Decision : The Beginning of the Journey
.
The Hidden Assassin
Remake 2015
.
.
Agalaia Kingdom
.
Sekali lagi, Agalia terkulai lemah di pembaringannya. Sulur-sulur cahaya seperti anemon laut melilit tubuhnya yang mulai terlihat pucat. Rozen sungguh ingin menangis melihat Ratu-nya seperti ini.
"Agalaia bagian timur pelan-pelan mulai hancur, Pangeran. Kekuatan sihir Ratu tidak cukup untuk menjangkau wilayah-wilayah sampai sudut terpencil," Berenice memberi laporan untuk Rozen. Ia terlihat sedang berdiri dengan tegapnya di depan pintu 'kamar' Agalia. Rozen tidak mengijinkannya masuk dan hanya menyuruhnya memberi laporan dari luar.
"Aku mengerti, terima kasih informasinya. Sekarang kembalilah pada tugasmu yang lain," sahut Rozen dari dalam ruangan.
"Baik, Pangeran,"
Beberapa detik kemudian, Rozen sudah tidak mendengar ada suara di luar kamar Agalia, ia pun kembali mengalihkan perhatian untuk ibundanya tercinta.
"Apa Ibu masih sanggup bertahan sampai mereka bisa mengambil bunga itu untuk negeri kita?" Rozen menggenggam tangan ibunya yang mulai terasa lebih dingin daripada biasanya. Hal ini membuat ketakutannya semakin menjadi-jadi.
"Ibu akan bertahan. Ibu janji padamu, anakku," senyum lemah terkembang di bibir Agalia.
Rozen menatap Agalia lama, sebelum akhirnya dia membuat sebuah keputusan penuh tekad. "Aku akan mempersiapkan keberangkatan mereka. Bersabarlah, Bu,"
.#.
.#.
.#.
Akhir-akhir ini di Agalaia sering terjadi gempa bumi. Meskipun skalanya kecil tapi itu merupakan pertanda adanya pondasi sihir yang mulai retak. Beberapa penduduk Agalaia yang tinggal di daerah terpencil pun mulai banyak yang diungsikan karena tempat tinggal mereka sedikit demi sedikit lenyap.
Agalaia adalah sebuah negeri buatan, yang dibentuk menggunakan sihir hebat dari para pendahulunya. Dulu kawasan Agalaia merupakan area kosong di langit Maknaria, kemudian sekumpulan penyihir hebat bekerja sama untuk menciptakan daratan mengambang sebagai tempat hidup beberapa manusia yang tak memiliki lahan untuk tinggal. Sungai, tanah, angin, semuanya dibentuk menggunakan sihir. Maka, apabila sihir yang menopang pembentukan semua unsur itu tidak ada, hancurlah sudah negeri bunga lily nan indah tersebut.
"Bisa dikatakan, jika Agalaia hancur, maka seratus tujuh puluh ribu jiwa akan menjadi sampah di negeri orang lain. Nasib baik jika ada sebuah negeri yang mau menampung, tapi itu pun tidak bisa dijadikan jaminan," jelas Rozen panjang lebar. Ia baru saja memberi kuliah singkat mengenai kehancuran negerinya pada empat temannya.
"Hmm, tapi bukankah negeri ini di bawah naungan Maknaria? Apa tidak ada tindakan yang dilakukan induk kerajaan jika ada negeri yang mengalami kehancuran seperti Agalaia ini?" Alice bertanya realistis. Jika di bumi, kejadian seperti ini pasti akan disangkut pautkan dengan pemerintahan negara, bukan ditanggung sendiri oleh daerah.
Rozen menggeleng. "Eksistensi Agalaia adalah masalah internal sub kerajaan, jadi kerajaan inti tidak ada urusan. Kerajaan inti akan ikut terlibat jika ada penyerangan atau penjajahan dari kerajaan lain," Rozen menjelaskan lagi.
"Tapi rasanya tidak adil. Ini artinya Maknaria hanya perduli pada wilayahnya saja tanpa perduli pada rakyatnya!" Gin berteriak menggebu. Entah kenapa perasaannya mendadak panas.
Mendengar komentar dari Gin, Rozen jadi ingin tersenyum, ia senang karena temannya ini perhatian pada negerinya. "Terima kasih sudah mau bersimpati pada negeri ini. Tapi," jeda sejenak sebelum ia kembali melanjutkan penjelasannya. "Sistem kepemerintahan Maknaria memang seperti ini. Di sini sangat berbeda dengan Leifia yang akan mengatur semua sub kerajaan di dalamnya atau Trygvia yang memiliki pemimpin super kuat yang dapat mengurus semua rakyatnya," senyum lembut hadir di bibir Rozen, ia jadi mirip sekali dengan Agalia.
Semuanya terdiam, mungkin bingung ingin bertanya apa lagi. Rozen pun sepertinya tak ingin bercerita lagi.
"Yah, hanya itu yang bisa kusampaikan. Pikirkan baik-baik tentang misi kali ini. Jika kalian bersedia, maka besok temui aku di lantai dasar menara istana. Aku tidak mau memaksa, meskipun aku dan semua rakyatku berharap banyak pada kalian," Rozen berujar penuh pengertian. Ia beranjak berdiri kemudian melenggangkan kakinya pergi.
Gin mengalihkan perhatiannya pada teman-temannya. Ketika ia melihat Lizzy, ada segurat kesedihan di wajah kekasihnya tapi ia juga bisa menangkap semangat dan ketulusan di sana.
"Kita pasti bisa melalui ini. Selama ada Gin, semua pasti akan baik-baik saja kan?" tanya Lizzy lembut untuk menenangkan Gin.
Gin mengangguk, kemudian memeluk Lizzy erat. Hatinya selalu berakhir dengan kedamaian saat tubuhnya merengkuh kekasihnya. Setelah memeluk Lizzy, ia beralih untuk menepuk-nepuk puncak kepala Alice.
"Kita akan melalui semua ini bersama-sama. Jangan khawatir," ucap Alice lembut. Ia menggenggam tangan Gin, kemudian Lizzy datang untuk memeluknya.
Akhirnya mereka bertahan seperti itu untuk waktu yang lama. Mereka diam sambil memanjatkan doa. Berharap esok dan lusa dan lusa dan lusa, selalu berakhir dengan baik-baik saja. Kemudian mereka bisa pulang ke tempat asal dengan senyum lega dan perasaan penuh kebanggaan.
Diam-diam, Gekko yang saat itu melihat kekhawatiran teman-temannya, menjadi lebih tertekan dari biasanya. "Ini tidak akan mudah," batinnya sedikit mengeluh.
Ya, ini tidak akan mudah. Menjaga tiga penyihir amatiran dan mencari cara untuk pulang. Di tempat seaneh Elysium, tentu akan sangat tidak mudah.
.#.
.#.
.#.
Lagi-lagi suara gemuruh guntur terdengar terlalu nyaring. Hujan tidak datang, tapi awan kelabu menggantung di langit disertai petir. Ini pagi yang tidak indah. Apalagi jika pagi ini adalah hari pertaruhan 'apakah Sang Terpilih bersedia menjalankan misi atau tidak'.
Rozen hanya berdiri was-was di lantai dasar menara istana. Ada Agalia dan Berenice yang menemaninya. Seandainya keempat temannya tidak datang, maka terpaksa ia harus berangkat sendiri ke pusat Maknaria dan meminta bantuan beberapa penyihir untuk mengantarnya ke Athanasia, kemudian ia harus melakukan negosiasi dengan para Naga agar mau memberikan Lily Merah padanya. Itu pun jika semuanya berjalan lancar, ia juga tidak menjamin bahwa ia bisa memetik bunga sihir itu. Rencana lainnya jika ia gagal adalah meminta bantuan kerajaan-kerajaan tetangga agar untuk sementara menampung rakyatnya, tapi pasti tidak selancar bayangannya.
"Apa kita terlalu jahat pada anak-anak itu? Mereka masih baru, baik sebagai penyihir maupun sebagai penghuni Elysium. Sekarang kita malah membebankan hal seperti ini untuk mereka," Agalia mencengkram gaunnya erat. Matanya menatap gelisah ke pintu masuk menara, kadang ia juga melihat Rozen dengan tatapan khawatir.
"Kita tidak punya pilihan, Ratu," Berenice menyahut dengan intonasi bicara yang begitu tegas. Mengingatkan Agalia tentang keputusan berat yang sudah ditetapkannya.
"Kau memang benar, Berenice," Agalia melonggarkan cengkeraman pada gaunnya, tubuhnya sedikit rileks untuk mengucapkan, "kita memang tidak punya pilihan,"
Maka, mereka pun kembali menunggu.
Lima belas menit berlalu, dan gerimis mulai turun. Agalia, Rozen dan juga Berenice semakin tak bisa menyembunyikan perasaan khawatir mereka. Namun, ketika mereka sudah hampir berputus asa, pintu menara pun terbuka. Menampilkan Gin, Alice dan Lizzy sedang ngos-ngosan disertai pakaian yang sedikit basah tersiram gerimis. Gekko juga ikut tentu saja, tapi dia sama sekali tak terlihat ngos-ngosan apalagi basah.
"Kalian datang!" Agalia berseru girang. Ia berlari-lari kecil menghampiri ke empat remaja yang baru datang itu.
"He he, maaf karena terlambat," Gin menggaruk tengkuknya. "Apa Ratu sudah menunggu lama?" dan ia nyengir tanpa dosa.
Agalia menggeleng kalem, raut wajahnya sudah tak terlihat murung seperti tadi. "Tidak masalah menunggu sampai berapa lama, sekarang aku hanya bisa bersyukur melihat kalian datang ke tempat ini,"
"Lizzy sedikit rewel dengan barang bawaannya, karena itu jadi sedikit menghambat kami untuk cepat-cepat datang ke sini," Gin kembali menjelaskan. Candaannya membuat Agalia tersenyum, sekaligus membuat Lizzy menggembungkan pipinya cemberut.
"Aku kan hanya berusaha mempersiapkan diri," Lizzy pun berusaha menyangkal sambil bergumam.
Rozen dan Berenice beralih mempersiapkan sesuatu di tengah-tengah ruangan tanpa memperdulikan orang-orang yang sedang sibuk bercakap-cakap tentang keterlambatan mereka.
Di tengah ruangan, ada sebuah lingkaran besar yang lebih landai 30 cm dari lantai lainnya. Di tengah lingkaran terdapat simbol segi tiga, yang setiap garisnya terdapat tulisan-tulisan berupa mantra sihir. Di tengah-tengah segitiga ada sebuah lingkaran lagi. Segitiga dan lingkaran di dalamnya dihubungkan dengan garis-garis seperti ombak. Di dalam lingkaran terdapat sebuah lingkaran lagi yang lebih kecil. Di sanalah Rozen dan Berenice seperti mengalirkan energi mereka. Setelah beberapa menit, simbol untuk teleportasi itu pun mengeluarkan cahaya kekuningan. Rozen dan Berenice pun menghentikan memberi aliran energi.
"Sudah siap. Lebih baik segera lakukan teleportasi sebelum energi yang kami salurkan terbuang percuma," Rozen mengintrupsi.
Kelima orang lainnya pun mengalihkan perhatian mereka pada Rozen. Mereka berjalan bersamaan menuju lingkaran besar di tengah ruangan.
"Ayo," ajak Rozen pada keempat temannya.
Gekko, Alice, Lizzy dan Gin pun melangkah menuju tengah-tengah lingkaran sihir. Berenice menemani Agalia berdiri di tepian lingkaran. Dengan mata yang berkaca-kaca Agalia menguatkan diri untuk berpisah dengan anaknya dan juga dengan empat remaja yang selama tiga bulan ini cukup membuatnya memperhatikan mereka. Sedikit tergesa-gesa, Agalia pun berlari untuk memeluk anaknya erat.
"Ibu akan selalu mendoakan keselamatanmu," bisik Agalia pelan, bibirnya bergetar.
"Aku juga, akan selalu mendoakan kesehatan ibu," balas Rozen mengusap punggung ibunya pelan.
Agalia mengangguk. Ia kemudian beralih kepada Gin untuk mengusap pipi pemuda pirang itu penuh kasih. "Semoga kau selalu menjadi penyemangat untuk teman-temanmu,"
"Tentu saja. Serahkan padaku!" seru Gin bersemangat.
Setelah Gin, Lizzy juga mendapatkan kesempatan yang sama dari Agalia. Gadis itu dipeluk erat oleh Agalia, dan ia pun membalas pelukan hangat Sang Ratu. "Kau gadis yang manis, aku yakin teman-temanmu akan membutuhkanmu sebagai sosok yang penuh kasih. Aku selalu berharap jika memiliki anak perempuan, dia akan sepertimu,"
"Hum, terima kasih karena Ratu begitu baik padaku," Lizzy tersenyum cerah, ia tak kalah bersemangat dari Gin.
Agalia kini beranjak untuk memeluk Alice. Air di pelupuk matanya sudah hampir jatuh. "Kau adalah cahaya. Aku percaya kau akan menjadi pelindung untuk teman-temanmu," ujarnya pelan.
Alice mengangguk, ia membalas pelukan Agalia denga lembut. "Saya tidak berjuang sendirian. Jadi pasti akan baik-baik saja,"
"Aku akan selalu berdoa untuk kebaikan kalian,"
"Hum, terima kasih,"
Setelah memeluk Alice, Agalia berdiri diam di depan Gekko. Ia memandang si pucat itu dengan tatapan penuh harapan. Mulutnya membuka, seperti ingin mengatakan sesuatu tapi tidak jadi. "Aku mengandalkanmu," dan hanya itu yang bisa Agalia ucapkan.
"Hn," Gekko pun menjawab seperti tidak tertarik.
Hanya pada Gekko saja Agalia tidak bisa memeluk, ia merasa segan meskipun Gekko lah yang paling akrab dengannya dibanding tiga remaja lainnya. Dengan berat hati, ia akhirnya melangkahkan kakinya ke luar lingkaran.
"Sampai jumpa, My Queen," ucapan Rozen itu menjadi penutup, salam perpisahan untuk Agalia dan Berenice. Karena setelah itu cahaya kuning yang terpancar dari simbol teleportasi semakin memancar tinggi, menyelimuti tubuh lima remaja yang ada di sana, menelan mereka sampai habis.
.#.
.#.
.#.
Setelah tertelan cahaya, Gekko pun membuka matanya untuk melihat keadaan dari tempat yang dipijaknya sekarang. Ia dan teman-temannya ada di sebuah lingkaran dengan lambang yang sama, tapi keberadaan mereka bukan lagi di dalam menara melainkan di atas sebuah bukit. Hamparan bunga kecil berwarna putih terlihat sejauh mata memandang, langit pun biru cerah dengan sedikit gerombolan awan putih. Angin berdesir lembut dan udara terasa lebih menyegarkan dibanding berada di Agalaia.
"Jadi, di mana kita sekarang?" Gin nyeletuk duluan, menyadarkan semua orang yang terpesona dengan pemandangan baru di atas bukit.
"Kita berada di Maknaria. Bukit ini adalah tempat teleport yang biasanya digunakan antar kerajaan. Lihat sekeliling kalian lebih teliti, simbol teleportasi bukan hanya di sini," Rozen menunjuk beberapa lingkaran dengan simbol teleportasi yang juga ada di beberapa tempat. "Di sana, di sana, di sana. Semua itu adalah simbol teleport yang dimiliki masing-masing sub kerajaan. Setiap sub kerajaan memiliki tempat teleport sendiri untuk ke Maknaria," jelas Rozen panjang lebar.
"Hmm... ini jadi semacam terminal bus ya?" Gin menggosok-gosok dagunya. "Lalu, setelah ini kita akan ke mana?" tanyanya lagi.
"Ke pusat Maknaria untuk meminta surat ijin memasuki wilayah kerajaan lain. karena kita harus pergi ke Trygvia. Wilayah para naga ada di Trygvia,"
Yang lainnya mengangguk-angguk paham.
"Ayo kita bergegas. Tidak jauh dari sini ada sebuah kota, kita bisa membeli beberapa kuda agar bisa cepat sampai ke pusat Maknaria,"
Mereka pun mulai melangkahkan kaki meninggalkan bukit terminal itu. Namun, baru beberapa kali melangkah, ada sebuah cahaya yang bersinar dari sebuah lingkaran teleportasi milik kerajaan lain. Otomatis hal itu membuat kelima remaja itu berhenti. Mereka melihat dengan seksama siapa yang muncul dari lingkaran telportasi itu. Dan udara dingin tiba-tiba saja terasa, saat seorang laki-laki atau mungkin perempuan dengan surai abu-abu disertai iris mata biru kehijauan memandang balik ke arah mereka.
"Dia laki-laki atau perempuan?" Gin berbisik pelan namun berusaha agar masih bisa didengar teman-temannya.
"Aku tak tahu, sepertinya perempuan," jawab Lizzy yang juga ikut berbisik.
"Dia laki-laki. Mungkin dia semacam pria-pria androgini seperti di majalah," Alice ikut-ikutan.
Tapi Rozen dan Gekko malah merasa was-was.
"Sebaiknya kita cepat pergi dari sini. Jangan melihat dia," Rozen cepat-cepat berbalik. Ia melangkahkan kakinya begitu tergesa-gesa. Teman-temannya pun mengikutinya dengan sempohyongan.
Gin dan Lizzy ingin protes dan bertanya kenapa, tapi Gekko sudah menatap mereka dengan pandangan penuh perintah agar mengikuti Rozen tanpa banyak mengeluh. Akhirnya mereka pun urung bertanya.
Si pria bersurai abu-abu masih menatap kepergian kelima remaja yang terlihat buru-buru itu. Ia tahu bahwa salah satu di antara remaja itu ada yang mengawasinya dengan tatapan ingin mengintimidasi. Tapi, ia tidak tahu bahwa Gekko lah yang sedang meliriknya dari sudut mata. Suatu hari, jika mereka dipertemukan lagi, takdir yang buruk akan mengikuti mereka.
.
.
TBC
.
Silahkan tebak sendiri siapa mas-mas androgini itu. Ciao ^.^v
22 Februari 2015 in Wattpad
02 Juni 2020 in Dreame