Nightfall 5: Suffered

1529 Kata
Lembab. Dan dingin. Gelap. Sesak, sesuatu melilit tubuhnya sampai ia sendiri kesulitan bernapas. Perlahan, ia paksa dirinya keluar dari memori masa lalu yang tertuang dalam mimpi—ketakutannya akan hal yang akan terjadi. Lelaki sialan itu pernah berjanji akan menodai wanitanya di depannya. Tepatnya, di perayaan pesta ulang tahun pernikahan Rudy dan Serena Alvent—adik dari Regina Alvent saat mereka sama-sama berusia 17 tahun. Lelaki itu mengaku akan menjadikan Verrena tawanan seumur hidupnya, dan berakhir dengan terdampar di meja karena pukulan pedas tepat di wajah oleh Gussion. Dan kini, hal apakah yang tak bisa ia lihat ini? Sayup-sayup ia mencari-cari sumber suara itu, suara seorang wanita menangis. Mengumpat. Lalu, menangis lagi. Seperti suara yang tidak asing baginya. Ia—Gussion telah terbebas dari seluruh ingatan itu. Matanya yang terhalang sesuatu—sebuah lilitan kain, kah? pikirnya, ia berusaha berontak dengan mengguncangkan tubuh. Sial, semakin ia bergerak, kulitnya terasa perih dan gatal. "Lepaskan Aku!" Berteriak sekencang yang ia bisa, ia terengah—mengambil napas satu-satu. Nyatanya, mengambil napas saja rasanya sungguh berat. Telinga kanannya menangkap kikikan kecil seorang wanita, yang kemudian berkata, "Coba saja kalau kau bisa." Ini seperti suara yang juga pernah ia dengar. Mengingat lagi, dan akhirnya seluruh keping peristiwa hari ini telah ia ingat seluruhnya. Dan ia benar-benar dalam bahaya. Perempuan ini, perempuan yang melawannya di gereja. "Damn, you ...." desis Gussion dengan kini tangannya yang terikat di belakang berusaha hendak melepaskan ikatan. Wanita itu kembali mengikik, dan Gussion rasakan tubuhnya bergerak, berjalan bersama sesuatu yang ia duduki, lalu memiring naik ke atas. Tangannya tak juga mampu membuka ikatan tali itu sampai tubuhnya berhenti di suatu tempat yang berangin kencang dan kering. Suara tangis sangat jelas terdengar, dan akhirnya ia tahu pemilik suara itu. "Verrena?!" Semakin ia berusaha membuka ikatan itu, semakin perih yang dirasakannya. Tangis perempuan itu terhenti, berganti isakan dan panggilan dengan nada lirih, "Gussi-on, kaukah itu?" "Verrena!" Tangannya yang berusaha membuka ikatan berhenti, terasa sangat lemas dan kehilangan daya demi mendengar perempuan yang dicintainya itu benar-benar ada di sana. "Wah-wah, sebuah telenovela yang sangat mengharukan. Karen, lepaskan penutup mata pecundang itu," perintah suara lelaki yang juga dikenal olehnya. Jantungnya semakin keras berdebar saat amarah benar-benar menguasainya. Kini, ia mengerti benang merahnya atas segala yang terjadi. Perlahan matanya kembali dapat dibuka saat penutup mata telah disingkirkan darinya. Mengerjap-ngerjap, dan jelaslah di matanya—Verrena, dengan rambut yang kusut, tangan terikat di sebuah rangka tiang, mata tertutup dan tubuh yang tak terhalang satu pakaian pun. "Sialan! Kau Apakan Verrena?!" "Hmm ... enaknya diapakan, ya?" Ronald bertanya dengan tangannya menyentuh dagu Verrena, dan terlepas karena Verrena yang dengan tegas menelengkan kepala. "Ow-ow, berani memberontak, hmm?" "Pergi ..." Suara perempuan di hadapannya terputus-putus, lirih mengawali alir air mata yang kembali turun. "Pergi saja kau ke neraka!" Kakinya yang bebas menendang Ronald dengan keras—yang sayangnya masih bisa dihindari lelaki itu, dan mengindahkan teriakan-teriakan Gussion. Tanpa ragu, ia mengambil baton yang diselipkannya di kait celana, "Akh!" Dan mengarahkannya ke kaki Verrena. Jerit sakit karena kejut listrik itu membuat Gussion menyumpah—melolong lebih keras agar lelaki itu melepaskan wanitanya. "Anak nakal. Menurut saja pada tuanmu, bodoh!" Ronald pura-pura membentak, melepaskan batonnya. Mencondongkan wajahnya ke wajah Verrena; Tubuhnya kian gemetar terlebih saat ia rasakan embusan napas Ronald kian dekat dan gerayangan tangan menjelajah kakinya yang tidak berdaya. "Lepaskan tanganmu darinya! Kau takkan kumaafkan!" Baru kali ini rasanya teriakan Gussion terdengar oleh Ronald, membuatnya terusik. "Sangat berisik, tidak jauh beda dengan adikmu itu. Untung saja dia kubuat pingsan terlebih dulu." Gussion berpaling dan tidak jauh dari mereka, seorang lelaki berambut hitam terikat di bangku dalam keadaan tertunduk tidak sadarkan diri. Geram semakin menjadi di dalam hatinya. Menyadari bahwa setelah sekian lama tidak melihat adik laki-laki Verrena—Harley, malah berakhir tidak jauh menyedihkan sepertinya. "Aku tidak sabar untuk menikmati tubuhmu lagi. Tenang saja, setelah lelaki itu tewas. Kau akan menjadi budakku. Kita akan bercinta setiap hari, setiap malam, semauku. Aku tidak akan berhenti sampai kau tidak bernapas. Ah, sangat indah, bukan?" "Aku bahkan tidak sudi untuk melihatmu!" Dengan bibirnya yang mulai membiru, Verrena kembali mengumpat. Namun, Ronald hanya mengangkat bahu tak peduli, lalu menyeringai. "Aku akan memulai pertunjukkannya." Satu tangannya yang meraba paha, menaik ke atas hingga menyentuh bagian sensitifnya di tubuhnya yang menonjol, sedang tangan yang lain mendekatkan bahu dan menjilati leher kiri—menggigit dengan kasar. Teriakan lolos dari Verrena yang tubuhnya tak henti-henti gemetar—merasakan gelenyar yang sama sekali tak ia inginkan terlebih saat timbunan lemak di bagian paling depan tubuhnya itu kembali diraup dengan kedua tangan—brutal tanpa kasihan. Kemurkaan Gussion di telinga Ronald bagai angin lalu, sedang erangan Verrena akibat tangis dan reaksi tubuhnya atas rangsangan bagai musik pengiring kegiatan jahatnya. "Kau akan mati di tanganku, sampah!" Apa lagi yang bisa Gussion lakukan dengan tangan-tubuh terikat, dan pisau tajam siap menembus lehernya oleh Karen, selain menyumpah? Sedikit saja ia bergerak, ia hanya tinggal nama. Tidak ingin menahan lebih lama lagi, Ronald mengangkat paha perempuan di hadapannya sampai kedua kaki disandarkan di kedua bahu. Seringainya semakin melebar saat tepat di matanya, tempat di mana kenikmatan ragawi bagi lelaki itu berasal. Tak dinyana, wajahnya yang mendekat—dengan lidah mulai bermain di atasnya "Henti—aaakhh!" Menjelajah, mencari bagian mana yang akan mengantarkan perempuan malang itu segera mencapai titik yang sama sekali tak ia inginkan. Mulut lelaki itu semakin rakus melumat dengan lidah yang tidak mau berhenti. "Terhhnggh..." Napasnya terputus-terengah, "Laknat kau, Ronald! Akh!" Verrena sama sekali tidak dapat mengendalikan reaksi tubuhnya yang terbawa perlakuan si lelaki—dirinya mengejang, gemetar hebat menahan dobrakan hasrat nafsu yang menguasai, membawanya ke rasa legit dalam sakit—ia benar-benar tidak menghendaki itu. Gussion yang tenggorokannya tercekat—tidak lagi mampu berteriak, terlebih saat melihat cairan bening yang mulai menetes, membasahi lantai dari pangkal paha perempuan yang sangat dicintainya. Pandangannya mengabur karena tangis yang kesekian telah memenuhi pelupuk mata. Hal yang bisa ia lakukan hanya mengedipkan mata—mendapati Verrena yang erangan-desahan-tangis terlolos dari mulutnya, mencabik-cabik perasaan. Ronald melepaskan wajahnya, meletakkan tubuh Verrena kembali ke lantai dengan mengambil napas satu-satu—mengelap bibirnya dengan tangan, dan menjilati sisa cairan di mulut dengan ekspresi puas. "Ada kata terakhir sebelum lelaki itu mati, hmm?" tanya Ronald menghadap pada Verrena yang masih tersengal sambil membuka penutup mata Verrena. "Dan sebelum ...." Ronald tidak melanjutkan kalimatnya saat tangannya kembali bergerak hendak membuka resleting celana yang dipakai. "Gu-ssion, ma-af." Di sela ambilan napas, ia melanjutkan perkataannya, mengerjapkan mata, "Dua sem-bilan, lima enam. Beri-ngin dan para peri," ucap Verrena seakan tanpa daya untuk melanjutkan perkataannya. Karen yang sedari tadi menyimak "tragedi" di depannya hanya mencebik dan berkomentar, "Hanya itu? Wasiat macam apa, itu?" Karen mendorong kursi roda yang diduduki Gussion, dengan pisau yang tidak beralih dari depan leher. Membawanya ke bagian ruangan lain di lantai yang sama, lalu berhenti. Gussion membisu-kaku, seakan ia kehilangan akal sehat dengan apa yang terjadi. Diam saja saat Karen yang tadinya menjauh, kembali mendekatinya, membawa ampul dan menyuntik ampul itu untuk mengisinya di alat suntik. "Aku akan membebaskanmu, jangan berontak. Kau akan kalah telak bila melawan Ronald dengan tubuhmu yang seperti ini, karena itu aku akan menyuntikkan sesuatu untukmu. Bawa perempuan itu dan jangan pernah menampakkan diri lagi di depanku." Karen mencari pembuluh darah di leher Gussion, menyuntikkan serum dengan tidak mempedulikan Gussion yang menjerit sakit. Selesai menyuntikkan serum, ia kembali berpesan, "Efek serum itu hanya bertahan lima belas menit, setelahnya kau akan koma selama dua minggu." Ditinggalkannya Gussion sendirian, dengan ia mendekati jendela, menghadap ke depan, mengucapkan, "Selamat tinggal." Terdengar suara gebrakan, kepingan-kepingan kaca jendela terbang-terhambur karena sosok perempuan berlari mundur membenturkan tubuhnya—melarikan diri, tidak lama ia terempas jatuh ke laut. Serum yang disuntikkan bekerja dengan sangat cepat. Gussion merasakan jantungnya terasa hampir meledak karena berdebar keras. Ikatan di tubuhnya semakin sesak. Mengingat lagi pesan terakhir Verrena, ia mengerti. 29, 56, beringin dan para peri. Menunjukkan menit sebuah video tutorial melepaskan simpul tali dengan gaya anak-anak yang tidak ia sukai, tetapi Verrena memaksa untuk menontonnya. Tidak disangka, hal itu sangat berguna. Dalam hitungan detik, tangannya terlepas dari simpul yang mengikat—beralih pada simpul di tubuh dan kakinya sampai ia sudah terbebas, bangkit dari kursi. Dipandang sekilas dirinya, massa ototnya yang membesar dan pandangannya menjelas. Hanya sekilas, ia tidak ingin membuang waktu lagi. Mengambil sepuluh Daggernya yang tertancap di tiang—melesat cepat dengan gerakan yang tak terprediksi, keluar dari ruangan yang ditempati. Sebuah Dagger yang menyala kebiruan melesat membuat Ronald bangkit dari tubuh Verrena yang kini tak sadar sepenuhnya. Meraba kepala bagian atasnya yang mengucurkan darah karena lemparan Dagger, ia menatap murka pada tangannya yang bersimbah cairan merah, beralih pada Dagger yang tertancap di dekatnya. Membalikkan badan, menemukan Gussion yang berdiri dengan tubuh yang berbalur merah bekas ikatan dari kursi. Melihat dengan jelas Verrena-nya yang tergeletak dalam keadaan mengenaskan membuat aura membunuh Gussion semakin tidak terkendali. Kedua mata berkilat itu mengawasi gerak Ronald yang terhunyung hendak meraih batonnya, sembari menggenggam Dagger kuat-kuat. "Kau benar-benar membuat malaikat pencabut nyawa meresapi tubuhku," ujarnya dingin. Tidak disangka, Gussion melompat cepat, seakan menerkamnya dengan dagger yang digenggam kuat di tangan. Ronald berguling menghindar, tidak sempat mengambil baton yang ditendang Gussion jauh. Ronald menyumpah-nyumpah, masih memegangi kepalanya yang bocor. Mendelik pada Gussion yang memandangnya bengis. "Jangan. Berharap. Ampunan. Dariku."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN