Nightfall 4: Confession

1050 Kata
Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Verrena terkulai lemah. Sigap Fraude bangun, merengkuh tubuh Verrena, menyandarkannya padanya. Dengan tangan kiri merogoh ponsel dari saku celana, menghubungi seseorang. "Andrew! Siapkan mobilku ke alamat yang akan kukirimkan. Kuncinya di atas mejaku. Aku sudah menemukannya!" Terdengar sahutan dari seberang. "Benarkah? Kau menemukannya?! Perlukah kukirimkan yang lain?! "Tidak, tidak perlu. Cukup mobilku saja!" "Kau sudah menemukan Verrena setelah empat tahun ini?! Astaga, aku tidak percaya ini!" Pekikan seorang perempuan dari seberang mengganggunya. "Felly, jangan berisik. Maafkan Felly, aku akan segera ke sana. Aku akan memberitahu bila sesuatu terjadi, oke? Aku akan membawakan mobilmu. Sepuluh menit." Panggilan terputus. Sigap Fraude menggendongnya ke depan jendela dengan tali tebal yang disiapkan, menjuntai hingga ke tanah. Bersusah payah mengikatkan tali ke tubuhnya dengan Verrena yang masih di gendongan. Setelah dirasa cukup kuat, ia menengok ke luar. Benar-benar sepi dengan lampu penerang jalan yang hampir kehilangan fungsinya. Tanpa ragu, ia keluar dengan mengulurkan tali sedikit demi sedikit menuruni bangunan sambil tetap mengawasi sekitar. Tangannya mulai memerah karena pegangan kuatnya pada tali. Ia merasa kebas, tak lagi dirasa tangannya yang mulai mengalirkan darah karena tekad yang begitu besar untuk membawa Verrena keluar dari tempat itu. Sedikit meringis karena akhirnya cukup perih dirasa. Uluran terakhir, dan ia sudah menginjak tanah. Bergegas dan memandangi sekitar jikalau ada kamera pengawas yang menangkap pergerakannya. Terlihat di kedua matanya, mobil hitam sudah terparkir di depan, dengan Andrew yang membukakan pintu samping kemudi. "Thanks, Andrew ." Fraude menutup pintu mobil. "Kau yakin itu dia?" Andrew menatap heran pada lelaki di depannya. "Nanti saja, ceritanya panjang." Fraude membuka pintu mobil untuk kursi kemudi, memasukinya dengan tergesa. "Kau berutang penjelasan, kalau begitu." Andrew menyambung pertanyaannya dengan pernyataan. Fraude menyalakan mobil, mengemudikannya dengan cepat. Andrew terdiam mematung, menggelengkan kepala terheran karena sikap rekannya ini. Ia mengecek ponsel sebentar, kemudian mengamati kiri-kanannya. Waspada selagi menunggu mobil susulan menjemput. *** Sepanjang jalan, sang lelaki yang membawa Verrena berharap ia bisa menerbangkan mobil dan mendarat di atas gedung apartemennya. Melihat mata Verrena yang menutup, dengan eyepatch putih di mata kiri membuatnya lega sekaligus kalut. Berkali-kali pandangannya teralihkan antara jalanan dan wajah sang wanita di sampingnya. Ia benar-benar kehilangan fokus kali ini. Untungnya, ia sudah terbiasa. Antara mengemudi dan mengejar penjahat, misalnya. Ia bisa memperkirakan kapan harus berhenti dan kapan harus melaju. Merasakan kepalanya yang gatal karena tidak terbiasa memakai rambut palsu, ia melepaskannya dengan kasar. Melemparkan ke bangku belakang, mencampakkannya begitu saja. Terlihatlah rambut pendek kecoklatan, yang digaruknya sekali lagi. "Rambut palsu macam apa itu?! Astaga! Kupikir kemarin aku tak memesan wig murahan." Ia menggerutu, tetapi tetap fokus ke jalanan. Hingga terdengar suara dari GPS mobilnya. "Sepuluh menit lagi menuju tempat tujuan anda. Tetaplah berhati-hati, Tuan Gussion." Fraude—nama samaran dari Gussion—ia mendengkus, menaikkan kecepatan mobil. Banting setir ke jalan kecil dengan penerangan minim. Ia tak lagi memperhatikan speedometer mobil dan kecepatan yang ia naikkan. Terus melaju, sesekali melihat perempuan di sampingnya yang terpejam. Jalan tikus mana lagi yang bisa ia lewati? Ia sudah kehilangan akal. Sengaja ia tak memasang lampu sirene darurat khusus polisi, karena merasa sudah tak sempat lagi dan menghindari perhatian. Hingga bangunan tinggi yang tak lagi asing baginya—apartemennya berada di depan mata, ia sedikit bernapas lega. Mobilnya seperti hendak terbang saat di gerbang bawah tanah yang melandai ke bawah. Ban mobil berdecit keras saat ia menghentikan laju kendaraan di tempat parkir. Gegas ia keluar, membuka pintu di mana Verrena duduk terkulai. Melepaskan sabuk pengaman, kembali menggendong sang wanita, cepat-cepat berlari hingga ia berada di depan pintu lift. Dipandanginya Verrena dalam gendongan, beralih ketika dentingan pintu lift yang terbuka mengusik pendengaran. Ia tak ingin membuang waktu. Ia masuk dan menekan angka tiga dan dua, lantai apartemennya. *** Benda pertama yang ia raih setelah merebahkan Verrena ke ranjang besar miliknya adalah sebotol penuh pembersih make up. Beserta kotak kapas, tentu saja. Ia baru teringat bahwa di wajahnya masih menempel sesuatu yang cukup mengganggu. "Argh." Ia mengerang, sedikit mengaduh karena melepaskan topeng karet yang menempel di wajahnya lumayan kuat. Bekas topeng itu dicampakkannya di tempat sampah. Beralih ke wanita yang terbujur di depannya, dengan hati-hati ia menduduki kasur. Pelan ia buka eyepatch yang menutup mata sebelah kiri. Meneteskan cairan pembersih make up, perlahan menyapunya ke wajah sang wanita. Dari ujung dahi, menuruni dagu. Berganti-ganti kapas hingga sapuan terakhir di bibirnya. Hal terakhir yang ia lakukan untuk membongkar topengnya, menyingkirkan rambut palsu yang menutupi kepalanya. Benar saja. Rambut palsu itu menutupi rambut merah burgundi yang panjangnya telah mencapai kaki. Ia sangat mengenal rambut itu. Rambut seorang perempuan yang duludan selalu mengisi seluruh semestanya. Gussion tidak dapat menahan rasa haru, sedih, bahagia yang beradu dalam hati. Tangan kanannya yang tremor, pelan menyentuh wajah seseorang yang sangat ia kenal. Yang bertahun-tahun dalam pencarian, kini telah berada di depannya. Yang bertahun-tahun ia rindukan, ia bayangkan setiap hari perempuan itu muncul di hadapan, datang dalam mimpi. Kini, bersama perempuan itu bukan lagi suatu hal yang ia khayalkan. "Verrena," panggilnya dengan terbata-bata. "A-aku...," kalimatnya terputus tepat dengan sebutir likuid bening mengaliri wajahnya, "Aku menemukanmu." Tubuh terkulai itu direngkuhnya, didekapnya hingga terasa aroma sampo dari pucuk kepala wanita itu. Aroma wanita itu tak berubah sejak dulu, wangi mawar dan mint yang menenangkan. Demi apapun juga, tak lagi dapat tergambarkan ekspresi dari wajah Gussion. Bahunya bergetar, menahan isakan. Bibirnya yang ikut gemetar digigitnya kuat. Segala rindu, sakit dan kehampaan hidupnya telah terbayar oleh sosok yang ia cari telah berada dalam peluk. "Maaf, maafkan aku, ma-af." Ia menyeka air mata, memejamkan mata setelahnya. "Karena aku sangat lamban empat tahun lalu," sambungnya. Diciumnya berkali-kali ubun-ubun sang wanita, dengan pelukan yang mengerat. Ia tak ingin kehilangannya untuk yang kedua kali. "Aku mencintaimu." Kalimat yang belum sempat terucapkan, tepat di hari di mana sebuah peristiwa besar terjadi, yang menyebabkan Verrena-nya menghilang, akhirnya terungkapkan sudah. Helai rambut burgundi yang menutup sebagian wajah halus Verrena ia sisipkan ke belakang telinga. Diamatinya pundak wanita di pangkuannya yang naik turun teratur—ia berharap yang ia lihat saat ini bukanlah ilusi. "Ugh." Verrena yang masih dalam tidurnya melenguh, entah karena apa. Gussion yang mengamatinya tersenyum tipis, menyadari bahwa ini benar-benar nyata. Pelan perempuan itu direbahkannya kembali, bersamaan tubuhnya juga yang dirasa benar-benar lelah. Dengan pandangan yang tidak mau lepas dari perempuan di depannya, ia mendekatkan diri. Kembali merengkuhnya dalam dekapan. Sungguh, ia tak ingin kehilangan orang yang dia sayangi, untuk yang kesekian kalinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN