Sepanjang perjalanan ia mengejar taksi itu, ia berhenti dengan kehilangan kata-kata. Taksi di depan menurunkan seorang perempuan bermantel cokelat muda di depan sebuah klub besar, dengan papan "STAY Bar & Club" berkelip-kelip di atas bangunan. Ditambah perempuan itu dikawal oleh orang-orang bertubuh tinggi besar, Gussion mengernyitkan dahi. Namun, tidak ingin berlarut dalam rasa penasaran, ia majukan mobilnya ke basemen tempat parkir. Keluar dari sana dengan tergesa-gesa hingga sampai di depan pintu, ia dicegat beberapa penjaga.
"Orang baru. Apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya dengan mencegah Gussion masuk dengan membentangkan tangan di depan pintu.
"Aku mencari seseorang. Biarkan aku masuk."
"Mana kartu anggotamu? Tidak sembarang orang bisa masuk ke sini." Seseorang dengan kepala nyaris botak menghadangnya dengan wajah sangar, nyaris seperti hendak memakan siapapun yang berurusan dengannya.
"Persetan dengan kartu anggota. Biarkan aku masuk!" Dengan nekat ia hendak menerobos pintu, dan pukulan keras melayang di wajah Gussion, cukup membuat ia terbanting di lantai. Denyut nyeri di pipi kirinya benar-benar terasa menyakitkan. Dan dirasakannya air liurnya terasa asin karena bercampur darah yang juga mengalir di sudut bibirnya. Sial, Gussion mengumpat dalam hati.
"Apa yang terjadi?" Suara lembut seorang wanita mengalihkan atensi penjaga dan Gussion sendiri yang masih meringis karena sakit. Kedua penjaga menyingkir saat melihat wanita itu, menepuk-nepukkan kedua tangannya yang sehabis menonjok Gussion. Ia memperhatikan kedua mata perempuan itu sungguh lentik, berlapis lensa kontak warna merah muda. Badan semampai, rambut hitam lurus tergerai dengan tatapan mata tajam balik menatapnya. Bibir sensual yang terpoles lipstik plum tergores senyum untuk Gussion.
"Oh, anak muda yang bersemangat. Ada yang bisa kulakukan untukmu?" Ia bertanya dengan lemah lembut, berjongkok menatap Gussion yang melihatnya penuh selidik. Ketika Gussion bergerak, penjaga-penjaga itu hampir saja hendak menghajarnya lagi apabila perempuan itu tidak mengangkat sebelah tangannya agar penjaga tetap diam.
"Ikut denganku, Sayang. Barangkali ada hal penting yang ingin kau tanyakan." Seakan mengerti apa maksud kedatangan Gussion, ia menawarkan bantuan dengan penuh kelembutan. Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Gussion mengikutinya dari belakang untuk masuk ke dalam klub.
***
Lantai dasar. Telinganya diuji dengan musik memekakkan telinga, dengan pemandangan yang sungguh brutal. Penari striptis yang mengibar-ngibarkan branya, pasangan bermesraan dengan liar di atas sofa, dan transaksi perjudian hanyalah hal biasa di sana. Dalam hati, ia mencatat tempat itu sebagai tempat yang harus dimusnahkan.
Menaiki anak tangga, ia berada di lantai dua. Keadaan cukup tenang, lantai dua diisi dengan meja bar lurus yang cukup besar. Kebanyakan di sana adalah wajah-wajah pejabat dan eksekutif yang menginginkan minuman atau berbagi cerita dengan teman. Di balik meja bar, beberapa bartender berwajah tenang meracik minuman untuk pengunjung, terkadang mengobrol dengan nada sopan.
Langkah Gussion berhenti ketika perempuan itu berada di depan sebuah pintu berwarna cokelat tua, berukiran hati yang cukup besar. Ia masuk ke ruangan itu, disusul Gussion yang kemudian menutup pintu.
Perempuan itu duduk di balik meja, membiarkan si lelaki yang menggiringinya menyapu sekeliling. Di dinding, tertempel puluhan foto perempuan dalam bingkai. Lamat-lamat ia memperhatikan ruangan hingga ia mendengar, "Sudah puas melihat-lihat?"
"Ah," ia menarik kursi untuk duduk di depan meja, kemudian berkata, "Aku mencari seseorang."
"Aku mengerti. Maksudmu, mencari teman, bukan?" tanyanya dengan mata menyipit karena senyumnya.
"Ya, bisa dikatakan demikian." Gussion sendiri tidak mengerti kata "teman" yang dimaksud perempuan itu sampai ia mengeluarkan buku besar, seperti album.
"Sebelumnya, panggil saja aku Alicia. Dan di dalam sini adalah anak-anakku."
Gussion menaikkan sebelah alisnya ketika Alicia membuka album itu. Berisi biodata dan foto-foto yang isinya perempuan muda dan cantik.
"Kuharap kau ke sini tidak hanya sekali, Tampan. Biar aku buatkan kartu anggota."
"Tidak, kupikir tidak perlu."
Mendengar pernyataan itu membuat Alicia terkikik.
"Kau akan menyesalinya. Anak-anakku tidak akan membuatmu kecewa, yakinilah."
Ia menunjukkan album pada Gussion, membiarkannya melihat-lihat katalog wanita "jajanan" nya. Awalnya tidak ada yang membuatnya tertarik, sampai ia berhenti di halaman utama. Mendapati foto seorang perempuan dengan poni yang menutup mata kirinya dengan tahi lalat di bawah mata.
"Ini...."
"Inisialnya Dangerous Love. Aku tidak bisa mengatakan padamu nama aslinya. Dan sesuai namanya, dia benar-benar "berbahaya"."
"Maksudmu?"
"Dia tidak pernah mengecewakan pengunjung. Kau lihat garis tubuhnya? Sangat "legit" dan memuaskan. Juga sangat misterius. Ia tidak mau mengatakan padaku rahasia ia menjaga tubuhnya agar tetap seperti perawan. Begitupun pekerjaannya sebelumnya. Ia hanya berkata, bahwa dulu ia adalah bodyguard keluarga bangsawan."
Gussion memandangi foto itu sekali lagi. Ia merasa perempuan itu benar-benar tidak asing baginya, terlebih bentuk wajah demikian. Ditambah matanya yang ditutup poni.
"Apakah perempuan ini adalah perempuan yang datang dengan mantel cokelat?"
"Hmm? Perempuan mana?" Bertanya dengan nada lembut, sebelah alisnya menaik-respon dari ketidaktahuan pada perempuan yang dimaksudkan. Atau pura-pura tidak tahu.
"Lupakan saja." Namun, di sisi lain, Gussion takut bahwa dugaannya benar. Ia tidak akan mengampuni dirinya sendiri bila perempuan yang ia maksud bekerja sebagai penjual diri di tempat itu.
Beralih ke halaman sebelahnya, foto seorang perempuan terpejam, berpose dengan seni mengikat tubuh dengan tali merah. Memakai masker hitam dengan rambut kuncir hitam panjang. Ia mengernyit ketika didapatinya ada tanda silang di bawah foto itu.
"Ada tanda silang di fotonya."
"Ooh, Lady Higanbana. Dia sudah keluar dari sini karena dinikahi oleh pengunjung. Seorang eksekutif muda, kurasa. Cukup misterius dengan sering memakai masker juga. Bisa jadi keturunan shinobi. Dan sebelum Dangerous Love datang, Lady Higanbana yang terbaik di sini."
"Bagaimana bisa dia melakukannya?"
"Karena dia sangat disayang, lelaki itu harus membunuh penjaga agar bisa memilikinya. Tentu juga menebusnya padaku. Para penjaga tidak segan-segan untuk melakukan kekerasan pada siapapun yang berusaha membawa perempuan kami ke luar."
Mengadakan perjudian, prostitusi dan pembunuhan. Lengkap sudah. Divisinya harus tahu tempat ini.
"Tidak usah memasang wajah serius seperti itu. Dan tidak perlu berpikir untuk melaporkan kami ke polisi, tidak ada gunanya." Ia terkekeh dengan menutup mulutnya karena Gussion yang dahinya mengerut berlipat. Membalas dengan senyum kikuk, ia kembali berpikir untuk mengambil keputusan.
"Bagaimana? Kau tertarik padanya?" Ia menopang dagu sembari tersenyum hingga kedua matanya menyipit. Anak lelaki tampan nan sungguh polos, Alicia bergumam dalam hati ketika memandangi Gussion di depannya.
"Aku akan membawanya. Ikut bersamaku."
"O-oh, Sayang. Bukankah itu terlalu cepat?" Terkikik kecil, kemudian ia melanjutkan, "Kusarankan untuk mencobanya terlebih dahulu."
Tak ingin terlalu lama berbasa-basi, Gussion menjawab, "Kupikir sudah cukup. Berikan padaku rincian pembayarannya."
"Aku suka kamu, anak muda. Sangat bersemangat." Alicia menghidupkan layar komputer di sampingnya, mulai mengetikkan sesuatu.
"Baiklah, tinggalkan aku emailmu. Aku akan mengirimkannya untukmu," pinta Alicia dengan senyum lebar.