Verrena sangat merindukan malam kelamnya sebagai detektif swasta. Begadang semalaman untuk mengecek berkas laporan, memeriksa rekaman CCTV, mengunjungi klien yang meminta jasanya, ataupun merakit riffle seperti biasa. Sayangnya, tidak untuk hari ini. Ini adalah jadwalnya untuk bergelut dalam kemelut "neraka". Berbekal gaun marun tipis yang menyesakkan, stiletto silver mengkilap, ditambah rambut palsu andalan dan dandanan yang benar-benar mengubah wajah aslinya adalah senjatanya, seperti biasa.
"Hunny Bunny Rena-chan, ada yang mencarimu." Suara lembut yang dibuat-buat oleh Mommy Alicia, begitu ia dan teman-teman seprofesi menyebutnya, terdengar di auditorinya.
"Aku segera keluar," sahutnya dari dalam kamar. Ia menggumam dan berteriak sesekali, melatih suaranya hingga berbeda dari biasa. Dirasa yakin, ia pun membuka pintu. Memutar kunci hingga pintu tertutup kembali dengan benar. Berbekal tas tangan kecil, ia berjalan menuju tempat 'biasa', lantai atas bangunan yang ia pijaki.
***
"Verrena sayang." Alicia menepuk punggung telanjang Verrena dengan mengeraskan suaranya, karena hampir tersamar oleh riuh pengunjung dan musik yang terlampau nyaring.
"Di mana?"
"Tanpa basa basi, seperti Verrena-ku yang biasa. Dia di ruang VIP, temuilah." Alicia terkikik nakal, kemudian melanjutkan, "Mungkin malam ini menjadi malam yang panjang untukmu."
Verrena mengernyit tidak mengerti. Namun, tak ingin membuang waktu, ia mengarahkan kaki menuju tempat yang diberitahukan.
"Ah, satu lagi." Alicia menahannya, "Dia sangat tampan." Alicia pergi. Verrena hanya menggeleng kepala terheran-heran. Ia mengetahui bahwa bila ada pengunjung berparas tampan, Alicia sendiri yang menawarkan diri menemaninya. Namun, kali ini seakan Alicia memberikan "mangsanya" padanya dengan embel-embel 'dia mencarimu'. Ia memilih mengesampingkan kecurigaannya, dan tetap melanjutkan jalan di lorong beralas karpet beludru hingga ke sebuah pintu berukir tulisan VIP.
***
Verrena telah berada di depan pintu yang ia tuju. Mengetuknya tiga kali, menunggu respon dari dalam.
"Masuk saja, aku tahu kau di sana."
Hal itu tentu menambah kecurigaannya. Lalu, ia teringat dengan pisau lipat yang ada di tas, bersiaga bila sesuatu akan terjadi.
Mengesampingkan itu semua, Verrena membuka pintu pelan. Terlihat di pandangannya, seorang lelaki yang memunggungi di balik sofa, dengan pandangan lurus ke televisi yang menyala.
Menutup pintu pelan, ia menyimpulkan lelaki di depannya bukan orang biasa.
"Duduklah," ujar sang lelaki itu lagi. Verrena mendekati, kali ini benar-benar jelas. Seorang lelaki dengan kemeja biru gelap dan kaki menyilang. Rambut hitam ikal, sedikit menyentuh tengkuk. Saat ia menyentuh lehernya, sang lelaki berpaling menghadapnya, sedikit menjaga jarak. Mata Verrena menyipit. Pun dengan mata kiri yang ditutup eyepatch. Orang yang benar-benar baru, pikirnya.
"Aku Fraude. Temani saja aku di sini. Aku merasa kesepian," ujar lelaki itu dengan lemah. Pandangannya sayu, entah karena benar-benar merasa sepi atau karena berkaleng-kaleng bir yang ia minum.
Tepat setelah ia mengatakan hal itu, sang lelaki, Fraude menyandarkan kepalanya ke bahu Verrena. Tentu Verrena terhenyak, kaget karena baru kali ini ia mendapatkan pengunjung seperti itu. Ia terbiasa dengan gerayangan tangan pengunjung tiap kali menginginkan kehadirannya, dan kali ini adalah perlakuan yang asing. Namun, dengan bersikap profesional, pelan ia mengangkat tangan, mengelus kepala Fraude dengan lembut. Tanpa suara.
Lama mereka tenggelam dalam sunyi, Fraude mengangkat kepala. Mengambil sekaleng bir, membukanya. Menyerahkannya pada Verrena.
"Minumlah," tawarnya.
"Aku tidak haus." Verrena menolak dengan halus.
"Temani aku minum. Aku akan membayarmu dua kali lipat." Verrena membuang napas. Didekatkannya kaleng bir, ditenggaknya hingga terasa cairan itu membakar tenggorokan.
"Aku ke sini hanya ingin mencari teman minum," terang Fraude. Menenggak bir untuk yang kesekian kali, setelahnya.
"Maaf sebelumnya. Tetapi, di mana teman-temanmu? Kukira minum bisa dengan siapa saja." Dan sebagai perempuan dengan bayaran yang cukup mahal, tidak melakukan apa-apa di atasnya tentu semakin membuatnya curiga. Ia tidak biasa dengan hal itu.
Tetapi, mendengar hal itu membuat Fraude tertawa. Memandang Verrena, masih dengan kesayuan, ia menjawab, "Kau tidak berubah."
Hal itu tentu saja membuat Verrena mengerutkan kening.
"Maksudmu?"
"Ahaha, tidak, Nona cantik. Lupakan saja hal itu." Fraude memandangnya dengan senyum penuh misteri.
"Singkatnya, aku lelah dengan segala topeng palsu mereka. Aku ingin bersama seseorang yang menyadari dirinya apa adanya."
Verrena terdiam. Ia merasa tertusuk dengan perkataan sang lelaki di sampingnya, mengingat ia sendiri memakai topeng untuk mengaburkan dirinya yang sebenarnya. Menutupinya, Verrena hanya tersenyum. Meraih kaleng bir lagi, menenggaknya hingga tersisa setengah.
Tanpa diduga, Fraude merebahkan kepala tepat di atas paha wanita di sampingnya. Kedua mata Verrena membulat, tetapi ia tutupi dengan bersikap seperti biasa, memandang Fraude yang juga menatapnya.
"Apakah kau juga merasakan kesepian?"
Verrena menaikkan satu alisnya, terheran dengan pertanyaan yang tidak biasa membuatnya semakin meningkatkan kewaspadaan, namun tetap bersembunyi dalam topeng ketenangan.
"Kupikir... tidak. We talk about everything, then we do that as they want."
Verrena tersenyum semanis yang ia bisa, dengan hati yang memang tak bisa dibohongi—menjerit, menangis keras saat mengatakannya.
"Do you want some games, Babe?" rayunya dengan nada manja yang dibuat-buat, sambil membelai pelan wajah lelaki yang masih rebahan di pangkuan. Fraude memejamkan mata, mengambil napas pelan. Berusaha untuk tidak terpancing. Sekali saja ia lengah, bisa saja misinya terbengkalai.
"Tidak, terima kasih. Dan menurutku, kesepian tidak datang dari pikiran, melainkan dari perasaan.
Kembali, Verrena memasang senyuman termanis yang bisa dibuatnya. Menahan agar tetap profesional, menahan agar ia tidak menitikkan air mata.
"Kesepian, kau rasakan itu tepat di sini." Sang lelaki menyentuh bagian tengah tubuhnya yang menonjol. Sentuhan itu, sentuhan yang tidak biasa dalam hidupnya menjalani pekerjaan sebagai pramuria. Ada, dirasakan getaran aneh yang membuat debar jantungnya lebih cepat dari biasa.
"Kau benar." Ia mengiyakan perkataan Fraude, menggariskan senyum sembari meraih tangan yang menyentuh tubuhnya, membelainya lembut.
"Omong-omong, kau mirip dengan seseorang yang kukenal." Fraude melepaskan genggaman, menyingkirkan helai rambut Verrena yang menjuntai, menyampirkannya ke telinga.
"Gaya bicaramu, tubuhmu, benar-benar seperti seseorang yang kukenal." Fraude memejamkan mata, menghirup parfum mawar yang menempel di tubuh Verrena.
"Seseorang itu, wanita yang sangat kucintai. Dan aku kehilangannya."
Fraude menurunkan tangan. Menatap dalam kedua netra Verrena yang tak berubah, pikirnya Verrena agak lengah kali ini. Sama sekali tidak memakai lensa kontak untuk menutupi warna mata yang sebenarnya. Sedang Verrena hanya diam mendengarkan, dengan tangannya yang tidak lepas mengelus kepala lelaki yang merebahi pahanya pelan.
"Aku memilihmu, karena sejak awal, aku seperti melihat wanita yang kucintai itu ada pada dirimu."
Verrena tersenyum tipis. Ia merasa sudah cukup dengan dongeng yang ia dengarkan. Saatnya ia mengorek informasi yang berguna. Namun, kali ini ia merasa aneh. Perlahan matanya benar-benar terasa berat. Kantuk seakan menggelayut di kepala, memaksa untuk memejamkan mata.
"Kau... kau masukkan sesuatu dalam minuman...."