Ini adalah suasana yang tidak terlalu bagus untuk menikmati senja menjelang malam.
Tidak ada bias kejinggaan dari matahari yang tenggelam, tidak ada bianglala yang menghias langit sebelum rembulan. Yang ada hanya awan kelabu tebal, dengan rerintik hujan mulai jatuh menelusur jalan, menyapa di kaca-kaca toko. Membentuk linear-linear likuid yang menurun. Dengan seorang lelaki yang menginginkan pemandangan bagus dari tempat duduknya yang di samping kaca besar di Owlclock Cafe—begitu nama yang ia ingat dari cafe ini. Terlihat darinya orang-orang yang berlarian menutupi kepala dari hujan. Dapat dipastikan ini benar-benar waktu yang tidak tepat untuknya.
Kemudian, tangannya yang memegang cangkir putih polos berisi cappucino terhenti, ia mengurungkan niat untuk menyesapnya. Ketika ia teringat, bila sedang hujan seperti ini, seorang perempuan berhelaian burgundi duduk bersamanya menikmati secangkir Americano hitam tanpa gula, menatap jendela.
Terkadang hening, terkadang di meja merekalah yang paling ribut ketika mereka berdebat mengenai kasus yang sedang dipecahkan. Sekali-dua percakapan mereka adalah percakapan ringan seperti sahabat pada umumnya, dari topik kopi mana yang paling ampuh untuk menahan kantuk sampai Verrena yang curhat mengenai adiknya yang sering diprotes sang pacar karena terlalu sibuk berlatih dengan piranti sulap. Dan sesekali ia terpergok sedang memperhatikan perempuan itu ketika sedang melamun. Kalau sudah demikian, perempuan di depannya itu tidak segan untuk mencubit pipinya sampai memerah dan melontarkan kata "Kau iniii!" dengan nada gemas.
Namun, sekarang. Ia tak lagi ada di sisinya. Hal itu membuatnya membuang muka, meringis dengan kepiluan tersamar.
Menyadari bahwa hanya kenangan-kenangan yang ia paksa untuk bertahan yang bisa diingat.
Lepas dari lamunan, sebuah ponsel hitam menyala dengan getar di atas meja. Melihat ke layar, mendapati kontak seseorang yang dari kemarin-kemarin ia tolak. Di layar ponsel itu, tertulis kata Ibu. Ia berniat untuk tidak mengangkat telepon itu untuk yang kesekian kalinya, tetapi kali ini ia menyerah. Maka, diraihnya ponsel itu, menggeser tombol hijau ke kanan. Mendekatkan ponsel ke telinga kiri, sambil pandangannya beralih ke luar.
"Halo? Halo, Nak. Kau di sana?"
"Yes, Maam." Ia menjawab benar-benar tanpa minat.
"Nak?! Nak Gussion! Akhirnya kau angkat telepon. Maafkan Ibu, Nak. Maafkan ibu yang selalu memaksamu untuk bertahan dengan perempuan itu. Ibu sudah melihat berita hari ini. Maafkan ibu karena tidak mempercayaimu. Maafkan ibu, Nak."
Gussion menautkan kedua alis, ia samar mendengar ibunya terisak, menangis dari seberang telepon. Memijit kepala, ia merasa sedikit pusing ketika mengingat peristiwa menyakitkan dulu, di mana ia mendapati mantan kekasihnya itu sudah dengan pakaian setengah terbuka bermesraan begitu liar dengan lelaki lain ketika ia berkunjung ke apartemennya. Dan ketika ia bercerita dengan ibunya, ibunya malah tidak mau percaya dan tetap menganggap wanita itu adalah kekasih anaknya.
Yang menjadi pertanyaannya sekarang adalah, mengapa ibunya harus menangis kalau yang begitu menderita adalah dirinya? Mengapa harus menangis karena ia telah memaksa anaknya sendiri bertahan dengan perempuan yang mengkhianatinya? Bukankah seharusnya ia yang lebih berhak untuk menangis?
Tidak ingin memperpanjang permasalahan, ia hanya menjawab, "Ya, ibu sudah mengetahui kebenarannya, bukan? Baiklah, aku ingin menutup telepon. Aku sibuk."
"Nak?! Nak, tunggu! Ibu belum selesai..."
Sambungan telepon diputusnya paksa. Ia meletakkan ponsel ke meja dengan hentakan lumayan keras. Mengacak rambutnya kasar, ia merasa kembali frustrasi dengan teringat waktu dan segala hal yang terbuang untuk mantan pacarnya itu. Ia adalah korban nyata bagaimana keluarga bangsawan yang saling menjodohkan anaknya demi menaikkan martabat di masyarakat. Hal yang seharusnya sudah lama ditinggalkan karena peraturan tidak tertulis itu sedemikian kolot dan bahkan merugikan.
Ia menyesap Cappucinonya yang mulai mendingin. Dalam hati, terlintas pikiran bahwa harusnya ia menuruti nasehat ayahnya daripada menjaga perasaan dan wajah ibunya di depan keluarga bangsawan lain.
"Kau seorang laki-laki. Dan kaulah yang memutuskan jalanmu sendiri."
Kira-kira begitu perkataan terakhir ayahnya ketika menanggapi masalah percintaanya. Mungkin dengan prinsip itu juga yang membuat ayahnya sanggup memisahkan diri dari mansion de'Saint dan tinggal di kantor perusahaan daripada hidup bersama ibunya yang keras kepala dan konservatif.
Tidak ada yang mengetahui, di balik tiap pertemuan antar-bangsawan, orang tuanya tidak lagi tinggal serumah. Mereka yang sama-sama keras kepala, berpura-pura mesra, terlihat bahagia di hadapan orang lain. Agar tidak terlihat buruk. Kenyataan pahit dibalik royalnya keluarga bangsawan yang dihormati.
Dan kini, ia menyadari bahwa ia telah kehilangan segalanya. Kehilangan kebersamaan dengan saudara-saudaranya ketika ia memutuskan untuk masuk akademi kepolisian, membuang waktu, tenaga, materi untuk perempuan yang sama sekali tidak tulus mencintainya. Kemudian, kehilangan pusat dunianya; seorang Verrena.
Ia telah mengikhlaskan semuanya, kecuali perempuan itu. Ia sangat meyakini, dikala semua orang menganggapnya telah tiada, hanya ia yang terus berusaha untuk membuktikan bahwa Verrena masih hidup setelah penyerangan yang dialaminya.
***
"Hei, Man. Mau ke mana? Semuanya sudah hendak berangkat."
Seorang lelaki berambut pirang menepuk punggungnya ketika ia memilih arah berlawanan dari rombongan—rekan-rekan divisi 1 yang hendak pergi merayakan keberhasilan membongkar gembong perdagangan manusia. Lelaki yang disapa itu, Gussion menurunkan tangan yang bertengger di bahu, kemudian hanya menjawab, "Aku akan menyusul."
Sampai ia berjalan menjauh, hilang di antara lorong kanan kantor. Lelaki yang menyapa itupun hanya mengangkat bahu. Ia mengerti bahwa empat tahun ini Gussion kadang terlihat aneh dan dingin.
Gussion menghentikan langkahnya ketika ia berada di depan pintu, sedikit terbuka. Ruangan dengan lambang Mighty Dawn Police Department, tanpa disertai nama penghuni ruangan. Namun, ia sudah cukup mengenal orang di dalam ruangan itu. Tanpa permisi, ia membuka pintu, mendapati seorang lelaki dengan rambut hitamnya telah dipenuhi uban, mengerutkan kening ketika membaca dokumen di tangannya.
"Paman."
Yang dipanggil paman menghentikan aktivitasnya, tetapi tak mau menoleh pada lelaki yang memanggilnya. Gussion yang merasa tidak dirasakan kehadirannya maju tepat di seberang meja.
"Paman, kau yakin tidak ingin membantuku menemukannya? Apa kau tidak menyayangi keponakanmu sendiri? Bagaimana kalau di luar sana dia tidak baik-baik saja?"
"Anak nakal ini...." Ia bergumam pelan dengan menghentikan sambungan kata-kata yang ingin ia lontarkan.
"Apa kau sama saja dengan mereka yang menganggap dia sudah meninggal? Paman?!"
"Ini kantor. Ruanganku. Statusmu adalah bawahanku. Perlukah aku mengirimmu kembali ke akademi untuk belajar sopan santun?!"
Kepala lelaki yang mulai tumbuh uban itu mendongak, menatap tajam seorang Gussion yang ia pikir terkejut dengan gertakannya. Ia memang terkenal sebagai komandan yang sangat tenang dan hampir tidak pernah membentak. Dan baru kali ini kesabarannya benar-benar habis mengingat anak nakal ini-sebutannya untuk Gussion hampir setiap hari menanyainya pertanyaan yang sama.
"Maaf. Mayor Jenderal Herman, apa anda akan terus diam dengan keadaan seperti ini?"
"Justru aku ingin bertanya padamu, apa kau tidak percaya padanya?" Ia mengalihkan atensi pada map di sebelah kanan tangannya. Membuka tiap lembaran sambil membubuhkan tanda tangan.
Gussion bungkam, diam memikirkan apa maksud dari sang Jenderal.
"Anak nakal, kau pikir keponakanku adalah perempuan yang lemah? Bagaimana bisa ia menempatkan dirinya dalam keadaan yang tidak baik-baik saja bila tidak bisa mengatasinya?"
Pernyataan itu seakan membuat beban-beban berat di bahunya terlepas semua. Ia terperangah, antara senang dan terkejut.
"Mengapa Jenderal baru mengatakan hal ini?! Jadi, Jenderal percaya dia masih hidup, kan? Apa paman—maksudku Jenderal sempat bertemu dengannya?!"
"Aku tidak akan mengatakannya padamu."
"Jenderal!"
"Tidak ada lagi yang ingin kusampaikan. Pergilah."
"Baik. Berarti dia masih hidup, kan?!" Dalam pikirnya ada benar-benar harapan dan usaha yang ia kumpulkan untuk mengusut kasus itu tidak sia-sia.
"Mau pergi sendiri atau kutendang?"
Suara dingin dari sang Jenderal membuat Gussion bergidik ngeri.
"E-eh baiklah. Aku pergi sendiri. Selamat malam, Jenderal." Gussion cepat-cepat pergi dan menutup pintu. Bersandar di dinding, ia merasakan debaran jantungnya meningkat karena terlalu senang. Penyelidikan secara diam-diam di apartemennya yang hampir ia bakar itu karena ingin menyerah, akan ia susun kembali.
Mengingat bahwa ia mengatakan akan menyusul teman-temannya yang lain, ia beranjak untuk ke tempat parkir mobilnya karena tempat yang dituju cukup jauh.
***
Alarm sebuah mobil berbunyi setelah pemiliknya, Gussion menekan tombol kunci. Berjalan ke luar tempat parkir, mendapati lelaki berambut pirang hampir sebahu masih di luar tempat mereka berkumpul, memegang kaleng soda.
"Kau lama."
"Sorry, Andrew . Ada urusan mendesak."
Andrew hanya mengangkat bahu, sambil menenggak sodanya sampai habis. Mencampakkan kaleng soda di dalam bak sampah.
Andrew masuk terlebih dulu, dengan Gussion yang masih berdiri di depan restoran, menggulung lengan baju panjangnya yang ia rasa mengganggu. Dan seseorang dengan mantel cokelat muda berpenutup kepala berpapasan dengannya, berlawanan arah. Semula, ia biasa saja. Sampai ia menyadari bahwa ia mencium sedikit bau parfum yang pernah ia kenal dari seseorang yang lewat.
"Ini...." Ia memejamkan mata, berusaha keras mengingat parfum apakah itu. Itu bau yang akrab darinya, tetapi sangat jarang ia nasali.
Kemudian, ia teringat acara perjamuan keluarga bangsawan setiap dua kali setahun. Mereka memiliki aroma khas tiap keluarga bangsawan. Singkatnya, mereka dikenali melalui parfum yang dipakai.
"Ini seperti sangat dekat, apa mungkin...," Matanya melebar ketika berhasil mengingat parfum itu. "Keluarga Delocre?!" Ia lantas berbalik ke arah mana seseorang itu pergi. Baru ia ingin mengejar, orang itu sudah masuk ke dalam taksi dan mulai meninggalkan tempat.
"Seperti tubuh perempuan. Bibi Jane?"
Ia teringat bahwa tidak mungkin bibi Jane, sebutan untuk istri Jendral Herman itu berjalan sendirian. Sebagai keluarga Delocre murni yang tersisa, kemana-mana ia dikawal oleh bodyguardnya dan selalu bersama asisten.
"Kalau bukan bibi Jane, berarti... damn!"
Hal yang terlintas di pikirannya hanyalah berlari secepat mungkin ke tempat parkir dan mengebut untuk menyusul perginya taksi itu.