Midnight: Ending 1

1631 Kata
Hal yang pertama kali ia sadari adalah, ia duduk di sebuah kursi kayu. Terikat tali hingga tubuhnya tidak bisa digerakkan. Dan di ruangan kosong dengan pencahayaan hanya sebuah lampu yang redup. Ketika ia melihat dengan jelas ke depan, ia menyadari bahwa ia tidak sendiri. Di hadapannya, seorang lelaki dengan memakai baju bartender, berjongkok mengamatinya. "Hei, kau sudah sadar." Seseorang yang cukup dikenalnya. Zean menatapnya dengan pandangan tanya. "Apa yang kau lakukan di sini? Dan kenapa aku diikat seperti ini?" Yang ditanya hanya merotasikan mata, merasa kesal dengan pertanyaan tidak terduga dari Mina. "Biusmu terlalu kuat sampai aku tertidur dua hari dan melewatkanku untuk ikut membereskan kekacauan yang kau buat. Dan Laina hampir saja memutuskanku saat aku tidak membukakan pintu apartemen. Kau harus ganti rugi." "Maksudmu, dengan diikat seperti ini ganti ruginya?" "Oho, tidak semudah itu. Ini adalah ide Susan. Kau berutang penjelasan padanya. Sebelum Rome-mu itu murka dengan keadaanmu seperti ini." "Apa-apaan dengan kata Rome-mu itu?!" "Mengapa kau balik bertanya? Bukankah kalian memang sudah...." Zean mencontohkan suatu hal dengan menguncupkan jemari-jemarinya, kemudian saling mengadunya satu sama lain. "Tidak ada yang seperti itu, bodoh!" Mina mencoba menendang Zean yang sayangnya ia hanya dapat menendang angin. Zean yang melihat kekonyolan itu tertawa terbahak-bahak. "Aku hanya bercanda. Bila kalian tidak melakukannya, kau tidak perlu marah. Lagipula, kalian sudah sama-sama tua, mengapa harus malu?" Mina hanya mendengkus. Merasa kesal sekaligus sedikit tersipu karena Zean yang menggodanya. "Lalu apa yang kau mau sebagai gantinya?" "Sebenarnya aku ingin sekali menghajarmu. Tetapi, aku tidak tega. Pertama, karena kau temanku. Kedua, karena kau wanita. Ketiga, aku akan mati bila berhadapan dengan lelakimu itu bila menyakitimu, hahahaha." "Sialan, kau." Mina hanya berpaling menutupi wajahnya yang ia rasa memanas. "Jadi, yah, mungkin kau sudah mengerti maksudku bagaimana. Kau tahu, kan? Laina terus memaksaku untuk menikahinya." "Berapa yang kau mau?" Mina sudah menebak apa yang diinginkan Zean darinya. "2000 dolar. Bagaimana?" "Baiklah. Tetapi, lepaskan aku dulu." "Sayang sekali. Aku tidak diperbolehkan Susan untuk melepaskannya. Aku akan dibius sampai seminggu bila melepaskan ikatanmu." Mereka berdua menyadari bahwa Susan sudah berada di depan pintu bersandar. "Giliranmu, Susan. Aku harus pergi. Jangan lupa transfer, ya!" Bergegas Zean meninggalkan ruangan itu. Hanya Susan dan Mina di sana. "Bagaimana? Masih ada yang sakit?" "Sedikit, di perut kanan," terang Mina. Sedikit menjengit ketika Susan menyentuh perutnya dengan tekanan. "Ya, di situ yang paling parah." Susan menatap Mina dengan pandangan menyipit. "Kupikir kau telah berubah. Ternyata ceroboh dan semaunya, seperti biasa." "Maaf." "Kupikir maaf adalah kata yang sangat mahal bagimu." Susan membuang napas berat, kemudian melanjutkan. "Kumohon, berhati-hatilah dari sekarang. Kau harus memiliki seseorang untuk menjagamu. Kau mengerti maksudku?" Mina hanya bungkam. "Aku masih ingat, bagaimana dirimu kuselamatkan. Kau masih memakai seragam sekolah, rambut sebahumu yang kusut dan bajumu penuh darah." Mengingat masa lalu membuat Susan meringis. Pelan ia merapikan rambut Mina yang sedikit berantakan. "Seseorang yang kuanggap sebagai adik, kini telah sepenuhnya menjadi wanita dewasa. Aku mengerti, dan menghargai apapun keputusanmu. Namun, jangan membahayakan dirimu sendiri." "Aku mengerti." "Kau tahu makna sebenarnya dari "hukuman", bukan?" Susan bertanya dengan menatap Mina tanpa berkedip, sedang yang dipandangi hanya mengernyit. "Hukuman diciptakan untuk memberi pelajaran," jelas Mina. Ia merasakan tubuhnya sedikit kedinginan di ruangan kosong itu. Ia menjawab dengan menunggu apa yang akan perempuan itu lakukan padanya. Susan membuang napas, mengeluarkan kotak obat besar. Mengambil sebuah ampul dengan cairan bening di dalamnya. Menyuntik ampul itu dan mengisi injeksi. "Ini yang terakhir. Dan ini hukumanmu dariku. Kau harus bisa menahannya." Susan meraih tangan Mina, mengecek pembuluh darah yang akan ia suntikkan. Tidak lama, obat yang disuntikkan itu mulai bereaksi. Mina merasakan kerongkongannya luar biasa kering, tidak nyaman dengan tubuhnya yang mulai gemetar. "A-air, beri-kaaannn..." Wajahnya terlihat pias, dengan gigi bergemeretuk menahan tremor. Cepat Susan membukakan botol air dari kotak itu, meminumkannya pada perempuan di depannya. Susan masih dalam diam, melihat reaksi dari obat yang ia suntikkan pada Mina. "Uhukk! Ugghh!" Mina tersedak sekaligus merasa sangat sakit di sekujur tubuhnya. Ia mengambil napas panjang-panjang untuk menetralkan degup jantungnya yang tidak beraturan. Memejamkan mata, menghirup napas kuat-kuat. "Seperti inilah definisi hukuman yang kau katakan. Tetapi, ini hanya sementara." Susan membereskan kotak obatnya, termasuk memasukkan botol ampul beserta alat suntik dalam plastik klip bening. "Setelah ini kau bisa mengobati dirimu sendiri. Aku akan menyiapkan semuanya." "Ya." Bersusah payah Mina menyahut pernyataan Susan itu. Tremor yang ia rasakan perlahan mereda. Kembali membuang napas panjang, ia menegakkan kepala. "Bisakah aku dilepaskan sekarang?" "Di luar ada yang ingin menemuimu," jawab Susan singkat. Kemudian, ia beranjak, keluar dan menutup pintu. Tinggal Mina, sendiri, menormalkan detak jantungnya dengan terus mengambil napas. Sebutir keringat mulai menuruni pelipisnya. Sakit setelah injeksi oleh Susan tadi benar-benar membuatnya seperti menemui ajal. Kepergian Susan berganti dengan seorang lelaki dengan rambut panjang kelabu. Mendekatinya, duduk berjongkok. Lamat-lamat memandanginya, cukup lama hingga membuatnya memalingkan muka. "Lihat aku." Lelaki itu menjulurkan tangan, meraih wajah Mina hingga mereka saling bertatapan. "Bicaralah. Aku merindukan suaramu." Mendengar permintaan yang tidak biasa untuknya membuat Mina hanya mengangkat satu alisnya. "Kupikir aku hanya tertidur dua hari." Pernyataan di luar dugaan lelaki itu disampaikan oleh Mina. "Kau koma seminggu. Untuk pemulihanmu. Karena kecerobohanmu. Kau kembali menghukumku, kau tahu." Lelaki itu, Rome menatap lekat-lekat wajah Mina yang kedua bola matanya membulat karena mendengar penjelasan lelaki di depannya. "Setelah semua yang terjadi, sebagai ketua aku tidak bisa memaafkanmu begitu saja." Mina yang mendengar itu hanya menunduk, bersiap dengan balasan berat yang mungkin bisa saja terjadi. "Kau adalah perempuan pecinta kebebasan. Dan aku menghukummu, seumur hidup." "Maksudmu, hukuman yang seperti apa?" Rome hanya membuang napas berat, kemudian melanjutkan. "Kau tidak bisa bebas, selamanya. Kau akan selalu dalam pengawasanku. Aku mengikatmu. Kau harus selalu meminta izinku, kemanapun. Dan tindakan apapun yang kau lakukan." "Aku tidak mengerti." Rome menarik sesuatu dari balik kerahnya. Melepaskan sebuah kalung putih dengan buahnya cincin platinum polos. Diambilnya cincin itu, kemudian tangan Mina yang masih terikat itu diraihnya. Cincin itu dipasangnya ke ibu jari Mina, karena ukurannya terlalu besar. "Apa maksudnya, cincin ini?" "Sudah kubilang, aku mengikatmu. Aku akan selalu menyertaimu, di manapun kau berada. Aku tidak akan melepaskanmu." Hening sejenak, karena sang perempuan masih berpikir maksud dari Rome memberikan cincin itu untuknya. Berpikir hingga ia menatap lelaki di depannya yang memandangnya, tersirat harap. Mina yang telah mengerti apa arti tindakan dari lelaki itu hanya tertawa kecil. "Sangat tidak romantis. Bukan seperti ini caranya melamar, dasar bodoh." Ia kembali tertawa dengan mata yang berkaca-kaca. "Sudah kubilang, aku mengikatmu," sanggah sang lelaki dengan seringai tipis. "Terserah." Mina tersenyum dengan air mata yang jatuh di sudut mata. Rome yang melihatnya cepat mengusapnya. "Apa kau menangis karena cincinnya jelek? Besok aku akan menukarnya dengan milikmu yang sebenarnya." "Bukan seperti itu." Rome tersenyum kikuk karena candaannya yang garing. "Maaf, aku tidak bisa berlama-lama. Setelah ini, Maid keluargaku merawatmu. Menurut saja dengan yang mereka lakukan, jangan memberontak. Bersiaplah untuk besok." Rome perlahan memajukan tubuhnya dengan tangan meraih simpul tali di belakang kursi Mina. Dengan jarak yang begitu dekat membuat mereka mendengar satu sama lain detak jantung yang begitu keras. Tangan Mina yang telah terlepas, membuatnya ingin memeluk lelaki itu. Dan Rome yang menahan diri untuk tidak "mencuri start" besok ketika ia rasa perempuan itu begitu cantik meski wajahnya basah dengan air mata, pipi memerah dan rambut panjangnya agak kusut. "Aku pergi. Sampai jumpa besok." Meninggalkan Mina yang masih bertanya-tanya dalam hatinya, apa yang terjadi, apakah itu hanyalah mimpi dan memikirkan bagaimana besok itu. Lelaki itu pergi, dan matanya membulat ketika lebih dari sepuluh Maid berada di depannya. Menunduk 90 derajat sebelum memperkenalkan diri. "Nona, silakan ikut dengan kami untuk persiapan besok." Satu maid mendekatinya, membantunya berdiri meninggalkan ruangan itu. Yang jadi pertanyaan di dalam kepalanya sekarang adalah, apa maksud dari kata "Besok" itu? *** Hal pertama yang ia sadari setelah membuka sebelah matanya, adalah sekumpulan perempuan berpakaian maid, serentak menundukkan kepala. Ia mengusap wajah dan duduk di kepala ranjang, memproses hal yang terjadi saat ini dalam beberapa detik. "Madame kami, mohon maaf karena telah mengganggu istirahat anda. Anda harus ikut kami untuk persiapan pemberkatan." Mina mengernyit, menyingkirkan helaian rambutnya ke belakang. Madame? Kami? Pemberkatan? Apa maksudnya? "Untuk apa kalian di sini? Dan ... mengapa aku tertidur di sini? Siapa yang menyuruh kalian?” "Maaf sebelumnya, Madame. Untuk kelancaran proses pemberkatan anda dibawa ke sini. Mari ikut dengan kami." "Aku melakukan ... apa? Kalian belum menjawab pertanyaanku." Seorang Maid dengan rambut digulung dan bandana yang berhias list emas maju untuk menjawab, "Perkenalkan kami adalah Maid keluarga Royal Terence dan saya Teresa, kepala Maid. Apakah Tuan Rome tak mengatakan apapun sebelumnya? Hari ini akan diadakan pemberkatan ikatan suci untuk kalian." Makin bingunglah Mina dengan perkataan mereka. Rome yang menyuruh? Keluarga Royal Terence? "Dimohon anda segera bersiap, Madame. Acara akan dimulai sore nanti.” Ia sedang tak ingin banyak protes. Nyawanya masih belum terkumpul seluruhnya karena baru bangun tidur. "Baik, aku akan ikut kalian. Jam berapa sekarang?" "Jam 9 pagi, Madame Mina," jawab Teresa, setelahnya ia menunduk sopan. "Rome berutang penjelasan padaku. Kapan aku bisa bertemu dengannya?" Seorang Maid mengulurkan tangan padanya, iapun menyambut untuk turun dari ranjang. Mereka berjalan mengekorinya dan Teresa. "Anda hanya akan bertemu dengannya setelah di altar nanti, Madame." Langkah Mina terhenti. Merekapun berhenti berjalan. Mina berpikir beberapa saat mengenai pernyataan yang dilontarkan Teresa. “Maksudmu altar? Pemberkatan maksudmu ... pernikahan?” "Benar sekali, Madame. Hal pertama yang harus anda lakukan adalah ikut bersama kami dalam persiapan perawatan tubuh anda sesuai tradisi keluarga.” Kedua mata Mina membulat. Ia rasakan waktu seakan berhenti berputar sesaat. Jadi, maksud dari Rome melamarnya kemarin—juga akan menikahinya keesokan hari? "Ini ... apa aku tak salah dengar? Aku dinikahi sekarang juga?!” "Benar, Madame. Mari saya tunjukkan di mana ruangan untuk anda membersihkan diri." Ini di luar dugaannya. Hatinya belum siap untuk ini. Begitupun dengan debaran jantungnya yang semakin keras. Ia akhirnya menikah dengan lelaki yang ia cintai selama 12 tahun ini? Refleks Mina memeluk Teresa dengan pelukan erat, menjerit tertahan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN