Nafla mengerjapkan mata beberapa kali saat sadar bahwa ia sudah tidur terlalu lama setelah pulang dari rumah sakit terdekat dari kampung halaman sang nenek. Mengingat hasil pemeriksaannya, sang nenek benar. Ia sedang hamil seorang janin yang belum terbentuk. Ya Allah... Apakah dia harus memberitahu suaminya? Tapi, bagaimana caranya? Ataukah Nafla harus diam saja? Ia melirik jam dinding yang menunjukkan pukul dua dini hari. Nafla menghela napas pelan. Kepalanya sedikit pusing mengingat akhir-akhir ini ia juga merasa terbebani. "Sayang," tegur Sandra sambil membiarkan putrinya duduk di ranjang lalu memilih terbaring. "Kita bilang suami kamu ya?" Nafla menggeleng dan mulai terisak. Rasa sakit itu kian nyata ketika membayangkan beberapa hari ini Kak Rena, Caca, dan Mas Asgaf menghabiskan

