KF ~ Putus

1124 Kata
Not all problems can be solves merely by analyses. -----• --• Jam tujuh malam. Kim melajukan mobilnya dengan kecepatan rendah, seakan menikmati jalanan ramai Ibu Kota, juga menikmati saat saat mengendarai mobil baru pemberian Papi. Sesekali dia mengalihkan pandangan ke luar jendela, melihat hiruk pikuk kendaraan yang berlalu lalang, juga beberapa pejalan kaki yang terlihat tengah melangkah di trotoar. Kim tersenyum samar, tidak tau apa yang dia rasakan saat ini. Untuk sesaat, dia benar benar lupa pada dunia, lupa pada tempatnya berpijak saat ini, dan lupa tentang banyak hal yang tidak seharusnya dia lupakan. Namun apalah daya saat hati tidak sejalan dengan tindakan, hingga menjadikannya tampak seperti orang gila yang benar benar gila, tersenyum bahkan bernyanyi dengan keras dan percaya diri hanya karena terlampau senang. Tidak hanya itu, dia bahkan mulai bermain dengan khayalannya, memikirkan tentang banyak hal, and there are many questions about what and why. Mungkinkah Rick akan melamar dan memberinya cincin pertunangan? Adalah salah satu pertanyaan konyol yang tiba tiba terlintas di kepalanya begitu saja. Semakin di pikir, maka semakin membuatnya merona dan bahagia. Tidak! Bahkan sangat bahagia. Tanpa terasa mobil Kim sudah tiba di depan sebuah coffeshop tempatnya dan Rick sepakat untuk bertemu. Kim turun dari mobil setelah berhasil memarkirkan mobilnya tepat di sebelah mobil Rick. Jelas jika Rick sudah tiba lebih dahulu dari dirinya. Entah kenapa perasaan gugup mulai menghantuinya, merasa ragu. Kim meneliti sekali lagi penampilannya, gaun putih di atas lutut tanpa lengan dan juga sepatu hak senada membuat penampilannya sangat sempurna. Seperti seorang Dewi yang membagikan kehangatan untuk semua orang. Indah di pandang mata dengan aura sejuk yang mendominasi. Kim mengangguk saat yakin jika tidak ada yang salah dengan penampilannya, menghela nafas panjang sebelum masuk ke dalam. Mengawasi sekeliling untuk mencari sosok Rick. Beberapa saat kemudian pandangannya berhenti pada sosok yang di carinya. Seorang pria tampan yang tengah duduk dengan tenang di sudut, seperti tengah mengawasi sesuatu karena tatapan pria itu terus saja menatap keluar jendela seakan ada sesuatu yang menarik perhatian pria itu di sana. "Sayang!.." Kim melambaikan tangannya. Membuat Rick menoleh dan segera meminta Kim untuk duduk di sampingnya. Kim tersenyum melihat keindahan itu, pria tampan yang sangat tampan meski hanya mengenakan kemeja hitam dengan aksen emas di kerahnya, juga celana katun panjang yang membuat Rick terlihat sangat dewasa namun terkesan misterius. Ya.. pria itu memang sangat misterius, bahkan banyak hal yang masih tidak Kim ketahui tentang pria itu hingga sekarang. Kim mendekat, dan segera memeluk Rick tanpa ragu. Merasa rindu meski baru dua hari tidak bertemu. Sedangkan Rick juga membalas pelukan Kim, bahkan mencium bibir Kim sekilas. Menyeret tubuh Kim agar duduk di sisinya. Mereka berdua saling menatap untuk waktu yang lama, tidak ada yang berniat untuk memulai pembicaraan. Mereka seakan menikmati pertemuan ini, menikmati kebersamaan ini, dan juga menikmati waktu seakan tidak ada hari esok lagi. Kim mengamati wajah Rick lekat, mencoba mencari sesuatu di kedalaman mata Rick, namun Kim tidak menemukan apapun selain aura dingin dan arogan yang terpancar. Bagaimanapun, Rick adalah pria yang tidak banyak bicara, lebih banyak berpikir dan kemudian akan bertindak secara cepat namun tepat. Mungkin Rick hanya sedang gugup saat ini, bagaimanapun, melamar seorang gadis memang memerlukan waktu dan suasana yang tepat. Juga membutuhkan mental sekuat baja. Meskipun Rick bukan pria yang pandai berkata manis dan romantis, namun Kim menyukai Rick karena pria itu cenderung akan menunjukan melalui sikap sebagai bentuk perhatiannya. Kim sendiri adalah sosok yang selalu berpikiran terbuka, berpandangan luas dan selalu berpikir positif, tidak ingin menerka ataupun menebak pemikiran seseorang melalui tindakannya, karena itu sama sekali bukan keahliannya, dan tidak selamanya persoalan dapat di selesaikan dengan cara menganalisa. Kim yang tidak ingin berspekulasi lebih jauh memilih untuk menyusun setumpuk perasaan rumit yang mengganjal menjadi tumpukan tinggi dan rapi. Tidak ingin membongkar atau mengutak atiknya lagi. "Rick.. what happened? Are you alright? I feel youre a tittle weird today? Atau.. kamu merasa gak enak badan?" Kim membuka suara pada akhirnya. Memecahkan keheningan di antara mereka berdua. Merasa bosan karena mereka hanya diam dan juga khawatir saat melihat wajah Rick yang tampak pucat. Rick terbangun dari lamunannya, mengerjapkan mata dan menoleh ke sampingnya, dimana seorang gadis cantik duduk di sana. Rick tersenyum hangat saat melihat Kim yang sama, masih Kim yang cantik dan juga anggun "Gak, sama sekali gak ada yang salah." Rick menghela nafas panjang. "Aku cuma ngerasa lelah belakangan ini. Banyak hal yang harus aku pikirin." Ucapnya lesu, bahkan nyaris tidak terdengar. Kim menyentuh wajah Rick dengan kedua tangannya, "aku hanya khawatir karena wajahmu terlihat sangat pucat, " dia mulai merasakan keanehan pada Rick. Seperti bukan Rick yang biasanya, rasanya seperti orang asing yang tidak saling mengenal satu sama lain, bahkan terkesan dingin. "Sebenarnya apa yang ingin kamu omongin sama aku, apa itu sangat penting?" Rick memegang pergelangan tangan Kim, kemudian mengangguk, "aku cinta banget sama kamu, sangat dalam sampai aku sendiri nggak tahu seberapa dalamnya." Rick menjeda kalimatnya, seakan bingung untuk merangkai kata menjadi sebuah kalimat yang tidak menyakitkan saat di dengar. "Ibu memintaku buat pulang ke Selandia Baru, sepertinya aku akan menetap untuk waktu yang lama di sana, bahkan mungkin aku akan melanjutkan studiku di Negara itu." Kim mendengarkannya dengan seksama. Dia tersenyum simpul setelah Rick mengakhiri kalimatnya. "Bukankah itu bagus? Kamu akan ketemu Ibu, seharusnya kamu ngerasa seneng kan?" Kim mengangkat sebelah alisnya, heran karena Rick sama sekali tidak menunjukan rona kebahagiaan yang seharusnya terpancar saat seorang anak bisa bertemu dengan Ibunya. Rick hanya bisa menundukan kepala, tidak berani menatap Kim meski hanya sedetik. Dia merasa bersalah pada gadis cantik yang satu ini, "tapi itu adalah masalah utamanya, Kim. Aku gak punya pilihan lain selain mengakhiri hubungan kita!!" Kim membulatkan mata, mencoba mencerna arti dari ucapan yang baru saja terlontar dari bibir Rick. Mengakhiri hubungan?? Kim menggelengkan kepalanya, tidak yakin dengan apa yang di dengarnya. Hanya ada dua kemungkinan di sini, jika bukan Rick yang salah bicara, pasti Kim yang salah mendengar. Pasti.. karena tidak mungkin Rick memutuskannya kan? Mustahil. "Sebenarnya maksud kamu apa? Aku masih gak ngerti!!" Kim bertanya untuk memastikan jika Rick memang salah bicara. "Aku mau putus!!" Rick berkata dengan tenang. Meski hatinya meronta, namun bibirnya tetap harus mengatakan ini. Tiba tiba Kim tertawa, "jangan bercanda, Rick! Ini sama sekali gak lucu!" Kim menggelengkan kepala, menolak untuk percaya jika Rick memang memutuskannya. "Im sorry, Kim. Tapi aku gak pernah seserius ini dalam hidupku." Ucap Rick datar, berusaha membuat Kim yakin jika kata putus yang di ucapkannya memang nyata, bukan sekedar omong kosong apa lagi sebuah gurauan. Kim terpaku mendengar ini, PUTUS Sebuah kata laknat yang terlontar dengan gamblang dari Rick. Kata putus itu mulai bergulir dalam pikirannya. Masih merasa jika ini hanyalah kesalahan. Setelah beberapa saat, Kim akhirnya kembali pada akal sehatnya, dan mulai mengerti kemana arah pembicaraan Rick yang sebenarnya. Kim berteriak dengan frustasi. "APPAAA?? PUTUSSS???"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN