Kehadiran Sang Ayah Tiri
Sudah menyangka aku akan mempunyai ayah tiri karna aku sudah tau sifat ibu ku bagaimana selalu saja berganti pasangan yang tidak sesuai dengannya. Suatu ketika kita berkunjung ke rumah ku yang sedang di kontrak kan oleh teman ibu ku disitu aku pertama kali melihat seorang lelaki yang bernama pak endang tapi aku masi mengacuhkan itu karna menurutku dia hanya orang asing. Disitu aku masi menduduki bangku sekolah kelas 4 sd, suatu waktu aku melihat kehadiran dia lagi dirumah ku dan aku bertanya kepada ibu 'mah itu siapa?' 'oh itu itu om endang sayang dia pacar mamah' dengan ramah ibu ku menjawab dengan senyuman.
Aku yang berfikir mengapa aku baru tahu sekarang ibu ku mempunyai pacar ah tidak ku hiraukan karna akupun masi kecil dan aku tidak tau kasih sayang seorang ayah tapi aku tidak berekspetasi mempunyai ayah baru karna patah hati pertama dan terbesarku adalah seoramg ayah. Meski om endang baik pada ku aku tetap mengacuhkan nya karna aku belum mau dekat dengannya, semenjak ibu ku berpacaran dengannya ibu ku selalu pergi entah kemana jadi aku selalu tinggal dengan nenek, oiya mungkin kalian belum tau namaku Tasya sejak lahir aku dibuang oleh ayah kandungku karna ketidak tanggung jawabannya kepada ku dan dia tidak mau mengakui aku sebagai anak.
Kehadiran dia pun mungkin membuat ibu ku bahagia tpi aku sedikit ganjal dengan kehadirannya karna sewaktu kecil sampai sekarang aku bisa merasakan dan bisa melihat keberadaan mereka yang tidak semua orang lihat, dan aku melihat aura dia asing dan begitu menakutkan. Sewaktu waktu dia kembali berkunjung kerumah ku malam hari membawa sebungkus martabak untuk ku dan keluarga ku dirumah, mungkin itu cara dia mendekati ku dengan membawakan ku makanan karna aku suka sekali makanan, tapi masi ku hiraukan dia karna aku tidak mau terlalu dekat karna dipikiranku ayah tiri itu kejam.
Waktu begitu cepat sampai akhirnya aku menduduki bangku SMP dimana aku tidak tinggal lagi dengan ibu ku tapi dengan adik ibu ku tapi aku selalu menyebutnya dengan sebutan teteh karna dari waktu ku kecil aku memanggilnya teteh. Aku selama tiga tahun tidak tahu kabar ibu ku dengan om endang itu karna aku tidak pernah menanyakan hubungan mereka tapi om endang selalu menelfon ku agar dia tau kabar ku tapi aku masi acuh tidak aku indahkan dia.
Waktu berlalu dengan cepat tapi ibu ku jarang menelfon ku lagi mungkin dia sedang sibuk dengan urusannya di rumah. Semenjak itu aku tidak pernah pulang ke rumah ku karna aku bersekolah di rumah teteh ku. Mungkin rumah teteh ku dengan rumah ku berjarak 10 km masi satu daerah tapi rumah teteh ku terlerak dikabupaten.
Semenjak disekolah dan rumah teteh ku aku sering sekali mendapatkan hal mistis mungkin karna aku bisa melihat mereka meski aku tidak bisa melawan dan selalu ketakutan sendiri. Kekuatan ku hanya doa dan yakin pada diriku sendiri karna sejatinya yang memperkuat diri adalah diri sendiri.
Kehadiran om endang masi ku pertanyakan karna aku tidak tahu menau tentang seluk beluk dia bagaimana dan babat bibit bobot nya dia bagaimana. Tapi yang aku tahu dia selalu menjajikan akan menikahi ibu ku tidak lama lagi tetapi ketika aku memasuki SMP masi belum ada kepastian di dalam hubungan ibuku aku makin curiga apakah ibuku hanya dipermainkan atau tidak.
Seketika aku pulang kerumah ku karna ada liburan semester dimana aku akan menanyakan hal yang menyangkut hubungan ibu ku dengam om endang.
'mah mamah teh kumaha sih jeung si om endang'
(mah mamah tuh gimana sih sama om endang)
'mamah juga gatau sayang katanya mau nikah tahun ini' dengan raut wajak yang tidak meyakinkan
Dengan cepatnya aku kekamarku untuk rehat aku memikirkan bagaimana aku akan mendapatkan ayah baru kembali tetapi ini saja belum ada kepastian.
Malam mun berganti dengan cepat dan ada seseorang yang mengetuk pintu disertai salam
Tok tok tok
'Assallamuallaikum' salam yang tilantunkan oleh seorang pria
Ibuku langsung bergegas membuka kan pintu dan memanggil ku
'Tasya sini ini ada ayah mu' sambil sedikit teriak memanggilku
'hah ayah? apakah ayah kandungku?' aku berbicara kepada diri sendiri
Aku pun keluar kamar dan melihat diruang tamu ada siapa dan ternyata ada om endang yang tengah duduk santai dan tersenyum kepadaku.
Aku menyalimi dia karna aku sebagai anak harus menyikapi dengan sopan dan santun.
'Tasya gimana sekolahnya?' tanya dia sambil menyuruhku duduk.
'ga gimana gimana om biasa aja' sembari aku duduk menjauh dari nya karna aku selalu tidak nyaman ketika aku tidak terlalu dekat dengan orang lain.
'syukur lah kalau baik, denger dari mamah hp tasya rusak ya. Nanti ayah belikan yang baru ya' dia menjawab sembari tersenyum
'oh gausah om gpp ko lagian ga butuh butuh amat' jawab ku judes
'udah gpp nanti ayah belikan yang baru ya' menawarkan yang kedua kalinya
Aku tidak begitu mengindahkannya karna memang aku tidak terlalu membutuhkannya.
'panggilnya ayah dong sayang kan ini juga ayah tasya' jawab ibuku yang sedari tadi mendengarkan
Dari kejauhan nenekku memberi isyarat agar aku tidak menyebut dia dengan sebutan 'ayah' karna bukan radar nya aku menyebutnya ayah.
'hehe iya mah' jawabku tidak tulus
Berat untuk ku menerima dia sebagai ayah sambungku tetapi mau gimana lagi ini demi kebahagiaan ibu ku.
'tasya ke kamar dulu ya mau nonton dulu drakor' jawabku sembari melangkahkan kaki ke kamar. Kamarku tidak jauh dengan ruang tamu jadi dekat dan bisa mendengarkan percakapan orang yang ada di ruang tamu.
'iya sayang' jawab mamah sembari tersenyum.
Dikamar akupun selalu memutar otak apakah om endang bener benar tulus kepada ibu ku atau hanya main main karna sudah banyak lelaki yang selalu memanfaatkan tubuh ibu ku dan memanfaatkan semua harta ibu ku.
Aku berfikir bulak balik sampai kepala sakit tapi aku berharap ini yang terakhir bagi ibu ku dan benar benar tulus kepada ibu ku, dan aku berharap ibu menemukan kebahagiaannya sendiri.
Waktu sudah menunjukan pukul 23.00 dan aku kembali dipanggil karena aku belum tidur.
'tasya sini ayah mau pulang' teriak mamah memanggilku
Aku berjalan ke ruang tamu
'ayah pulang dulu ya sya kalau bsk ga banyak kerjaan ayah mampir lagi' jawabnya sembari menyodori tangan untuk aku salimi
'oiya om hatihati dijalan' jawab ku judes
'ko masi om sih tasya?' ibuku sedikit membentak
'eh iya lupa ayah' sembari tersenyum
Akhirnya dia berpamitan juga kepada neneku, ibu ku mengantarnya kedepan rumah untuk dia pulang.