati, seolah bunda sudah menegurnya. Sebenarnya bunda melihat Saira lari secepat kilat dari kamar menuju kamar mandi. Namun, bunda tidak ingin membuat Saira menjadi panik, sehingga perempuan dengan tiga orang anak itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia kemudian menyiapkan bekal untuk Saira. Karena jarak yang lumayan, Saira sampai di sekolah saat seluruh siswa SMA Pelita Mulia sudah rapih di kelas masing-masing, kecuali beberapa anak yang bersiap untuk seleksi hari ini di lapangan basket indoor. Saira melihat sebuah bis dari SMA Cahaya Surya terparkir di parkiran khusus tamu yang biasanya kosong. Saira yakin Gibran pasti sudah bersiap di dalam lapangan. Sembari menaiki tangga menuju kelasnya, Saira memeriksa telepon genggam yang ia simpan di saku jaketnya. Hari ini ia memakai jaket parasite yang sudah lama tidak ia pakai. Karena kebetulan hari ini udara lebih dingin dari biasanya, maka ia memakai jaket. Pesan terakhir yang Saira kirim ke Gibran nyatanya belum terjawab, bahkan belum terkirim. Apakah handphone Gibran rusak? Suara ketukan sepatu menandakan seseorang berjalan menuju ke arah yang sama dengan Saira. Suara itu bukanlah suara sepatu siswa, melainkan suara hak tinggi guru perempuan yang Saira sudah hapal betul. Saira menoleh ke belakang dan menemukan seorang perempuan dengan tubuh agak berisi dan kerudung panjang. Perempuan dengan wajah teduh itu tersenyum melihat Saira yang panik karena berpapasan dengan dirinya. “Bu Lisbet. Maaf Bu, saya terlambat,” jawab Saira gugup. Ia menyalahkan dirinya sendiri karena sibuk bermain handphone dan bukannya buru-buru ke kelas walaupun sudah hampir terlambat. “Gak apa-apa. Ayo, ke kelas,” jawab Bu Lisbet. Beruntunglah Saira bertemu dengan Ibu Lisbet pagi ini. Bagaimana kalau ia bertemu dengan guru lain yang sengaja mencari kesalahan siswa? Saira dan Bu Lisbet berjalan bersama menuju ke kelas. “Morning, all,” kata Bu Lisbet saat memasuki kelas diikuti dengan Saira yang langsung berjalan ke tempat duduknya sambil cengar-cengir karena terlambat. Ia sempat melirik tempat duduk Bian dan tidak menemukan Bian di sana. Ketua OSIS itu pasti sudah di lapangan basket. Entah untuk ikut bertanding, atau hanya memberi kata sambutan. “Morning, Ma’am,” jawab seisi kelas, termasuk Saira. “Bian udah ke lapangan ya?” tanya Saira pada Aliyyah dengan berbisik agar suaranya tidak terdengar oleh yang lain. “Iya,” jawab Aliyyah singkat. Pelajaran hari ini terasa sangat membosankan dan waktu terasa sangat panjang. Saira terus dan terus memeriksa handphone-nya dan memandang ke jendela. Bahkan pelajaran biologi berlangsung membosankan dan Saira ingin cepat-cepat pergi dari kelas meski hampir seluruh siswa terlihat menikmati metode belajar Bu Nova hari ini. Dan sayangnya, Saira juga tidak bisa keluar kelas saat waktu istirahat karena ia harus menyelesaikan tugasnya. Untunglah, Adnan dan Aliyyah mau menemani Saira. Konon, meskipun Saira bisa keluar kelas dan wara-wiri di sekitar sekolah, ia tetap tidak akan bisa menghampiri Gibran. Lapangan basket indoor itu ditutup hanya untuk anggota club dan tamu-tamu penting yang memiliki undangan. Hal ini wajar saja, mengingat pertandingan hari ini juga akan menjadi penentu penerima beasiswa universita untuk anak kelas tiga, dan penentu kapten basket selanjutnya bagi anak kelas dua. “Pertandingannya itu mulai jam berapa, sih?” tanya Saira saat ia sedang mengerjakan tugas dibantu dengan Adnan dan Aliyyah yang juga sibuk dengan pekerjaan masing-masing. “Gak tau,” jawab Adnan acuh tak acuh yang membuat Saira kesal. Ia hanya melirik Adnan dengan ketus dan mengalihkan pandangan matanya lagi. Setelah kelelahan dengan aktivitas hari ini, Saira keluar dari kelasnya. Ia melewatkan waktu sholat karena sedang halangan dan benar-benar tidak keluar kelas sampai saat ini. Beruntung bunda menyiapkan bekal untuknya. Bagaimana bisa ia menjadi super sibuk saat hari pertandingan Gibran dan bagaimana bisa pesan yang ia kirimkan tidak terkirim? “Saira!” panggil Nadia. Saira menduga Nadia sudah tau kabar kemenangan hari ini. Ia tidak sabar mendengar nama Gibran menjadi penerima beasiswa. “Apa?” “Gak apa-apa,” jawab Nadia setelah melihat wajah Saira. “Ih, kenapa?” “Lo mau ke rumah sakit?” “Hah?” “Katanya Gibran kecelakaan,” jawab Nadia. Saira memastikan bahwa ia tidak salah dengar dan meminta Nadia mengulang pernyataannya. Dan jawaban perempuan hitam manis dengan rambut kuncir kuda itu tetap sama. Gibran kecelakaan. “Kapan?” tanya Saira. Mungkinkah Gibran cedera saat bermain basket barusan? Lalu bagaimana dengan seleksi beasiswanya? Dan cedera macam apa yang mungkin terjadi? “Lo belum tau?” tanya Nadia. Wajahnya seperti menyatakan bahwa ia tidak percaya. “Belum,” jawab Saira jujur. “Katanya semalam kecelakan motor,” jawab Nadia. Detak jantung Saira seolah saling bertautan dengan bunyi detak suara jarum jam yang berdetik. Ia tidak tau harus bagaimana dan harus lari kemana. Kaki Saira mendadak lemas dan ia tidak bisa menahan lututnya yang bergetar hebat, seolah ingin seirama dengan denyut jantungnya. Ia menunggu keterangan selanjutnya dari Nadia. “Kak Gibs…..,” kata Saira entah untuk apa. Pantas saja pesannya tidak terkirim, apalagi tidak terbalas. Pantas saja Gibran tidak juga mengabarinya sesuatu, mengenai perihal basket atau persiapannya hari ini. Lelaki itu juga tidak mengabarinya bahwa ia telah sampai di rumah dini hari ini. “Terus? Gibran sekarang dimana?” tanya Saira pada Nadia dengan wajah penuh harapan. “Keadaannya gimana? Gak apa-apa, kan?” Saira sudah tidak peduli lagi mengenai basket. Ia tidak menanyakan bagaimana pertandingan hari ini, dan apakah tim basket sekolah menang. Saira hanya berharap Gibran baik-baik saja dan hanya perlu beristirahat beberapa hari untuk kemudian kembali seperti semula. Toh, ini hanya kecelakaan ringan, kan? “Gak tau. Katanya dirawat di RS Budi Sentosa,” kata Nadia. Mencoba menenangkan diri, Saira mencari-cari pegangan. Lengannya menemukan lengan Aliyyah yang kini menahan tubuhnya dengan bantuan Adnan. Saira hampir kehabisan napas karena deru jantung yang memburu. Ini tidak buruk, ini baik-baik saja, kata Saira dalam hati. “Saira, minum dulu,” kata Adnan. Lelaki itu meminta Aliyyah mencarikan botol minum yang biasa Saira bawa ke sekolah. Usai meneguk sedikit air mineral, Saira memandang sekeliling. Ia menemukan Nadia, Aliyyah, dan Adnan memandanginya dengan iba dan khawatir. Kemudian Saira teringat pada Ibu Dewi. Dimana Ibu Dewi berada sekarang? Apakah ia bisa menemukannya di kantin saat ini? Tidak, tidak mungkin. Lalu Gibran bagaimana sekarang? Haruskah ia langsung ke sana? Bagaimana dengan keadaan Gibran? Pertanyaan-pertanyaan tak terjawab terus dan terus memenuhi kepala Saira. Membuat napasnya semakin terengah, bahwa matanya mulai berkaca-kaca karena takut. “Yuk, kalo mau ke rumah sakit. Gue anter,” kata Adnan. Saira ingin sekali menolak tawaran Adnan karena ia tau Gibran tidak akan suka. Namun, ia tidak tahu harus meminta bantuan siapa lagi. Maka, ia mengangguk dan Adnan membantunya untuk berjalan setelah sebelumnya memberi syarat, “Tapi, lo tenangin diri dulu. Jangan mikir hal-hal buruk sebelum tau kejadian sebenarnya,” kata lelaki dengan rambut cepak ala polisi itu. Sebuah anggukan dari Saira menandakan bahwa ia akan berusaha tidak berpikir macam-macam. Nadia dan Aliyyah berjanji akan menyusul setelah menemui Bian terlebih dahulu. “Lo punya nomor hape Ibu Dewi?” tanya Adnan saat mereka berjalan menuju parkiran motor. “Enggak,” jawab Saira lemas. “Yaudah, gak apa-apa,” kata Adnan. Kemudian lelaki itu memberi helm pada Saira. “Nih, pakai!” *** “Hidup saya sudah sampai di situ saja kemarin.” – Gibran
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN