Ini adalah pagi yang sungguh tak terbayangkan oleh seorang Verrena. Bagaimana tidak, pagi ini ia hanya memakai selembar handuk setelah mandi di kamar mandi seseorang yang paling ia hindari. Dan kini, ia benar-benar kebingungan, lebih-lebih karena ia tidak menemukan Gussion di kamarnya.
Sejenak, ia berdiri di balik pintu. Mencerna perkataan Gussion untuk yang kesekian kali.
Apakah ia mengatakan sejujurnya?
Ia tidak mengatakan hal-hal itu hanya untuk menghiburku, kan?
Apakah ia benar-benar tulus?
Bagaimana bisa aku mempercayainya, setelah semua ini terjadi?
Verrena memejamkan mata, mengambil napas. Lalu, membuangnya pelan. Ia rasakan debar jantungnya tidak beraturan—terkesan lebih cepat dari biasa, saat ia meletakkan tangan ke gagang pintu.
Pantaskah aku berharap dari segala pernyataannya?
Memberanikan diri ke luar kamar, ia menoleh ke bagian kanan apartemen milik Gussion. Ia mendapati lelaki itu membelakangi, mengambil sesuatu dalam kulkas dua pintu. Ia terjebak antara rasa malu dan enggan untuk memanggil lelaki itu, hingga Gussion sendiri yang berbalik dan melihatnya mematung. Tubuh yang hanya ditutup dengan handuk itu membuatnya salah tingkah.
"Gu-Gussion, aku ... "
"Kau bisa meminjam bajuku di lemari. Pakai saja yang bisa dipakai. Maaf bila tidak ada baju perempuan." Seakan dapat membaca pikiran Verrena, ia mengucapkan hal itu dengan cepat. Ia berbalik menghadap kompor, membuka lemari bagian atas, padahal ia tidak berniat mengambil satu benda pun.
"Y-ya, terima kasih." Verrena berjalan untuk kembali ke kamar Gussion. Ia tidak mengerti mengapa ia bisa menjadi sangat malu. Padahal, ia sudah sering—bukan sering, malah sesuatu yang biasa bila hanya memakai handuk saja sehabis mandi di depan pelanggannya. Hanya di depan Gussion saja ia merasakan sedemikian.
Lain dengan Verrena yang kini membuka lemari dan memilih baju yang dapat ia kenakan, jauh beda dengan keadaan Gussion sekarang. Wajahnya yang masih memanas ia tutupi dengan tangan kanan. Damn, umpatnya dalam hati. Jantungnya pun masih berdetak keras. Melihat lekuk tubuh Verrena yang sangat menggoda—sebagai lelaki normal, tentu ia tidak bisa tidak terperangah, tersentuh insting purbanya sebagai makhluk yang bernafsu.
"Kendalikan dirimu, Gussion." Ia mengusap wajah, kemudian membuang napas, mengalihkan pikiran dengan kembali memeriksa kulkas—melihat bahan makanan apa saja yang bisa dibuat untuk sarapan mereka berdua.
Gussion bukan orang yang menyukai makan sendiri di kediamannya. Akibatnya, tidak banyak bahan makanan yang ada dalam kulkas. Ia hanya menemukan telur, saus blueberry yang dibawakan Giselle—kakak perempuannya ketika berkunjung dan krimer kotak. Di lemari atas, ia menemukan terigu dan gula. Dengan bahan yang terbatas itu ia memutuskan untuk membuat pancake untuk mereka berdua.
Kembali membuka lemari bagian atas, ia mengambil mangkuk ukuran sedang dan mikser mini, diletakkannya samping bahan makanan di atas meja. Ia menoleh ketika ia merasakan hawa kehadiran seseorang. Perempuan berambut violet panjang yang terlihat masih setengah kering—Verrena, memakai kemeja biru gelap miliknya dengan celana pendek yang terlalu besar, sehingga ketika dipakai melebihi lutut. Merasa risih karena lengan baju yang terlalu panjang, ia melipatnya hingga siku. Dan tidak sadar dengan Gussion yang terdiam karena memperhatikannya.
Ia baru mengetahui bahwa Gussion mengarahkan atensi padanya setelah mendongak. Ia memasang wajah keheranan karena lelaki ini terlihat bergeming.
"Gussion?"
"Ah, maaf," Gussion mengalihkan pandangan, "Kau terlihat lucu dengan memakai pakaianku."
Verrena menyembunyikan wajah yang memanas dengan membuang muka.
Mengerti bahwa Gussion yang agak kebingungan setelah melihat bahan makanan yang didapatkan, ia berbalik mendekati dan menawarkan bantuan—tepatnya perintah.
"Biar aku yang memasak. Kau tunggu saja."
"Tanganmu masih sakit, bukan? Aku tidak akan membiarkanmu."
"Tidak apa-apa. Lagipula, sudah kauobati. Tunggu saja di sana. Anggap ini balas budi karena kau telah menyelamatkanku," sanggahnya, dengan penuh penekanan saat menyebutkan menyelamatkanku. Gussion yang mendengarnya hanya tersenyum tipis.
"Baiklah. Tetapi, kalau ada apa-apa katakan saja, agar aku bisa membantumu."
"Lebih baik kau mengerjakan sesuatu yang lain. Mandi, mungkin?"
"Baiklah. Aku mandi dulu."
Verrena membalasnya dengan anggukan. Beralih pada bahan makanan di depannya yang terbatas, membuatnya terdiam sebentar. Ia akhirnya menyimpulkan bahwa Gussion bukan orang yang sering memasak. Tidak mengapa, ujarnya dalam hati.
"Telur, tepung, gula, krimer, saus blueberry. Ini masih kurang," gumamnya pelan. Ia beralih membuka lemari bagian atas, agak kesulitan karena badannya yang kurang tinggi. Namun, masih bisa ia lihat benda apa saja yang ada di dalamnya. Kotak mentega, botol kecil berisi garam dan wadah kecil yang sedikit menjorok ke dalam. Dengan berjinjit ia mencoba meraih wadah kecil itu, dan berhasil didapatkannya. Wadah kecil yang bertulisan soda kue. Ia membuang napas lega. Akhirnya sudah lengkap bahan yang setidaknya bisa layak makan, pikirnya. Beralih ke lemari yang lain. Ia menemukan piring dan suatu benda yang sedikit terlapis debu. Ketika ia berhasil mendapatkannya, ia mengernyit. Benda hitam yang dapat dibuka itu terdapat sekat-sekat kecil di dalamnya.
"Ah, wafflemaker." Ia bergumam dengan raut wajah senang. Membentangkan kabel colokan listrik, ia menyambungkannya ke stop kontak untuk memanaskan wafflemaker. Beralih dengan mangkuk sedang di depannya, ia menuangkan tepung. Mengambil mangkok kecil, dipecahkannya telur dan dituangkannya diikuti gula, krimer dan garam.
Terlalu larut dalam acara memasaknya yang sedikit sulit karena perban di tangan, ia dikejutkan dengan dentingan halus tanda wafflemaker yang sudah benar-benar panas. Bertepatan dengan adonan yang sudah siap masak. Dituangkannya adonan menjadi dua bagian, kemudian ditutup. Sisa bahan masakan ia kembalikan ke tempat asal. Mangkuk-mangkuk kotor ia bawa ke tempat mencuci piring, dicucinya tanpa ditunda. Selagi ia mencuci, ia tidak menyadari bahwa Gussion keluar dengan pakaian santai dan rambut yang masih basah dan ponsel di tangan. Menunggunya dengan duduk di meja makan.
Wafflemaker kembali berdenting, menandakan waffle telah matang. Ia membuka tutupnya, dengan dua sendok ia mengangkat waffle ke atas piring, hingga dua piring telah terisi dengan waffle hangat. Terakhir, ia menambahkan saus blueberry di atasnya. Tanpa menoleh, ia membawa piring berisi waffle, meletakkannya di atas meja dan berseru, "Harley, sarapan sudah siap."
Gussion yang awalnya fokus dengan ponsel beralih pada Verrena yang menutup mulut, terkejut dengan apa yang baru saja ia ucapkan.
"Verrena?"
"Maaf, aku lupa." Ia menunduk menarik kursi, memaksa untuk tersenyum karena bibirnya gemetar menahan tangis.
"Ayo makan," ajaknya tanpa melihat lelaki di depannya. Mengindahkan ajakan Verrena, Gussion masih menatapnya dengan rasa iba. Melepaskan ponsel ke atas meja, diraihnya tangan sang puan hingga ia menyalurkan hangat di jemari kurus itu.
"Hei." Terlebih ketika ia melihat orang di depannya menengadah agar air matanya tidak lagi menuruni pipi.
"Ah, aku tidak apa-apa. Ayo makan, nanti dingin," ajaknya kembali dengan senyum yang dipaksakan.
"Rena." Tangan yang digenggamnya dilepaskan dengan beralih mengusap wajah wanita di depannya.
"Terima kasih," jawab Verrena hampir tidak terdengar. Lelakinya hanya menggoreskan senyum tipis.
"Jangan menyimpan semuanya sendirian." Si perempuan mengangguk pelan. Tangannya sedikit gemetar untuk meraih pisau dan garpu, ia paksa untuk memotong makanan dan menyuapnya.
Mereka yang sama-sama larut dalam pikiran, memakan sarapan tanpa suara. Sedang notifikasi yang berkali-kali masuk ke ponsel Gussion sama sekali tak diindahkannya sampai mereka telah berada di suapan terakhir.
"Sebenarnya, ada yang ingin kutanyakan."
"Ya?"
"Jadi, kau membawa berkas kasusku, dan menyelidiki sendiri?"
Gussion mendengar pertanyaan itu terdiam sebentar, memilih kata-kata yang tepat untuk disampaikan.
"Um, yah, hanya itu yang bisa kulakukan, untuk menemukanmu."
"Izinkan aku melihatnya lagi," pinta Verrena dengan nada memohon. Ia ingin mengetahui lebih jauh apa yang sudah didapatkan lelaki di depannya. Barangkali ada suatu hal yang tidak ia ketahui ada di sana.
"Tentu."