Morning 11: The Wedding...

1471 Kata
Satu gigitan apel di ruangan, dan Gussion memalingkan wajah saat seorang rekannya dari Divisi 1, Hayate membuka pintu. "Cepatlah, pengantin wanitanya telah siap." Ia hanya membalas anggukan dan meletakkan apel yang tersisa di atas meja, dekat jendela yang menampakkan pemandangan dengan taman kecil yang dilengkapi kolam melingkar. Gussion meninggalkan ruangan dengan segaris senyum tipis, tampak darinya ada rasa bahagia di sana. Hari ini, di sebuah gereja dengan pagi yang teduh, tenang. Tetapi, berbeda situasi dengan bagian depan yang menampakkan barikade keamanan mengamankan acara sakral itu; pernikahan antara sesama anggota Divisi 1 Detektif Mighty Dawn Police Department. Bernama St. Marry Church—Gereja bergaya zaman Renaisans ini cukup membuatnya terkesan, dan memikirkan bahwa pemilihan tempat ini untuk acara pernikahan sangatlah tepat. Dan keterpesonaannya pada tempat itu pudar saat ia mendengar lonceng berdentang tanda pemberkatan akan segera dilangsungkan. Melewati belakang barisan, berkali-kali ia mengucapkan permisi pada hadirin yang telah menduduki tempatnya. Melangkah cepat sampai ia meraih tempat duduk yang kosong di sebelah kiri ujung dekat permadani yang akan dilewati mempelai wanita untuk ke altar. Gussion, duduk menjadi saksi dari sekian banyak teman yang dimiliki kedua mempelai. Memakai setelan tuksedo hitam dengan dasi pita hitam dengan rambut cokelatnya yang sudah disisir rapi. Masih terlihat sisa bercukur di rahangnya. Akhir-akhir inienam bulan terakhir sejak perpisahannya dengan Verrena, ia semakin menggencarkan penelitiannya sehingga ia tidak sempat untuk merawat diri dengan benar. Hari itu, hari di mana Verrena kembali meninggalkannya. Rapat yang dimajukan itu membongkar kembali kasus keluarga Delocre yang tentunya telah disetujui petinggi kepolisian. Hampir sepanjang hari ia berterima kasih pada Herman atas jasanya menguatkan argumen untuk kembali membuka kasus itu. Dan segala upaya yang dikerahkan oleh mereka membuahkan hasil. Mereka berhasil menjebak anggota Dark Shadow, menjebloskannya ke penjara dan asisten Ronald—Alfred yang ditemukan tewas bunuh diri sehari setelah penangkapan tanpa sedikitpun membuka mulut. Jasa mereka, terutama MIGHTY Squad dengan anggota rahasia—Ella telah kembali dari dinasnya ke luar negeri. Tidak luput dengan divisi 1 sampai 5 detektif kepolisian Mighty Dawn yang berjuang keras bersama mereka. Keadaan telah sedikit membaik dengan ancaman yang cukup minim. Di kala itu, seorang pria yang juga anggota divisi 1 detektif kepolisian Mighty Dawn berjanji akan menikahi wanitanya apabila kasus bagian pertama ini telah selesai. Dan di sinilah mereka. Sang wanita, telah tampak di depan pintu gereja dengan tudung menutupi. Gaun putih sepaha dengan belahan depan tubuh cukup rendah begitu indah dikenakan olehnya. Rambut yang telah diwarnai hitam dihias jepit rambut yang menjuntai sampai kaki, berwarna merah dengan ombre cokelat di pucuk. Si perempuan berjalan anggun di karpet menuju altar. Sang lelaki, menatapnya dari jauh dengan pandangan kagum dan seakan tersihir dengan cantiknya pengantin yang akan ia nikahi. Acara telah masuk ke nyanyian-nyanyian ketika Gussion ikut berdiri, mendengar samar handsfreenya terhubung dengan seseorang yang melaporkan situasi. "Bagian A3, situasi terkendali. Ancaman nol persen. Lapor." "Bagian D5, ada pergerakan mencurigakan. Lapor, D5 ada pergerakan mencurigakan. Situasi ancaman tiga puluh persen." Gussion terkesiap, kedua matanya meliar mengamati sekitar. Barangkali ada pergerakan yang perlu ia waspadai. Dari sudut lantai dua gereja, balkon bagian utara. Sekelebat ia melihat seorang perempuan dengan gaun toska dan rambut panjang navy, memegang sebuah benda berkilat. Napasnya tertahan. Ia menekan tombol kecil di handsfree, menyatakan keadaan. "Bagian C6, arah jam 1. Seseorang mencurigakan di balkon lantai dua. Lapor, bagian F5 kalian bisa mendengarku?" Ia mengeraskan suara karena suaranya sendiri tersamar oleh choir yang masih menyanyi. "Lapor, bagian F5. Agen Gussion, kami perlu bantuanmu. Kami menemukan penyusup. Hampir semua anggota di sini dilumpuhkan. Agen Gussion, kau mendengarku?" Sial, Gussion mengumpat dengan tanpa permisi meninggalkan tempat duduk, bergegas mengambil jalan pintas bagian kiri yang memang memiliki tembusan menuju tangga lantai dua. Menaiki tangga secepat yang ia bisa, dan kembali ia melihat siluet bayangan di balik dinding pembatas. Ia mengambil sikap waspada, menggenggam pisaunya kuat-kuat. Napasnya diambil satu-satu, terengah karena berlari dan menaiki tangga cukup menguras energi. Berjalan setapak-dua tanpa tergesa, ekor matanya melirik bagian ruang kosong yang di sana, rekan-rekannya terdampar tidak sadarkan diri. Ia mengumpat, berjongkok mengamati sayatan-sayatan yang mengenai tubuh satu rekannya. "Apa yang terjadi?" "Medis ... tolong .... Wanita itu ... tenaganya ... bukan manusia ...." lalu ia mendapati lelaki itu hilang kesadaran. Gussion menyiagakan handsfreenya yang sedari tadi bersahut-sahutan antar bagian. "Bagian F2. Tim medis segera ke bagian F2. Ada enam agen terluka. Sekali lagi, bagian medis segera ke bagian F2." "Laporan diterima. Savior segera ke sana. Bagian F2, Savior segera ke sana." Gussion mengenali suara itu. Agen Savior—Ella. Ia pikir keputusan Ella mendatangi tempat ini sudah tepat karena ini adalah korban pertama, ia harus cepat menganalisis dan dampak apa saja yang dialami setelah kejadian ini, selain mengobati. Gussion mau tidak mau harus meninggalkan mereka untuk mencari si penyusup. Kembali menyiagakan pisau, menajamkan penglihatan. Kali ini, ia melewati lorong yang cukup terang karena jendela kaca patri berbentuk lukisan Maria membiaskan cahaya pagi. Berjalan mengendap-endap dengan tubuh disandarkan pada dinding, meminimalisasi serangan di titik buta tubuhnya. Sayangnya, ia tidak menyadari bahwa ia melewati pintu rahasia yang tersamar di dinding. Di balik pintu itu, seorang perempuan berambut navy panjang keluar secepat kilat dan pisaunya akan melukai leher belakang Gussion apabila ia tidak merasakan hawa kehadiran. Pisau perempuan itu beradu nyaring dengan pisau Gussion yang mengkilap diterpa sinar matahari. "Siapa kau?!" Perempuan yang bergaun toska panjang itu seakan sangat lihai dan tidak terganggu dengan pakaian yang dikenakan. Mengayunkan pisaunya kembali ke bagian tubuh depan sebelah kiri Gussion yang masih bisa ditangkis. "Your nightmare, Darling." Ia mengedipkan sebelah matanya, dan Gussion sungguh terperanjat dengan kecepatan serangannya yang meningkat tajam. Otomatis Gussion menangkis serangan cepat itu, mengimbangi sang lawan. Namun, sedikit lengah. Pisau kecil perempuan itu menggores pipinya. Perih ia rasakan, dan tanpa terduga perempuan itu mendekatinya. Tanpa bisa ia cegah, sebuah kecupan mendarat di pipinya yang luka, disertai darahnya yang dijilat. Sekonyong-konyong, terpaku di tempatnya berdiri, tidak mampu melakukan apa-apa—seolah tersihir dengan apa yang terjadi. Perempuan itu benar-benar berbahaya. Dan Gussion kehilangannya. "Damn!" Berjalan cepat, Gussion mengumpat sembari menyapu wajahnya yang luka. Ia melewati lorong sampai ke bagian F6, mendapati keadaan yang tidak jauh berbeda dengan yang dilihatnya tadi. Rekan-rekannya yang terkapar dengan luka sayatan sekujur tubuh, cipratan darah di mana-mana. Ia harus melaporkan kejadian ini sambil mencari jejak perempuan misterius itu. *** "Felly, aku mengambil engkau menjadi istriku, untuk saling memiliki dan menjaga dari sekarang sampai selama-lamanya, pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan ataupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita, sesuai hukum Allah yang kudus, dan inilah janji setiaku yang tulus." Andrew menyatakan sumpahnya hampir tanpa jeda, dengan suaranya yang sedikit gemetar. Sedang mempelai wanita, Felly—di balik tudungnya, tersenyum tipis dengan memejamkan mata. Pikirannya berkecamuk antara hendak mengikrarkan janji pernikahan dan karena handsfree di telinga—mendengar rekan-rekannya yang satu persatu tumbang karena penyusupan yang terjadi. Namun, mencoba mengalihkan itu semua, ia membuka mata, mulai melafalkannya. "Andrew, aku mengambil engkau menjadi suamiku, untuk saling memiliki dan menjaga dari sekarang sampai selama-lamanya, pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan ataupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita, sesuai hukum Allah yang kudus, dan inilah janji setiaku yang tulus." Sang pendeta yang menikahkan mereka berdua tersenyum simpul. Masih dengan nada yang khidmat, ia mengarahkan kedua mempelai. "Dengan ini, kalian berdua telah resmi menjadi pasangan suami-istri. Silakan untuk menukarkan cincin, dan mencium pasangan." Perlahan Andrew membuka tudung yang menutupi wajah Felly, menampakkan wanita yang dicintainya begitu cantik dengan riasan yang disapukan di wajah. Terlebih ketika kedua mata sang puan menatapnya, tampak kebahagiaan dan ia tahu, tersirat kekhawatiran di sana. Ia balas dengan senyuman, mengambil cincin dan memasangkan di jari manis kanan. Begitupun Felly, memasangkan cincin di jari manis suami. Perlahan, Felly kembali memejamkan mata, merasakan kepalanya didekatkan dan dahinya dicium pelan. Tidak lama, sampai ciuman itu dilepaskan, Andrew mendekatkan dirinya ke telinga Felly dan berbisik. "Kau mengerti apa yang harus dilakukan, bukan?" "Ya," jawab Felly singkat. Ia menghidupkan handsfree, berbisik di sana dan tidak lama penjaga datang membisikkan sesuatu pada pendeta dan membawanya pergi dari altar. Felly mengambil mikrofon, berbalik menghadap hadirin di dalam gereja. "Mohon maaf, seluruh hadirin dipersilakan meninggalkan upacara menuju jalan evakuasi dengan tertib. Sekali lagi, pengunjung dipersilakan meninggalkan upacara menuju jalan evakuasi dengan tertib. Saya, mempelai wanita mengucapkan terima kasih karena kalian bersedia menghadiri upacara pernikahan kami. Maaf atas ketidaknyamanannya." Hadirin di dalam otomatis panik dan meriuh karena pemberitahuan tiba-tiba. Mereka berdesak-desakan berjalan menuju jalur evakuasi sehingga menimbulkan chaos. Serta merta Felly mengambil alat tembaknya dari balik mimbar pendeta, dan Andrew menyiagakan peralatan perlawanan. "Bagian A1 diserang. Diperkirakan penyerang berjumlah tiga puluh orang. Memerlukan bantuan. Prediksi kerusakan enam puluh persen. Sekali lagi bagian A1 diserang, kami perlu bantuan." "Agen Felly menuju lokasi. Sekali lagi, Agen Felly menuju lokasi." Memanggul senjata besarnya, Felly berlari ke arah pintu gereja dengan Andrew berpencar ke bagian D. Semoga kau baik-baik saja, harap Felly dalam hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN