8. Revival

2422 Kata
Setelah mengurus berbagai macam surat untuk bisa masuk ke Trygvia, Rozen dan teman-temannya memilih untuk beristirahat di sebuah penginapan sederhana di tengah kota. Mereka hanya menyewa satu kamar untuk sekedar melepas penat. Usai mandi dan menikmati makan malam, mereka berkumpul untuk mendengarkan Rozen yang lagi-lagi memberi kuliah singkat tentang aturan-aturan di Threasyiluem, juga membicarakan tentang rencana perjalanan mereka. “Ini adalah peta yang kita gunakan untuk ke Trygvia. Sementara peta untuk ke Athanasia baru akan kita peroleh jika sudah di Trygvia,” Rozen membentangkan sebuah peta yang tidak terlalu besar di atas lantai. Empat yang lainnya memperhatikan sambil ikut duduk mengelilingi si peta. “Dengan naik kuda, kita akan butuh enam hari untuk sampai di gerbang utama Trygvia,” lanjut Rozen lagi. “Kenapa kita tidak menggunakan teleport saja? Kan lebih cepat,” celetuk Gin memberi pendapat. Rozen menggeleng. “Tidak bisa, teleport hanya bisa dilakukan di tempat-tempat yang sudah ditentukan. Lagi pula, untuk melakukan teleport ke kerajaan inti harus menggunakan segel sihir yang berbeda dan segel itu hanya ada di masing-masing kerajaan inti.” Rozen mengambil napas sejenak. “Intinya, jika kita ingin ke Trygvia, kita harus pergi ke istana utama Maknaria dan meminjam lokasi teleport khusus itu dan kita tidak mungkin melakukannya. Kalian pasti mengerti bahwa hal khusus hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang khusus pula kan?” lanjut Rozen memberikan pengertian pada teman-temannya. “Tapi, kau kan seorang pangeran,” kini Lizzy yang nyeletuk tanpa dosa. Dan celetukkan Lizzy itu sukses membuat Rozen menghela napas dalam. “Aku hanya seorang pangeran dari sebuah negeri nan kecil yang keberadaannya sudah diujung tanduk. Apa yang bisa kau harapkan dariku?” Lizzy diam. “Oh, oke,” ia melirik ke kanan, merasa salah sudah bertanya seperti itu pada Rozen. “Jadi, besok kita akan pergi ke utara. Melewati wilayah kerajaan Leander dan woaalaa! Kita sampai di Trygvia,” Rozen melanjutkan lagi. “Wow, sepertinya perjalanan yang cukup mudah,” sahut Gin percaya diri. “Tapi masalahnya ...,” Rozen berhenti sejenak, ia manatap lurus ke arah Gekko. Pandangannya serius dan seperti ada beban yang membuat mulutnya sulit untuk berucap. “Wilayah kerajaan yang akan kita lewati kali ini ... sedikit merepotkan, apalagi bagi orang yang bukan penyihir seperti ... Gekko,” Otomatis semua mata pun menuju pada Gekko. Rozen membuat gestur melingkari suatu wilayah di peta dengan jarinya sebelum ia berucap lagi. “Ini adalah Kerajaan Leander. Orang-orang di sini semuanya adalah penyihir. Tidak ada monster atau manusia biasa yang tinggal di sana. Dan ... orang-orang di sana memang sangat rasis, mereka tidak suka jika ada orang asing yang bukan penyihir masuk ke wilayah mereka,” Rozen kembali mengalihkan pandangannya untuk Gekko. “Jadi, bisa dibilang, mereka pasti tidak akan menerima Gekko memasuki wilayah mereka,” Kini Alice dan Lizzy memandang sedih pada teman pucatnya itu. Padahal Gekko sendiri tidak merasa terbebani dengan hal yang diutarakan Rozen. “Tidak masalah,” Gekko menyahut dingin. Wajah tanpa ekspresinya sama sekali tidak menunjukkan perubahan. “Aku bisa lewat jalan lainnya,” “Eeh? Ada jalan lain? Syukurlah kalau begitu,” ujar Gin senang. Meskipun ia terlihat tidak perduli pada Gekko, tapi diam-diam dia memang sebenarnya memperhatikan si maniak apel itu. “Satu-satunya jalan lain, hanya melewati Hutan Mati. Memang akan lebih cepat lewat sana daripada harus lewat Leander, tapi Hutan Mati adalah tempat yang selalu dihindari banyak orang. Bahkan penyihir tidak suka berada di sana. Ada banyak monster buangan di sana. Rata-rata yang tinggal di wilayah Hutan Mati adalah monster yang tidak suka ikut aturan kerajaan. Mereka berdiri sendiri secara ilegal di wilayah Maknaria,” Rozen menjelaskan. Ada ketidaksetujuan tentang usulan Gekko pada kalimatnya. “Aku bisa menjaga diriku,” Rozen menghela napas. “Tidak. Setidaknya kau tidak ke sana sendirian. Aku akan menemanimu. Sementara yang lainnya biar lewat Leander dengan aman,” sangkal Rozen. “Wow wow wow! Apa maksudmu pangeran?! Kau bermaksud membahayakan diri sendiri sementara kami bisa santai-santai menikmati perjalanan? Heh, jangan bercanda. Kami akan ikut,” sergah Gin bersemangat. Rozen bingung harus menjawab apa. “Tapi ...,” “Jangan bertindak bodoh. Kalian berempat akan pergi ke Leander dan aku akan sendirian ke Hutan Mati,” Gekko memotong ucapan Rozen cepat. Rozen diam, ia menatap Gekko kesal. Alice, Lizzy dan Gin juga melakukan hal yang sama, mereka tidak suka dengan usulan Gekko. Tapi Gekko seakan tidak perduli dan menatap peta kembali. “Apapun yang terjadi. Kita akan pergi bersama-sama!” ucap Alice penuh penekanan. “Jika harus ke Leander, maka semuanya ke Leander. Jika harus melewati Hutan Mati, maka semuanya akan lewat Hutan Mati!” Lanjutnya lebih tegas. Gekko sudah tahu kalau teman-temannya akan bereaksi seperti itu, menghela napas bosan, ia pun menyanggah. “Kalian semua jangan cengeng. Jika ada jalan yang lebih aman, maka lewati saja jalan itu. kalian pikir berapa orang yang menunggu kalian untuk pulang dan berhasil dalam misi?” Gekko menatap tajam satu persatu teman-temannya. “Lagi pula, aku bisa lebih bebas bergerak tanpa kalian,” Semua yang ada di ruangan itu pun menahan napas. Mereka tahu kalau Gekko kuat, apalagi Rozen, dia sangat mengerti seberapa kuatnya Gekko. Tapi, tetap saja, meninggalkan Gekko sendirian adalah hal yang salah. Melihat ekspresi teman-temannya, Gekko tetap memilih untuk melakukan rencananya.“Aku tidak sendirian. Aku punya banyak sekutu yang bisa melindungiku,” Gekko pun beranjak untuk berdiri. Ia mengambil barang-barangnya, memasukkannya ke dalam tas dengan cepat. Tindakannya itu membuat teman-temannya menatap tak mengerti. “Mau apa kau?!” tanya Rozen panik. “Aku harus segera pergi sebelum kalian tambah cerewet,” jawab Gekko santai. “Gekko tidak boleh memutuskan semuanya sendiri! Lagi pula, Gekko tidak punya peta kan? Kalau tersesat bagaimana?!” kini Alice yang panik. Dia pasti sudah sangat khawatir pada Gekko, sifat possesivenya pada Gekko kambuh lagi. “Hn, aku sudah menghapal petanya,” Gekko mencangklong tasnya, kakinya bergerak menuju pintu. Dan ketika Alice akan menahannya, ia menatap gadis itu tajam tanpa bicara. Tatapan keras kepala dari Gekko membuat Alice tak mampu menolak, jadi dia pun diam membiarkan teman kecilnya itu pergi sendiri. “Keras kepala sekali,” gumam Alice, sangat lirih. .. .. .. The Hidden Assassin Remake . . . In The Morning The Death Forest, Maknaria. . Gekko tak mengerti jalan pikiran Gin. Laki-laki pirang berisik itu tiba-tiba saja menyusulnya dan mengatakan akan menemaninya melewati Hutan Mati. Saat Gekko bertanya kenapa Gin mengikutinya, Gin menjawab dengan bangganya bahwa satu-satunya yang bisa diandalkan untuk menjaga Gekko hanya dia. Ia memberi alasan bahwa Pangeran Rozen tentu harus menemani Alice dan Lizzy melewati Leander. Selain itu, jika lewat Leander aman, maka tak perlu sampai ada dua orang laki-laki untuk menjaga dua orang gadis. Jadi diputuskan bahwa Gin lah yang menemani perjalanan Gekko. Maka, berakhirlah dua orang itu di Hutan Mati, pada pagi hari yang tidak terlalu cerah dan juga dengan mood yang tidak terlalu cerah. Ah, mood yang tidak cerah hanya berlaku pada Gekko, sedangkan Gin tetap bersemangat seperti orang bodoh. “Kali ini, aku janji tidak akan merepotkan,” Gin nyengir tanpa dosa sambil mengikuti Gekko dari belakang. Bunyi ketepak kuda milik Gin dan Gekko terdengar cukup keras, karena suasana memang sangat sepi. Kabut memang tidak tebal, tapi matahari seakan enggan menyinari tempat ini. Pohon-pohon daunnya mengering dan batangnya menghitam. Tidak heran jika tempat ini dinamakan Hutan Mati. “Jadi, kau tahu ke mana kita harus melangkahkan kaki?” tanya Gin basa-basi. Ia tidak ingin hanya bungkam. Tempat ini sudah sepi, kalau dia tidak mengobrol, bisa-bisa dia tertidur tanpa sadar. Selain itu, Hutan Mati ini juga sedikit menyeramkan, di pohon-pohon banyak sekali burung gagak, yang anehnya tak ada seekor pun yang bersuara. Duh, seram sekali. Tapi, niat hanyalah niat. Gin memang ingin mengobrol, tapi kalau teman untuk mengobrol tidak responsif, ini sama saja dengan dia berbicara sendiri. “Woii ... Gekko ~~. Katakanlah sesuatu,” sekali lagi Gin mencoba mengajak Gekko berinteraksi. Dan sekali lagi dia tidak mendapatkan tanggapan. Ah, bosan sekali rasanya. “Kau ini sedang dalam mode bisu ya?” tanya Gin tak habis pikir. “Katakanlah sesuatu. Kau diam seperti ini membuatku takut saja,” lanjutnya masih mengeluh. “Diamlah,” Gin pun bungkam. Sudah mulai lelah karena Gekko benar-benar tidak kooperatif. Sedang asik menikmati kebisuannya, tiba-tiba Gekko menghentikan laju kudanya. Otomatis Gin pun melakukan hal yang sama. “Kenapa?” tanya Gin sedikit berbisik. “Kau bisa memacu kudamu dengan cepat?” tanya Gekko tiba-tiba. “He?” Gin tak mengerti. Ia hanya menelengkan kepalanya tak paham. Belum sempat Gin menerima penjelasan dari Gekko, hawa dingin tiba-tiba menyelimuti mereka. Kabut menebal dan burung-burung gagak yang tadi diam kini mulai berkoak berisik. Gin mulai panik, ia menolehkan kepalanya ke kanan-kiri, depan-belakang, mencoba mencari tahu apa yang terjadi. “Pacu kudamu! Secepat mungkin!” Dan suara teriakan Gekko semakin membuatnya panik. Tanpa berpikir panjang, Gin memacu kudanya secepat yang dia bisa, mengikuti laju kuda Gekko yang juga berlari seperti kesetanan. Kabut yang menebal membuat jarak pandang Gin lebih pendek, ia bahkan harus memaksimalkan fokusnya agar tidak kehilangan jejak Gekko. Ada apa ini?! Ada apa ini?! Seperti itulah Gin mengulang-ulang pertanyaannya dalam hati. Keadaan sekitar yang mulai semakin tidak wajar, membuat firasatnya memburuk. Ia sangat yakin bahwa setelah ini ada hal tidak menyenangkan yang akan dialaminya. Kuda Gekko dan Gin masih melaju tanpa henti, kabut juga menebal dengan cepatnya. Gin benar-benar tak bisa melihat ke manapun. Semuanya menjadi abu-abu. “Berhenti!” Mendengar teriakan Gekko, Gin pun dengan cekatan mengerem kudanya. Ini lebih baik, karena jika ia terus memacu kudanya, ia tidak tahu akan sampai di mana. Sekarang ia seperti buta. Sekelilingnya berwarna abu-abu. Ini mengerikan. “Gin! jangan bergerak sedikitpun sebelum aku mengijinkanmu!” “Apapun yang kau katakan! Aku sama sekali tidak akan protes!” Sahut Gin pasrah. Sekarang yang bisa dia lakukan hanya percaya pada Gekko. “Tapi bicaralah jika kau butuh bantuan! Ingat, aku di sini bukan untuk membuatmu melakukan apapun sendirian!” tambahnya khawatir. Setelah teriakan-teriakan itu, Gin sudah tidak mendengar apapun lagi dari Gekko. Namun, samar tapi pasti ia bisa mendengar suara patahan tulang. Awalnya hanya sekali, lama-lama semakin sering. KRAK! KRAK! Ngilu sekali mendengarnya. Gin bahkan merasa seperti tulangnya lah yang dipatahkan. Kabut pun menipis. Perlahan, keadaan sekitar mulai terlihat. Hal pertama yang Gin lihat adalah pohon-pohon mati yang batangnya berwarna hitam, kemudian ia bisa melihat Gekko yang sedang berdiri diam tanpa kudanya. Saat Gin sudah mulai bisa melihat dengan normal, ia malah membelalakkan mata juga menahan napas lama hanya untuk menyaksikan beberapa orang yang tergeletak di tanah tanpa kepala. Tahulah Gin siapa yang melakukan tindakan bengis seperti itu. Gekko Hakai. Siapa lagi? Karena Gin melihat Gekko yang kini sedang memegang sebuah kepala yang kemudian dibuang begitu saja ke atas tanah. “A ... apa yang terjadi?!” Gin pun turun dari kudanya. Menghampiri Gekko yang masih berdiri diam dengan mayat-mayat di sekitarnya. “Lihatlah sekelilingmu lebih jeli,” ucap Gekko dengan suara yang begitu berat. Gin pun menurut. Ia lebih memperhatikan keadaan sekitarnya, setelah beberapa detik, barulah dia menyadari, bahwa sekarang ia dan Gekko sedang dikepung oleh sekelompok manusia bertaring. “Siapa mereka?” tanya Gin lirih. “Vampir,” Ah, jawaban Gekko sungguh membuat Gin ingin menangis saat itu. ..#.. Gekko tidak pernah mempermasalahkan seberapa banyak musuhnya, jika masih bisa ditangani, dia akan dengan senang hati meladeni. Hanya saja, kali ini terlalu banyak. Bahkan dengan bantuan Gin, ia tak yakin masih bisa mengatasi hal ini. “Hmm~ tak kusangka, ada dua manusia bodoh yang mau melewati hutan ini,” Gekko memandang datar pada pemuda cantik yang kini berbicara padanya dan Gin. Pemuda bersurai abu-abu dengan tahi lalat di bawah mata kirinya. Yang juga Gekko ketahui sebagai pemuda cantik di terminal portal kemarin. “Apa maksudmu dengan manusia bodoh? Kami lewat sini tak mengganggu siapapun. Kenapa kalian menyerang kami?!” Gin berteriak untuk membela diri. Ia tidak habis pikir, padahal ia dan Gekko hanya berjalan tanpa melakukan kerusakan apapun di hutan ini. Kenapa mereka bisa sampai diserang? Si pemuda cantik tertawa kecil, ada ejekan di setiap tatap matanya. “Aha ha ha. Kalian memang tidak melakukan apapun, hanya saja, kalian datang di waktu yang tak tepat. Kami sedang butuh banyak darah manusia dan kalian datang dengan suka rela. Jadi mana mungkin kami menyia-nyiakan kalian,” jelas si pemuda cantik tanpa merasa bersalah. “Yap! Sudah selesai basa basinya. Bawa mereka ke istana!” sambil menepuk-nepuk tangan, ia pun memerintahkan semua pasukannya untuk menyerang Gekko dan Gin bersamaan. . . . Gekko menusuk seorang vampir yang hampir menggigitnya, kemudian kakinya juga menendang seorang lagi yang ada di belakangnya. Tak berhenti, ia pun memutus kepala seorang vampir yang juga ingin menusuknya. Tubuhnya sama sekali tak diberi kesempatan untuk berhenti bergerak. Beda Gekko, beda Gin. Si penyihir pirang itu sudah membentuk empat segel heksagram yang mengelilingi tubuhnya. Kanan-kiri, depan belakang. Segel yang terbentuk mengeluarkan akar-akar coklat yang terus bergerak untuk melilit vampir-vampir kelaparan di sekitarnya. Gin sangat kuwalahan menghadapi musuh berkecepatan tinggi. Badannya sampai berputar berkali-kali untuk menyeimbangkan kekuatan segelnya. Pertarungan kali ini sangat tidak adil. Dua orang manusia harus melawan tiga ratus vampir. Kekalahan jelas-jelas ada di depan mata. “Jangan bunuh mereka! Buat mereka sekarat saja! Raja membutuhkan darah dari manusia yang masih hidup!” teriakan si pemuda cantik memenuhi hutan. Pemuda bersurai abu-abu itu hanya berdiri sambil bersedekap dari kejauhan, mengamati dan juga memberi perintah. Mendengar teriakan dari pemuda cantik, membuat Gin menggeram tidak suka. “Apa-apaan itu?! Dia ingin aku sekarat dan dijadikan makanan rajanya? Sialan!” keluhnya sambil mengayunkan rentangan tangannya ke depan-belakang. Namun, saat perhatian Gin teralih meskipun hanya sejenak, dua orang vampir melompat dan mengincar sisi atas tubuh Gin. Gin melihat ke atas, mengangkat satu tangannya ke atas untuk memindah segel sihirnya. Alhasil, dua vampir itu pun terlilit akar dari segelnya. CRASH! Tapi, keberuntungan masih jauh darinya, karena disaat yang bersamaan, ada seorang vampir lain yang berhasil menusuk perutnya. “Gin!” Teriakan Gekko menjadi pertanda bahwa mereka sudah ada di ambang batas. Karena setelah itu, Gekko yang berusaha berlari untuk melindungi Gin, akhirnya hanya bisa berdiri diam karena tubuhnya telah ditusuk oleh lima orang vampir. Dua di perut, tiga di d**a. “Gekko!!” kini balik Gin yang berteriak melihat temannya berhasil dilukai. Semua segel sihirnya pecah dan setelah itu berkali-kali hujaman dirasakan tubuhnya. Dalam hitungan detik, ia sudah tidak sadarkan diri. Pemuda cantik bersurai abu-abu, tersenyum senang atas kemenangannya. Ia memberi perintah agar semua pasukannya sedikit menjauh dari dua orang manusia yang kini tergeletak di tanah. Yang satu sudah pingsan, tapi yang satu lagi sepertinya masih sadar meskipun tubuhnya sudah tidak bisa bergerak. “Hmm~ ternyata kalian cukup kuat. Sepertinya Raja akan menyukai darah dari manusia-manusia seperti kalian,” si pemuda cantik terkikik kegirangan. “Sial ... rasa sakit ini membuatku teringat masa lalu,” Gekko bergumam di tengah rasa sakitnya. Matanya berkunang-kunang dan sebelum ia tak sadarkan diri, sekelebat bayangan masa lalu terputar kembali di memori otaknya. Tanpa disadari, kenangan buruknya membuat tubuhnya menguarkan aura hitam keunguan yang meluap-luap. Kesadarannya memang sudah menghilang, tapi tubuhnya bereaksi pada mimpi yang sekarang sedang dialaminya. “A... apa yang terjadi dengan manusia ini?!” pemuda cantik bersurai abu-abu itu menjauhkan dirinya satu meter dari tubuh Gekko. Ia katakutan saat awan kelabu tiba-tiba menggantung di langit, disertai petir yang menyambar-nyambar tidak karuan. “Bawakan aura lezat itu untukku, Rachel,” Dan suara berat dari Tuannya pun terdengar. Petir yang menyambar-nyambar, diikuti ular hitam yang keluar dari sarang-sarang mereka, juga burung-burung gagak yang berterbangan tak tentu arah, menandakan bahwa Tuannya sedang murka di peraduannya sana. Pemuda bersurai abu-abu yang dipanggil Rachel itu berlutut di atas tanah meskipun Tuannya sedang tidak ada di hadapannya. Semua pasukannya pun mengikuti aksinya, dengan tubuh gemetar ketakutan. Rachel tak menyangka, Tuannya yang sedang tertidur bahkan rela terbangun hanya karena menginginkan aura dari gadis yang kini tergeletak di tanah itu. Entah ini pertanda baik atau buruk. Rachel kini hanya bisa menunduk patuh. . TBC 28 Februari 2015 in Wattpad 02 Juni 2020 in Dreame Kalau ingin melihat cast Hidden Assassin atau bahkan peta Threasyiluem dan hal-hal seputar fanart cerita saya, silakan mengikuti akun Twitter Pepperrujak di @Pepperrujak 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN