"Lupain Rick?" Kim menatap tajam Nada, "lo pikir gue gak mau lupain dia apa? Gue juga mau, tapi.. ekspektasi itu gak segampang teori, Nad, dan ngelupain orang yang pernah lo sayang, orang yang pernah ngisi hari hari lo, orang yang pernah jadi alasan lo buat bertahan hidup itu gak semudah balikin telapak tangan." Kim menolak dengan tegas ucapan Nada karena di nilai tidak sesuai peri kemanusiaan dan peri keadilan.
"Maksud gue bukan gitu, Kim. Lo sentimen amat sih? Calm napa!!" Nada mencoba menenangkan Kim yang mulai terbawa suasana. "Lagian, salah lo juga yang pake acara bawa perasaan segala, putus.. repot sendiri kan??"
"Ya kali.. yang namanya orang pacaran, hubungan normalnya pasti bawa perasaan, Nad!!" Suara Dewi meninggi, kesal saat mendengar ucapan Nada yang aneh binti ajaib, "emang ada hubungan yang murni gak pake feel? Lo gak pernah pacaran sih, makanya lo gak tau gimana rasanya. Lo mending dengerin saran gue baik baik deh, sekali kali lo juga perlu belajar buat jatuh cinta!! Anggap aja sebagai bentuk magang sebelum terjun ke lapangan." Dewi menyeringai, merasa unggul satu poin dari Nada.
Nada merajuk, "sialan! Seneng kan lo tertawa di atas penderitaan gue? Ejek terus sampai puas."
"Seneng apaan sih, Nad? Kita itu biasa, kagak seneng, cuma... bahagia aja." Dewi tertawa saat melihat ekspresi nada berubah masam. Kemudian Dewi menepuk pelan bahu Kim, "udahlah, Kim, santai aja kayak di pantai!!"
Kim menghembuskan nafas berat, merasa jika beban hidupnya semakin banyak, "gue cuma heran aja sama diri gue sendiri karena bisa kemakan omongan manis Rick yang bilang kalo dia gak bisa hidup tanpa gue, GUE BISA MATI KALO GAK ADA LO, KIM, JANGAN TINGGALIN GUE, " Kim menirukan ucapan Rick dahulu. "Tapi nyatanya? Dia gak mati meski tanpa gue, bahkan dia masih hidup sampai sekarang."
"Pfftttt.." Nada dan Dewi kesulitan menahan tawa saat mendengar ucapan Kim. Merasa jika teman mereka yang satu ini sudah bucin level maksimal. Namun, mereka tidak sampai hati untuk mentertawakan nasib Kim yang bahasa gaulnya adalah PATAH HATI. Mereka berdua lebih memilih untuk menahan tawa dan sakit perut sebagai gantinya.
"Lo tenang aja, gak usah gundah gulana. Cowok itu masih banyak, mau nyari yang model kayak gimana juga tinggal milih aja. Lagian, dengan tampang cantik dan otak pinter yang lo punya, gue yakin seribu persen kalo lo bisa dapat yang lebih baik dari si jahannam Rick. Percaya deh sama gue! Gue jamin lo gak bakal kekurangan stok cowok. One falls and a thousand spring up. Alias.. mati satu tumbuh seribu." Ucap Nada dengan keyakinan penuh.
"Mati satu tumbuh seribu?" Dewi mengusap dagunya, pertanda jika Dewi tengah berpikir keras, "cepet juga pertumbuhannya ya, Nad? Baru mati langsung bisa numbuh seribu?" Dewi menunjukan wajah tanpa dosanya.
Nada menggertakkan gigi, kesal karena Dewi terus saja menguji kesabarannya, "pingin gue hantam pake batu bata? Sumpah., demi laba laba yang hanyut di talang air, lo itu ngeselin banget!! Sebenernya lo itu di kasih makan apa sih sama emak lo? Kayaknya ngebesarin anak durjana kayak lo itu gak ada untungnya sama sekali. Bikin boros doang, ngabisin oksigen."
"No no no," Dewi tidak terima dengan caci maki yang Nada lontarkan untuknya, "lo salah, Nad. Gue gak cuma bisa ngabisin oksigen, tapi.. gue juga bisa ngabisin harta orang tua.. eaaakk."
Nada melongo, mengerjapkan mata hingga beberapa kali. Merasa prihatin kepada orang tua Dewi karena memiliki anak durhaka semacam Dewi. Tidak menghiraukan Dewi sama sekali, "udah deh, Kim, masa lalu itu harusnya di lewatin aja. Di ingetpun percuma, semua juga tetap sama dan gak akan ada yang berubah. Lo gak bisa ngelanjutin hidup kalo terus terusan di bayangi masa lalu. Satu satunya hal yang bisa lo lakuin adalah dengan melupakan semuanya dengan cara mencari penggantinya, sejauh ini paham kan?"
"Ah elah, gak perlu lo jabarin juga semua orang udah hafal di luar kepala sama teori itu kali." Ucap Dewi santai.
Kim memutar bola matanya. Tanpa sadar, ucapan Nada mulai berputar putar di otaknya.
"Sebenarnya, melupakan mantan itu gampang gampang susah. Apa lagi mantan lo itu seorang Rick? Pria tampan dengan sejuta pesona. Cowok limited edition kayak Rick itu mungkin hanya tersisa beberapa spesies di sekitar kita. Jadi.. udah jelas, bakalan susah di hapus dari ingatan." Nada melanjutkan. Berusaha mencari beberapa solusi paling ampuh untuk melupakan buaya muara sekelas Rick.
"Kebanyakan gaya lo, kayak pernah punya mantan pacar aja!!"
Ucapan Dewi seperti paku yang menancap tepat di hati Nada, terasa nyeri dan sangat menyakitkan. Kejujuran memang terkadang cukup menyakitkan, "diem lo, Demit lokal!!" Nada menoleh ke arah Kim, "ucapan gue bener kan, Kim??" Nada menunjukan puppy eyes andalannya, berharap agar Kim satu pemikiran dengannya.
Kim mengangguk tanpa ragu, membenarkan ucapan Nada karena itu memang kenyataanya, "menurut gue sih.. lo bener, Nad, apa lagi kalo dianya udah move, guenya masih on. Terasa sakit sendirian."
"Nah.. ini nih yang gue suka," Nada melonjak kegirangan, "harusnya lo bersyukur punya temen anak Manajemen kayak gue," ucap Nada membanggakan dirinya sendiri.
Dewi dan Kim saling bertukar pandangan, "emang apa hubungan move on sama Manajemen, Markonah???" Ucap Dewi pada akhirnya.
"Ini nih yang kagak gue suka dari sifat loading lama yang lo berdua tanam dalam otak lo selama bertahun tahun sampai berkembang biak." Nada menjeda kalimatnya, "lo pada gak pake otak sih, gitu aja masih nanya. Percuma kalian sekolah mahal mahal kalo ujung ujungnya masih b**o aja. Gini deh, singkatnya adalah.. dalam Manajemen Bisnis itu ada istilah yang di sebut dengan Perencana, Pengelola, Pelaksana sama Pemasaran. Jadi.. move on juga sama, perlu perencanaan. Usaha tetep wajib, tapi kalo rencananya udah matang, eksekusinya juga bakal lancar."
Dewi mengangguk, "untuk pertama kalinya dalam sejarah, gue setuju sama Nada. Biar gimanapun, lo juga butuh rencana buat kedepannya. Sukses atau enggaknya itu tergantung kemampuan lo sendiri, Kim."
Kim diam. Tidak menanggapi.
"Kalo lo masih bingung, lo percaya deh sama kita! Kita akan bantu lo buat move on. Kita usahain biar semua bisa berjalan lancar, aman dan terkendali." Nada mengedipkan sebelah matanya dengan genit.
"Gue bukannya gak percaya sama lo berdua, tapi.. gue cuma gak percaya sama hati gue sendiri." Ucap Kim lesu. Karena bagaimanapun hatinya seringkali menjadi penghianat sejati dalam hidupnya. "Sakitnya itu di sini, Nad," Kim menyentuh dadanya, "sakit tapi gak berdarah."