10. The Bloody Rose

3199 Kata
Rachel selalu mengawasi ruangan gelap dan berbau anyir itu. Di mana benang sutra berwarna merah menempel di setiap dinding. Benang-benang itu berasal dari sumber yang sama, yakni sebuah kepompong besar yang menggantung di langit-langit, namun sisi bawahnya bersentuhan dengan kolam merah yang seperti mendidih, bergelembung dan meletup-letup. Dulu, kepompong itu tidak sebesar sekarang, tapi karena di dalamnya telah ditambah satu lagi kehidupan, maka bentuknya semakin membesar, dan aroma kematian tercium lebih menyengat daripada biasanya. Setiap hari, Rachel akan mempersembahkan seorang manusia kepada kehidupan di dalam kepompong. Tapi, akhir-akhir ini dia tidak melakukannya. Karena ‘Tuan’nya sudah merasa cukup dengan manusia terakhir yang Rachel bawakan. Rachel merasa, kali ini ‘Tuan’-nya tidak memakan makanannya dengan benar, melainkan melakukan sesuatu yang berbeda. Rachel bahkan bisa mendengar bisikan-bisikan mantra yang ‘Tuan’-nya tuturkan. “Saya berharap banyak pada kelahiran Tuan kali ini,” harapnya dengan penuh keyakinan setelah meletakkan setangkai bunga mawar merah untuk persembahan pada ‘Tuan’-nya. . . . The Hidden Assassin Remake 2015  . . . Sudah tiga hari semenjak Gin tertangkap oleh sekumpulan vampir yang menyerangnya di Hutan Mati. Ia sekarang berada dalam penjara bawah tanah yang berisi tawanan dari berbagai ras. Saat pingsan, ia dirawat oleh seorang gadis dari ras Elf bernama Camelia, yang juga merupakan seorang tawanan. Gin tidak terlalu mengkhawatirkan dirinya sendiri, karena yang jadi fokusnya sekarang adalah keberadaan teman pucatnya. Ia tidak bisa menemukan Gekko di antara para tawanan lain, membuatnya berpikiran yang tidak-tidak. Ketakutan terbesarnya adalah jika tiba-tiba ia mendengar berita bahwa Gekko sudah tiada, itu akan membuatnya frustasi bukan main. Ia sudah membuat sihir kecil dengan menumbuhkan tanaman yang akarnya ia gunakan untuk mencari keberadaan Gekko. Namun sampai sekarang, tanamannya masih belum membuahkan hasil. Ini benar-benar membuatnya takut. “Apa yang kau pikirkan, Tuan Gin? Apakah luka-lukamu terasa sakit lagi?” Camelia, si gadis Elf bersurai pirang, menatap Gin khawatir dengan mata birunya yang cantik. Gin menggeleng. “Tidak. Aku hanya kepikiran temanku,” jawab Gin kalem. Sebenarnya banyak sekali yang Gin pikirkan, tentang Gekko, Lizzy dan yang lainnya, kemudian para tawanan yang bernasib sama seperti dia. Ia ingin sekali menolong semua orang di dalam penjara busuk ini, tapi ia sendiri harus mencari cara untuk lolos dan segera menemukan Gekko. Ah, kepalanya pusing seketika. “Makanan!” Gin tersentak, saat seorang vampir berteriak sambil mendesis. Ini artinya sudah saatnya makan siang. Selama tiga hari ini, Gin sangat hapal kapan saja mereka akan diberi makan agar tidak mati. Ia mendengar cerita dari Camelia yang sudah empat hari berada di penjara ini, bahwa Sang Raja tidak suka meminum darah dari orang mati. Itulah sebabnya, para tawanan diberi makanan dan minuman agar tetap hidup. Jika bukan karena masih punya tanggungan, Gin pasti tidak sudi memakan makanan dari vampir-vampir b*****h yang seenaknya menganggap dia dan para tahanan lain seperti binatang ternak. Tapi, ia harus bertahan hidup dan menghimpun tenaga untuk meloloskan diri. Maka tak apalah jika bersikap seperti binatang ternak untuk sementara waktu. “Semoga kau baik-baik saja, Gekko. Kali ini aku berjanji untuk menolongmu. Ini janji seorang laki-laki.” . . The Bloody Rose. Begun! . . Gekko berjalan di atas tanah tandus berwarna hitam. Setiap kali dia melangkah, kupu-kupu hitam selalu mengikutinya. Tubuhnya terbalut kimono putih yang bagian ujung bawahnya sudah kotor karena bergesekan dengan tanah. Ia selalu kebingungan dengan langkahnya sendiri, tapi ia merasa selalu memilih jalan yang tepat. Ini sungguh membingungkan. Dari jauh terdengar seseorang memainkan akordeon, tapi suara yang dihasilkan sangat aneh dan tak sama sekali dimengerti oleh Gekko. Ketika ia melangkah semakin jauh, seorang pria pucat terlihat sedang duduk memeluk lutut di bawah pohon mati yang dihinggapi kupu-kupu hitam. Gekko menghampiri si pria, dan ia memandang lama pada pria pucat yang aromanya seperti bunga mawar itu. “Aku, bisa memberi kekuatan tanpa batas untukmu,” si pria berujar kalem. Ketika ia mendongak dan menatap Gekko, mata merahnya berkilat licik dan penuh hasutan. “Kekuatan seperti apa yang bisa kau janjikan padaku?” dan entah mengapa Gekko menanggapinya. Tapi ia seperti tertarik pada ucapan pria pucat di depannya. “Kekuatan yang akan membawamu pada keabadian,” Gekko terdiam, ada kesinisan pada tatap matanya. “Keabadian bukanlah kekuatan yang kuinginkan. Aku memiliki kekuatan yang bahkan lebih baik daripada keabadian. Apakah kau tertarik?” “Apa itu?” “Kekuatan untuk mengakhiri keabadian,” Mereka pun terdiam untuk beberapa saat. Saling menatap mata untuk berbicara dengan bahasa yang tak bisa dipahami orang lain. “Aku akan menunjukkan padamu tentang keabadian,” “Dan aku akan mengajarkanmu bagaimana membunuh keabadian,” “Mulai sekarang, kau adalah bagian dari diriku. Panggil aku, Maurice Bellemare/Gekko Hakai,” Setelah itu mereka saling mengulurkan tangan. Dan entah datang dari mana, tapi di atas telapak tangan Gekko, ada sebuah batu garnet berwarna merah, sedangkan di atas telapak tangan si pria, terdapat sekuntum bunga mawar yang berwarna merah pula. Ketika mereka saling menerima uluran tangan, batu garnet dan bunga mawar pada telapak tangan mereka pun melebur, menjadi serpihan kemudian menjadi cahaya hitam kemerahan yang menelan tubuh keduanya ke dalam ketiadaan. Itulah awal perjanjian, di mana seorang manusia dan iblis peminum darah mengikatkan jiwa mereka. Takdir kelam seperti apa lagi yang akan mereka tanggung? . . . Rachel merasakan aura luar biasa yang meledak-ledak dari ruangan Tuannya. Dengan tergesa-gesa ia segera memasuki kamar tempat Tuannya tertidur. Ia pun segera memerintahkan semua pelayannya untuk menyambut kebangkitan Tuannya. Ketika Rachel memasuki ruangan berbau mawar dan anyir darah itu, ia bisa melihat bahwa kepompong milik Tuannya sudah jatuh ke dalam kolam darah. Benang-benang sutra yang awalnya berwarna merah menyala sekarang terlihat menjadi lebih pekat. “My Lord ... ,” Rachel menghampiri kolam besar di tengah ruangan, dan dengan tenang disertai wajah bahagia, ia menyaksikan Tuannya yang keluar dari kepompongnya perlahan-lahan. Dimulai dari tangan yang berusaha merobek jalinan sutra, kemudian disusul oleh Tuannya yang terlihat berdiri tegap dengan kepala yang masih menunduk. Tubuh Tuannya berbalut pekatnya darah, dari ujung-ujung rambutnya meneteskan cairan merah kegemaran para vampir itu. “My Lord, akhirnya ... kebangkitan yang ditunggu-tunggu,” Rachel segera menyongsong Tuannya, di tangannya sudah ada kain putih yang dilipat rapi. Ketika Tuannya keluar dari dalam kolam, Rachel segera membentangkan kain putih itu dan membungkus tubuh Tuannya dengan hati-hati. “Apa Tuan lapar? Saya akan segera membawakan beberapa makanan segar,” tawar Rachel penuh perhatian. Tapi Tuannya masih diam saja. “Aha ha ha ha, apa yang dia katakan memang benar-benar terbukti. Ah ~ kekuatanku rasanya meluap-luap,” dan tiba-tiba tertawa keras seperti kerasukan. Rachel tidak mengerti dengan ucapan Tuannya, ia hanya bisa memiringkan kepalanya tanpa tahu apa-apa. Membiarkan Tuannya berbahagia dengan kekuatan baru yang sepertinya sangat hebat. “Ne~ Rachel, siapkan lima orang untukku sekarang,” setelah memberikan perintah sembari tersenyum tak wajar, Tuan dari Rachel itu melenggangkan kakinya dengan sangat ringan meninggalkan ruang penetasannya. “Yes, My Lord. Maurice Bellemare,” Rachel pun menyambut perintah Tuannya dengan senang hati. Ia mengikuti Tuannya keluar dari ruangan gelap berbau darah dan mawar itu. Ia tak tahu, bahwa ada lagi yang terlahir dari kepompong yang ditinggalkan Tuannya. . . . Lima vampir tiba-tiba saja datang ke penjara bawah tanah tempat Gin disekap. Mereka menyeret lima tawanan dengan paksa tanpa mengatakan apa-apa. Mereka biasanya memang diam saat bertugas, tapi kali ini vampir-vampir itu lebih pendiam daripada biasanya. Mereka juga jadi seperti tergesa-gesa, nampaknya ada hal besar yang terjadi. Ini gawat. Aku belum bisa menemukan keberadaan Gekko dan sekarang kejadian buruk ada di depan mataku. Apa yang harus kulakukan? Gin terus-terusan mengigit bibir bagian dalam untuk meredakan kekesalannya juga ketidakberdayaannya. Melihat itu, Camelia pun ikut-ikutan khawatir. “Tuan Gin tahu apa yang sedang terjadi?” tanya Camelia tiba-tiba. Gin tersentak mendengar pertanyaan Camelia yang diliputi kecemasan. “Tidak, aku tidak tahu. Tapi tenang saja, semua akan baik-baik saja. Aku janji,” ucap Gin dengan senyum tegar yang berusaha ia tampilkan. Camelia mengangguk. Meskipun masih khawatir, tapi ia sedikit lega mendengar ucapan Gin. Ia sudah empat hari berada dalam kurungan bawah tanah ini. Di hari pertama, ia ketakutan bukan main. Setiap detik perasaan cemas menghampirinya, ia selalu berpikiran apa yang akan dilakukan para vampir itu padanya? Apakah dia akan dibunuh? Tentu saja dia akan dibunuh. Tapi, ia belum ingin mati. Ia masih takut dengan kematian. Hingga akhirnya, di hari ke dua, seorang vampir melempar tubuh Gin ke dalam sel yang sama dengannya. Merasa iba dan merasa memiliki nasib yang sama, Camelia pun merawat Gin seadanya hingga pria pirang itu bisa lebih sehat meskipun luka-luka di tubuhnya belum bisa sembuh. “Bawa lima makanan lagi untuk Raja!” Semua tawanan di dalam sel tersentak saat mendengar seorang vampir berteriak memerintah. Mereka semua tahu, lima makanan artinya akan ada lima tawanan lagi yang akan diambil untuk dijadikan hidangan bagi Sang Raja. “Bukankah kau mengatakan, mereka sudah menghentikan hal ini sejak tiga hari lalu?” bisik Gin pada Camelia. Camelia mengangguk, “iya, benar. Saat aku di sini untuk pertama kali, mereka masih melakukan hal ini. Mereka mengambil satu atau dua tawanan. Tapi, hari ini rasanya terlalu banyak ...,” tutur Camelia lirih. “Tapi, jika diperhatikan. Mereka menghentikan mengambil tawanan di hari yang sama dengan kedatangan Tuan Gin di sini,” lanjut Camelia lagi. Gin tersentak. Di hari yang sama dengan kedatanganku? Apa ini ada hubungannya dengan Gekko? Tapi ... tidak, tidak mungkin. Bahkan sampai sekarang keberadaan Gekko saja masih belum bisa kulacak. Gin membantin sambil menggeleng-gelengkan kepalanya sesekali. Ia kemudian membuang napas kasar untuk sekedar menenangkan diri. Terlalu asik melamun, Gin sampai tidak sadar bahwa sudah ada enam vampir yang masuk ke dalam selnya. Ia kaget luar biasa, apalagi melihat Camelia yang ada di belakangnya meringkuk ketakutan di balik punggungnya. “Bawa mereka semua,” Seorang vampir memberi perintah. Dan kelima bawahannya segera melaksanakan ucapan dari vampir yang terlihat paling kuat itu. Tangan Gin ditarik oleh seorang vampir, dan ketika ia meronta, perutnya diberi sebuah hujaman dari kuku tajam sang vampir. “Tu ... Tuan Gin,” Camelia ingin menangis, ketika ia pun diseret dengan kasar, membuatnya terpisah dari Gin yang saat itu menahan sakit di perutnya. Sial ... ini benar-benar tidak bisa dibiarkan. Dan entah mendapat kekuatan dari mana, Gin berhasil menciptakan dua segel sihir berbentuk lingkaran yang mengeluarkan serbuk berkerlap-kerlip. Para vampir di dalam sel terkejut, mata mereka refleks terpejam untuk menghidari serbuk-serbuk dari segel sihir milik Gin. Hal itu dimanfaatkan oleh Gin untuk menarik Camelia dan membawa gadis Elf itu kabur bersamanya. Ia tidak sempat menyelamatkan tawanan yang lain, Gin berpikir, jika para tawanan itu pintar, mereka akan kabur sekarang entah bagaimana caranya. Mungkin ini bisa disebut egois atau apa, tapi Gin hanya berusaha semampu yang dia bisa, ia tidak mau memaksakan diri dan membuat semua hal menjadi lebih rumit. Ia manusia, dan dia bukanlah manusia yang bisa bersikap baik di manapun dia berada. Gin berlari sambil menggandeng tangan Camelia. Ia tidak perduli jika ada vampir atau tidak yang mengikutinya, karena sekarang ia hanya bisa berlari. Berusaha menyelamatkan diri agar dia juga bisa menyelamatkan Gekko. . . . Maurice Bellemare, sang cahaya bulan, begitulah orang-orang menyebutnya. Tapi, ia merasa bahwa dirinya bukanlah cahaya. Dia adalah kegelapan yang menelan cahaya. Membawa kehancuran bagi mereka yang memiliki harapan dan menyesatkan mereka yang diliputi kesucian. Ah~ nama yang indah. “Ne~ Rachel,” Maurice membuang satu mayat dari tangannya, yang sudah ia hisap habis darahnya. Ia memiringkan kepalanya sambil menjilati jari-jari tangannya pelan. Rambut depannya yang menutupi sebelah matanya terlihat terkena cipratan darah. Dan lengan bajunya yang berwarna putih itu pun sudah terlihat dipenuhi bercak-bercak kemerahan. “Ya, Tuan?” Rachel merespon dengan menganggukkan kepalanya sekali. Tangan kanan Sang Raja itu tengah berdiri tegap di samping sofa panjang tempat Tuannya duduk. “Kenapa rasanya aku tidak puas ya?” Rachel mengernyitkan dahi mendengar pertanyaan Tuannya. “Tidak puas? Apakah makanan Tuan kurang?” tanya Rachel takut-takut sekaligus penasaran. Maurice menggeleng, ia menengadah ke atas, entah melihat apa. “Hm~ kurasa aku menginginkan darah yang lain,” ujarnya sambil terkekeh sendiri. “Tapi, bukan berarti makanan yang kau berikan tidak enak. Hanya saja ... ada yang kurang,” lanjutnya cengengesan. Ia melangkahkan kakinya menghampiri salah satu prajuritnya yang sedang menjaga seorang tawanan. Ia pun berjongkok di depan tawanan itu dan memandangi calon makanannya lamat-lamat. “Rachel~ apa kau pernah berpikir?” tanyanya kalem, masih mengamati calon makanannya tanpa berkedip. “Tentang apa, Tuan?” tanya Rachel penasaran. Ia memperhatikan setiap gerak-gerik Tuannya dengan baik. “Kenapa kita harus meminum cairan yang rasanya seperti besi berkarat?” “Maaf, tapi saya ... tidak mengerti ucapan Tuan. Saya sungguh minta maaf,” Rachel membungkukkan badannya dalam-dalam, karena merasa tak berguna di hadapan Tuannya. “Kau tahu, bagi manusia, darah itu rasanya seperti besi berkarat, baunya juga amis sampai menusuk hidung,” Maurice membelai pipi tawanan di depannya. “Hmm, kau pikir dari mana aku mengetahui sensasi seperti itu?” “Maksud Tuan?” tanya Rachel lagi, masih tidak mengerti. Tapi bukannya menjawab, Maurice malah menggigit leher makanan di depannya dan menghisap darahnya rakus. Setelah selesai dengan satu makanannya, ia bediri kemudian berjalan untuk kembali duduk di sofa favoritnya. “Kurasa, aku sudah mulai mengalami dampak dari perjanjian yang kulakukan dengan gadis itu. Hmm ... dia itu sebenarnya manusia atau monster ya,” Maurice bergumam sendiri, juga tertawa-tawa sendiri. Kebiasaan anehnya ini sangat dimaklumi oleh Rachel. Dari dulu Tuannya memang selalu bertindak tak masuk akal dan suka cengengesan tidak jelas. Tapi, meskipun mirip orang sinting, Rachel tidak pernah meragukan setiap perintah dan ucapan Tuannya. Karena pada akhirnya, Tuannya selalu memberikan ending yang memuaskan. “My Lord!”  Seorang pengawal tiba-tiba berada di depan Maurice sambil membungkuk memberi hormat. “Saya ingin melapor, bahwa ada dua makanan yang kabur,” Maurice memiringkan kepalanya ke kiri. “Lalu? Apa harus aku yang menangkap?” tanyanya dengan intonasi manja namun dingin. “Ti ... tidak My Lord, saya akan segera mengurus ini,” Si pengawal pun tiba-tiba menghilang, ia pergi untuk menjalankan tugasnya. “Rachel,” “Ya Tuan,” “Tarik anak itu dari tugas, dia sepertinya perlu berlatih lagi. Ambil alih tugasnya, kau tidak keberatan kan~?” “Dengan senang hati, My Lord,” . . . Gin masih memegang pergelangan tangan Camelia saat ia sudah terduduk lelah sambil bersandar di tembok. Ia menahan sakit yang terus menghujam perutnya. Darah merembes perlahan mengotori pakaiannya yang sudah kotor sejak kemarin. “Tuan Gin ... saya mohon bertahanlah,” Camelia berusaha menyalurkan energinya kepada Gin dengan cara menggenggam telapak tangan pria pirang itu. Kemampuannya sebagai Elf hanya sebatas memberikan energi melalui sentuhan. Sejak kecil, yang bisa Camelia lakukan hanya memberi daya hidup untuk makhluk di sekelilingnya. Ia bukan Elf kalangan atas, oleh karena itu kemampuan supranatural miliknya sangat terbatas. “Jangan memaksakan diri, Camelia. Sekarang kaburlah tanpaku. Aku yakin kau bisa kabur tanpa tertangkap. Jika bersamaku, kau malah akan kerepotan. Aku sudah kehabisan tenaga dan kesulitan membuat segel sihir,” ujar Gin tegas sambil menepis tangan Camelia. “Tidak mungkin. Saya tidak mungkin bisa meninggalkan Tuan Gin,” Camelia berusaha meraih tangan Gin lagi. Air matanya pun sudah berkumpul di pelupuk matanya. Ia ingin menangis, karena ketakutan dan karena ketidakberdayaan. “Maaf ... apa aku mengganggu drama kalian?” Gin dan Camelia serentak menoleh pada suara lembut yang tak asing di telinga mereka. Dan benar saja, ada Rachel yang sedang berdiri anggun di tengah lorong. Merasa tak ada yang bisa dilakukan selain melawan, Gin pun dengan cekatan membentuk sebuah segel sihir berbentuk segi lima. Segel sihir milik Gin melecutkan akar yang bergerak sendiri untuk melilit Rachel. Tapi, sialnya, kecepatan akar Gin tak sebanding dengan kecepatan menghindar milik Rachel. Alhasil, Rachel bisa berkelit dengan mudah, kemudian berlari ke arah Gin dan menusuk d**a Gin sekali. Gin yang memang sudah kehabisan tenaga, langsung ambruk seketika. Dan untuk Camelia, Rachel hanya memukul tengkuk gadis Elf itu sekali, Camelia pun tumbang. “Yang begini saja tidak bisa ditangani. Ck,” setelah menggerutu, Rachel membopong Camelia dan Gin di bahu kiri dan kanannya. Ia akan mempersembahkan makanan lezat ini pada Tuannya. . . . Rachel meletakkan tubuh Gin dan Camelia di depan Maurice yang saat itu sedang berbaring di atas sofa sembari melempar-lempar kepala manusia dengan satu tangannya. Tuannya memang suka bermain seperti itu. “Yang satu ini penyihir, dan satunya lagi Elf. Entah bagaimana mereka bisa kabur dari penjara,” lapor Rachel dengan penuh hormat. Tanpa bicara, Maurice melempar kepala yang dia mainkan ke lantai. Kemudian beranjak berdiri untuk menghampiri dua makanan barunya. Ia berjongkok di depan dua calon makanannya, dan seperti biasa mengamati tanpa berkedip. “Mereka masih bisa hidup loh kalau dibawa ke tabib,” ujar Maurice tenang. Jemarinya menoel-noel pipi Camelia, berusaha membangunkan gadis Elf itu. “Sayangnya, tidak ada tabib di sini, jadi aku tidak bisa menyelamatkan mereka. Daripada kesakitan, bukankah akan lebih baik jika mereka mati?” tanyanya berbasa-basi pada Rachel. Rachel mengangguk. “Suatu kehormatan bagi mereka, Tuan,” jawab Rachel berusaha menyenangkan hati Maurice. Maurice pun terkekeh. Ia kemudian menggoncangkan bahu Gin dan Camelia bergantian. “Hei ~ bangunlah. Kalian masih bisa mendengarku kan?” tanyanya sambil terkikik tidak jelas. Tak lama, Camelia dan Gin pun membuka mata mereka. Dan betapa terkejutnya saat yang mereka saksikan pertama kali adalah wajah cantik milik Maurice. Camelia sampai terpesona melihat senyum ramah dari Maurice. “Ka ... kau, siapa?” tanya Gin pelan. “Bisakah kau lebih sopan saat bertanya pada seorang Raja?” Dan suara Rachel mengejutkan Gin yang saat itu sudah berharap banyak pada makhluk cantik yang menatapnya. “Ra ... Raja?!” Gin seketika memaksakan dirinya untuk duduk. Setelah diperhatikan, ternyata memang Rachel yang tadi memberi peringatan padanya. Barulah Gin sadar, bahwa sekarang ia ada di sarang seorang monster peminum darah. Camelia yang juga menyadari keadaannya, segera bangkit berdiri sambil memasang sikap defensif. “Kenapa kalian ketakutan begitu?” tanya Maurice kalem. Ia dengan cepat memeluk tubuh Camelia dari belakang. Camelia tersentak kaget, karena tiba-tiba Maurice sudah mendekap tubuhnya erat. Camelia bahkan tidak bisa bergerak ketika Maurice menjilat lehernya pelan. “Jauhkan tanganmu darinya!” teriak Gin parau. Ia manahan sakit di sekujur tubuhnya, darah dari perutnya pun masih merembes tak berhenti. Ia sampai tidak bisa berdiri karena kakinya terlalu lemas untuk digerakkan. “Tidak sopan. Jangan berteriak pada Tuan,” dan Rachel malah menambah luka Gin dengan menendang tubuh Gin hingga pemuda itu tersungkur di lantai. “Makanan yang memberontak biasanya berkualitas tinggi,” ujar Maurice cengengesan. “Tapi, gadis cantik juga biasanya kualitasnya tidak kalah baik kok. Jadi tenang saja, Nona,” lanjutnya terkikik, berbicara pada Camelia seakan-akan ia tengah membesarkan hati Camelia, padahal kenyataannya, ucapannya itu malah semakin membuat Camelia merinding ketakutan. Kemudian, menghiraukan Gin yang sedang meringkuk kesakitan, juga Camelia yang tak bisa bergerak sambil menahan tangis, Maurice Bellemare menancapkan taringnya di leher jenjang Camelia. Raja sinting itu, menghisap darah Camelia dengan pelan namun tegas. Dia memang selalu menikmati makanannya dengan baik. Gin ingin menangis saat itu. Gadis baik yang sudah merawatnya, kini tengah meregang nyawa di hadapannya. Ia tidak berdaya dan ia membenci dirinya sendiri untuk hal ini. Air matanya pun meleleh, membasahi pipinya yang kotor karena tanah dan debu. Sekarang Gin sudah pasrah. Apapun yang akan terjadi padanya, biarlah terjadi. “Maafkan aku, Camelia,” batinnya meraung. Ia hanya menatap hampa pada Maurice yang membuang mayat Camelia ke lantai begitu saja. “Kematian seperti ini, bahkan tak pernah terbayang olehku. Apa mungkin karena selama ini aku tidak cukup baik pada Ibu tiriku? Jadi Tuhan menghukumku dengan cara seperti ini,” ingatan tentang Ayahnya yang menikah lagi berputar di kepalanya. Ia mengingat-ingat sikap buruknya pada Ibu tirinya. Ah, ia menyesal sekarang. Kenapa ia tak mencoba bersikap sedikit lebih baik. Kemudian, ingatannya beralih pada kekasihnya, Lizzy. Gadis pirang yang menyemangatinya ketika dia terpuruk. Kekasih cantiknya yang selalu membesarkan hatinya. “Kalau aku mati, kau nanti akan menikah dengan siapa, Lizzy?” ia pun tersenyum kecut saat memikirkan Lizzy. Matanya hanya bisa menatap Maurice yang berjalan mendekat ke arahnya. Ia juga tidak memberontak ketika tangan Maurice menjambak rambutnya dan memperhatikannya dengan pandangan mata aneh yang tak bisa Gin artikan. “Aku bahkan belum memenuhi janjiku pada Gekko. Heh, menyelamatkan apanya. Sekarang aku sudah seperti ini, bagaimana bisa aku menyelamatkannya?” Gin semakin putus asa. Ia bisa merasakan Maurice yang mengendus lehernya, ia juga bisa merasakan dinginnya taring Sang Raja ketika menempel di kulitnya. Tapi, saat Gin menutup mata. Ia tiba-tiba merasakan bahwa tubuhnya seperti berpindah tempat. Dengan penasaran, ia membuka kembali matanya. Dan benar saja, ia kini sedang berada di pundak seseorang. Ketika orang itu meletakkan tubuh Gin di atas lantai dengan lembut, barulah Gin menyadari bahwa orang itu, yang menyelamatkannya, tak lain adalah ... “Ge ... Gekko?” “Hn,” Betapa Gin ingin menangis sambil memeluk teman kecilnya itu. Gekko kini sedang berada di hadapannya. Berdiri tegap dengan tatapan dingin seperti biasanya. Hanya saja, ada yang membuat Gin ketakutan saat itu. Bahwa Gekko, sekarang memiliki mata semerah ceri, dengan tubuh yang berlumuran darah dari ujung rambut sampai ujung kaki. Gin bahkan bisa melihat darah yang masih menetes-netes dari ujung rambut Gekko. Temannya itu pun hanya mengenakan selembar kain gorden untuk menutupi tubuhnya hingga seperti memakai jubah. Gin merasa, ada sesuatu yang berubah pada diri teman pucatnya. Itu seperti ... Gekko telah menjadi monster yang lebih mengerikan. . TBC 02 Juni 2020 in Dreame
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN