"One shoot, one kill."
Satu perusuh memakai pakaian hitam-hitam terkapar dengan timah panas tepat di dahi. Satu orang tewas, jatuh ke tanah dengan seorang detektif yang melawannya ternganga ketika si musuh tumbang sendiri.
Rambut burgundi, terlindung antara pelindung jaket yang dikenakan sedikit berkibar tertiup angin. Atap yang menjadi persembunyiannya, cukup membuatnya terlindung karena dilengkapi pembatas dan beberapa properti yang tidak terpakai. Ia, seorang Verrena yang diam-diam kembali ke Mighty dawn demi mendengar acara pernikahan sang sahabat—Andrew dan Felly sekaligus mengetahui pergerakan Dark Shadow di sana. Ia berinisiatif untuk ikut mengamankan acara sakral itu. Murni sebagai sahabat, tidak memakai embel-embel anggota detektif kepolisian.
Satu-dua peluru lagi ia masukkan ke magasin riffle peninggalan sang ayah. Menempatkan alat tembak dengan moncongnya yang terselip antara dus-dus bekas. Menarik pelatuk setelah menyiagakan pandangan, melesakkan peluru ke target.
Tidak ada yang tahu keberadaannya. Kehadirannya bagai malaikat maut yang tanpa diminta, mencabut nyawa para perusuh yang masih berduel dengan detektif.
Namun, keterasingan tidak lagi dirasakan olehnya ketika sekelebat bayangan tertangkap oleh ekor mata, dan sebuah pisau melesat, mengenai tudung kepala yang dikenakan sampai merobeknya, menyingkap rambut Verrena yang terkepang. Ia berputar 90 derajat ke bagian kiri, melepaskan tembakan yang anehnya, selalu meleset karena pergerakannya tidak dapat ia prediksi. Menahan napas, keadaan terbalik ketika orang itu bertubi-tubi melayangkan pisau padanya. Verrena berlari dengan berlindung dari satu rongsok ke rongsokan yang lain sampai si penyerang berhenti.
Verrena mengatur napas, dirinya sendiri yang kurang sehat pandangannya sedikit berkunang beberapa detik, mendapati seseorang itu kehabisan pisau. Seseorang itu, perempuan berambut biru gelap dengan gaun toskanya yang berkibar ditiup angin berdiri dengan jarak yang cukup jauh padanya.
"Kau ... siapa?!"
Perempuan berambut burgundi itu sedikit berjengit ketika ia rasakan kepalanya berdenyut sakit. Ia tidak bisa memejamkan mata kali ini. Lengah sedikit saja akan mengancam dirinya. Sebagai seseorang yang dapat memakai pisau di jarak jauh atau dekat, Verrena harus menjaga pola serangan tetap di jarak jauh. Kelemahannya bertarung di jarak dekat, hanya bermodalkan sebilah pisau yang ia sendiri tidak begitu mahir menggunakannya.
"Ah, rupanya wanita sepertimu yang membuat Ronald menggila. Kekuatan, kecepatan serangan, kecantikanmu tidak ada bandingannya denganku. Aku tidak mengerti mengapa dia masih menginginkanmu. Sangat menggelikan."
Mendengar nama terkutuk itu membuat Verrena menggemeretukkan gigi, menggenggam pisaunya kuat-kuat. Situasi ini cukup berbahaya. Perempuan itu memang tidak bisa dianggap remeh dan kemungkinan menakutkan lainnya—kehadiran Ronald bersamanya.
"Wah-waah, aku baru ingat belum menjawab pertanyaanmu. Kau ingin tahu siapa aku?" tanyanya balik dengan nada sinis, tetapi terdengar sensual. Ia tertawa kecil, memperlihatkan lesung pipinya.
Sejenak, bibir merah yang hanya dipoles lipstik tipis itu menggariskan senyuman miring. Verrena terhenyak ketika ia sedikit lengah, perempuan itu melesat untuk menyerang. Refleks ia menarik satu pengait dari granatnya—granat khusus dengan daya ledak rendah, meledak di tubuhnya. Ia terpental beberapa meter, tetapi sekuat mungkin Verrena menjaga tubuh tetap berdiri.
"Aku tidak akan mengulangnya, jadi sebaiknya kau dengarkan dengan baik." Karen tersenyum manis, melanjutkan perkataannya, "Aku Karen, perempuan yang tidak akan membiarkan kau dengan Ronald bersama."
Sebuah pisau menembus sisa asap dari granat, hampir mengenai wajahnya apabila Verrena tidak menangkis pisau itu dengan pisau di tangannya. Dan serangan pisau lainnya, ia menghalau secepat yang bisa ia lakukan.
"Because he's mine!"
Pisau hampir menusuk lehernya apabila ia tidak mengayunkan tangan untuk menahan pisau itu, sampai terdengar decitan nyaring. Wanita itu benar-benar jelas di matanya sekarang. Mata sewarna scarlet yang tajam dan mengintimidasi, masih dengan senyum sinis menatap Verrena. Ia mencoba agar emosinya tidak terpancing. Menepis tangan yang memegang pisau itu, beralih meraih rifflenya yang terjatuh. Ini memang situasi yang tidak memungkinkan untuk bertarung, terlebih head to head dengan pengguna alat tempur jarak dekat seperti ini. Ia harus bisa meloloskan diri.
Ia membalikkan arah senapannya dengan memegang bagian barrel. Diukur dari seorang Verrena, ini memang terlihat curang dan gegabah, terlebih ketika ia menangkis serangan perempuan itu dengan bagian belakang senapan, menghalau pisau yang berterbangan. Terakhir, ia menumbuk perut bagian kiri perempuan itu, menarik pengait granat hingga ia kembali terpental. Dari balik kabut perempuan itu tersungkur memegangi perutnya.
Sepersekian detik, Verrena tidak menyadari bahaya besar telah menghadangnya.
Yaitu ketika sebuah benda berbentuk bumerang hitam, mengenai bagian belakangnya. Dari bumerang itu Verrena mengejang, tubuh bergemetar kuat karena tersengat listrik yang dihantarkan bumerang.
Kelemahannya adalah diserang dari belakang. Ia memiliki titik buta yang cukup luas, juga karena kecacatan mata kiri sehingga pandangan pun terbatas. Meski sudah berkali-kali ia melatih diri menajamkan kepekaan hawa kehadiran, rasanya tidak terlalu signifikan. Ia memang lebih sering bergerak bersama tim. Saat sendirian, ia harus mencari tempat teraman untuk mengincar musuh.
"Ukh!" Mata cokelat itu terpejam, terlebih ketika bumerang kedua mengenai tubuhnya. Ia jatuh tertelungkup, dengan tubuhnya masih teralir aliran listrik. Tak sadarkan diri.
Seorang lelaki berpakaian suit lengkap berjalan setapak demi tapak, mendekati bekas sisa pertempuran. Senyum miring seakan tidak mau lepas dari pertama kemunculannya. Memungut kedua bumerang, menarik bagian bawah sampai bumerang itu memanjang dan membentuk baton.
Menghampiri Verrena, ia berjongkok menempelkan jarinya di bawah hidung. Masih terasa deru napas di sana, senyumnya berubah menjadi seringai. Di balik poni pirang itu terlindung mata merah yang berkilat. Beralih pada si perempuan yang bangkit sambil memegang perutnya yang sedikit nyeri. Sang lelaki bangkit, menghampiri si wanita yang menggulung rambutnya.
Lelaki pirang itu menekan tombol kecil di handsfree telinganya, mulai bersuara, "Sins, bawakan aku wig dan pakaiannya." Hanya satu kalimat dan ia mengakhiri perintah itu.
"Kau cepat juga, Ronald," ujar si perempuan dengan matanya yang menjelajah pisau-pisaunya yang berserakan.
"Seperti katamu, kita telah menyerang mereka di saat terlemah." Ronald menyapu bibirnya yang menghitam dengan lidah. Melihat bibir indah milik sang perempuan di depannya, ia berhasrat merangkumnya dengan kecupan panas andai saja ia tidak harus memasang sikap waspada seperti ini.
Seseorang yang diperintah tadi datang, benar-benar secepat itu ia menjalankan perintah Ronald. Sins, lelaki yang memakai pakaian hitam-hitam itu membawa sebuah wig rambut panjang violet teranyam, sangat mirip dengan rambut Verrena dan pakaian hitam-hitam. Ia menyerahkan pada perempuan yang mencebik pada Ronald.
"Serius, aku harus berganti pakaian di tempat seperti ini?"
"Ya, Karen sayang."
"Dasar modus." Meski menggerutu, Karen melepaskan gaunnya dengan menarik resleting di punggung, sampai di tubuhnya hanya tersisa pakaian dalam hitam-hitam.
"Hei kau! Berbalik, sana!" Karen berteriak dengan menutupi depan tubuhnya yang terbuka, tangan kirinya menunjuk pada Ronald yang bergeming di tempat. Namun, yang didapatkannya hanyalah seringaian dengan ia yang sama sekali tidak dapat menilai ekspresi sepenuhnya karena poni yang menutupi. Ia pikir, benar-benar sia-sia meminta lelaki itu berbalik. Maka, cepat ia memasukkan kaki ke dalam celana panjang hitam itu, berganti dengan hoodie hitam dan yang terakhir memakai rambut palsu, merapikan rambutnya yang tersisa.
"Sins, bawa dia," perintahnya pada Sins dengan menunjuk Verrena yang terkapar di lantai atap. Sins mengangguk, mengangkut Verrena dengan tangan besarnya. Membawa Verrena dengan menyampirkannya di bahu.
"Aku lebih dulu turun." Ronald menggendong Karen yang telah bertransformasi semirip mungkin dengan Verrena, pergi menuju pintu atap.
***
Sepuluh Dagger telah bersarang di tubuh-tubuh anggota Dark Shadow, terkapar di tanah. Gussion memicingkan mata, kali ini ia harus berhadapan dengan tangan kosong mengingat ia belum memunguti Daggernya. Meninju, melompat untuk memberikan tendangan kuat pada tiga musuh sekaligus.
Tidak ia sangka, seorang lelaki dengan tuksedo hitam menggendong seorang perempuan dengan helaian rambut yang sangat ia kenal—dikepang panjang tergerai, dengan lelaki itu tidak terhenti senyum miringnya, seakan menantang Gussion. Lelaki itu, lelaki yang ia kenal, dan merupakan ancaman untuk perempuan yang paling ia cintai.
"Gussion, fokus!"
Bagaimana caranya ia masih bisa fokus apabila perempuannya telah berada di tangan sang mimpi buruk?!
Waktu seakan melambat sepersekian detik saat ia berlari sambil mencabut sebuah Dagger dari musuh, mengejar musuh besarnya yang masuk ke dalam mobil, melarikan diri. Hatinya terasa sesak saat ia menyadari, setelah sekian bulan terlewati tanpa bertemu, pemandangan yang ia dapatkan bagaikan badai petir yang menghujam tubuh.
Ini tidak boleh terjadi, ia harus melakukan sesuatu.
Beralih pada sebuah mobil polisi yang menyusul ke tempat, ia berlari secepat mungkin, mengusir rekannya sendiri yang baru keluar dari mobil. Berganti ia yang menyetir, menjalankan kendaraan dengan memutar balik secara brutal sampai terdengar decitan ban. Menyusul mobil yang menculik wanitanya.
Setelah semua yang terjadi, mungkinkah dapat dikatakan, takdir begitu sadis mempermainkan mereka berdua?