Rome menatap satu-satu orang yang ada di dalam ruangan rapat Abbys Ground malam itu. Semuanya tegang, dan gelisah meski tak terlalu ditampakkan. Apa yang akan Mina lakukan dalam menghadapi musuh mereka itu?
Setelah seseorang menutup pintu, berdiri di tengah-tengah, Rome berdeham.
"Langsung saja. Dalam hal ini, aku hanya memerlukan Susan. Yang lain, siapkan amunisi, perkuat penjagaan di markas ini. Temukan hal yang mencurigakan," titah sang ketua. Ia menerima salinan dari info yang ia dapatkan dari seorang laki-laki yang bersetelan hitam rapi.
"Kau yakin?" Susan bertanya, memastikan keputusan Rome yang ia pikir sepihak dan perlu diralat.
"Mina adalah spesialis pelindung. Keuntungannya, ketahanannya tidak bisa ditandingi orang lain. Namun, serangannya tidak cukup kuat untuk melawan Mallaga. Kemungkinan terburuk, ia pergi sendirian karena kecerobohannya. Dan musuh kita sekarang adalah Mallaga yang sulit bekerja sama dengan orang lain. Bekerja sama, artinya menjatuhkan harga dirinya. Ia akan melawan Mina sendirian. Selain itu, regenerasi tubuhnya adalah hal yang harus diwaspadai," tambah Rome dengan nada tenang.
"Bagaimana bisa anda sangat yakin seperti itu?!" Tara menginterupsi dengan pertanyaan, meninggikan suara. Semua dalam ruangan itu terdiam, tak berani menyanggah. Mereka menahan napas, menunggu jawaban dari sang ketua.
"Menghabisi satu pengkhianat dan menyelamatkan sekutu tidak berarti harus mengerahkan semua orang. Apa kau membiarkan markas kita hancur karena serangan tidak terduga? Musuh kita bukan hanya Mallaga. Orang lain yang mencium pertahanan melemah tidak akan membiarkan rumah kita akan baik-baik saja. Harusnya kau sudah mengerti hal ini sebelum memasuki ruang rapat," tandas Rome, masih dengan ketenangan yang ia paksakan.
Jauh dalam dirinya, ia pun khawatir apabila perkiraannya meleset. Dengan waktu yang sesingkat itu, keputusan nekat adalah jalan terakhir meski akan mempertaruhkan "rumah" mereka.
"Aku mengerti." Tara mencoba menenangkan diri dengan bersandar di sandaran kursi. Menunduk memijit dahinya, tindakan ceroboh Mina turut membuatnya sakit kepala.
"Susan."
"Penawar racun siap. Susan membuka sebuah koper warna metalik, menampakkan alat suntik dan beberapa ampul kecil berisi penawar racun berwarna bening, penahan nyeri dengan botol warna cokelat, tak lebih dari besar ibu jari. Tersusun secara rapi, ada 6 botol dan 6 buah suntikan.
“Aku telah memperbarui peralatan dalam ruang perawatan. Peralatan sementara telah kususun dalam van," sambungnya. Ia memberikan penawar racun dan penahan nyeri ke pada Rome. "Stok aman."
"Tara."
Yang dipanggil menghidupkan tablet di hadapannya, melebarkan dua jari untuk memperbesar tampilan yang ada di display.
"Situasi aman. Transportasi telah disiapkan. Kita mengambil satu jalur terdekat di tiap Plan."
"Jelaskan jalurnya."
"Plan A. Dari sini anda melewati jalan bawah tanah, keluar ke jalan raya, melewati jalan Red River 30 kilometer, masuk ke rel bawah tanah setelah kereta lewat. Hanya satu orang yang bisa melewati jalur rel. Susan akan memakai van melewati jalan raya, dan anda akan menembus jalur hutan. Plan B. Ketua dan aku naik ke atap dengan helikopter. Kalian melewati jalan seperti Plan B menyusul setelah ada instruksi."
"Memakai helikopter tidak efisien. Aku tidak akan memakainya. Zean."
Tidak ada suara. Semua saling memandang satu sama lain. Tidak lama gebrakan di pintu ruang rapat terdengar, dengan seseorang di depan pintu terengah-engah.
"Ketua! Zean ditemukan tidak sadarkan diri di rumah Mina!"
Yang dipanggil ketua tangannya menghentak ke meja.
"Siapkan motor. Sekarang!"
***
Sunyi. Yang didengarnya hanyalah gemerisik langkah cepatnya, berlari sendiri. Terus menatap cahaya yang sedikit membias dari dedaunan, yang menunjukkan sedikit lagi ia mencapai tujuan. Jantungnya mulai berdebar lebih keras dari biasa. Selain karena proses pembakaran energi untuknya berlari, juga karena ada rasa bergejolak, hasrat membunuhnya yang sekian lama dipendam selama 12 tahun. Untuk pertama kalimungkin saja yang terakhir ia merasakan hal seperti ini lagi. Ia begitu bersemangat, dengan mata merahnya yang berkilat dan senyum miring yang tak mau berhenti sejak pertama kali ia melangkah, menuju sesuatu yang tak lagi dapat ia tunggu.
Ia sudah berada di depan pohon menjulang, dengan dahan yang lumayan tinggi untuk dipanjat. Mengambil napas berat, lalu mengembuskan. Dahan itu memang tinggi, tetapi tak mustahil untuk diraih dengan pengaitnya. Maka, ia mengeluarkan sebuah alat yang berbalut langsung dengan tubuhnya. Pengait dengan pemberat yang langsung ia lemparkan, melambung ke atas. Pemberat itu menyeberangi dahan, menukik ke bawah, terpilin di dahan. Ia menancapkan beberapa pisau sebagai pijakan, dan mulai memanjat dengan bantuan tali. Perlahan, sedikit kesulitan karena jari-jarinya berlapis armor. Setiap pijakan, ia cabut pisau itu dan menancapkannya lagi. Hingga tiba juga ia meraih dahan, naik mendudukinya. Kemudian, pelan ia memaksakan diri untuk berdiri.
Malam dengan angin cukup kencang yang menggerakkan dahan, menerpa tubuhnya sehingga ia harus mengeratkan pegangan pada dahan atas untuk memantapkan posisinya berdiri.
Mengamati sekitar, tertuju ke bagian atap bangunan di depannya. Dirasa sudah aman, ia mengambil sebuah benda berbentuk silinderlumayan berat, ia menekan tombol kecil di bagian bawah. Maka, terbentuklah sebuah sabit kokoh yang mulai menyala keunguan.
Menimbang-nimbang, sekaligus memperkirakan jarak antara dahan yang masih dapat dipijak dan dinding terdekat. Tersenyum miring, merasa bahwa ia dapat mendarat sempurna di atas atapminimal tangannya dapat mencapai tepi dinding itu.
Menarik napas panjang lagi, mengembuskan dengan memejamkan mata. Setelahnya, menajamkan pandangan pada target. Dan mulai berlari secepat mungkin di antara dahan itu.
Pijakan terakhir, ia merasakan tubuhnya melayang, dengan sabit yang telah siaga ia sangkutkan ke bidang di depannya.
Tubuhnya terbentur dinding tepat dengan sabitnya yang menyangga tubuhnya yang bergelantung, berpegang pada bagian batang sabit. Ia menaikkan kaki, perlahan menaikkan pegangan di sabit. Pelan, masih menjaga ketenangan meski jantungnya berdegup keras.
Di pangkal sabit, kedua kakinya bertolak pada dinding, membuat tubuhnya melawan gravitasi, melayangkan tubuhnya ke kiri dan berguling. Membuka mata, mendapati ia sudah berhasil menaiki bangunan itu. Ia tersenyum puas.
Ia rasakan angin yang seakan menampar wajahnya. Pandangannya menyipit ketika samar terlihat kabut tipis yang berasal dari bawah. Berlari cepat tetapi tetap menjaga pijakannya hingga hampir tak terdengar, dan berhenti di tepi ujung bangunan.
Pemandangan yang sungguh di luar dugaan.
Kedua indera penglihatnya membulat ketika semakin ia dekatkan diri, melongok ke bawah. Beratus-ratus jas lab tercerai di tanah, dengan onggokan mayat yang meleleh perlahan karena kabut keunguan menyelimuti tubuh mereka. Pemandangan yang membuatnya takjub, sekaligus terpacu untuk mengeluarkan seluruh kemampuannya melawan Mallaga. Ia percaya, dengan armor yang ia miliki benar-benar dapat melindunginya.
Dia benar-benar ilmuwan gila, desis Mina.
Memejamkan mata dilakukan seorang Mina ketika ia mendengar siulan-siulan kecil dari bawah. Kemudian, panggilan yang seakan mengundangnya untuk mendapati sumber suara.
"Ini dia." Mina berkata lirih dengan senyuman miring setelahnya.