Morning 10: Harley

1991 Kata
Verrena mengetuk pintu untuk kedua kali. "Masuk saja," sahut Bob dari ruangan. "Duduk," perintahnya pada Verrena. Melihat raut wajah Bob yang tak biasa membuatnya curiga. Lelaki tua itu tak seperti paman yang ia kenal, wajahnya terlihat menyeramkan. Tiba-tiba lengan kursi mengkungkungnya dengan besi yang tersambung. Ia tak bisa melepaskan diri dari kungkungan itu. "Ap-apa-apaan ini?!" Bob tak menjawab. Ia bangkit dari kursi dan masuk pintu di samping rak buku, dan muncul seorang wanita dengan rambut merah muda panjang diikat, dengan ponsel dan pistol berperedam, ia letakkan di meja. "Semudah ini kau tertangkap ... kau masih menganggap dirimu sebagai detektif?" Susan tertawa mengejek dengan menutup mulutnya dengan tangan, kembali bertanya, "Lady, apa kau tak punya rasa malu?" "Damn," desis Verrena dengan kembali memaksa diri melepas dari kungkungan kursi mekanik, tetapi nihil. "Katakan, apa saja yang sudah kau dapatkan dari Dark Shadow?" "Tak ada yang bisa kubagi pada kalian!" "Arogan sekali." Susan menggelengkan kepala keheranan. Kedua tangannya dilipat di depan tubuh, menatap Verrena yang pandangannya tajam dan tersirat kemarahan. "Begini saja, Lady. Kita memiliki musuh yang sama. Mengapa kita tidak saling memberi informasi? Kau tak perlu mengusik keberadaan kami, dan kami tak akan mengganggu kalian." "Susan, kau terlalu baik." Zean mencondongkan tubuh ke depan, sikapnya tak puas dengan Susan yang cenderung lembek terhadap orang yang menyelidiki mereka. Susan menggeleng, "Sekali ini saja. Kau beruntung moodku dalam keadaan baik hari ini. Kalau saja kau berada di tangan Rome, kau hanya tinggal nama sejak kemarin." Susan mengingat-ingat terakhir Rome bersama Mina pamit dari pesta malam tadi untuk istirahat. "Biarkan saja Rome bersama istrinya menikmati hari yang indah." Getaran ponsel di meja membuat Susan melongok, mendapati seseorang melakukan panggilan video. Ketika ia menggeser tombol, pemandangan seseorang di ponselnya membuat ia menaikkan sebelah alis. "Oh, ada titipan dari Rome. Luar biasa, bahkan sehari setelah menikah ia bisa membereskan ini. Hmm, sangat menarik." Ketuk-ketuk hak sepatu Susan mengusik hening di ruangan. "Katakan saja, atau kau mau anak manis ini mati?" Susan mendekati kursi Verrena, menaruh sebelah tangannya ke sandaran kursi dan tangan yang lain menunjukkan ponselnya; live-video seorang lelaki muda diikat, berambut hitam kelam dan berteriak memberontak sebelum mengarah kamera, ia terperanjat. "Sis-sister ... Verrena? Sister!" "Harl?! Harley! Apa yang kalian lakukan pada Harley! Jangan sentuh dia!" Setelah bertahun-tahun terpisah, ia hampir tak mengenali Harley. Anak lelaki itu kini sudah menjadi pemuda beranjak dewasa, dengan rambut bergelombang hitamnya menjadi potongan pendek-lurus, berahang tegas, hanya dari sorot mata Verrena meyakini bahwa di video adalah adik angkatnya, Harley. "Melakukan apa, tepatnya ya? Seperti yang kau lihat. Maksudku, tepatnya belum terjadi sesuatu. Kau tahu, hanya sepersekian detik peluru di pistol itu akan menembus tengkorak adikmu." Seorang lelaki berdiri menodongkan pistol, sampai menempel di kepalanya. Namun, tak terlihat sedikitpun raut wajah takut pada Harley. "Ini kesempatan terakhir. Ketika kau berontak dan pergi dari sini, akan kupastikan kalian berdua menjadi potongan makanan anjing!" Kalau mereka berdua mati, artinya segala perjuangan yang ia lakukan akan sia-sia. Ronald dan Dark Shadow akan tetap menjalankan rencana-rencana jahatnya. Harley tak akan lagi ia temui. Juga Gussion, ia belum menepati janji dengan lelaki itu. Ia tak boleh mati di sini. Setelah memejamkan mata dan berpikir, ia berkata, "Harley, aku akan menjemputmu!" Panggilan video dimatikan. Susan tersenyum puas, tetapi sebaliknya pada Zean; Ia masih mencibir ancaman Susan yang terlalu lemah. Namun, mengingat perkataan Rome saat terakhir mereka berbentuk sebagai Abbys Ground Kita bukan lagi kumpulan penjahat jalanan. Fokus pada perbaikan kehancuran yang terjadi pada kita, cari sekutu yang memiliki musuh bersama dan lakukan serangan balasan, Zean kembali relaks. Tak ada gunanya membantah Rome. Lagipula, yang ia ketahui Dark Shadow bukanlah lawan yang bisa mereka tandingi untuk saat ini. "Aku akan melakukannya. Apa jaminan kalian membiarkan Harley selamat?" “Bukankah kau sudah tahu penyebab kami hancur? Benar, sebuah pengkhianatan. Jangan pernah meragukan perkataanku, Lady. Kau tahu sebegitu busuknya orang yang mengkhianati sumpahnya sendiri." "Baiklah, aku akan mengatakannya. Pertama, dalang dari segala hal yang terjadi adalah Daniel!" *** "Apa saja akan ia lakukan. Seperti yang kau katakan, ia juga membantu calon petinggi yang sedang mengincar kursi jabatan. Timbal baliknya, pejabat yang bersekongkol dengannya, khususnya di bidang pertahanan akan menganggarkan pengadaan senjata yang berjumlah sangat besar, bahkan ketika tidak ada ancaman perang dari negara manapun." "Kau hanya mendapatkan titik koordinat terdekatnya saja? Tidak heran. Carilah mereka di tempat yang tak pernah terpikirkan oleh manusia, bahkan oleh penjahat yang terbiasa bersembunyi sekalipun. Tinggal di atas langit? Bisa jadi." Verrena masih teringat bagaimana Susan memberinya informasi yang sangat minim mengenai Dark Shadow. Ia pun baru tahu bahwa Abbys Ground tempat dulunya Susan bergabung telah dihancurkan oleh rekannya sendiri yang berkhianat demi kekuatan dan percobaan yang sempurna. Ia mengerti sekarang. Bahwa yang mereka hadapi ini, tidaklah bisa dihadapi dengan mudah. Pengemudi di depan membuat ingatannya mengenai pernyataan Susan tadi terinterupsi. Tanpa menoleh, memberikan ponsel warna abu-abu yang layarnya menampilkan nomor tak dikenal sedang menelepon. Ketika ia menekan tombol hijau, ia mendengar seseorang berbicara dari seberang. "Cari saja di mana ada penjahat yang membiarkan tawanan bertemu dengan fasilitas mewah seperti ini." Verrena mendengkus, sedikit jengkel. Ia lihat lagi seorang pengemudi dengan penutup wajah di depannya, tanpa suara. Lalu, aku harus berterima kasih?" "Kami tak menerima pembayaran murahan seperti itu." "Hal seperti apa lagi yang kalian inginkan dariku?" "Selain yang kemarin ... tidak ada. Kau beruntung karena mau membuka mulut. Itu saja?" "Yah, dia akan mengantarmu sampai tujuan. Jangan membuatnya terusik atau ia akan membuangmu ke tengah laut." Verrena terdiam. Ia mengembalikan ponsel itu tanpa berkata apa-apa, enggan bertanya ke mana mereka akan membawanya, apakah ia akan benar-benar bertemu Harley? *** Baru ia membuka pintu dan menjejakkan sebelah kaki ke tanah, mobil melaju kencang dan membuat ia ambruk. Kepala dan bahunya terbentur jalanan. "Akh!" Cukup sakit sampai ia mengaduh. Ia memutuskan berdiam sejenak, membersihkan debu dan sisa pasir. Bangkit perlahan, mengobservasi sekitar, Ia tiba di sebuah bangunan tua yang tak layak huni. Ada tumbuhan merambat menutupi pagar berkarat dan pintu kayu yang juga hampir lepas dari engsel. Dahinya mengernyit, di sini seperti tak ada tanda kehidupan. Ketika merogoh ponsel, ia bersyukur benda warna hitam itu tak ada lecet atau layarnya pecah karena insiden jatuh tadi. Namun, ketiadaan bar sinyal membuatnya mendecak. Ke mana ia akan pergi apabila tak ada siapapun yang bisa ia hubungi? Verrena berjalan sambil tetap mengobservasi apabila ada yang mencurigakan. Sebuah balok kayu ia pungut dari sebelah pagar, antisipasi apabila ada serangan mendadak. Sampai ke pintu, ia membuka pelan. Cukup gelap, dengan reruntuhan dinding berserakan dan cahaya masuk dari lubang-lubang bangunan. "Harl? Harley kau di sana?" Langkahnya pelan, dan tetap mengedarkan pandangan ke sekitar. Tak ada suara apapun, sebelum bunyi benda terjatuh mengejutkannya. Refleks ia mengangkat balok kayu, bersiap untuk menyerang siapa saja di sana. Namun, yang ia dapati hanyalah seorang laki-laki berambut hitam pendek terikat di kursi, terebah di lantai. "Harley!" Ketika lelaki itu membuka mata, saat melihat seorang perempuan di depannya ia hanya mengeluarkan gumaman-gumaman tidak jelas karena mulutnya ditutupi lakban hitam. Gegas Verrena membangkitkan lagi tubuh adiknya, melepaskan lakban pelan-pelan. "Harley, ini kau, kan?" "Sis... sister ..." Lelaki itu terbatuk-batuk karena menghirup debu. Verrena menaikkan tubuhnya, terlihat pakaian serba hitam yang dikenakan menjadi kotor karena sisa puing bangunan. Verrena membuka tali kekangan tubuh Harley, cukup cepat karena ia terbiasa dengan simpul tali. "Aku merindukanmu, Harl." Verrena memeluk adiknya erat. "Sister ... kau ke mana saja?" "Ceritanya panjang. Aku akan memberitahumu di perjalanan kita nanti." *** "Saat empat tahun lalu di malam itu, aku sudah berada dalam tabung percobaan. Mereka menamaiku sebagai spesimen O-231, memperlakukanku seperti spesimen, memasukkanku ke dalam penjara. Namun, tiap kali mereka memasukkan apapun ke tubuhku, tak menghasilkan apa-apa. Mereka menendangku, memukulku karena menjadi tak berguna. Begitupun dengan pemakaian senjata. Aku sengaja agar terlihat bodoh dan tak berguna, tembakanku kubuat selalu meleset. Aku tak membiarkan mereka mengambil keuntungan dariku sedikitpun. Saat aku menjadi tahanan yang tak berguna, mereka sedang mengembangkan prototype cyborg seorang perempuan, seperti seumuranku. Mereka menyebutnya Lorene, bernomor LCP-025. Prototype itu mampu menembak objek bergerak 3 kali lebih akurat dari penembak biasa, bahkan lebih dari Paman Alfred." "Aku bersyukur kau baik-baik saja, Harl." "Ini semua berkat Paman Alfred. Ia yang membuangku ke tempat yang lebih layak. Paman Alfred adalah mata-mata kiriman Paman Herman. Ia membawaku pergi langsung ke Mighty Dawn, tetapi di perjalanan aku ditangkap Abbys Ground." “Mereka meninggalkan sesuatu?" tanya Verrena saat Harley merogoh saku celananya. "Dua tiket kapal," ujar Harley saat memperhatikan dua kertas di tangannya. Mereka hanya berjalan beberapa ratus meter setelah diturunkan mobil pick up yang berjalan mengangkut mereka, sampai terlihat dermaga yang sibuk dengan naik-turun penumpang dan bongkar muat barang. "Hanya itu?" "Bagaimana denganmu, Sis?" Verrena merogoh kantong, juga menemukan dua tiket—kali ini tiket bus menuju terminal utama Pulau Madelaine, beberapa kilometer dari kediamannya. Akhirnya, dia harus berjalan lagi. "Kita tidak memerlukan ini. Rekanku ada di pantai." *** Rambut ekor kuda seorang perempuan berpakaian lifeguard bergoyang karena ia yang berlari menghampiri Verrena, bersama seorang lelaki yang memegangi bahunya, ditambah wajah memar kemerahan. "Verrena ke mana saja kau?" Belum mulutnya terbuka untuk menyahuti Elvyn, perempuan itu bertanya lagi, "Dan dia?" "Adikku, yang selama ini kucari, jawab Verrena, memelan di akhir karena ia merasa cukup lelah dengan perjalanan hari ini. Elvyn segera mengerti. Ia bergegas meninggalkan mereka, menuju cafe dan memesan sesuatu untuk Verrena dan Harley. Mereka—dalam artian Abbys Ground menguras tenaganya dengan berjalan beberapa kilometer sampai bertemu dengan peradaban manusia dan meminta tumpangan untuk pergi ke dermaga. Harley melihat ke sana kemari, mencari tempat untuk beristirahat. Napasnya kini lebih teratur, tidak seperti saat mereka diburu agar turun dari kapal dengan banyak orang yang juga hendak keluar. “Aku harus bertemu Roger.” "Duduklah sebentar." "Roger harus tahu ini. Kupikir aku melakukan suatu kesalahan." "Apakah kau diancam mengatakan sesuatu?" "Kira-kira begitu." Elvyn membuang napas berat, berkata, "Kau benar. Kau harus bertemu Roger secepatnya. Aku akan ikut setelah membereskan urusan di sini." Saat ia menoleh pada Harley yang diam menunduk, ia berkata, "Dan mengenai dia juga. Aku hendak meminjam mobilmu.” *** Roger memijit kepalanya, ia merasa perlu meminum obat. Memang, kalau dipikir-pikir, tindakan Verrena bisa diterima. Menjaga agar mereka berdua tetap hidup dengan cara membagi informasi ke organisasi lain merupakan opsi paling waras daripada tutup mulut dan membiarkan Harley sekaligus Verrena mati di tangan mereka. Tak ada jalan lain. "Apakah kau juga membagikan informasi tentang kru kita?" "Tidak. Mereka tak perlu itu. Hanya mengenai Dark Shadow." Roger mengangguk, memijit kepalanya sekali lagi. "Maafkan aku." Ini adalah permintaan maaf yang kesekian kali oleh Verrena. "Tidak. Ini juga salahku membiarkanmu menyamar di sana. Mulai hari ini, misimu sudah selesai, kau tak perlu bekerja di sana lagi." "Tetapi ..." "Kau sudah menemukan adikmu. Itu yang terpenting." Roger menerangkan dengan pandangannya tak lepas dari Harley yang tertidur di sofa. Verrena ikut memandangi sang adik yang memejam, kedua tangan terlipat di atas perut. "Elvyn, aku dapat undangan pernikahan dari detektif di Mighty Dawn! Kau harus datang bersamaku ..." Dengan ceroboh Claude membuka pintu tiba-tiba, tanpa mengetahui bahwa di sana ada seorang Verrena yang paling mereka hindari mengenai info ini. "Apa ... yang kau katakan?!" Dengan cepat Verrena merebut sebuah undangan dari Claude yang tak bisa menghindar. Ketika ia merebut balik undangan itu, satu pitingan di jari tengahnya membuat ia menjerit keras. "Verrenaaa! Sialan, kau!" Claude menekan jarinya yang memerah dengan genggam tangan, perlakuan rekannya itu sangat menyakitkan. Saat Verrena membaca siapa detektif yang dimaksud, kedua matanya membulat. Sejenak ia terdiam sampai kesadarannya kembali, ia bergegas hendak membangunkan Harley. "Biarkan adikku tinggal bersama kalian sementara. Aku akan pergi ke Mighty Dawn." “Di sana terlalu berbahaya. Bagaimana ternyata Ronald ada di sana dan bergerak untuk menangkapmu? Jangan sampai langkahmu terbaca musuh.” Roger berusaha tenang mencegat Verrena yang hendak pergi. "Aku tak peduli. Aku akan pergi, bagaimanapun usaha kalian mencegahku!” Roger menangkap Verrena, merengkuhnya dengan memegang kedua bahunya kuat-kuat. "Jangan bodoh, Verrena. Aku tak bisa melindungimu apabila terjadi sesuatu di sana." "Jangan meremehkanku, Roger! Aku akan menjaga diriku sendiri! Kalian cukup lindungi Harley, dan latih ia memakai senjata." "Sister ... Harley tiba-tiba terbangun dan berkata, Aku ikut denganmu." Semua orang di sana kehilangan kata-kata.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN