Suara musik yang dimainkan anak-anak Luna setiap pagi terdengar lebih mistis daripada hari-hari sebelumnya. Memang sudah menjadi kebiasaan pada saat fajar, si sulung akan memainkan alat musik tiup dari bambu yang entah apa namanya, si nomer dua akan menggoyang-goyangkan setabung bambu yang di dalamnya sudah berisi kerikil, sedangkan si bungsu menari-nari sambil berjingkat di antara tanduran sawi. Pertama kali melihatnya, Rozen begitu penasaran. Tanpa berpikir panjang, ia segera menanyakan perihal tersebut kepada Luna. Menurut Luna, tindakan yang dilakukan anak-anaknya merupakan semacam meditasi, mendekatkan diri kepada alam. "Mereka terlahir dari pepohonan, jadi tidak perlu heran saat melihat mereka bicara dengan tanaman," ujar Luna suatu ketika. "Dari pepohonan?" saat itu Rozen semakin

