Dream Anxiety
.
“Kau siapa?”
Saat itu Gekko masih berusia enam tahun, ketika Ayahnya memperkenalkan dia pada seorang wanita paruh baya berkimono. Wanita yang sungguh cantik dengan rambut panjang terurai, berwarna hitam juga berkilau. Kulitnya putih seperti bintang iklan. Senyumnya juga manis seperti ratu kecantikan.
“Nama saya Mizu. Mulai sekarang saya adalah pelayan pribadi Nona Gekko,”
Mendengar jawaban dari wanita cantik bernama Mizu, membuat Gekko kebingungan. Ia melihat pada Ayahnya untuk meminta penjelasan. “Kenapa Ayah memberiku pelayan? Bukankah hanya Yuki yang wajib memiliki pelayan pribadi karena dia seorang penerus?” tanyanya begitu kritis meskipun nada bicaranya sangat kekanakan.
Namun Ayahnya hanya memberi seulas senyum. Ia menepuk puncak kepala Gekko penuh kasih. “Mulai sekarang, Ayah ingin kau hanya bermain dengan Mizu. Jangan mengajak Yuki atau Ryu lagi. Mereka sudah besar dan harus melakukan tugasnya. Kau jangan mengganggu mereka. Mengerti?”
Gekko mengangguk. Ia menatap Ayahnya penuh hormat, kemudian tersenyum cerah pada Mizu. “Kau akan selalu menemaniku bermain kan?” tanyanya pada Mizu.
Mizu menggangguk dengan senyum lembut yang tak pernah lepas dari bibirnya. Dengan kalem pula, ia menggandeng tangan Gekko untuk pergi dari hadapan Sang Pemimpin Klan. Ia tak tahu, bahwa keputusannya untuk masuk ke dalam kehidupan Hakai, akan membawa bencana pada dirinya sendiri, dan juga pada anak perempuan berusia enam tahun yang sekarang menjadi majikannya.
.
.
.
The Hidden Assassin
Remake 2015
.
.
.
Hakai’s Place
.
Rumah besar Hakai adalah sebuah pulau tak bernama yang terletak di hampir ujung dari deretan kepulauan Ryukyu, Jepang. Dan pulau tak bernama tersebut merupakan pulau pribadi milik Hakai yang sengaja tidak dipublikasikan dan bahkan tak tercantum di peta dunia.
Di sanalah, Gekko mengalami berbagai hal menyakitkan yang mempengaruhi masa depannya.
“Rambut Nona Gekko sangat bagus. Lembut juga hitam. Saya harap Nona bisa menjaga rambut ini dengan baik,” Mizu berbicara kalem. Ia kini tengah asik menyisir helaian rambut Gekko yang menjuntai sepinggul.
“Hm? Kenapa harus dijaga?” Gekko menolehkan kepalanya ke belakang, memandang Mizu penuh tanya. “Memiliki rambut panjang sangat merepotkan. Jika aku tidak sanggup merawatnya, aku tinggal memotongnya. Aku bisa memiliki rambut sependek Yuki,” lanjutnya polos.
Mizu terkekeh pelan. “Nona Gekko adalah seorang perempuan. Anak perempuan tidak pantas memiliki rambut pendek,” tutur Mizu kalem.
“Tapi, kau hanya pelayanku, Mizu. Jangan memerintahku seperti itu, aku tidak suka,” Gekko menatap Mizu tajam. Tatapannya memang khas anak-anak tapi bisa sangat mengintimidasi. Mizu sampai menunduk karena merasa takut.
“Maafkan saya, Nona,” ujar Mizu lirih penuh penyesalan.
“Hari ini, kita akan bermain apa?”
Mizu meneguk ludah. Ada perasaan tertekan setiap kali Gekko menanyakan apa yang akan mereka mainkan tiap harinya. Bukan karena Gekko rewel atau punya hobi aneh soal bermain, Gekko selalu bermain selayaknya anak kecil pada umumnya, tapi, setiap kali mereka bermain, maka akan ada seseorang yang selalu merusak kenyamanan itu. Dan Mizu, sangat tidak suka berurusan dengan orang itu.
Sudah tujuh bulan Mizu bekerja pada Hakai, dan selama tujuh bulan itu pula, ia harus dihantui dengan ketakutan yang diakibatkan oleh seorang anak berusia sepuluh tahun. Seorang anak laki-laki dengan rambut perak dan tatapan ramah yang mematikan. Majikannya sering memanggil anak itu dengan nama Yuki.
.
.
Seperti sore ini, ketika Gekko sedang ingin bermain layang-layang dan Mizu mengajaknya ke padang rumput di pekarangan rumah Hakai, maka anak itu akan ada di antara Mizu dan Gekko. Ia membawa setoples biskuit coklat untuk dinikmati sendiri. Matanya manatap Gekko antusias. Apalagi jika ia melihat Gekko terjerembab ke tanah, anak itu akan tertawa-tawa bahagia.
“Wooi!! Gekko! Kau mau aku membantumu?! Apa layang-layang itu terlalu berat untukmu?!” anak itu berteriak-teriak sambil mengunyah biskuit coklatnya cepat. Ia tidak memperdulikan remah-remah yang menempel di sekitar mulutnya dan mengotori pakaiannya.
“Kau diam saja di sana, Yuki! Jangan menggangguku!” Gekko pun menjawab dengan berteriak.
Mizu yang berada di samping Gekko ingin sekali melarang Gekko berteriak seperti itu pada Yuki, karena dia tahu bagaimana akhir permainan ini saat Yuki tiba-tiba berubah mood.
SRAAT!
Seperti dugaan Mizu, kini Yuki sudah berada di belakang tubuh Gekko. Anak sepuluh tahun persurai perak itu mencengkeram leher Gekko dari belakang dan mengangkat tubuh Gekko ke atas dengan cengkeramannya.
“Tu ... Tuan Yuki. To ... tolong berhenti,” ujar Mizu takut-takut. Ia khawatir dengan keadaan Gekko yang sudah meronta-ronta karena tak bisa bernapas dengan baik. Kaki Nona-nya itu menendang-nendang udara karena ingin melepaskan diri.
“Kau pelayan diam saja,” ujar Yuki dingin. Ia menendang sebuah batu kerikil di atas tanah ke tubuh Mizu sampai membuat wanita itu terpental sejauh lima meter.
Gekko menggeram karena melihat Mizu disakiti, gadis kecil itu menusuk pergelangan tangan Yuki yang digunakan untuk mencekiknya. Tapi, Yuki sama sekali tak mengaduh kesakitan, ia masih tenang-tenang saja dengan ekspresi dinginnya.
“Bukankah sudah pernah kukatakan, jangan pernah berteriak padaku. Aku tidak suka diteriaki,” Yuki mendesis seperti ular.
“Akh.. akhu tidak suka diperintah, olehmu. Lepaskan aku,” Gekko meronta-ronta. Ia berulang kali menusuk pergelangan tangan Yuki menggunakan kukunya yang entah bagaimana bisa memanjang. “Ayah akan membunuhmu jika kau berlebihan menyakitiku. Le ... lepaskan ak ... ku,”
“Ck, dasar tukang adu,” ujar Yuki kekanakan sambil melempar tubuh Gekko hingga gadis itu bergulung-gulung di tanah. “Lain kali aku tidak mau bermain denganmu. Weeek,” ia pun melangkahkan kakinya setelah memeletkan lidahnya untuk mengejek Gekko. Saat melewati Mizu, dia menendang perut pelayan itu kuat untuk melampiaskan kekesalannya, kemudian melenggang pergi seperti tak pernah terjadi apa-apa. Ia bahkan mengabaikan darah yang terus mengalir di pergelangan tangannya, hasil tusukan Gekko.
Mizu segera berlari menghampiri Gekko. Ia membantu Nona-nya berdiri kemudian membersihkan rok Gekko dari tanah dan rumput kering yang menempel. “Nona, baik-baik saja?” tanya Mizu khawatir.
Gekko mengangguk. “Hum, tak apa,” ujar Gekko memberi senyum pada Mizu. Ia kemudian berjalan untuk mengambil toples berisi biskuit coklat yang ditinggalkan Yuki dan mencomot satu biskuit untuk dinikmati sendiri. “Aku akan mengembalikan ini padanya,” gumamnya. “Mizu tolong turunkan layang-layangku ya. Aku akan ke tempat Yuki, dia meninggalkan biskuit coklatnya,”
Mizu mengangguk. Sambil melihat kepergian Gekko, ia mengusap perutnya yang terasa nyeri. Tendangan Yuki sangat menyakitkan. Ia tak habis pikir, bagaimana bisa Nona-nya bertahan di dekat manusia seperti Yuki. Bahkan setelah Yuki mencekiknya, Gekko sama sekali tak terlihat marah atau menyimpan dendam. Gadis kecil itu bersikap seolah-olah tindakan Yuki adalah sesuatu yang wajar dan patut dimaklumi. Begitu pula dengan Yuki, setiap kali ia menyakiti Gekko, ia pun tak pernah merasa bersalah.
Tujuh bulan Mizu berada di tengah-tengah keluarga Hakai. Tujuh bulan pula ia melihat interaksi yang terjadi antara Gekko dan Yuki. Tapi, sampai sekarang Mizu tak pernah bisa mengerti jalan pikiran majikannya. Jika seperti ini terus, entah bagaimana caranya ia bisa mengorek informasi tentang Hakai.
.
.
.
“Bagaimana perkembanganmu di sana?”
“Tidak banyak yang bisa kudapatkan. Di sini aku tidak bisa leluasa bergerak,”
“Mereka memang orang-orang yang tangguh. Bersabarlah lebih lama dan juga berhati-hatilah,”
“Tanpa diberi tahu pun aku mengerti,”
PIK!
Mizu memutus sambungan telephonnya. Ia menghela napas kasar kemudian memijit pelipisnya perlahan. Sekarang pukul satu dini hari, tapi ia tidak boleh tidur. Jam-jam seperti ini adalah waktu yang tepat untuk sedikit menyusup lebih dalam ke kediaman utama Hakai. Penjagaan di sekitar rumah utama Hakai memang selalu ketat, tapi menyusup pada malam hari akan lebih mudah dibandingkan siang hari, tentu saja.
“Kita lihat, seberapa jauh aku bisa menyusup ke dalam rumah utama,” gumam Mizu penuh percaya diri. Ia bahkan tidak menyadari keberadaan seseorang yang kini sedang berdiri tanpa minat di belakangnya.
“Apanya yang seberapa jauh? Kau mau menyusup ke dalam rumah? Duh, bodohnya,”
Spontan Mizu membalik tubuhnya menghadap belakang. Dan betapa kagetnya saat ia menjumpai Yuki sedang asik memperhatikannya sambil mengorek hidungnya dengan jari kelingking.
“Tu ... Tuan Muda,” Mizu tergagap. Ia tidak menyangka bahwa manusia yang paling tidak ingin ditemuinya malah sekarang sedang memergoki tindakannya.
“Sejak awal aku sudah tahu kalau kau ini mata-mata. Bahkan Ayah dan Ibu juga sudah tau, tapi mereka membiarkanmu berkeliaran di sini hanya karena mereka ingin melihat perkembangan Gekko,” jelas Yuki tak berminat. Ia mengambil sebungkus kecil makanan ringan dari dalam saku jaketnya, kemudian membuka bungkusnya dan memakannya dengan lahap.
“Ap... Apa maksud Tuan Yuki?”
Dengan enggan, Yuki pun menjelaskan lagi. “Meskipun tahu bahwa kau ini mata-mata, tapi Ayah sengaja mempekerjakanmu di sini. Kau ini ... hanya diumpankan untuk perkembangan Gekko. Kalau kau sudah tidak dibutuhkan, kau pasti akan langsung dibunuh,” terang Yuki mengedikkan bahu.
Mizu lebih merilekskan tubuhnya. Ia tersenyum kecut sekaligus sinis. “Jadi begitu ya. Sejak awal bukan aku yang mengawasi, tapi kalian. Aku terlalu meremehkan keluarga ini sepertinya,” ucapnya sambil tersenyum miring.
“Kembalilah ke kediaman pelayan. Kau hanya akan mati jika tetap memaksa masuk sekarang,”
Setelah memberi perintah pada Mizu, Yuki pun melenggang pergi dengan gayanya yang santai dan seperti tidak perdulian itu. Memastikan bahwa Yuki berada jauh darinya, Mizu kembali menelephon seseorang.
“Aku sudah ketahuan. Segera kirim bantuan untukku. Aku tidak mau mati sia-sia di sini,”
.
.
.
Pagi ini, Gekko masih bermain ditemani Mizu. Ia sedang mengumpulkan kerang di pantai ketika sekelompok orang tiba-tiba mendatanginya dan menyerangnya. Usianya masih enam tahun, dan cara bertarung yang dipelajarinya hanyalah melukai dengan kukunya, ia bahkan belum bisa bergerak secepat Yuki. Maka, saat penyerangan itu terjadi, ia bisa dengan mudah tertangkap. Apalagi, Mizu juga hanya diam tanpa berusaha menolongnya.
“Mereka teman-teman Mizu?” tanya Gekko kekanakan pada Mizu yang sekarang sedang memasangkan borgol dikedua tangannya.
“Ya,” dan Mizu menjawab dingin, tidak seperti Mizu yang biasanya.
“Teman-teman Mizu menangkapku, kenapa Mizu membantu mereka? Mizu adalah pelayanku, seharunya melindungiku. Mizu mengkhianatiku? Jika Mizu melakukannya, Ayah akan marah. Mizu bisa mati,” Gekko memberondong Mizu dengan banyak pertanyaan. Mizu sampai bingung harus menjawab yang mana dulu. Selain itu, sikap Gekko yang mengkhawatirkan keadaannya, membuat Mizu sedikit goyah. Kebersamaannya dengan Gekko selama tujuh bulan, sedikit banyak mempengaruhi emosionalnya.
“Saya harap Nona Gekko tidak salah paham. Selama ini saya memang seorang mata-mata. Saya tidak sama sekali mengkhianati Nona Gekko,” akhirnya Mizu berusaha memberi pengertian kepada Gekko.
“Hmm ... mata-mata ya? Jadi, Mizu sudah membohongiku?” tanya Gekko lagi.
“Iya, Nona,”
Melihat interaksi antara Mizu dan Gekko, membuat seorang laki-laki bertopi koboi mendecak tidak suka. “Kau tidak perlu berbicara sesopan itu padanya, Mizu. Dia tawanan,”
Mizu pun diam saja menanggapi kritikan temannya. Dalam lubuk hati, ia sangat menyayangi dan menghormati Gekko, tentu akan sangat sulit baginya untuk bersikap tidak sopan pada mantan majikannya.
Masih dalam kebimbangannya, Mizu dan teman-temannya dikejutkan dengan kehadiran empat orang yang berjalan tenang menghampiri mereka. Dalam sekejap, suasana menjadi begitu sunyi dan mencekam. Bunyi deburan ombak malah menjadi backsound mengerikan untuk mengiringi kedatangan empat orang itu.
“A ... apa mereka anggota inti keluarga Hakai?” laki-laki bertopi koboi bertanya pada Mizu.
Mizu mengangguk, sebelum menjelaskan. “Mereka anggota inti Hakai. Sanshain sang kepala keluarga, yang perempuan itu Kusuri, dan dua putra mereka, Ryu dan Yuki,”
Laki-laki bertopi koboi mengangguk paham.
“Ha ha ha ha ha, Gekko bodoh sekali. Lihat, Yah. Dia tertangkap begitu mudah. Dasar tidak berguna,” tawa Yuki sangat keras. Ia tertawa terpingkal gara-gara adiknya tertangkap. Sekelompok penyusup yang menangkap Gekko sampai bingung dibuatnya.
Sanshain tidak memperdulikan tawa Yuki yang berlebihan itu. Ia melangkah sendirian mendekati sekelompok penyusup yang menangkap anak perempuannya.
“Bisa kembalikan putriku?” tanya Sanshain kalem.
Seorang pria besar maju untuk menghadapi Sanshain, ada seringai mengejek yang ia tunjukkan dengan percaya diri. “Tidak semudah itu, Tuan Hakai,”
Sanshain menghela napas. Ia paling tidak suka dengan musuh yang suka bertele-tele seperti ini. Maka dengan tidak sabar, ia pun meninju d**a si pria besar, dengan sekali hentak, pria besar itu pun mati.
Teman-teman si pria besar mundur beberapa langkah secara serentak, mengantisipasi serangan Sanshain yang tidak terduga dan mematikan itu.
“Ayah tidak perlu repot-repot. Biar aku saja yang tangani ini. Aku sedang ingin bermain. Boleh ya?” Yuki berlari-lari menghampiri Ayahnya dan memohon untuk diberi kesempatan ‘bermain’. “Aku janji tidak akan ada yang terlewat. Aku juga janji tidak akan menjadikan mayat mereka sebagai makanan untuk Sebastian,” Yuki masih memohon.
Sanshain sampai geleng-geleng kepala.
“Ijinkan saja dia, Yah. Lagi pula Ayah masih punya banyak pekerjaan. Serahkan saja semuanya pada Yuki,” Ryu, si anak tertua, ikut-ikutan membujuk Sanshain.
“Ryu! Apa-apaan kau ini. Jangan membiarkan kenakalan adikmu semakin parah! Dia kalau bermain suka lupa waktu dan melalaikan latihan juga tugas-tugasnya!” Kusuri, Ibu dari Ryu, Yuki dan Gekko, tidak tinggal diam.
Mendengar istri dan anak-anaknya yang berisik. Akhirnya Sanshain melenggangkan kakinya pergi. Ia menyerahkan semuanya pada Yuki. Meskipun ia akhirnya harus mendengar istrinya yang mengomel tiada henti.
Setelah Sanshain dan Kusuri pergi, sekarang tinggal Yuki dan Ryu yang bertahan untuk menghadapi para penyusup.
Penyusup yang menangkap Gekko merasa kesal luar biasa. Mereka benar-benar diremehkan. Ini sungguh penghinaan yang tak termaafkan.
“Sialan. Mereka meremehkan kita. Mereka pikir bocah itu bisa mengalahkan kita?!” seorang pria berjenggot mengeluarkan protesnya.
“Jangan meremehkan anak itu,” Mizu menasihati. Ia tidak ingin teman-temannya lalai dengan menganggap Yuki adalah anak kecil lemah yang tidak berguna.
Tidak memperdulikan ucapan Mizu, sekelompok penyusup itu pun maju bersamaan untuk menghancurkan Yuki. Tapi dengan sigap, bocah laki-laki sepuluh tahun itu berhasil membunuh lima belas pria berbadan dua kali lipat lebih besar darinya. Mereka semua mati dengan jantung yang terkoyak atau tempurung kepala yang pecah. Menyisahkan Mizu yang berdiri gemetaran berhadapan dengan Yuki.
“Meskipun kemarin aku membiarkanmu, tapi kali ini aku sudah janji pada Ayah untuk tidak menyisahkan satu pun,” ujar Yuki kalem. Mizu semakin gemetar karena tahu bahwa sikap Yuki yang seperti ini adalah yang terburuk. “Jadi ada kata-kata terakhir yang ingin kau ucapkan? Aku sedang berbaik hati nih,”
Mizu diam saja. Ia manatap Yuki penuh keteguhan. Ia sudah tahu bahwa nyawanya sudah diujung tanduk, tapi tidak ada salahnya untuk berjuang mempertahankan diri kan?
Melihat Mizu yang diam, Yuki sudah memutuskan untuk mengakhiri nyawa wanita cantik itu. Ia pun mengarahkan kukunya untuk menusuk d**a Mizu, tapi ...
CRASS!
Bukan Mizu yang terluka, melainkan Gekko yang melindungi Mizu dengan mempertaruhkan pergelangan tangannya untuk menahan kuku Yuki.
“Jangan melukai Mizu. Aku belum mengijinkanmu,” ucap Gekko pelan.
Mizu membelalakkan matanya. Ia tidak percaya bahwa Gekko masih mau melindunginya. Padahal ia adalah pembohong. Ia berbohong bahwa dia bukan pengkhianat, kenyataannya, dialah sang pengkhianat. Ia tak pantas untuk dilindungi.
“Boleh aku bertanya pada Mizu?” Gekko menolehkan kepalanya untuk bisa melihat Mizu. Wanita cantik itu mengangguk sebagai persetujuan. “Apakah selama ini Mizu merasa senang saat bermain bersamaku?”
Mizu tersentak. Dengan tangan mengepal gemetaran, ia pun mengangguk. “Tentu saja, Nona,” jawabnya lirih.
“Hmm... syukurlah,” senyum mengembang hadir di bibir Gekko. “Kalau begini, aku jadi punya alasan untuk melindungi Mizu,”
Mizu kembali tersentak, air matanya sudah ada di pelupuk mata. Kenapa Nona-nya bisa sebaik ini padanya? Padahal dia seorang pembohong, seorang pengkhianat. Dialah yang membahayakan nyawa Gekko. Pantaskah dia diampuni?
“Jika Yuki ingin membunuh Mizu. Yuki harus bertarung melawanku,” ucap Gekko penuh keteguhan. Menatap mata Yuki yang terlihat ramah namun mematikan itu.
“Ck, aku benar-benar tidak suka dengan Gekko yang seperti ini. Memuakkan,” setelah mengucapkan hinaannya, Yuki segera melancarkan serangan bertubi-tubi pada Gekko. Tangannya yang berkuku tajam itu diarahkan untuk menusuk tubuh Gekko berkali-kali, dengan gerakan yang sangat cepat. Gekko yang belum bisa mengimbangi kecepatan gerakan Yuki, berkali-kali terkena tusukan di lengannya yang ia gunakan untuk melindungi diri.
Tapi Gekko tidak mau tinggal diam. Ia melompat menjauhi Yuki, meskipun akhirnya Yuki bisa dengan mudah mengimbanginya, bahkan Yuki bisa lebih cepat melompat daripada Gekko. Gekko melompat ke atas dan berusaha menendang kepala Yuki dari atas, tapi malah pergelangan kakinya berhasil dicengkram Yuki dan ia berakhir terlempar tiga meter sambil bergulung-gulung di pasir.
Melihat Gekko yang masih belum bisa berdiri, Yuki pun melesat untuk menendang tubuh Gekko berkali-kali, hingga gadis kecil itu terpental berkali-kali pula.
Tendangan Yuki yang kuat, membuat Gekko sampai terbatuk dan mengeluarkan dari dari mulutnya.
Masih belum puas menyakiti adik perempuannya, Yuki pun kembali melesat untuk menusuk perut Gekko berkali-kali. Darah merembes dengan cepat mengotori pakaian Gekko.
“Sadarlah dengan kemampuanmu,” setelah mengucapkan ejekannya. Yuki melangkahkan kakinya ke arah Mizu. Ia berlari dengan sangat cepat sampai Mizu tidak bisa menghindar saat Yuki berhasil menusuk jantungnya.
Melihat orang yang berusaha dilindunginya sekarat, Gekko manangis sejadi-jadinya. “Apa yang kau lakukan!! Sudah kubilang jangan membunuh Mizu! Kenapa Yuki tidak mau mendengarkanku!!” teriaknya sambil berlari-lari untuk mengampiri Mizu.
Yuki memutar bola matanya, tidak perduli. “Kau yang tidak mendengarkan apa perkataan Ayah,”
“Bagimana ini, bagaimana ini?!” Gekko panik sendiri saat melihat Mizu yang memegangi dadanya kesakitan.
“Tidak apa-apa Nona. Ini hukuman yang pantas untuk saya,” ujar Mizu lirih. Napasnya sudah mulai tersendat tak teratur.
“Tidak boleh, tidak boleh. Siapa yang akan bermain denganku jika Mizu tidak ada!” teriak Gekko ingin menangis.
“Ck, cengeng sekali,” Yuki yang bosan melihat adegan tangis-tangisan Gekko dan Mizu, memutuskan untuk mengakhiri semuanya. Ia dengan tenangnya kembali menusuk jantung Mizu agar wanita bersurai hitam itu segera merenggang nyawa.
Gekko menatap tubuh Mizu yang sudah tidak bergerak. Matanya membelalak dan tubuhnya gemetaran. Ia mendongak untuk melihat Yuki yang tampak tak merasa bersalah.
“Aku hanya mempercepat proses kematiannya. Kematian lebih baik daripada rasa sakit, kan?” tanya Yuki tenang dan terlihat tak perduli.
Gekko menangis. Ia berusaha memeluk tubuh Mizu yang sama sekali tak bergerak dengan dua tangan yang masih terborgol. Karena kesulitan, ia akhirnya hanya menempelkan telinganya ke d**a Mizu. Tak ada detak jantung yang dia rasakan, tak ada helaan napas dari hidung maupun mulut Mizu. Tubuh Gekko gemetaran, ia sangat takut jika Mizu benar-benar meninggalkannya.
“Hueeeee. Yuki tak boleh melakukan ini pada Mizu. Dia temanku satu-satunya. Dia yang selalu menyisir rambutku!!” tangisan Gekko semakin menjadi-jadi. Ia sedikit kesusahan mendekap tubuh Mizu dengan lengan kecilnya.
Tapi Yuki tak perduli. Ryu yang saat itu berada di sana dan melihat semuanya pun tak berusaha membantu sama sekali.
Gekko masih menangis meraung-raung, ia sampai tersedak berkali-kali oleh air matanya sendiri. Kesedihan yang begitu kuat dan rasa sakit yang menyerang tubuhnya, membuatnya tanpa sadar menguarkan aura hitam yang begitu besar. Udara di sekitar jadi terasa berat, beberapa hewan liar yang berada di area itu pun lari terbirit-b***t karena tidak ingin merasa kesakitan.
Ryu dan Yuki sedikit terkejut karena adiknya ternyata memiliki potensi sebagai pewaris. Meskipun tidak sekuat Yuki, tapi aura intimadasi yang dikeluarkan Gekko sudah sangat cukup untuk menguasai Hakai. Dan hal itu benar-benar membuat Yuki sangat marah.
Yuki tidak perduli dengan hak waris keluarga atau apapun itu, tapi ia tidak suka saat ada seseorang yang lebih kuat darinya. Ia tidak suka diimbangi, apalagi diungguli.
“Sialaaannn!!!” dan tanpa berpikir panjang. Yuki segera menerjang Gekko untuk menghajar adiknya habis-habisan.
“Yuki! Hentikan! Jangan berlebihan! Gekko masih tidak sekuat dirimu! Berhenti!!” teriakan-teriakan Ryu sama sekali tak didengarkan. Yuki masih dengan senang hati meninju perut Gekko berulang-ulang.
Gekko tidak bisa membalas, karena memang kemampuan bertarungnya tidak sekuat Yuki. Ia bahkan tidak diberi kesempatan untuk berdiri atau sekedar mengambil napas lebih dari tiga kali. Dirundung kesedihan dan kesakitan, aura hitam yang dikeluarkan Gekko menjadi sedikit berwarna ungu, aura intimidasi sejati dari orang yang putus asa dan tenggelam pada dasar kegelapan.
Yuki yang dirundung kebencian dan rasa iri pun menguarkan aura yang sama. Sehingga aura dari kakak adik itu bertabrakan di udara, bergulung-gulung menjadi satu dan mempengaruhi kehidupan di sekitarnya. Pohon-pohon meranggas, air laut surut dan sebagian pasir menghitam.
Ryu sampai harus meminta bantuan Ayah dan Ibunya untuk memisahkan adik-adiknya yang sedang kesetanan itu.
Setelah kejadian itu berakhir, Gekko sekarat dan koma sampai dua minggu. Yuki dihukum di dalam ruangan berlapis baja yang gelap, ditemani ratusan laba-laba dan ular beracun. Saat Gekko sadar, ia menjadi pribadi yang berbeda. Tak pernah tersenyum, tak lagi merengek minta bermain, dan ia selalu memaksakan dirinya saat latihan. Gekko pun jadi sering bermimpi buruk saat tidur, sehingga ia memutuskan untuk mengontrol mimpinya dengan melakukan Lucid dream setiap kali dia tidur. Karena saat ia bermimpi buruk, aura gelapnya akan menguar dan tidak terkontrol.
.#.
.#.
Seperti saat ini. Auranya yang meluap-luap membuatnya dikurung dalam sebuah kepompong, yang benang sutranya berwarna merah, karena menyerap darah dari kolam di bawahnya. Harum bunga mawar dan bau anyir darah terhirup oleh indranya. Namun ia masih tak bisa membuka matanya. Ia hanya mendengar suara berbisik seperti seseorang yang mengucapkan mantra.
Gekko ingin terbangun.
Dan sebentar lagi ia akan terbangun.
Tanpa dia tahu, bahwa dia akan menjadi seseorang yang berbeda.
.
.
TBC
07 Maret 2015 in Wattpad
02 Juni 2020 in Dreame