"Mina, aku tahu kau di sana. Turunlah." Suara yang dapat dikatakan tidak asing sekaligus sudah sangat lama ia tidak mendengarnya. Suara seseorang yang tak ia dengar sejak 12 tahun silam. Suara seseorang yang melakukan percobaan pada tubuhnya hingga kekuatan fisiknya di luar akal manusia.
Mengumpulkan tekad, ia membuka mata yang kini berkilat-kilat. Berbalik ke sumber suara, ia memusatkan kekuatan di kaki, berlari dengan kecepatan di atas normal. Sekilas ia melihat makhluk ungu itu berada di lapangan sisi kiri bangunan. Dan selayak rajawali yang terbang bebas, ia melompat dari bangunan itu, melayang sekali putar, menajamkan mata. Tepat menginjak kedua bahu manusia setengah mutan itu dengan keras. Mallaga tersungkur, tidak dapat menyangga tubuhnya dengan baik. Sedang Mina berdiri dengan memegang erat scythenya dengan pandangan waspada dan senyum meremehkan.
"Lama tidak berjumpa, badut sialan," sapa Mina dengan nada bergetar karena amarah yang memuncak—ia tidak dapat memanipulasi tubuh dari yang dirasakan.
"Bukan begitu cara yang baik untuk menyapa teman yang lama tidak dijumpa, Sayang. Khu-khu-khu-khu." Mallaga tertawa mengikik, mencoba berdiri tegak.
"Tidak kusangka, hari ini tiba juga." Mallaga mengangguk-angguk, kembali mengikik. Mina berkali-kali mengambil napas panjang, mencoba menetralkan jantungnya yang terus berdebar. Mencoba untuk tetap tenang, ia tidak menanggapi pernyataan Mallaga.
"Langsung saja. Any last word?" Mallaga bertanya, memegang erat tongkatnya, tersenyum lebar memandang musuhnya. Dari balik pakaian ia aktifkan kabut gas tipis, hingga tubuhnya terkepung dalam kabut ungu.
"Die you, loser" desis Mina dengan penuh kebencian.
Mina mengibaskan sabitnya, memutar tubuh dengan sangat cepat ke depan. Sabitnya menyentuh angin kosong ketika Mallaga berhasil menunduk.
"One!"
Serangan balasan, Mallaga menyodokkan tongkat beracunnya tepat di perut sebelah kanan Mina. Perempuan itu terbelalak, merasakan nyeri menembus armor. Ia bertahan, berdiri dengan terhunyung. Mendapati bagian yang terdampak tongkat beracun itu telah mengeluarkan gas ungu tipis, mengikis permukaannya.
"Sudah kau amati hasil mahakarya ku? Aku tidak memberimu ampun, dari sekarang." Mallaga maju dengan kecepatan tak terdefinisi, tongkat yang kembali hendak menusuk perempuan di depannya ditangkis dengan kibasan sabit yang mulai mengeluarkan aura keunguan. Mina yang memanfaatkan sekian detik kelengahan Mallaga menendangnya dengan kaki kanan. Maju dan mengibaskan sabit, mengenai tubuh Mallaga secara horizontal. Kepuasannya yang hanya sekian detik itu dipatahkan dengan bekas sabitan sabitnya mengeluarkan gas keunguan. Membuat sabitnya perlahan berkarat dan keropos. Ia terbelalak ketika menarik sabit kembali dan mengumpat berkali-kali.
“Two. Tidak ada waktu untuk lengah, Mina." Ia merasakan hawa keberadaan seseorang tepat di belakangnya. Bagian punggungnya tertohok ke depan, ia jatuh terjerembab dengan sebelumnya sekilas ia melihat boneka-boneka beracun berwarna kehijauan telah siap menopang tubuhnya di tanah. Gerak refleks membuat ia berguling hingga wajah menghadap ke langit, bahu mengenai boneka kecil. Armor bagian yang terkena boneka itupun melepuh berkarat. Napasnya tertahan. Belum sempat berguling untuk bangkit, dari balik topeng ia terbatuk keras ketika tubuhnya ditimpa sesuatu yang berat, ditambah tusukan tongkat di leher.
"Itu saja kemampuanmu?" Mallaga tersenyum lebar dengan menduduki tubuhnya. Karenanya, Mina benar-benar sulit untuk bergerak. Kekuatan Mallaga memang tidak dapat dianggap remeh, ditambah gas beracun itu menyebar tepat di hadapan membuat pemandangannya mengabur.
"Tidak semudah itu, Badut." Tangan kanannya yang masih menggenggam sabit ia geser cepat, bersiap mendorong makhluk yang menindihnya dengan benda itu. Namun, kalah cepat dengan injakan kaki bersol besar Mallaga.
Aargghhh!" Dari balik topeng ia berjengit, merasakan perih karena injakan di tangannya.
“Four. Sekarang apa?" tanya Mallaga dengan ejekan. Tusukannya di leher Mina ia kuatkan, membuat perempuan itu terbatuk-batuk, tidak dapat bernapas. Tangan sebelah kirinya pun tak bisa berbuat apa-apa karena diinjak.
"Benar-benar lemah. Karena itu aku menginginkanmu, menjadikanmu ciptaanku yang sempurna. Sekarang, mengapa kau memberontak pada tuanmu, hm?"
Ia tidak menyadari, bahwa kaki kanan Mina telah terangkat di balik punggungnya. Cepat ia hujamkan sepatunya yang bertaji tepat di belakang Mallaga. Mallaga menjerit, seluruh kunciannya pada Mina melemah. Mengangkat kedua kakinya, ia menendang Mallaga sekuat yang ia bisa hingga terpental. Mina berdiri, terengah-engah mengambil napas, bertumpu dengan sabit yang ia tancapkan ke tanah.
"Aku bukan budakmu." Belum sempat Mallaga berdiri sempurna, Mina menyodokkan sabitnya tepat di leher musuhnya. Mallaga kembali kehilangan keseimbangan, lehernya mengeluarkan gas racun sekaligus darah hitam. Mina yang merasa di atas angin menyunggingkan senyum mengejek. Tubuh Mallaga yang terdampar ia injak kuat, hingga hampir terlompat.
"Aku wanita yang bebas." Mina menyambung kata-katanya, masih dengan senyum miring. Ia todongkan sabit di leher Mallaga.
“Any last word, cursed clown?" tanyanya dengan menekankan pada dua suku kata terakhir.
“Fi-ve." jawabnya pelan, dengan senyum licik. Kemudian, kabut tipis keunguan mengepung tubuh Mina. Ia melompat, memutar tubuhnya. Ia mulai merasakan perih luar biasa ketika karat di armornya semakin meluas. Ia jatuh tersungkur. Giginya bergemeretuk menahan sakit, memeluk tubuhnya kuat, meraung sekencang yang ia bisa. Dan penutup kepala yang ikut berkarat mulai menjatuhkan serpihan, menampakkan wajahnya yang tinggal berlapis masker hitam.
Mengatasi keadaan, ia harus tetap melanjutkan pertarungan. Susah payah ia mencoba berdiri, dengan armor yang tak lagi terlihat bentuknya. Pedih luar biasa ia tahan, mengambil napas berat berkali-kali. Masih menggenggam scythenya yang ikut mengeropos. Namun, mata sabit itu masih berkilat tajam ketika diterpa sinar bulan.
"Bagaimana rasanya serangan pamungkasku? Khu-khu-khu, lihatlah dirimu. Kau terlihat sangat menderita." Mallaga bersiaga dengan tongkat di tangannya. Tertawa terbahak-bahak penuh kepuasan, kemudian ia melanjutkan, "Armor setebal apapun tidak akan bisa menahan racunku. Menyerah saja, aku akan merawatmu kembali. Jadilah bonekaku, kita lakukan pemberontakan di dunia yang busuk ini. Mereka harus tahu bahwa ada aku, makhluk terkuat yang pernah hidup. Aku akan mengulang kejayaan Abbys Ground."
Mina kembali mengambil napas berat, menatap ke depan. Memandang Mallaga dengan kedua mata memicing, penuh kebencian. Ia mendesis menahan sakit.
"Aku takkan membiarkan hal itu terjadi." Mina menyerang maju, mengayunkan sabitnya. Mallaga mundur menghindar, memanfaatkan kelengahan Mina. Menusukkan tongkatnya ke bagian tubuh yang sama dari pertama kali serangannya. Tusukan yang benar-benar mengenai Mina.
“Five," desisnya. Tubuh Mina kembali terkepung kabut ungu. Dan rasa sakit kian bertambah menyerangnya. Rasa itu lebih menyakitkan dari dikuliti hidup-hidup.
"Aaarghh!"
Kini wajahnya telah terlepas dari masker yang melindungi pernapasan. Ia ambruk terkapar di tanah dengan wig dan rambutnya pun kini terurai, menutup penglihatan. Ia kembali berteriak ketika perih itu semakin meningkat. Tubuhnya kian tremor, dengan tangan yang gemetar memeluk diri sendiri. Yang bisa ia lakukan hanyalah membentur-benturkan kepala ke tanah karena menahan perih yang tak tertahan. Berharap rasa sakit itu berkurang karena hentakan.
"Kau lemah, tetapi kuakui kau adalah manusia dengan ketahanan fisik yang kuat. Biasanya, manusia biasa akan langsung tewas ketika menerima serangan utamaku yang kedua."
Mina yang merasakan perih maha dahsyat itu tak dapat mendengar dengan jelas. Seluruh inderanya seakan mulai menuju kelumpuhan. Namun, dari bibirnya terlontar umpatan pelan,
"Sial-an."
Tangan, bahkan jemarinya begitu sulit digerakkan untuk meraih sabit yang tak jauh darinya. Seperti tidak memiliki daya apa-apa.
Apakah memang seperti ini akhir jalan hidupku? Ia bergumam dalam hati, kemudian tersenyum tipis. Dengan kesadaran yang semakin menjauhinya, ia hanya bisa pasrah.
Mungkin setelah semua usaha yang kulakukan, pada akhirnya aku ditakdirkan menyusul kalian, Ayah, Ibu, Claire, ujarnya kembali dalam hati.
"Baiklah, untuk yang terakhir kalinya. Mari belajar berhitung bersama." Mallaga mengangkat tongkatnya dengan wajah tersenyum lebar sebelum sebuah pedang mematahkan tongkat itu, jatuh jauh dari tubuh Mina. Ia terhenyak.
"Beberapa detik lagi, kau rasakan kembali kungkunganku yang penuh amarah." Terdengar darinya, suara parau lelaki yang sudah lama tak ia dengar.
"Sudah lama tidak berjumpa, Rome. Kau tidak diundang dalam pesta ini."