("Harley, makan malam sudah datang. Aku tidak memasak untuk malam ini." Verrena meraba-raba dinding, menekan sakelar lampu, namun tidak menyala. Dalam gelap ia menaruh sepatu yang dilepaskan dalam rak.)
"Mimpi ini..."
("Harley?" Ia memanggil sedikit keras. Maju perlahan untuk mencapai ruang tengah. Ruang yang temaram dengan hanya penerangan dari luar rumah membuatnya lebih waspada. Dan ketika samar ia melihat suatu genangan hitam di lantai, mata sewarna karamelnya terbelalak ketika mengetahui Harley yang terkapar dengan pakaian penuh darah.
"Harley!")
Sebutir keringat melewati pelipis Verrena yang begitu gelisah dalam tidurnya dengan matanya yang memejam.
(Belum Verrena menurunkan tubuhnya untuk menghampiri Harley, cengkeraman kuat ia rasakan di perutnya. Napasnya tertahan, dengan refleks menyikut seseorang yang menahannya. Ia merasakan sang pelaku lebih tinggi darinya.Sikutnya tepat mengenai rahang bawah orang di belakangnya. Cepat ia memutar badan, ia menguatkan kaki untuk menendang orang itu. Dan tepat di badan bagian bawah. Orang itu, dari temaram malam memakai pakaian serba hitam dengan topeng hitam pula.
"Siapa kau?!")
"To-tolong." Kedua matanya dari balik kelopak bergerak. Bibirnya meracau dengan ia yang masih belum bangun dari tidurnya.
(Namun, kewaspadaannya menurun dan seseorang memeluknya dari belakang. Verrena merasakan leher kanannya ditusuk jarum suntik. Ia menjerit kencang, memberontak dengan berusaha melepaskan diri dari orang di belakangnya.
"Tenanglah, Sayang."
Sesuatu yang ia pikir suntikan itu terlepas dari lehernya. Kemudian, perlahan tubuhnya ia rasakan melemas, dengan pandangan mulai mengabur. Seseorang yang sedari tadi memeganginya, ia rasakan menurunkan tubuhnya ke lantai.)
"Se-seorang," racaunya kembali. Kini keringat yang membanjiri dahinya telah tercampur dengan air mata yang mulai mengalir dari sudut mata.
(Terasa benar-benar nyata, kedua pahanya nyeri karena ditindih seseorang. Tenaga yang tersisa ia salurkan untuk menggerakkan tangan untuk mencegah benda tajam yang mulai menyusur perutnya. Begitupun dengan celana panjang yang ia kenakan. Namun, ia merasa benar-benar lemah. Dan tidak lama ia kedinginan karena pakaian yang menutupi tubuhnya telah dirobek hingga menyisakan pakaian dalam yang dikenakan.
"He-hentikan," perintahnya dengan nada yang hampir tidak terdengar. Ia benar-benar tidak bisa mencegah apa yang terjadi pada tubuhnya. Lemas. Lunglai. Tidak berdaya.
Harusnya ia bisa pergi. Harusnya ia bisa mencegah kedua tangan yang mulai menyusur perutnya. Harusnya ia bisa menghentikan remasan brutal atas tubuh bagian atasnya yang tidak lagi terhalang apa-apa. Harusnya ia bisa berteriak sebelum bibirnya dipagut dengan gigitan-gigitan yang membuat ia mengecap asin-pahit dari darah. Harusnya ia tidak membiarkan seseorang itu berkuasa atas tubuhnya.
Apa daya, ia tak mempunyai daya apa-apa. Barang menjerit, atau kembali mengatakan sepatah kata agar orang itu berhenti. Ia tak ingin pasrah, gemuruh dalam hatinya ingin melawan. Sinyal di otaknya menyatakan ia berada dalam bahaya besar. Namun, tubuhnya tidak bisa mengikuti perintahnya sendiri. Yang bergerak hanyalah kelopak matanya yang ikut melemah, dengan mengalirkan sebutir air mata.
Dan perih luar biasa ketika dirasakan sesuatu telah merasuknya dari pangkal paha. Ia ingin menyumpah di setiap tubuh yang naik-turun menindihnya. Ia ingin meraung keras ketika sakit tak tertahankan dari seseorang yang berkali-kali memasuki. Ia ingin memberontak. Ia ingin menghentikan gerakan di luar kendali tubuhnya itu. Namun, yang terjadi hanyalah air matanya yang turun bergiliran membasahi wajah. Menangis tertahan. Terisak pelan. Ia sadari, bahwa miliknya yang sepenuhnya ia jaga selama hidup telah dirusak dengan kejam. Ia sadari, bahwa kehormatan yang selama ini ia pertahankan hanya untuk pasangannya di masa depan telah dicuri. Ia rasakan napasnya kian sesak, seiring kesadaran yang tak lagi mampu bertahan.
Namun, sebelum gelap seluruhnya, sekilas ia melihat sebuah benda yang melingkar di leher seseorang yang melakukan hal mengerikan itu. Sebuah kalung dengan bandul berbentuk kunci warna hitam. Kemudian, ia ingat satu nama yang ia tahu memakai kalung seperti itu.
"Ro-nald....")
"Hentikan!" Matanya terbuka tiba-tiba, menampakkan hampir seluruhnya memerah. Bahunya naik turun mengambil napas, berkali-kali, terengah-engah.
Bibirnya, tubuhnya, sepenuhnya tremor. Dan tangis yang tertahan akhirnya pecah juga. Ia meraung keras, menutupi kepala dengan mata yang tergenang likuid bening. Kembali berteriak. Mimpi itu sungguh terasa nyata. Karena, mimpinya adalah potongan dari masa lalu yang ia alami.
Tidak mau berlarut dengan ketakutan yang sangat, tangan kirinya yang gemetar ia julurkan pada sebuah botol obat kecil bertulis anti-depresan. Mengguncangkan botol, mengeluarkan dua butir obat. Cepat-cepat ia menelan, kembali menjulurkan tangan mengambil botol berisi air. Menenggak isinya hingga obat itu terlarut. Ia kembali mengambil napas satu-satu. Isakannya tidak mau berhenti, meski berkali-kali ia mengambil napas panjang untuk menenangkan diri.
"Ibu-u, ayah...," Verrena memeluk tubuhnya sendiri dengan selimut. Dieratkannya cengkeraman pada selimut yang meliput tubuhnya, "Aku takut."
Ia memejamkan mata untuk menurunkan air mata yang tersisa di kelopak. Mengusapnya pelan, lalu memandang ke dinding depan yang bertempel jam dinding. Jarum jam pendek telah menunjuk sedikit jauh pada angka empat dan jarum panjang menunjuk pada angka 8.
Kembali menenangkan diri, menarik-buang napas panjang. Ia mengerti bahwa ia tidak boleh berlarut-larut karena kenyataan yang terefleksi dalam mimpi buruknya itu, dan cukup sering dialaminya. Maka, ia beralih dari ranjang, menyampirkan rambut burgundi panjangnya ke kanan.
Pergi ke kamar mandi yang berada di kamarnya, mencuci muka sebentar. Mengamati, matanya yang sedikit membengkak karena tangisnya tadi. Ini tidak baik, pikirnya. Mengingat malam nanti jadwalnya melayani "pengunjung", ia harus terlihat cantik dan tidak boleh ada kecacatan darinya.
Akhirnya ia memutuskan untuk menyalakan shower dan mulai membersihkan diri.
***
Ia rasa lebih nyaman setelah beranjak mandi. Atensi teralih pada lemari yang menyatu dengan meja rias, ia teringat akan sesuatu. Mendekat ke meja rias, mengambil sebuah kotak dari laci meja.
Kotak ukuran cukup lebar dengan kombinasi antara kayu eboni dan uliran pengait berbahan titanium. Dari pengait, ia membuka kotak itu pelan. Didapatinya banyak kenang-kenangan di sana, seperti figura kecil antara ia dan Harley ketika masih 5 tahun. Foto ibu dan ayahnya saat menggendongnya, bros dengan bentuk bunga rosemary sebagai lambang keluarga Delocre, pin rambut yang terbuat dari bulu kebiruan dari ayahnya dan sebuah botol kecil berisi parfum yang hanya dibuat khusus untuk keluarga Delocre. Parfum dengan paduan bunga iris dan vanilla.
Bangsawan-bangsawan lain memiliki aromanya masing-masing. Seperti keluarga Baroque dengan aroma mawar dan anggur, de'Saint dengan sedikit lavender dan kayu manis, sedangkan dari keluarga Alvent—keluarga dari ibunya Harley memiliki aroma kayu gaharu dan mint. Setidaknya para bangsawan itu yang Verrena ketahui aroma parfumnya.
Ia baru melihat bahwa ada satu lembar foto yang tertinggal dari raihan tangannya. Foto ketika ia yang berusia 6 tahun, memakai gaun merah muda selutut dengan seorang anak laki-laki bertuksedo hitam tersenyum lebar memperlihatkan gigi-giginya.
Anak laki-laki itu berdiri di sampingnya dengan telunjuk menyentuh pipinya. Ia teringat bagaimana bibi Jane menceritakan asal-muasal foto itu. Saat itu adalah acara pernikahannya dengan Herman, pamannya. Dari kejauhan Herman yang selesai berbicara dengan seorang rekan mendekatinya yang menangis karena kesal anak laki-laki berambut cepak itu selalu mencubit pipinya. Herman mempertanyakan mengapa anak itu melakukannya.
"Dan kau tahu, apa jawaban anak itu? Dia berkata, dia lucu, Paman. Aku suka dia, pipinya lucu."
Mengingat hal itu, membuat Verrena tersenyum getir. Anak lelaki itu tidak lain adalah Gussion yang datang bersama keluarganya. Di acara itu memang mengundang banyak keluarga, termasuk keluarga bangsawan yang dekat dengan keluarga Delocre. Dan anak lelaki di foto itu, ia yakini telah dewasa sepenuhnya.
Sejak 4 tahun ini ia mengubur dalam-dalam rasa sesak saat tidak bersama lelaki itu. Mengalihkan pikiran untuk fokus pada kasus yang dipecahkan. Namun, ada kalanya ia merasa seperti ini. Merasakan bahwa ia tidak dapat menepis rindu yang dipendam.
Kemudian, ia kembali pada realitas yang ia jalani. Di mana sejak 4 tahun setelah penyerangan pada Harley dan dirinya, ia mengalami trauma hebat. Ia datang pada seorang psikiater untuk pengobatan medis, lalu psikolog yang baru setahun terakhir ia ketahui bahwa sang paman yang mengirim orang itu padanya.
"Kau akan kesulitan bila selalu sendirian seperti ini. Kau butuh seseorang. Seseorang yang kau cintai, mungkin? Seorang laki-laki?"
"Entahlah. Aku tidak tahu bagaimana dia memandangku setelah ini."
Selalu seperti itu jawabannya. Dan bila ia menjawab demikian, sang psikolog hanya tersenyum.
Apakah ia akan menerimaku?
Apakah setelah semua yang terjadi, ia memandangku dengan cara yang sama?
Perempuan sepertiku ini, pantaskah dicintai?
Pantaskah aku bersamanya?
Jauh dalam hati, ia ingin kembali. Ia ingin kembali bersama divisi 1, memecahkan kasus bersama, dan bersama lelaki itu. Lelaki yang sampai kini, tidak berubah perasaannya padanya. Perasaan yang tak tersampaikan.
"Verrena, kau berharga. Tidak peduli dengan yang kau alami. Percayalah, dan kembalilah padanya."
Pesan itu masih ia ingat. Perkataan terakhir sebelum psikolog itu pergi untuk pindahtugas ke luar negeri. Dan rencananya, hari ini dia akan bertolak di bandara Mighty Dawn. Verrena tidak ingin melepaskan kesempatan itu, ia merasa sangat berterima kasih padanya dan ingin menganjurnya pergi.
Dengan make up seadanya, menutupi wajah dengan masker hitam dan syal. Memakai mantel cokelat muda meski waktu itu adalah musim semi menuju awal musim panas.
Ia mendapat telepon, mendengarkan penjelasan dari rekannya dan sedikit cekcok. Dan akhirnya ia salah meraih parfum dan memakai parfum keluarga Delocre, ia tidak lagi memikirkan aroma apa yang melekat padanya sekarang karena terburu-buru.
Jam 05.25. Waktu keberangkatan psikolognya itu berada di jam 06.55. Ia harus mencapai bus pertama yang lewat di jalan kediamannya, disambung dengan menumpang taksi menuju bandara.
***
Dari wajahnya yang ditutupi masker ia menggoreskan senyuman. Tepat satu jam sebelum keberangkatan, Verrena tiba di bandara Mighty Dawn. Tergambar dari matanya yang menyipit saat seorang perempuan berhelaian merah muda menyeret koper bercorak spiral biru-putih berhenti untuk menghadapnya.
"Aku senang kau datang." Perempuan itu merentangkan tangan, memeluk seseorang yang memakai mantel cokelat muda itu, menepuk-nepuk belakangnya pelan.
"Dokter, apakah kau akan kembali?"
Si dokter itupun melepaskan pelukan, lamat-lamat memandangi wajah yang ditutupi masker itu hingga hanya satu matanya yang terlihat. Terdiam karena berpikir sebentar, kemudian menjawab, "Aku tidak tahu, Verrena. Mungkin cukup lama aku harus bertahan di sana."
"Baiklah." Perempuan itu, Verrena mengangguk.
"Jaga dirimu baik-baik." Kata-kata itu, kata-kata yang penuh penekanan. Pesan dalam yang disampaikannya sebelum ia berbalik, melambaikan tangan pelan.
"Selamat jalan...," Iapun membalas lambaian tangannya, disertai senyum lebar, "Dokter Ella." Hingga sang dokter itu menghilang dari pandangannya.
Tidak lama setelah kepergian perempuan itu, ponselnya bergetar dari saku mantel. Merogoh saku mantel dengan dahi mengerut ketika ponselnya berkedip. Sebuah nama terlihat jelas di layar. Segera ia menggeser tombol telepon dari layar dan menyiagakan earphone di telinga.
"Paman?"
"Temui aku di tempat parkir," sahut seseorang dari seberang telepon, terdengar seperti permintaan daripada perintah.
Ia mempercepat langkahnya menuju tempat yang dimaksud, sambil membalas, "Baik." Dan mengakhiri panggilan.
***
Verrena mendapati sebuah mobil navy di bagian kiri pandangannya, ketika menginjakkan kaki di tempat parkir. Mendekatinya, membuka pintu mobil itu ketika ia melihat seorang laki-laki paruh baya di dalamnya.
"Kau bilang ada yang ingin dibicarakan."
Mengambil napas sebentar, mengistirahatkan kedua kaki karena berjalan dari tempat tunggu sampai ke lahan parkir tergolong cukup jauh.
"Ya. Langsung saja. Claude baru saja menghubungiku, dia telah mendapatkan informasi mengenai si berengsek itu."
"Maksudmu?"
"Ronald. Dan dipastikan juga Daniel dan Verra ikut bersamanya. Kemungkinan besar mereka di Distrik Docana, pinggir pulau Madelaine."
"Seberapa yakin kau dengan informasi itu?" Sang paman—Herman menanyai dengan beralih ke wajahnya, memastikan kebenaran informasi itu.
"Claude bersedia untuk dipenggal bila informasinya salah."
"Darimana dia bisa tahu?"
"Miranda, informan dari sana. Menyamar sebagai anggota sirkus yang cukup terkenal."
"Selain itu?"
"Mereka bekerja sama dengan dr. San dan dr. Lee, menciptakan mesin pembunuh dengan bersinkronisasi pada tubuh manusia. Masih berbentuk prototype. Mereka menamakannya Z.E.R.O. Dan kemungkinan besar...," Verrena menggigit bibir bawahnya, kemudian menyambung, "Harley ada di sana."
"Harley?!"
"Dan target percobaan mereka selanjutnya Lolita, anak dari bibi Lalana."
"Lalana? Maksudmu...."
"Ya. Sahabatnya ibu dan bibi Regina. Mereka akan menculiknya ketika ia mencapai usia 26 tahun. Mereka meyakini bahwa kekuatan alaminya akan sempurna seperti Bibi Lalana," sambung Verrena dengan pikirannya sekarang cukup frustrasi. Informasi itu yang membuat ia berdebat dengan Claude sebelum menuju bandara, ia sangat menyayangkan mengapa Claude baru sekarang memberikan informasi sekrusial itu.
"Kau tahu di mana keberadaannya?"
"Tidak. Dan kupikir, kita harus menemukannya sebelum ia mencapai umur demikian." Verrena memejamkan mata, menyandarkan kepala ke sandaran kursi.
"Dengan informasi ini, kita tidak bisa bersantai-santai. Panggil aku nanti bila kalian mengadakan rapat. Dan aku akan memberikanmu peninggalan dari Regina. Mungkin di sana ada petunjuk terhadap apa yang harus kau lakukan... beberapa tahun ke depan."
"Peninggalan seperti apa?"
"Sekilas aku melihat buku jurnal harian. Dan surat wasiat. Aku tidak membacanya, karena kupikir itu adalah kewenanganmu."
Tidak terkejut dengan peninggalan apa yang barusaja dikatakan Herman padanya. Ia sudah menduga akan keberadaan benda itu, karena ia pernah memergoki Regina yang tersedu saat menulis sesuatu dalam buku yang ia pikir buku harian. Ia tidak mengingat kapan tepatnya ia melihatnya. Ia hanya mengingat saat itu bertepatan dengan kunjungan Lalana dan anaknya di kediaman Delocre.
"Baik."
"Kau sudah bertahan sejauh ini. Kau sungguh hebat. Tentu di surga Hans dan Lunar sangat bangga padamu."
"Terima kasih, Paman. Aku mencintaimu."
Verrena mendekatkan tubuh, memeluk sang paman erat. Sedang sang paman—Herman mengelus rambut ponakannya dengan lembut.
"Sampaikan salamku pada Bibi Jane."
"Tentu." Verrena melepaskan pelukannya. Menatap wajah pamannya sekilas, menyadari bahwa rambut putih semakin bertambah di kepalanya.
"Ia sangat merindukanmu."
Mendengar hal itu membuatnya tersenyum getir.
"Aku ... kita semua akan berusaha agar semua ini selesai dengan cepat. Agar aku bisa bebas bertemu dengannya."
"Tentu." Herman mengangguk, meyakini harapan Verrena bukanlah sekadar harapan.
"Aku pamit. Aku harus menemui orang yang hendak konsultasi kasusnya padaku."
"Mau kuantar?" tawar sang paman.
"Tidak perlu. Tempatnya cukup dekat, aku bisa jalan kaki." Verrena membuka pintu mobil, keluar dengan melambaikan tangan. Herman mulai mengemudikan mobilnya, membalas lambaian Verrena sampai perempuan itu hilang dari pandangan.