Farrell menciumi punggung tangan Riri untuk menumpahkan kasih dan kerinduan yang memenuhi relung hatinya. Kelopak matanya terpejam, air mata terus mengalir dari sudut matanya. Detak jantung Riri yang terdengar dari alat medis terdengar sangat lemah. Tapi Farrell bersyukur. Setidaknya jantung Riri kembali berdetak, walaupun Riri belum juga sadarkan diri dan masih bergantung dengan alat-alat medis yang menunjang kehidupannya. Tiga hari yang lalu, Farrell harus memilih. Sebuah pilihan terberat dalam hidupnya. Tapi setelah memilih, bukannya hati Farrell semakin membaik malah beban tak kasat mata seakan menghimpit dadanya. Menekan dari segala arah, memaksanya untuk jatuh terpuruk semakin dalam. Farrell kembali menjatuhkan air matanya, apakah keputusannya kali ini benar? Tangisnya memudar seir

