KF ~ Patah Hati

1327 Kata
Kim melihat keluar jendela dengan pandangan suram. Tidak tau apa yang di lihatnya di luar, karena apapun yang dia tatap seakan menjelma menjadi wajah Rick. Keparat itu.. Pria sialan yang berani mencampakkan saat perasaan cintanya bahkan sangat dalam. Kim merasa bodoh dengan dirinya sendiri. Berharap banyak jika hadiah dari Rick adalah sebuah cincin pertunangan, bukan kata putus yang bahkan tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Rasanya seperti naik ke lantai tertinggi, dan kemudian di hempas begitu saja hingga jatuh dan hancur. Rasa sakitnya masih terasa bahkan sampai sekarang. Tidak tau kenapa Rick tega menyakiti hati dan juga perasaan yang telah Kim percayakan pada pria itu? Kenapa? Kim meremas rambutnya dengan frustasi, mencoba bertanya pada dirinya sendiri, mencoba mencari tau dimana letak kesalahannya sampai dia di tinggalkan. Namun, bagaimanapun dia mencari, dia masih tidak menemukan jawaban apapun. Masih merasa tidak ada yang salah atau hal aneh yang sekiranya bisa memicu kata putus dari Rick. Kim tersentak, bangun dari lamunannya saat Dewi menggoncang goncangkan tubuhnya. Kim mengerjapkan mata hingga beberapa kali, dan mulai menyadari jika dia ternyata tidak berada di rumahnya sendiri, melainkan berada di rumah Dewi. Kim sendiri bahkan tidak menyadari bagaimana dia bisa tiba di sini. Juga Nada yang sudah berada di sini dan tengah menatapnya dengan tatapan tajam penuh tanya. Wajar jika Dewi dan Nada sangat khawatir saat melihat keadaan Kim. Melihat Kim yang tidak seperti biasanya, yaitu diam mematung dan membisu sudah menunjukan aroma keanehan yang bahkan bisa tercium dalam radius sepuluh meter, dan hanya orang bodoh yang tidak mengerti dengan perubahan drastis yang Kim tunjukan. "Kim.." Dewi masih menggoncang tubuh Kim, berusaha membuat kesadaran Kim kembali. Mulai merasa takut saat tatapan Kim semakin terasa kosong dan hambar, "Sebenernya lo kenapa sih? Sumpah, demi apa.. gue takut ngeliat lo kayak gini!!" Nada menepuk pelan bahu Dewi, "Wi, dia kenapa sih?" Nada melirik ke arah Kim, berusaha mencari tau dengan menanyakannya pada Dewi. Namun, Dewi hanya mengangkat bahu, sama sekali tidak tau. Dia sendiri tidak jauh lebih bingung dari Nada, "dia gak gerak satu incipun sejak satu jam yang lalu, Nad! Seriusan, gue takut dia kesambet!" Nada semakin khawatir setelah mendengar ucapan Dewi, "lo sebegitu bahagianya di beliin mobil baru sampai lo setengah gila kayak gini? Atau.. lo kehabisan kata kata karena dapat paket liburan ke Bali dari Mami? Bukannya gimana ya, Kim, tapi menurut gue, lo itu super duper lebay. Gimanapun lo kan udah sering bolak balik Bali, masa iya sih lo masih alay gitu? Kampungan lo.. bikin malu!" Dewi menoyor kepala Nada, "b**o lo pakein formalin, pantes awet!!" Dewi menggerutu, merasa kesal pada wanita gila yang satu ini, "apa menurut lo, Kim keliatan kayak orang yang lagi bahagia? Mikir dong, Nad!!" Kesal karena Nada masih tidak bisa membaca situasi. Dengan merasakan aura yang Kim pancarkan, seharusnya cukup membuat Nada mengerti jika mood Kim lagi buruk dan kacau. Nada mengusap kepala bekas toyoran Dewi, "Kutu Kupret!! Sakit tau!!" Nada merengut, "lagian.. mana gue tau kalo Kim aja gak ngasih tau, Wi? Lo pikir gue punya baskom berisi air yang bisa di pake buat nerawang pikiran orang? Gila aja!!" Nada membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Lelah hanya dengan melihat tingkah ajaib Kim yang lebih mirip orang dengan gangguan kejiwaan. "Lo ngomong dong, Kim! Minimal jelasin biar gue sama Nada gak kebanyakan berspekulasi." Dewi masih berusaha sekuat tenaga untuk mencari tau, "Lo mau kita berdua lumutan gara gara nungguin lo ngomong?? Ayolah Kim! Are you okey? Or.. is there a serious problem?" Kim menghela nafas panjang, menoleh ke arah Dewi dengan tatapan sendu, lebih mirip anak ayam yang di tinggalkan oleh sang induk, terasa pilu dan menyesakan. Kemudian Kim memeluk Dewi erat. Tidak tau harus memulai dari mana dulu, tidak bisa menjelaskan karena ini terlalu rumit. "Gue...." Kim menjeda kalimatnya, merasa ragu. Apakah dia sungguh sungguh harus mengatakan ini pada ke dua sahabatnya? "Gue.. gue di putusin, Wi," suara Kim terdengar lemah, bahkan nyaris tidak terdengar. "Apa???" Dewi berusaha memastikan sekali lagi dengan bertanya pada Kim, merasa jika pendengarannya sedikit bermasalah belakangan ini. "Gue tau kalo lo itu gak budeg, Wi. Lo gak salah denger karena Rick emang udah mutusin gue," Kim mengusap setitik air mata yang jatuh begitu saja. Terasa nyeri saat kembali mengingat hubungannya dengan Rick telah kandas. Sulit menerima kenyataan meski kenyataan itu sudah berada di depan matanya. Nada dan Dewi terdiam, tidak tau harus menanggapi apa. Bagaimanapun patah hati adalah penyakit kronis yang bisa menimbulkan banyak efek samping, salah satunya adalah seperti yang tengah Kim rasakan sekarang. Dewi menyeret Kim dan mendudukkannya di atas ranjang, "Why? Kenapa Rick mutusin lo?" Merasa iba saat melihat sahabat cantiknya ini di campakkan. Sangat mengerikan. Bahkan gadis secantik dan sepintar Kim saja masih berisiko di buang oleh kekasihnya. Cinta memang rumit. "Dia mau bermigrasi ke Selandia Baru nyusul emaknya, dia gak bisa LDRan, makanya dia mutusin gue," jawab Kim lesu, merasa jika perjuangannya selama ini hanyalah sia sia. Sama sekali tidak berarti saat hidupnya bahkan sudah di bawa pergi oleh Rick. Nada menajamkan tatapannya, "terus lo percaya gitu?" Kim mengangguk. "Ampun deh, Kim. Lo pikir ini jaman purba? Ini bukan jaman dimana LDR harus di ributin," suara Nada naik lima oktaf, pertanda jika Nada tengah memasuki fase emosi stadium awal, "kalo kangen.. gampang.. tinggal telefon, kirim chat, atau video call kan bisa?? Bisa bisanya Rick ngasih alasan kuno yang gak masuk akal kayak gitu, dan begonya.. lo percaya sama alasan itu." "Hah?" Kim tersentak. Merasa jika ucapan Nada ada benarnya. Bagaimanapun Rick bukan tipe pria yang akan mempermasalahkan long distance relationship untuk hal seperti ini. Pasti ada sesuatu yang salah, dan mungkin Rick memang menyembunyikan sesuatu darinya. But.. why?? "Kalo menurut gue sih, mungkin dia mau di nikahin paksa sama cewek pilihan emaknya di Selandia. Alasan kenapa dia mutusin lo adalah karena dia gak mungkin melihara dua betina dalam satu sangkar." Dewi yang semula bungkam, akhirnya buka suara. "Astaga.. Wi, lo sadar gak sih kalo lo itu cuma bisa menganalisa dan menyimpulkan hasil dengan cara sok tau? Lo mau jadi detektif gadungan terus di uber masa gara gara ngasih analisa palsu??" Nada terpancing amarah setelah mendengar ucapan konyol Dewi yang tingkat kekonyolannya sudah di luar nalar. Dewi meringis, mengibarkan bendera perdamaian, namun apalah daya saat niat baiknya justru di abaikan oleh Nada. "Terus.. lo nanya ada alasan lain gak? Misalnya, lo kurang cantik, kurang seksi, kurang baik, kurang pinter, atau alasan apa gitu yang masuk akal?" "Gue gak punya hak buat nanya kayak gitu. Dia udah minta putus, berarti murni karena dia udah ngerasa gak ada kecocokan lagi sama gue. Mempertahankan juga gak ada gunanya, karena mencintai secara sepihak itu hanya akan memberikan luka dan gak ada manfaatnya sama sekali." Kim berkata dengan bijaksana. Perasaan benci bahkan tidak tercipta hanya karena satu alasan; yaitu cinta. Namun, saat rasa tulus yang dia berikan tidaklah cukup, maka hubungan tidak lagi bisa berjalan. "Dan satu hal yang harus lo tau, gue anti kalo harus mohon mohon cinta ke cowok. Love is love, but self esteem remains number one." Ucap Kim percaya diri. Merasa jika prinsip hidup yang di anutnya selama ini bukanlah suatu kesalahan. "Prinsip ngaco, gaje.. karena pada nyatanya, love is blind, cinta itu buta, jadi gak ada yang namanya harga diri dalam kisah cinta yang sebenarnya," Nada menolak keras prinsip hidup Kim. Tidak terima saat Kim mengatakan jika harga diri tetap nomor satu meski untuk urusan cinta sekalipun. Itu salah besar karena di anggap melanggar hak asasi percintaan. "Udah Kim, gak usah dengerin bacot Nada!! Good job, gue suka gaya lo dan gue juga setuju banget if love is damn!!" Dewi mengedipkan sebelah matanya, "tapi.. sejauh ini, gue masih gak ngerti sama isi pikiran Rick. b**o dia udah mutusin lo. Di saat seratus cowok antri buat nyuri perhatian lo, dia malah satu satunya yang berani nyampakin lo. Sumpah.. gue salut sama keberanian dia. Punya nyali gede juga dia." "Cowok sampah kayak gitu itu banyak dan beragam. Gak perlu capek capek nyari karena mungut di got juga banyak," Nada berusaha untuk menghibur Kim, "mulai sekarang, lo harus lupain si jahannam Rick!!!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN