Hal pertama yang Verrena sadari ketika kesadaran telah kembali padanya adalah mata yang terasa berat untuk terbuka dan napas terasa sesak. Indera peraba yang mulai merasakan hangat membuatnya mengernyit.
Kedua kelopak mata yang terasa berat itu kemudian terbuka perlahan. Hingga pandangan yang awalnya mengabur mulai jelas. Seorang lelaki dengan rambut cokelat yang tidak beraturan dan kedua bahu yang naik turun teratur. Kedua kelopak mata yang mengatup itu awalnya membuat Verrena kebingungan, terlebih karena mengumpulkan potongan-potongan memori sejak malam tadi. Ketika ia menjauhkan diri, rengkuhan dari sang lelaki itu menahannya.
"Jangan bergerak."
Dengan suara yang masih parau, Gussion meminta perempuan di sampingnya agar tak menjauh. Verrena yang kesadarannya mulai terkumpul melepaskan diri secara paksa.
"Le-lepas."
Ia berguling ke kiri hingga kedua kakinya mencapai lantai. Menemukan sebuah vas panjang di atas nakas, ia membenturkannya ke tepi meja dengan keras. Vas pecah yang malang itu digenggamnya, diacungkannya ke depan.
"Jangan mendekat atau aku melompat untuk menusukmu!"
Pandangannya yang belum sepenuhnya jelas ia paksa mengawasi seseorang di depannya.
"Tu-tunggu, Verrena. Ini aku, Gussion. Tolong singkirkan benda itu," pinta Gussion dengan raut khawatir. Ia tak melepaskan pandang antara wajah perempuan dengan rambut burgundi panjang itu dan tangannya yang memegang pecahan vas yang mulai berdarah.
"Gussion? Kau Gussion?" Ia mengerjapkan mata hingga mulai sempurnalah tangkapan matanya. Seorang laki-laki dengan tubuh yang ia rasa sedikit berubah—bahunya yang lebih bidang dan rambut yang dipotong rapi. Perlahan napasnya kian sesak, ketika ia sadar bahwa di depannya sekarang adalah seseorang yang paling ia hindari.
"Gu-Gussion." Tangan kanannya yang memegang pecahan vas melemah, hingga kaca tajam itu jatuh, hancur sesudah mengenai kaki telanjangnya. Perih karena tangan dan kakinya yang terluka tak lagi dirasa, ketika segenap perasaan yang berkecamuk di hatinya menguasai diri. Tanpa disadari ia mundur perlahan, dengan tatap kosong pada lelaki di depannya.
"Verrena, tanganmu, kakimu...."
"Jangan! Jangan mendekat!" Mata yang masih pada fokus yang sama itu kini berkaca-kaca. Bibirnya yang bergetar karena menahan tangis ia gigit sekuat yang ia bisa.
"Verrena!"
Gussion melakukan hal sebaliknya. Ia ingin merengkuh sang wanita, meski perlahan menjauh hingga tersandar di dinding.
"Jangan mendekat!"
Dengan kedua tangan, Verrena menutup wajahnya, dengan air mata mulai membanjiri pipi.
"Kubilang ja-ngan mende-kat," pintanya dengan isakan menyertai. Kepalanya terasa sangat pusing. Tenaganya seperti ditarik oleh lantai, seluruhnya.
Namun, Gussion tidak peduli. Ia bersimpuh menunduk, menatap Verrena dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Verrena."
Perempuan yang ia rasa kian ringkih itu dibawanya dalam pelukan. Verrena yang benar-benar merasa tidak berdaya untuk menghindar hanya bisa pasrah. Ia menangis lebih keras dalam dekap lelaki itu.
"Verrena, maaf."
Pucuk kepala perempuan itu dielusnya pelan, "Aku tidak ingin kehilanganmu lagi. Jadi, tolong jangan menjauh. Aku tidak sanggup melakukannya."
***
Simpul terakhir telah diselesaikan oleh Gussion pada kaki Verrena—ia membalut kakinya yang luka, setelah menyelesaikan bagian tangan, sedangkan yang diobati—Verrena, hanya diam menunduk. Ia merasa tidak sanggup menatap lelaki di depannya.
"Verrena."
Tangannya beralih ke wajah Verrena, dialihkannya agar saling berhadapan. Pelan air mata yang masih tersisa dihapusnya. Hatinya sungguh nyeri melihat mata seseorang yang ia cintai itu masih tergenang likuid bening. Ia membuang napas berat ketika Verrena masih dalam diamnya dan mengalihkan pandangan. Gussion mengamati bahu kecil Verrena yang kian kurus baginya.
"Setahuku Verrena-ku tidak seringkih ini."
Ia memberi penekanan pada ku-nya setelah nama wanita itu. Sang wanita, masih diam.
"Mengapa kau mencariku?"
"Mengapa katamu?"
"Aku, ... Aku merasa tidak pantas. Aku bukan aku yang dulu, kau tahu aku ..."
"Tidak, tidak. Aku tidak mau mendengar hal itu," sanggah Gussion dengan nada memohon.
"Aku hanyalah wanita malam yang kotor. Kau mengerti maksudku?"
"Tidak. Bukan itu yang ingin kudengar."
"Tetapi, itulah kenyataannya."
Gussion hanya membuang napas berat. Ia teringat ketika komplotan penjahat yang menyerang kediaman Delocre yang menyebabkan Harley menghilang diinterogasi oleh divisinya.
"Kau tahu? Tubuh perempuan itu ... ugh! Bibirnya yang sangat manis, gundukan badannya yang begitu sekal, dan oh! Dia masih sempit sekali, kau tahu maksudku?"
"Hentikan kau iblis!" Gussion menendang meja di depannya hingga penjahat itu terpental jatuh dari kursinya. Gussion mendekati, meninjunya berkali-kali sampai akhirnya orang-orang di sana mencegahnya.
"Kenapa? Kau marah? Apa kau pacarnya? Sayang sekali, aku duluan yang menikmatinya. Dan bila ku bertemu dengannya lagi, aku akan membayar berapapun untuk tubuhnya. Dia akan menjadi wanita jajaan yang berharga tinggi."
"Pergi saja kau ke neraka!" Gussion berteriak dengan memaksa berontak dari teman-temannya yang menahannya. Felly yang juga mendengarkan kesaksian tersangka itupun keluar dengan menutup mulutnya, menahan tangis. Tidak dapat membayangkan bagaimana keadaan sahabatnya itu.
Sejak interogasi itu, Gussion tidak bisa tidur. Ia mengurung diri dalam ruang rapat divisi dengan setumpuk berkas, foto-foto yang berhubungan dengan TKP dan hasil analisisnya. Setiap ada yang mengetuk pintu, ia balas dengan tendangan dan berteriak, "Tinggalkan aku sendiri!" hingga pagi berganti.
Sekelebat ingatan itu membuat Gussion meringis, antara kemarahan yang masih tersisa dan kepiluan hati karena orang yang dicintainya dinodai. Kelopak mata yang awalnya menutup itu terbuka, beralih pada seorang perempuan di depannya yang masih menunduk.
"Ada banyak hal yang ingin kutanyakan padamu. Tetapi, yang pertama. Mengapa kau harus bekerja di tempat itu?"
"Sudah kubilang. Aku adalah perempuan yang kotor. Tempatku seharusnya pun adalah tempat kotor itu." Gussion kehilangan kata-katanya, sementara. Ia menggeleng menepis pernyataan Verrena.
"Verrena yang kukenal bukan yang berpikiran seperti itu. Verrena adalah orang yang selalu bangkit dari segala masalahnya, Verrena yang sangat percaya diri, Verrena yang tidak pernah merendahkan dirinya sendiri. Kemana Verrena yang dulu?"
"Everyone change, so do i."
"Verrena ... argh! Aku harus berbuat apa agar kau seperti dulu?"
"Tidak ada. Tinggalkan saja sampah ini sendiri."
"Verrena." Ia menangkupkan kedua tangan pada wajah Verrena, yang menatap kosong padanya.
"Dengarkan aku. Aku, seorang Gussion de'Saint, tidak akan pernah meninggalkanmu. Aku akan mengembalikan dirimu seperti dulu. Aku akan membantumu, apapun yang kau perlukan."
"Kau mau membantuku? Baiklah, bantu aku untuk menjauh darimu."
"Bukan bantuan seperti itu. Aku tidak akan mengabulkan bantuan seperti itu," sanggah Gussion, hampir merasa putus asa dengan sikap Verrena yang datar.
"Lalu, aku sendiri yang akan pergi."
"Aku akan terus menemukanmu, kemudian. Kau tidak akan pernah lepas dariku."
"Gussion," Verrena masih menatap kosong padanya. "Mengapa kau sangat peduli padaku yang kotor ini?"
"Mengapa kau menanyakan itu? Tentu saja karena aku mencintaimu. Aku merindukanmu, hingga aku merasa aku akan gila karena kehilanganmu empat tahun ini. Empat tahun bukanlah waktu yang singkat, Rena."
"Kau mencintaiku?" Tatapan yang awalnya kosong itu beralih tajam, seakan menyelam mencari kebenaran yang terbias di mata Gussion.
"Gussion mencintaiku?"
"Harus dengan apa agar kau bisa percaya?"
"Untuk apa? Mengapa kau mencintai sampah ini? Ataukah kau hanya menginginkan...." Pernyataannya terputus karena tidak kuasa melanjutkannya, ia hanya bisa memeluk tubuh, mengambil sikap defensif.
"Tidak, bukan begitu maksudku."
"Orang-orang yang datang padaku pun mengatakan bahwa dia mencintaiku." Verrena mengungkapkannya, dengan menggigit bibir bagian dalam.
Miris, betapa setelah empat tahun berlalu cukup membuat antara mereka terasa aneh dan canggung. Empat tahun yang membuat Gussion tidak karuan dan Verrena yang masih merasakan kekurangan keberhargaan diri.
"Verrena, perasaanku benar-benar tulus. Tolong jangan samakan aku dengan orang-orang yang ... argh! Bagaimana bisa aku mengatakannya?! Astaga, aku merasa cemburuku semakin menjadi!" Gussion refleks berdiri, mengacak-acak rambutnya frustrasi.
"Dengarkan aku." Ia turun bersimpuh di depan Verrena yang masih menunduk. "Aku tidak akan membiarkan ada orang lain lagi yang menyentuhmu. Aku akan selalu melindungimu. Aku hanya untukmu saja, dan kau, hanya milikku. Aku ingin kau menjadi pendampingku, selamanya." Ia meraih kedua tangan Verrena. Menggenggamnya, menciumnya lembut.
"Aku tidak ingin kau menolakku," tambah Gussion dengan menatap lekat kedua mata si perempuan.
"Gussion."
"Ya?"
"Beri aku waktu." Untuk menyelesaikan semuanya, sambungnya dalam hati.
"Tentu, tetapi jangan terlalu lama."
Kemudian bibir sang puan yang hendak terbuka itu mengatup, ia kehabisan kata-kata untuk menyanggah. Kata-kata yang dikatakan lelaki di depannya terasa begitu cepat berlalu-lalang di kepalanya, mengusik pikiran. Ia berpikir, ia harus menenangkan diri untuk mencerna semuanya.
"A-anu bisakah aku meminjam kamar mandimu? Kurasa aku perlu mandi."