The Hidden Assassin
Remake
.
Seven Years Ago
London
.
Alice menikmati sorenya, berjalan sendirian pulang dari sekolah dengan sesekali memandang langit jingga. Ia bahkan bersenandung pelan untuk lebih menghayati kebahagiaannya. Namun, saat langkah kakinya mencapai jalan sepi, ia merasa ada sesuatu yang tidak wajar.
“Hmm?” Alice menghentikan langkahnya, kepalanya menoleh ke belakang, juga menengok ke kanan dan ke kiri, tapi tak ada satu pun hal janggal yang ditangkap matanya. “Tidak ada apa-apa,” ia mengedikkan bahu dan melanjutkan langkahnya.
TAP TAP TAP!
TAP TAP TAP!
Alice mendengar suara langkah kaki yang semakin mendekat ke arahnya, mendekat dengan intensitas yang sedikit mencurigakan. Dan karena takut, ia pun ikut-ikutan mempercepat langkahnya. Jantungnya berdebar-debar, ia bahkan tak berani melihat ke belakang. Pikiran-pikiran tentang penculikan atau perampokan menggelayuti kepalanya.
TAP TAP TAP!
TAP TAP TAP!
Suara langkah kaki di belakangnya semakin terdengar jelas dan juga semakin cepat. Tanpa berpikir lebih banyak, ia pun berlari secepat yang ia bisa. Alice sudah benar-benar tidak berani melihat ada apa di belakangnya atau siapa yang mungkin mengejarnya. Napasnya memburu dan debaran di jantungnya semakin cepat. Ia ketakutan.
BRUK!
Namun, saat berbelok di tikungan ia menabrak seorang anak perempuan dan mereka sama-sama jatuh terduduk di tanah.
“Ma ... maaf aku tidak sengaja,” Alice buru-buru bangun dan membantu anak perempuan bersurai hitam yang tak sengaja ia tabrak. “Aku tidak bisa mentraktirmu es krim karena aku sedang buru-buru. Besok kalau ketemu lagi, aku janji akan mentraktirmu es krim,” dan ia pun kembali berlari. Mengabaikan anak perempuan pucat berwajah asia timur yang melihat kepergiannya dengan raut datar tanpa sedikitpun ekspresi.
Ketika Alice sudah berlari cukup jauh, ia pun akhirnya menghentikan langkahnya. Dengan cepat ia menoleh ke belakang dan sekali lagi, ia tak menjumpai siapapun. Hanya terlihat jalanan yang lenggang dengan debu-debu yang tertiup angin.
“Ternyata memang hanya perasaanku saja,” ia bernapas lega. Tangan kanannya mengusap-usap dadanya, mencoba menenangkan diri sendiri. Tapi mendadak ia teringat sesuatu. “Ah, anak perempuan yang kutabrak tadi. Aku tak menanyakan namanya dan juga tak memberi tahu di mana kita akan bertemu lagi. Kalau begini, aku tidak bisa mentraktir es krim sebagai permintaan maaf,” Alice pun menghela napas, mengutuki tindakan cerobohnya.
.
.
.
Alice merasa dia terlalu ceroboh, mengabaikan tanda-tanda yang bahkan sudah dia rasakan sedari siang. Dan karena kecerobohannya, maka berakhirlah dia di sini, di dalam sebuah mobil dengan beberapa pria berjaket hitam. Tangan dan kakinya diikat, mulutnya juga dilakban. Intinya, dia sekarang sedang diculik.
Salahnya karena tidak segera memberitahu Ayahnya tentang kejadian siang tadi. Seandainya dia lebih cepat bercerita, maka Ayahnya akan memberi perlindungan ekstra padanya. Ini juga bukan pertama kali dia diculik, jadi kenapa dia bisa sebodoh ini, dia benar-benar tidak belajar dari pengalaman.
“Berapa anggota kita yang terbunuh?” salah satu dari pria yang membawa Alice bertanya pada rekannya. Ia adalah satu-satunya pria yang mengenakan jas. Tatanan rambutnya juga lebih rapi.
“Lima orang. Semuanya mati mengenaskan. Jantung mereka hilang,” jawab pria lainnya, yakni pria besar dengan tato memenuhi separuh wajahnya. Alice membuka telinganya lebar-lebar, memperhatikan. Mungkin saja dia bisa mendapat informasi yang akan berguna untuk Ayahnya.
“Hmm. Lima orang itu yang mengikuti Russel kecil ini tadi siang?” pria berjas bertanya lagi.
“Iya. Padahal rencana kita adalah menculik anak ini tadi siang. Tapi, tak kusangka berakhir seperti ini. Apa mungkin Russel sudah mengetahui rencana kita dan mengirim sekelompok orang untuk melindungi si kecil?”
“Jika benar dia sudah mengetahui rencana kita untuk menangkap anaknya, tidak mungkin sekarang anak ini berhasil kita culik,” pria berjas diam sejenak. “Apa mungkin dia sengaja mengumpankan anaknya agar mengetahui keberadaan lokasi kita?”
“Aku rasa tidak mungkin. Russel sangat menyayangi anaknya,”
“Lalu, menurutmu, apa yang sebenarnya terjadi?”
Si pria bertato menggeleng, tidak mampu menjawab. Dan dari pembicaraan dua orang di samping kanan dan kiri Alice ini, ia memahami sesuatu, bahwa tadi siang dia memang benar-benar akan diculik dan si penculik mati terbunuh oleh orang yang belum diketahui siapa. Alice hanya bisa berterima kasih dalam hati, pada siapapun yang bersedia menolongnya siang tadi. Meskipun sekarang ia tetap saja berhasil diculik.
.
.
.
Ini malam yang cukup panjang untuk Alice. Sekelompok orang menculiknya, kemudian bodyguard ayahnya datang ke markas di mana dia disekap, dan beginilah akhirnya, ia menangis ketakutan di tangan pria berjas yang tadi duduk mengapitnya di mobil.
Di bangunan bekas pabrik tekstil yang tak terpakai, segerombolan penculik dan para bodyguard ayahnya sedang baku tembak. Tentu saja ini membuat Alice ketakutan. Dulu, saat dia mengalami penculikan, situasinya tidak semengerikan ini. Tidak ada baku tembak, tidak ada mayat yang penuh darah dan dia berhasil selamat dengan damai. Semuanya terasa baik-baik saja. Sangat berbeda dengan situasi sekarang ini. Ia bahkan ingin pagi segera datang dan berharap semua yang dilaluinya malam ini hanya mimpi buruk gara-gara ia lupa berdoa saat akan tidur.
Dan hal mengerikan lainnya pun terjadi. Sebagian besar orang-orang yang menculiknya tertembak dan banyak yang mati, hanya menyisahkan dua orang berbadan besar dan si pria berjas yang kini mengarahkan moncong pistol ke kepalanya.
“Jangan berani mendekat! Satu langkah saja, maka anak ini akan meregang nyawa!” si pria berjas berteriak. “Jatuhkan semua senjata kalian!”
Para bodyguard ayah Alice pun menjatuhkan pistol dan pisau yang mereka bawah ke lantai, tak ada satupun dari mereka yang berani bergerak sedikitpun. Kemudian si pria berjas menyeret Alice pergi ke luar dari pabrik, diikuti dua anak buahnya yang masih tersisah, si pria berjas pun membawa Alice ke dalam mobil. Para bodyguard mengikuti mereka, tapi si pria berjas berteriak. “Jangan mengikuti kami atau anak ini akan kutembak sekarang juga!”
Maka, tak ada seorang bodyguard pun yang mengikuti mobil yang membawa Alice di dalamnya.
Alice meneteskan air mata, ia dilanda ketakutan yang begitu besar. Matahari sudah mulai muncul dari timur, tapi mimpi buruk Alice belum juga berakhir. Ia tak bisa berharap lagi bahwa sekarang dia sedang bermimpi. Ia pun tahu ternyata, kenyataan itu semenakutkan ini.
Namun saat mobil yang membawa Alice berada di tikungan jurang, mobil itu tiba-tiba berhenti. Sebuah batu besar menutupi jalan dan seorang anak perempuan berdiri tegap di atas batu besar itu.
Anak perempuan itu melompat ke atas kap mobil dan menghancurkan kaca depan mobil dengan sebuah pukulan. Tak tau apa yang terjadi, yang Alice tahu saat itu hanya manyat para penculiknya yang kepalanya putus dan berlumuran darah. Juga seorang anak perempuan yang mengulurkan tangan untuknya.
“Ayo, kuantar pulang,”
Mendengar ajakan anak perempuan berkulit pucat itu Alice pun mengulurkan tangannya. Matanya sama sekali tak bisa lepas dari si pucat bersurai hitam yang menyelamatkannya. Dia adalah anak perempuan yang juga Alice tabrak kemarin siang, yang sudah Alice janjikan untuk mentraktir es krim sebagai permintaan maaf.
“Siapa namamu?” tanya Alice masih dalam keterpukauannya.
“Hakai,” dan anak itu pun menjawab dengan singkat juga sangat pelan.
Tapi, bagi Alice, suara anak perempuan bernama Hakai itu sangat jelas terdengar. Sejak saat itu, ia tak bisa lupa dengan anak perempuan berkulit pucat yang sudah menyelamatkannya. Namanya Hakai dan setelah tujuh tahun berlalu, Alice lebih mengenalnya dengan nama Gekko Hakai.
.
.
.
“Hmm, sepertinya aku lupa bahwa ayahmu pernah meminta jasa pada keluargaku,” gumam Gekko pelan.
“Sampai saat ini aku tidak pernah memikirkan siapa sebenarnya Gekko. Aku hanya selalu mengingat bahwa Gekko lah yang menolongku. Dan Gekko yang sudah menyelamatkanku itu adalah teman baikku,”
Gekko memandang Alice lekat, ia bisa melihat senyum kasih sayang di wajah Alice yang cantik.
“Hn,” meskipun sangat samar, Gekko pun tersenyum. Bibirnya memang tak melengkung ke atas tapi matanya menyipit sedikit. “Sampai sekarang pun kau masih tetap ceroboh. Jika kau tidak tahu apa-apa tentangku, bagaimana mungkin kau bisa mempercayaiku? Bisa saja aku ini sama seperti penjahat yang menculikmu kan?”
“Lalu, apakah Gekko mau memberi tahuku?” mata Alice tertuju pada Gekko, menatap penuh harap pada teman terbaiknya itu. “Karena aku tidak tahu apa-apa tentang Gekko, apakah sekarang Gekko mau memberi tahuku?”
Gekko diam sejenak. Sambil memandangi bulan yang dikelilingi halo berwarna-warni, Gekko pun akhirnya menceritakan banyak hal tentang dirinya pada Alice Russel, teman baiknya yang terlalu baik sampai Gekko tak tahu harus di mana menempatkan kebaikan yang terus menerus Alice berikan.
.
.
TBC
.
Menurut kalian, apakah chap ini membosankan? Ini aku kasih penjelasan kenapa Alice bisa sayang banget sama Gekko. Bahkan di Hidden Assassin pertama, aku menamai sikap berlebihan Alice ini sebagai Gekko’s Complex. Nanti bukan hanya Alice yang memiliki ikatan seperti ini dengan Gekko. Gin dan Lizzy juga akan memiliki cerita tersendiri bersama Gekko. Karena mereka adalah teman-teman terbaik yang sekarang dimiliki Gekko :D
.
13 Februari 2015 in Wattpad
02 Juni 2020 in Dreame