Acara pemberkatan mereka yang telah diselenggarakan dengan privat, hanya beberapa orang yang datang. Sedikit yang ia kenal. Meski privat, tetap terasa hangat dan intim. Ia masih ingat bagaimana gugupnya ia pertama kali bertemu ibu Rome—beliau lebih senang disebut Mom Cassandra daripada sebutan kehormatan lain sesuai tradisi keluarga. Ia pikir ibu Rome seorang yang dingin seperti anaknya juga, ternyata Cassandra sosok ibu yang santai dan lebih suka bepergian—sejak ayah Rome meninggal, meninggalkan perusahaan keluarga seluruhnya pada Rome.
Dari luar jendela mobil, ketika melihat kegelapan langit kian pekat, ia terdiam. Gugup melingkupi, ia mencoba tetap tenang dengan membuang napas berat. Ia sudah menjadi pendamping resmi lelaki di sebelahnya ini. Sebenarnya, ia masih tidak percaya apa yang ia alami sekarang, semuanya terasa cepat. Tidak apa-apa, pikirnya. Dalam gugup, dalam diam, dalam canggung sekalipun, selama ia bersama Rome, ia merasa semua akan baik-baik saja dan mengalir apa adanya.
Ia menoleh pada Rome yang sedang menyetir, bertanya,"Kita ke mana?"
"Pulang." Rome hanya menjawab singkat dengan fokus ke jalanan yang minim pencahayaan, karena melewati jalan pintas pinggiran kota, begitu yang ia simpulkan setelah melihat keadaan di luar. Mina mengangguk kecil, kemudian menunduk menatap tangan suaminya yang menggeser persneling. Ia tertegun, mengalihkan pandangan yang kali ini ada pemandangan danau besar yang sepi. Entah kenapa ia lebih memilih diam, daripada mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan yang berkecamuk di kepalanya sejak bertahun-tahun lalu pada lelaki itu. Mungkin bila sudah di rumah ia akan menanyakannya.
Beralih pada tangan kanannya, jari manis yang sudah "terikat" oleh cincin emas putih dengan mata safir ungu dilingkari selayak sulur kecil. Bahkan sampai sekarang ia tidak percaya dengan apa yang dialaminya sekarang. Setelah semua rindu yang begitu menghimpit, akhirnya ia bersama dengan orang itu. Orang yang membuat segala gundahnya terbayarkan.
Kali ini, ia memandangi wajah serius lelaki di sampingnya. Wajah yang dulu, dua belas tahun lalu masih mulus dan agak tembam, kini sudah menirus dan berkerut. Wajah konyol yang dulu kurang mendukung untuk ukuran seorang penjahat, kini siapapun bisa bergidik karena terintimidasi oleh penampakannya.
Ia tidak menyadari senyum tipis mengembang di wajahnya, hingga ia mendengar, "Kau ingin sesuatu?"
Ia terkesiap, kemudian menjawab,
"Tidak, um, maksudku iya. Aku hanya ingin menyentuh wajahmu. Bolehkah?"
Bahkan sampai sekarang Mina masih merasa agak canggung. Rome yang mendengar permintaan wanitanya hanya membuang napas.
"Sudah pernah kukatakan. Apapun untukmu, scythellica-ku," jelasnya sambil memutar kemudi, berbelok ke kanan.
Maka, dengan pelan ia mengangkat tangan, menyusur inci demi inci wajah lelaki yang dicintainya. Wajah berkulit tan dengan kerutan-kerutan terlihat jelas. Ia ingin mengingat rasa sentuh di jarinya. Mengingatnya, untuk waktu yang lama. Selamanya, pikirnya.
Sedangkan Rome sendiri, ia ingin memejamkan mata, merasakan tangan halus nan hangat yang membelai wajah. Namun, tidak mungkin ia melakukannya walau hanya beberapa detik, akan berbahaya untuk berkemudi.
Merasa cukup dengan belai di wajah yang akan menyebabkan konsentrasi mengemudi terganggu, ia menurunkan tangan Mina. Menggenggamnya, berbalik membelai punggung tangan halus itu. Tangan halus yang pernah tinggal tulang berbungkus kulit karena masa depresinya ketika kematian Claire. Kini, tangan itu sudah kembali seperti semula.
Ia ingin mengingat bagaimana halusnya tangannya itu, selama hidupnya. Selamanya, pikirnya.
Mereka, yang sudah sama-sama menua. Dengan tindakan-tindakan kecil itu, sanggup meluruhkan sedikit-sedikit kerinduan yang mereka pendam bertahun-tahun. Hanya dengan itu, mereka mengekspresikan perasaannya. Tidak ada canda tawa, tidak ada berkeliling-keliling taman hiburan, tidak ada menonton bioskop dengan cerita romansa anak muda. Tidak ada hal yang seperti itu. Bagi mereka yang mungkin hidupnya tidak begitu lama lagi, hanya dengan sunyi dan diam, berdampingan. Hanya itu. Yang mereka inginkan.
Tidak lama, mobil dibelokkan ke sebuah gedung mewah yang Mina pikir sebuah hotel berbintang lima. Ia mengernyit, berbalik menoleh pada Rome yang masih serius mengemudi, memasuki lahan parkir.
Mobil berhenti. Rome keluar terlebih dulu, membukakan pintu samping kanan. Menjulurkan tangan agar Mina bisa keluar dengan mudah.
"Ayo." Mereka berjalan berdua menuju lift pintu belakang. Mina hanya merasa bingung dengan tindakan Rome yang membawanya lewat pintu belakang, tetapi ia hanya ingin ikut saja. Memasuki lift, Rome menekan tombol 3 dan 0, kemudian menutup lift. Hanya ada mereka berdua di dalam, tentunya.
Mina melirik tangannya yang masih bergandeng dengan tangan Rome. Ia mengeratkannya, tersenyum tipis, sedangkan Rome yang merasakannya hanya terdiam, tetapi dalam hati seperti ada percik api yang membuatnya merasa salah tingkah, dan ia menutupi hal itu dengan baik.
Pintu lift terbuka disertai dentingan halus. Tampak di matanya, sebuah venue yang disulap nuansa horor dan labu-labu bercahaya. Ia mengernyit, mengingat-ingat bahwa ia sudah berada di penghujung Oktober.
"Pegang lenganku." Rome memintanya dengan halus.
"Eh? Oh?" Mina hanya tercengang karena takjub dengan pemandangan di depannya.
"Pegang lenganku," ulang Rome, dengan merenggangkan lengan kiri. Mina mengangguk kecil, kemudian menggandeng lengan lelaki di sampingnya. Berjalan melewati venue, hingga seseorang berkostum ungu, membawa dua tombak yang telah dihias dan kepala yang memakai penutup berbentuk labu emas. Orang itu melepas helmnya, menampakkan wajah seorang laki-laki yang tidak asing bagi Rome.
"Wah, pengantin baru. Kalian dinantikan semuanya." Lelaki itu menepuk-nepuk bahu Rome.
"Nikmati saja pestanya. Kami ingin istirahat." Rome menepis dengan setapak meninggalkan lelaki itu.
"Wowowowow, istirahat atau..." ia berdehem dan pura-pura terbatuk. Rome hanya menatap datar, sedangkan Mina yang menangkap apa maksudnya hanya memalingkan wajah.
"Derek, pergilah." Ia memerintah dengan nada datar. "Ia perlu istirahat," ujarnya dengan menatap Mina.
"Baiklah, selamat bersenang-senang." Derek berbalik, melambaikan tangan.
Mereka berdua melanjutkan langkahnya hingga berhenti di sebuah dinding. Rome mengetikkan sesuatu di ponselnya. Setelahnya, dinding itu telah terbentuk pintu kaca tebal dan membuat Mina takjub.
"Masuklah." Ia mempersilakan Mina masuk ke dalam ruangan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Sebuah ruangan yang luasnya sama dengan ukuran setengah lantai hotel yang ia pijaki. Meletakkan flat shoes di rak, ia berjalan pelan mengamati sekeliling. Ruangan itu dipenuhi barang berwarna hitam minimalis. Di samping televisi terdapat rak yang dipenuhi kamera lawas hingga yang paling baru.
"Maaf aku belum mencari rumah yang bagus untuk ditempati. Bisakah kita mencari bersama?"
"Eh? Apa? Inipun sudah lebih dari cukup."
"Kau yakin?" Rome menanyakan dengan menatap Mina tepat di wajahnya.
"Ya, memangnya harus yang bagaimana lagi?"
Rome yang mendengar itu hanya membuang napas, sedikit sudut bibirnya menaik.
"Kau sangat jauh dari yang kukira."
"Maksudmu?" Mina menduduki sofa panjang hitam yang halus.
"Kau seseorang penyuka kesederhanaan."
Mendengar hal itu, Mina hanya mengulum senyum. Kata-kata itu terasa seperti pujian yang manis.
"Ikuti aku."
Lelaki itu menarik tangannya, menggandeng hingga ke suatu kamar yang luasnya melebihi kamarnya sendiri dengan ranjang berukuran king, dengan dinding putih gading dan ornamen abstrak kelabu tergantung di kepala ranjang.
"Kau terlihat lelah. Istirahatlah. Aku mau mandi."
"Kupikir aku harus melakukan sesuatu."
"Mau ikut mandi juga?"
"Hei!" Mina berteriak dengan wajahnya yang memerah. Rome hanya tertawa lepas, mengeluarkan handuk mandinya dari dalam lemari.
"Kupikir aku harus memasakkanmu sesuatu."
"Sudah kubilang, istirahat. Nanti sudah ada yang mengantarkan untuk makan malam."
"Kalau begitu, aku akan berbelanja."
"Tidak bila tanpaku."
"Aku akan mencuci."
"Pakaian yang mana?"
"Pakaianmu, dan pakaianku."
"Sudah ada yang mencucikan."
"Aku akan mengambil koperku."
"Beberapa menit lagi sudah ada di lift." Mina celingukan, mendapati lift yang ada di dalam ruangan.
"Mengapa kita lewat venue bila sudah ada lift di sini?"
"Aku hanya ingin mengecek acara, tapi kulihat kau perlu istirahat."
"Baiklah, aku akan membersihkan ruangan yang lain."
"Semua sudah steril sebelum kita di sini."
"Ah," Mina sedikit menggerutu. "Lalu, apa yang harus kulakukan?"
Rome yang sudah di depan pintu kamar mandi menjawab, "Kau cukup mencintaiku saja."
"Hei!"
Setelah menutup pintu kamar mandi, Rome hanya tertawa ketika sekilas melihat wajah istrinya yang sudah memerah tomat.
***
"Bisakah kau melepaskan laptopmu dulu?"
Dengan susah payah Mina menarik sebuah kado yang terbilang cukup besar. Rome yang terlalu larut dengan pekerjaannya tidak mendengar permintaan Mina. Perempuan itupun hanya mendengkus, melihat suaminya yang masih bekerja meski hari itu adalah hari pernikahan mereka.
Mencoba memaklumi, ia membuka kado yang didapat dari acara sendirian.
"Dear, kau mendengarku?" Ia mendekati Rome yang jemarinya masih menari di tuts keyboard.
Ia mencebik karena suaminya mengacuhkannya. Ia kembali pada kado-kado yang belum sempat terbuka yang ia naikkan ke ranjang. Atensinya tertarik pada sebuah kado dengan box warna ungu tua. Ia membukanya, mendapati dua buah buku dengan tulisan "Untuk Mina", tepatnya di atas sebuah buku yang berjudul "A Good Wife". Ia pikir itu adalah sebuah buku panduan pernikahan. Dalam hati, ia berterima kasih pada siapapun yang memberikan buku itu padanya.
Beralih pada buku yang lain, bertuliskan untuk suaminya.
Ia pikir, buku itu cukup sederhana dengan sampul hitam bergaris timbul.
Tidak bersegel, ia membuka-buka halamannya. Sekilas ia membaca, terlihat seperti sebuah buku catatan.
"Akankah kau kembali ke kepolisian?"
"Kami menantimu"
"Aku menunggumu."
Lalu, tercetak sebuah nama di bawah catatan: Linda.
Mina bertambah bingung ketika ia mendapati di samping buku itu, tertempel sebuah pena bermata emas.
"Dear, siapa Linda?"
Ia mencondongkan tubuh, mengamati grafik-grafik dan tabel yang jelas tak ia mengerti dari layar laptop suaminya.
Ia kembali merasa diacuhkan. Sedikit kesal, ia berkata, "Baru pagi tadi kita mengucap janji setia, janji kau akan selalu ada untukku. Sekarang mana buktinya? Apa istrimu sekarang adalah laptopmu, huh? Apakah tadi kau salah membawa barang yang seharusnya bersanding di altar adalah benda itu? Apakah pekerjaanmu lebih penting dari pertanyaanku? Jadi, untuk apa keberadaanku di sini? Apakah kau hanya ingin mempermainkanku? Apa kau tidak mencint..."
Belum sempat ia meneruskan omelannya, bibirnya telah dibungkam oleh Rome yang telah mengecupnya tanpa jeda. Membuat bibir itu penuh saliva hingga ia melepas paksa dengan engahan.
"Sweet scythellica."
Rome menyeringai, merasa menang karena tindakannya tadi.
"Aku belum sempat mengambil napas, kau langsung menciumku saja."
Mina kembali menggerutu. Ibu jari Rome yang mengusap bibirnya yang masih basah membuatnya sedikit terkejut.
"Selain sederhana, kau juga cerewet. Kejutan apa lagi yang akan kau tampakkan padaku, hm?"
Mina mendelik, pura-pura tidak suka dengan tindakan Rome yang tiba-tiba.
"Kau membuatku kaget, kau tahu."
Rome menaikkan alis kanannya ketika melihat Mina yang menunduk dengan bawah matanya yang memerah.
"Kau tersipu, sayangku?"
Ia menaikkan wajah wanitanya dengan mengangkat dagunya.
"Bukankah kau semasa sekolah sering berpacaran? Mengapa sekarang kau seolah anak remaja yang baru pertama kali bercinta?"
Mina mencebik, dengan masih menatap lelaki di depannya.
"Aku berpacaran dengan mereka agar aku tidak pusing karena permintaan mereka yang tidak mau berhenti bila aku tidak mengiyakan. Lagipula, aku selalu membatasi mereka hanya dengan berpegangan tangan dan memeluk saja. Dan mereka meminta putus karena aku tidak mau lebih dari itu," papar Mina panjang lebar. Mendengar hal itu membuat Rome kembali menyeringai.
"Berarti, segala sesuatunya yang lebih dari hal itu, pertama kalinya denganku, bukan?"
"Tentu saja begitu."
"Menarik." Pelan ia mendekatkan indera penciumnya di leher istrinya, menghirupnya dalam. Mengecupnya sekilas, kemudian, membisikkan, "Aku tersanjung dengan hal itu."
"Kau belum menjawab pertanyaanku."
Rome kembali menatapnya. "Kupikir pertanyaanmu bukan hanya yang tadi saja."
"Tentu saja begitu. Terlalu banyak pertanyaan yang tidak terjawab."
"Baiklah, mulai dari mana?" Ia beralih pada laptop yang masi menyala, setelah menyimpan dokumen yang disunting, ia mematikannya dan menutupnya.
"Siapa Linda?"
Mendengar pertanyaan itu membuat satu alisnya naik.
"Dari mana kau tahu nama itu?"
"Dari buku ini." Mina menunjukkan sebuah buku yang baru dibacanya. Lelaki di hadapannya mengambil buku itu, membolak-balik halamannya.
"Jadi, siapa dia?" ulang Mina.
"Hanya seorang perempuan yang naif dan bodoh."
"Perempuan?"
"Dulu dia temanku semasa sekolah, jauh sebelum ku bergabung dengan Abbys Ground. Dia hanya tidak tahu tujuanku masuk ke kepolisian hanya untuk menyelidiki tindakan apa yang akan dilakukan oleh tim detektif. Dia pikir aku keluar hanya karena urusan sepele."
Mina yang masih bingung, kembali bertanya.
"Lalu, mengapa kau keluar dari kepolisian?"
"Tugasku sudah selesai. Lagipula, aku meminta pada ketua Marvin agar bisa bebas menjagamu."
"Menjagaku?"
"Ya."
"Pertanyaan kedua. Sejak kapan kau melihatku?"
"Sejak kau diselamatkan oleh Susan. Aku merasa ingin melindungimu ketika melihatmu terbaring dengan mata tertutup."
"Jadi... sejak hari itu?"
"Ya."
"Lalu, mengapa kau baru muncul setelah lima tahun?"
"Aku berada di sekitarmu semasa SMA, hanya saja kau tidak melihatku. Sayangnya, waktu itu kelas kita berbeda. Dan kesempatanku mendekatimu sangat jauh karena pengganggu-pengganggu sangat banyak di sekitarmu." Mengingat hal itu membuat Rome sedikit kesal.
"Aku benci mengakui ini, tetapi aku benar-benar cemburu saat mereka menjadi pacarmu."
Mina tertawa kecil. "Dear, sekarang kau tidak cemburu, kan?"
"Tentu saja. Karena akulah pemenangnya."
"Ya. Aku milikmu, sekarang. Segalanyaku, milikmu."
"Lalu, mengapa kau tidak mendekatiku waktu itu?"
"Aku terlambat. Saat ingin mendekatimu, kau sedang giatnya berlatih di Abbys Ground dan tidak lagi menerima siapapun menjadi pacarmu. Aku senang sekaligus kesal karena itu. Ketika aku ingin mendekatimu dan bertanya pada teman sebangkuku, dia sendiri bertanya, "Kau suka dengan si perawan maria itu? Kau tidak akan mendapatkan apa-apa darinya, terutama tubuh seksinya itu." Tetapi, aku tidak peduli dengan omongannya."
"Perawan Maria lagi." Mina membuang napas kesal.
"Jadi, itu julukanmu?"
"Itu ejekan." Rome merasa heran. Sudah berulang kali ia menaikkan alisnya.
"Tepatnya karena aku tidak pernah berhubungan, aku selalu menolak ketika mereka memintanya."
"Kenapa?"
"Karena melakukan hal itu akan menghambat aktivitasku. Hal itu akan membuatku lemah, mustahil bisa berlatih dengan baik bila tiap kali aku kelelahan, sedangkan aku tidak boleh lemah dan menjadi lengah. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi setelahnya, aku tidak akan bisa berbuat apa-apa bila musuh tiba-tiba menyerang."
"Kau benar."
"Dan aku benci menjadi lemah," akui Mina.
"Aku mengerti." Rome menyingkirkan helaian rambut panjang yang menutupi wajahnya, menyampirkannya ke belakang telinga.
"Ada lagi?"
"Aku tidak tahu banyak orang yang bekerja bersamamu, jadi kupikir aku ingin tahu siapa saja mereka."
"Baiklah, tanya saja."
"Siapa yang menghampiri kita tadi? Derek? Dia sebagai apa?"
"Dia CEO hotel ini."
"Ooh," Mina melanjutkan pertanyaan, "Lalu, bagaimana dengan yang lain? Siapa manager cafe tempatku bekerja?"
"Max."
"Max itu, seperti aku tidak pernah melihatnya."
"Kau tidak tahu karena dia tidak pernah memperkenalkan diri. Setiap pagi dia mengunjungi cafe tanpa bicara."
"Ciri-cirinya?"
"Dia memakai penutup wajah."
Mina terhenyak sebentar. "Jadi, lelaki itu, manager cafe?"
"Benar."
"Sepertinya Hana akan mengalami kesulitan."
"Kesulitan yang seperti apa?"
"Dia menyukai managernya sendiri."
Rome mengangguk, kemudian melanjutkan, "Kita lihat saja nanti apa yang akan Max lakukan."
"Selanjutnya, mengapa Susan memilih bekerja di bar daripada mengurus rumah sakitnya?"
"Tanyakan saja padanya, akupun tidak mengerti."
"Ada lagi?"
"Apa yang terjadi padamu 12 tahun yang lalu?"
Mendengar hal itu, Rome terdiam, kemudian membuang napas.
"Kau ingin mendengarnya?"
"Ya. Sepanjang apapun ceritanya."
"Tidak, Akan kupersingkat saja."
Ia kembali membuang napas, kemudian melanjutkan, "Mallaga menjebak kita semua. Dia membuat Dark Shadow bergerak ketika hendak membunuh target kita, perdana menteri. Perdana Menteri adalah pejabat yang diusung oleh mereka. Pergerakan kitapun diketahui oleh kepolisian. Mallaga menyuntikkan biusnya padaku, lalu menculikku ke dalam TER. Dia menambahkan percobaannya padaku, yaitu serum yang membuatku akan menua seketika dan melemah. Namun, aku berhasil mengenyahkan sisanya dan serum itu bereaksi. Serum itu membuat penampakanku menua, tetapi tenagaku semakin kuat. Aku membuatnya sekarat dan membuangnya ke sungai. Aku sangat gegabah karena ingin lekas menyusulmu. Dan semua terlambat."
Rome menunduk, masih ada rasa bersalah dan kesedihan yang terefleksikan di matanya.
"Ketua Marvin meninggal, Susan masih berhasil kulindungi, tetapi kau telah tertangkap. Dan yang lain, memilih bersembunyi menyelamatkan diri masing-masing. Bisa kau bayangkan betapa kacaunya diriku saat itu?"
Mendengar hal itu, luka lama di hatinya kembali menganga. Ia meraih tubuh suaminya, memeluknya erat. Memejamkan mata, ia merasakan hangat tubuh lelaki itu.
"Aku mengerti. Dan itu bukan sepenuhnya salahmu, Dear. Aku percaya, kau akan menyelamatkanku saat itu. Penjara 10 tahun, itu memang tidak sebentar. Dan aku percaya, kaulah yang melakukannya. Aku tidak takut hukuman berat, aku tidak takut siksaan polisi, sebenarnya. Aku lebih takut saat aku tak bisa lagi melihatmu." Kali ini, berbalik Mina yang menangis sesenggukan. Ia mengeratkan pelukannya, kembali menghirup feromon alami yang menguar dari lelakinya. Ia berharap akan selalu mencium aroma itu, selamanya.
"Kau menangis?"
Rome melepas pelukannya, mengusap wajah wanitanya.
"Maafkan aku."
"Aku yang harusnya meminta maaf. Aku selalu merepotkanmu, dengan perasaanku. Dengan harapku yang ingin kau selalu di sisiku ketika aku hampir gagal dalam misi.”
“Aku tidak ingin mendengar hal yang seperti itu.”
"Maaf." Ia mengusap kedua matanya yang berair.
"Kau terlalu banyak mengatakan maaf."
Mina hanya menunduk. Rome tidak suka melihat wanitanya terlalu lama bersedih. Iapun menaikkan dagu istrinya sampai mereka berdua bersitatap.
“Matamu sangat indah."
“Jangan merayuku, aku sedang sedih! Mina menepuk tubuh Rome dengan pelan.
“Well, aku tak membiarkan kesedihanmu berlama-lama dalam diri.
Ketika Rome menariknya dalam peluk dan cumbu, tak ada yang lebih syahdu dari keindahan malam kelam selain peraduan kasih antara mereka berdua.