Verrena mengelus dahinya yang sedikit sakit, terbentur lantai karena tidak hati-hati dan gegabah. Namun, ia merasa telah aman meninggalkan pelanggannya, si politisi tua yang bersama dengan boneka pengganti dirinya.
Meraba bagian bawah ranjang, menekan satu tombol hingga kolong ranjang terang oleh senter kecil. Dan mendengkus ketika ia mendapati benda yang harus dirakit.
"Roger. Apa kau bercanda?" Dari handsfree di telinga ia mempertanyakan maksud seseorang dari seberang telepon.
"Kalau kau tidak memecahkan rekormu, kau akan kuberi lagi seri yang sama sampai kau berhasil."
"Sialan," umpatnya, dengan meraih peralatan untuk merakit pesanan seperti biasa yang ia lakukan. Kali ini, alat tembak seri M16A2 yang membuat mati kebosanan karena terlalu sering merakitnya, dengan kata lain sudah di luar kepala.
Membuang napas, ia membalas, "aku belum menekan tombol mulai."
"Ya. Lakukanlah."
Benda pertama yang ia raih adalah bagian pelatuk yang telah tersambung dengan bagian-bagian kecil lain. Memasukkan ke receiver bawah hingga benda kecil itu menyembul, dengan hammer yang dikaitkan dengan lubang pin. Mengambil obeng kecil, menguatkan murnya yang telah diisi pegas kecil. Memutar baut hingga tiga kali, meyakinkan diri bahwa mur itu sudah merekat. Mengambil pegangan, kembali memasukkan mur kecil di sambungan receiver.
Ia membuang napas, konsentrasinya terganggu oleh ranjang yang berkali-kali hampir menekan punggung. Ia berdecak, tangan terampil itu tetap tidak ingin menyerah. Berkemelut dalam penerangan minim, akrab dengan baut-baut dan mur super kecil memang telah biasa ia lakukan, tetapi merakit senapan dalam keadaan demikian memang sebuah tantangan yang ia tujukan untuk diri sendiri. Berpikir bahwa hal itu baik untuknya apabila ada kondisi darurat dan ia hanya menemukan senapan tak berakit.
Receiver bawah berhasil ia rakit. Beralih untuk membuat receiver atas, ia mengambil penyokong keluarnya peluru, menguatkannya ke receiver bawah. Menutupnya dengan pelindung kecil, menambahkan instalasi gas, rail pelindung tangan hingga barrel tertutup dengan baik. Membuang napas, ia berniat untuk melihat waktu yang tampak di jam kecil di pergelangan tangannya, tetapi ia urungkan.
Membuat receiver atas memang tidak sesusah receiver bawah yang penuh dengan pemasangan baut-baut kecil, tetapi tetap saja sama-sama memusingkan. Dan Verrena telah terbiasa akan hal itu. Ini sama mendebarkannya dengan detik-detik ia menjatuhkan diri dan berganti dengan boneka pengganti dirinya. Bagaimana ia bisa terlepas dari kungkungan tangan ataupun bibir penuh nafsu lelaki yang "memanggilnya".
Keringat yang disebabkan antara udara yang terlalu panas dari bawah ranjang dan debar jantungnya yang tidak beraturan mulai menetes di bagian pelipis. Ia biarkan jatuh sendiri satu persatu agar saat ia kembali naik ke ranjang lelaki itu percaya bahwa yang "bermain" bersamanya adalah dirinya.
Terakhir, menambahkan scope kecil di bagian receiver atas. Melepaskan obeng, dilemparkannya ke wadah. Ia telah menyelesaikan perakitan pesanan itu. Ditekannya penyambung telepon, berujar pelan "Selesai."
"20 menit 16 detik. Tidak mencapai rekormu. Ada sesuatu yang mengganggumu?"
"Begitulah. Selain orang tua di atas ranjang ini, kupikir tidak ada."
Ia merasa sesak dan jengkel karena pelanggannya itu semena-mena bermain dengan bonekanya hingga membuat ranjang itu naik turun, menekan ia yang masih di bawah ranjang.
"Sudah sering kuperingatkan kau keluar dari situ." Roger, dari telepon itu seakan memerintahkannya.
"Dan sudah sering ku menjawab bahwa aku bisa berakhir menyedihkan bila ketahuan." Verrena menjawab sambil menutup kotak peralatan, menyurukkannya ke sudut bawah ranjang.
"Aku masih waras untuk tidak menyerahkan tubuhku pada mereka. Penyakit akan mereka salurkan padaku dan akan mengurangi kesempatan hidup. Kau mengerti maksudku, kan?"
"Ya, ya. Kau memang wanita malam yang kelewat pintar." Verrena tidak peduli apakah itu sebuah pujian atau ejekan, yang pasti hatinya sedikit tercubit dengan pernyataan itu.
"Jaga ucapanmu, Tuan. Ingat, aku masih seorang polisi."
"Terserah." Dan Roger, lelaki yang menelepon itu memilih diam.
Verrena menyingkirkan senapan rakitannya, menajamkan pendengaran ketika ia rasa ranjang itu tak lagi bergoyang.
"Aaaaaggghhh!"
Mendengar desah terakhir dari si lelaki tua yang menyewanya membuat Verrena mengerutkan kening, lalu tersenyum miring.
"Cepat sekali selesainya."
Ia mengacak-acak rambut agar terlihat seperti sehabis "melakukannya", melepas gaun marun yang dikenakan sehingga yang tampak hanya pakaian dalam. Memiring ke kiri, ia berusaha melepaskan pengait bra hingga terlepas.
Ia menarik tuas dari bawah ranjang yang kembali membuat lubang seukuran dirinya. Menaikkan kaki terlebih dahulu, cepat ia bertukar posisi dengan boneka itu, mendapati ia berada di bawah tubuh lelaki tua yang tersenyum lebar, wajah memerah dengan mata menyipit.
"Thank you, Baby." Verrena memberikan "bonus" berupa kecupan sok manis di pipinya, kemudian beranjak bangun. Lelaki itu, masih dengan keadaan tidak sadar karena setengah mabuk mengeluarkan uang yang sangat banyak dari dompet. Verrena membantu lelaki itu merapikan pakaian, merapikan pakaiannya kemudian. Memeluk si lelaki, meraih lengannya untuk dikalungkan ke leher. Menuntunnya hingga ke luar kamar dan menutup pintu.
Selesai sudah misi kotornya kali ini. Ia membuang napas panjang, berkali-kali untuk menetralkan debar jantung. Ia masih tidak biasa—singkatnya, takut dengan posisi ditindih karena kejadian 4 tahun lalu yang membuatnya trauma.
Sebagai politisi, ia pikir lelaki itu mengetahui banyak hal. Sayangnya, informasi yang ia dapatkan sangat sedikit. Lelaki itu hanya mengatakan padanya, bahwa organisasi Dark Shadow banyak membantu selama ia maju dalam pemilihan dewan.
Verrena mengerti, bantuan di sini adalah seperti menghabisi sekretaris pendamping politisi saingan, melakukan negosiasi pada komisi pemilihan dewan untuk memenangkannya dan mengancam politisi saingan untuk mundur. Verrena tidak terkejut dengan hal itu. Dunia politik memang sangat busuk.
"Kau masih di sana?" Verrena bergidik ketika ia sadari lupa mematikan handsfreenya.
"Kau mendengarnya, kan?" tanyanya lagi.
"Ya. Biasa saja. Istriku membuatku mendesah lebih dari itu."
"Kau!" Verrena mengumpat keras. Terdengar Roger terbahak-bahak dari seberang telepon. Verrena hanya mendengus, melirik ke waktu yang ditunjukkan layar ponselnya. Jam 3.14 dini hari. Beralih ke ranjangnya, ia beranjak. Berjalan mendekati ranjang, kemudian berjongkok meraih senapan rakitannya dari kolong ranjang.
"Aku akan menyiapkannya. Bagaimana dengan jadwal rapat?" tanyanya, sembari membetulkan handsfree yang agak longgar.
"Diundur tiga hari ke depan. Yang lain masih belum cukup informasi untuk pembahasan kita."
"Baiklah. Tunggu aku di kantor hari ini."
Verrena mematikan sambungan telepon.
***
Ia baru menyadari bahwa matanya sedikit lebih berat dari biasa untuk dapat dibuka. Mengerjapkan mata dengan lambat, menyesuaikan cahaya yang masuk. Ia bermimpi tentang masa lalunya, untuk yang kesekian kali. Ia tidak mengerti, apakah hanya ia yang sering mengalami mimpi tentang masa lalu yang tergambarkan kembali atau orang lain pun juga.
Masa lalu tentang bagaimana kejadian setelah adiknya mendapat "puber" hingga paginya ia tidak mau ke sekolah dan merengek untuk meminta izin karena sangat malu. Bagaimana ia menenangkan Harley yang seharian tidak mau keluar kamar dan mengajari bagaimana menjadi seorang lelaki dewasa nantinya.
Kedekatannya dengan Harley yang kini tak lagi dirasakan, kian menambah sesak. Bagaimana masa lalu itu berkolerasi dengan yang ia alami sekarang. Harley yang menghilang setelah "hari gelap" yang juga membuatnya kehilangan sesuatu yang sangat berharga darinya: harga dirinya.
Lalu, karena hal itu ia kembali mengingat bagaimana sahabatnya dengan pelik permasalahan dan perasaannya yang tak terbalas. Ia, lelaki yang hampir mengamuk di ruang rapat ketika membahas sebuah kasus saat ia kembali dari apartemen seseorang yang ia lacak, mendapati kekasihnya itu berselingkuh dengan seorang pemain bola yang sedang naik daun. Dan hanya Verrena, yang terpaksa mundur dari rapat dan mengambil tugas untuk "menjinakkan" sahabatnya itu. Karena hanya ia yang bisa melakukannya.
Masa lalu dengan masa sekarang yang sangat "bertolak belakang" membuatnya meringis, kemudian tanpa sadar membuat sebutir air mata menuruni pipi. Maka, cepat ia usap air mata itu, kembali mengerjap. Mendapati dirinya duduk di depan meja dengan cangkir kopi yang tak tersentuh dan mendingin.
Namun, dari segala kejadian yang hampir semuanya berubah, ia pikir ada yang tidak berubah sejak dulu. Misalnya, kesentimentilan pada kedua lelaki yang disayanginya: Harley dan Gussion, dan kecintaan pada teduh pagi hari.
Verrena begitu mencintai pagi. Ia menyukai saat hangat yang mulai meresapi kulit dinginnya karena selimut malam. Ia selalu mengingat kecap kopi hitam yang dinikmatinya dengan bersandar di kusen jendela, mengamati pinggiran kota yang mulai menggeliat dari lantai 5 Kantor Berita Dawn News. Pejalan kaki, pengendara mobil yang menerobos lampu merah karena dirasa tidak ada siapa-siapa yang menghalangi jalannya, dan puddle kecil yang menyeberang jalan bersama pemiliknya.
Di kala itu, segala air mata yang tertumpah di malam hari, setiap tidurnya, ataupun ketika isaknya memberontak di dalam kamar mandi, telah mengering. Ataupun sentuhan tangan-tangan bandot yang menggerayangi tubuh, sudah tak lagi membekas. Tidak, meski ia tak berbeda dengan wanita penghibur yang lain, laki-laki yang datang padanya tidak pernah sampai menikmati tubuhnya.
Verrena membuatnya mendongeng tentang semua informasi yang ingin didapatkan, kemudian membuatnya tertidur hingga subuh. Kalaupun ingin mendapatkannya, sebelum itu terjadi telah disiapkan boneka pengganti seukuran dirinya dengan remote control. Lelaki yang bermain dengan segala nafsunya ia tinggalkan, dengan ia yang merakit senjata yang akan dipakai esok hari oleh rekannya ataupun pemesan. Lelaki-lelaki yang masih dalam halusinasi seakan telah mengeluarkan segala "hasratnya", padanya meninggalkan segepok uang yang tidak bisa dikatakan sedikit sebelum pergi. Lalu, Verrena akan menghapus makeup, melepaskan rambut palsu dan membersihkan diri. Bersiap untuk menyambut pagi dan segala peristiwa yang akan terjadi setelah ia memutuskan untuk bertindak dengan informasi yang ia genggam.
Verrena mencintai pagi, setidaknya untuk hari ini.
Ia tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah ia masih bisa merasakan matahari pagi, atau tidak sama sekali. Oleh karenanya, ia ingin menikmati pagi dengan sebaik-baiknya, hari ini.
Ia menyingkirkan kopi yang sudah mendingin, dibuangnya ke dalam bak cuci. Ia hendak menggantinya dengan kopi baru. Baru meraih tabung berisi bubuk kopi, seorang lelaki bertubuh besar muncul dari balik pintu, mengenakan mantel hitam dengan cerutu menyala di bibir.
"Terlalu pagi untukmu datang." Lelaki itu melepaskan mantelnya, menggantung di balik pintu. Verrena yang mendengar komentar itu hanya mengangkat bahu.
"Aku sudah tidak sabar untuk menyelesaikan semua ini." Ia menjawab tanpa menoleh, menuangkan bubuk kopi ke dalam cangkir. Kemudian, mendekati dispenser, menuangkan air panas padanya.
"Agar kau cepat kembali ke kepolisian?" Tebakan lelaki itu membuat tangannya yang menurunkan keran dispenser terhenti sebentar. Tertegun, dengan tetap terdiam. Kata-kata yang berkecamuk di kepalanya ia tahan sampai ia duduk di kursi. Menaruh kopi panas yang uapnya bagai menari di atas cangkir.
"Tidak begitu. Maksudku, entahlah. Kalaupun aku kembali pada mereka, memang siapa yang akan mengizinkanku membuka kasus pembantaian beruntun keluarga bangsawan bertahun-tahun yang lalu?"
Pertanyaan retoris yang lelaki itu pikir tidak perlu dijawab, karena mereka sama-sama tahu jawabannya.
Takkan mudah untuk menyelidiki itu lagi, sekalipun kasus terakhir yang dialaminya dan adiknya, Harley yang sampai sekarang tak ia temukan baru berlalu empat tahun. Verrena mengerti, bahwa pekerjaan mereka—polisi beserta jajaran detektif mulai dari divisi 1 sampai 10 sangatlah banyak. Mereka hanya difokuskan pada seberapa banyak pekerjaan yang telah selesai, bukan pada seberapa besar pengaruh dari kasus itu. Semakin banyak kasus yang berhasil dipecahkan, semakin tinggi kesempatan naik pangkat. Oleh karenanya, kasus-kasus yang tidak mampu terpecahkan akan menjadi tumpukan file lama di gudang. Dan di situlah kehadiran detektif swasta diperlukan. Dan Verrena mencoba menjadi bagian darinya.
Ia mencoba meresapi hening sambil menyesap kopinya. Dengan lelaki di depannya mengembuskan asap dari cerutu yang diisap. Dari keheningan itu, Verrena menghadapkan pandangan pada sebuah kertas besar yang dibentang pada kaca tulis persegi panjang. Dalam kertas itu, silsilah keluarga Delocre. Dari yang paling atas, Felix dan Sharon Delocre yang memiliki tiga anak, Harry, Jane dan Daniel. Harry, sebagai anak pertama, menikah dengan Regina Alvent dan melahirkan Harley. Jane menikah dengan Herman—sepupu dari Hans, ayahnya Verrena. Tidak memiliki anak. Dan anak terakhir, Daniel yang menikah dengan wanita pembawa kehancuran-seperti yang Verrena tulis di samping namanya, Verra Mario Elxy dan memiliki anak bernama Ronald yang telah Verrena hancurkan fotonya hingga berlubang.
"Jangan terlalu sering kau lihat gambar itu."
"Mengapa?" sahutnya tanpa berpaling ke sumber suara.
"Aku sudah mengganti kaca yang kau hancurkan kemarin dengan yang paling mahal. Jangan kau tembak lagi gambar lelaki itu." Verrena tidak ingin menjawab. Matanya masih menatap tajam pada foto lelaki yang ia hancurkan itu. Lelaki yang suatu hari, ingin ia bunuh dengan tangannya sendiri.
Ia menoleh ketika ia dengar suara riffle yang ditarik pengisi pelurunya. Mendapati lelaki itu memeriksa bagian-bagian hasil rakitannya malam tadi. Lelaki itu tersenyum puas.
"Rapi seperti biasa." Ia meletakkan cerutu dalam asbak. Mengangkat benda pesanan, menilik ke depan dari scope kecil di tangannya.
"Jangan lupa dua puluh persen untukku, Roger." Verrena mengingatkan sambil meraih kopinya, meneguk lebih banyak hingga tersisa sepertiga.
"Tenang saja." Roger melepaskan benda pesanan, meletakkannya kembali dalam kotak, kemudian menguncinya. Beralih dari kotak, ia mengambil remote control televisi untuk menyalakannya.
"Selanjutnya. Model ternama yang menduduki peringkat empat dalam The Most World Beauty versi PaperLOAD, Gwen Anastasia dari keluarga bangsawan Baroque tertangkap kamera sedang makan malam bersama pemain bola rekrutan baru Paris Zeint Germany, Nino di Hotel Florica. Mereka mengonfirmasi bahwa hal itu benar. Dalam keterangannya, mereka mengaku bahwa mereka telah menjalin hubungan kasih sejak hampir lima tahun lalu. Selain itu, mereka akan melangsungkan pertunangan pada ... "
"Perempuan sundal." Verrena mengumpat dan merampas remote control dari tangan Roger.
"Bukankah kau juga?" tanya Roger sarkastis, sedangkan Verrena menjawab dengan senyum miring.
"Setidaknya aku adalah tipe yang tak akan berselingkuh dari kekasihku hanya karena tidak diberikan benda yang kumau," jawabnya, sambil mengganti saluran televisi.
"Televisi apa yang menayangkan kehidupan tidak berguna sepagi ini?" Ia merutuk dengan geram.
"Kau mengenalnya?"
"Perempuan itu? Tidak juga." Menjawab sekenanya, ia teringat bagaimana pertama kali bertemu dengan perempuan itu. Saat ia masih kelas satu SMA.
"Gwen, perkenalkan. Dia sahabatku, Verrena Delocre." Gussion mengenalkannya pada perempuan itu yang melipat tangan di depan dadanya.
"Aku Verrena." Ia mengulurkan tangan, tetapi tidak bersambut. Malah tangannya yang menggantung di udara itu dikibas oleh Gwen.
"Aku tidak sudi bersalaman dengan perempuan rendahan sepertimu!"
"Gwen! Apa yang kau lakukan?!" Dan berakhir dengan perempuan itu merajuk, masuk dengan membanting pintu mobil Gussion.
Verrena membuang napas berat, kembali ke waktu sekarang. Tersentak ketika ia rasa bahunya disentuh.
"Cek surelmu. Misi observasi untuk besok malam. Aku harus bertemu klien hari ini." Verrena mengangguk, menatap Roger yang menuju pintu, mengambil mantel, dan menutupnya.