Morning 5: Riddle

1296 Kata
"I-ini ... " Verrena kehilangan kata-kata ketika ia berhadapan dengan sebuah papan lebardengan foto-foto tempat kejadian di kediamannya bersama Harley dulu. Ditambah silsilah keluarganya, tak luput di sana, bahkan lebih lengkap dari yang ia tahu, yang notabene bagian dari keluarga Delocre sendiri. Dari sudut kiri, Felix dan Sharon Delocre. Bertanggung jawab untuk perusahaan turun temurun yang bergerak di bidang permesinan kapal & garmen, perkebunan dan distribusi senjata legal yang telah diakui pemerintah. Di bawahnya, Harry Delocre dan Regina Alvent, menikah dan memiliki anak bernama Harley Delocre. Harry menikah di umur 32 tahun. Memegang perusahaan permesinan kapal dan garmen. Perkebunan dipegang oleh Jane Delocre yang menikah dengan Herman, paman dari Verrena yang juga adik dari Hansayahnya. Jane Delocre menikah di umur 26 tahun, tidak memiliki anak. Dan distribusi persenjataan dipegang oleh Daniel Delocre yang menikah dengan Verra Mario Elxy (bukan keluarga bangsawan). Menikah di umur 21 tahun. Melahirkan Ronald Delocre setelah 6 bulan pernikahan. Verrena yang membaca kalimat terakhir itu mematung, dengan mata melebar. Kini ia mengetahui alasan mengapa Daniel bisa melangkahi kakaknya—Harry, menikah terlebih dahulu. Kehamilan di luar nikah adalah suatu hal yang memalukan di kalangan bangsawan. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana amarah Felix dan Sharon ketika mengetahui hal itu. "Jadi begitu." Verrena berkata lirih, menatap papan itu nanar. Beralih pada bagian-bagian perusahaan yang dipegang keluarga Delocre. Ia berpikir, mengapa Daniel yang paling muda justru diberikan usaha yang paling rentan dalam penyelundupan senjata ilegal? Ataukah memang itu kemauan Daniel? Memejamkan mata, kembali terlarut dalam pikiran dengan Gussion yang menatapnya tak berkedip, bertanya-tanya apa yang ada dalam diamnya seorang Verrena. Satu persatu misteri yang berserak dapat Verrena sambungkan, mengaitkannya dengan seluruh kejadian yang dialami. "Jenius yang merencanakan pemberontakan," simpulnya dalam satu kalimat dengan kelopak mata yang terbuka, kembali mengamati silsilah di depannya. Ia mengingat bahwa ia memiliki buku jurnal harian milik Regina yang belum ia buka. Ia harus mengetahui apa yang ada di dalamnya, nanti. "Apa kau menyadari sesuatu?" Pertanyaan lelaki di sampingnya, yang beberapa menit yang lalu tidak terasa karena ia yang terlalu sibuk dengan analisisnya cukup membuatnya tersadar. "Begitulah," jawabnya singkat. Dimulai dari kematian Sharon yang tidak wajarmati dengan serangan jantung ketika seminggu yang lalu dokter keluarga Delocre menyatakan Sharon sangat sehat meski sudah berumur lanjut. Kemudian, malam berdarah 1 Januari. Saat mereka berada di kebun belakang mansion untuk merayakan malam tahun baru. Di mana sekelompok perampok membantai hampir seluruh keluarga Delocre. Malam itu juga yang menyebabkan ayahnya—Hans, tewas saat melindungi Regina. Dan ia, mengambil riffle milik ayahnya, menembaki perampok yang menyerang. Yang tersisa hanyalah Harley yang masih balita, Regina, dan ia sendiri yang jatuh pingsan setelah shock dan kelelahan luar biasa saat membalas perbuatan rampok itu. Herman dan Jane selamat karena mereka yang terlambat datang. Daniel, Verra dan Ronald yang memang sudah lama tidak tinggal di sana tidak bisa dihubungi. Anehnya, meski kepolisian memvonis bahwa itu adalah perampokan dan menutup kasus, tidak ada satu benda berharga pun yang bergeser dari tempatnya. Lalu, hari di mana Lalana bersama anaknya datang berkunjung ke kediaman Delocre. Ia yang saat itu masih 12 tahun, menilik Regina yang berlinang air mata saat menulis sesuatu di sebuah buku yang baru ketahui adalah jurnal harian. Harley yang merengek pada Regina untuk memberikan kenangan pada anak Lalana—sebuah boneka kelinci merah muda menyusul Lalana yang sudah di bandara. Naas, di tengah perjalanan terjadi kecelakaan dengan Regina yang meninggal di tempat dan Harley yang saat itu kritis. Terakhir, kejadian penyerangan di rumahnya bersama Harley 9 tahun kemudian. Ia yang kehilangan "Mahkota"nya sebagai perempuan dan Harley yang menghilang menambah panjang daftar tragedi yang dialami keluarga Delocre. Sudah berkali-kali ia lolos dari maut dan kehilangan segalanya. Setelah semua yang terjadi, ia baru mengerti. Dan menyadari, ini bukanlah kejadian-kejadian biasa tanpa motif kuat di belakangnya. Ada dalang yang sedang memainkan pion-pion. Dan ia harus meringkus sang dalang. Sendirian, bersama rekannya, atau ia lebih baik mati daripada tidak melakukannya. Membuang napas panjang, ia beralih pada Gussion yang ia baru sadari, tidak bergerak dari tempatnyadi sampingnya. "Gussion, bisakah aku meminta bantuan?" *** Gussion hanya bisa mematung, terdiam dengan mulut hampir menganga melihat pemandangan di depannya yang sama sekali tidak terduga. Ia berada di tempat tinggal sementara—begitulah Verrena mengatakan padanya tujuan ia mengantarkannya. Dan tepat di sebuah ruangan yang ia taksir berukuran 5x7 meter. Dengan puluhan boneka silikon yang tinggi dan wajahnya sama persis dengan Verrena. "Ini ... apa-apaan?!" Verrena tidak membalasia hanya mengumpulkan boneka-boneka satu persatu ditumpuk di kardus besar yang dapat memuat tiga boneka. "Mereka penggantiku saat aku bekerja. Aku tidak Bodoh untuk memberikan tubuhku pada para ugly bastard itu," sahutnya, masih sibuk meluruskan tangan-tangan boneka. "Kau mau? Bawa saja," tambahnya. "Tidak, aku tidak mau," tolak Gussion dengan ngeri, terlebih ketika tidak sengaja melihat bagian pangkal paha satu boneka yang lubangnya melebar dan bagian labia sobek, ditambah mulut boneka dengan lidah terjulur dan bola mata mengarah ke atas. "K-kau suka mengoleksi ini atau bagaimana?" tanya kembali Gussion yang masih merasakan ngeri. "Sudah kubilang, mereka adalah penggantiku. Tiap 3 bulan sekali mereka harus diganti." Giliran boneka "mengenaskan" bagi Gussion itu yang diangkat, lalu ditumpuk dengan boneka lain. "Setelah 3 bulan mereka akan berbau busuk meski aku sudah membersihkannya. Dan saat ini semua sudah disterilkan." "Lalu, akan kau apakan semua ini?" "Karena itu aku perlu bantuanmu, membawa semua ini." Verrena mengambil lakban bening, cukup besar. Mencari-cari tepi lakban, menempelkannya dari ujung ke ujung kardus. "Membawa semua ini, ke mana?" Tanpa melirik lawan bicara, Verrena menjawab, "Ke pembuangan khusus." Gussion yang hendak mundur beberapa langkah tidak sengaja menjatuhkan keranjang berisi remote control kecil, dan jatuh ke lantai. Betapa kagetnya ia saat itu juga boneka yang masih di luar kardus berbunyi "beeep" kecil, lalu ... "Unnggghh! Akhhhhhh! Mpsshhh ughh! Uhhhhh! Ah sshhhh!" Gussion terduduk dengan memegangi tubuh atas sebelah kirinya, terbelalak karena terkejut dengan desah-desahan tiba-tiba dari boneka yang tidak sengaja hidup. "Shittt!" umpatnya dengan tergagap-gagap menekan tombol di remote control sembarangan. Verrena yang masih sibuk dengan kardus-kardus seakan tuli dengan yang terjadi di sekitarnya. "Ba-bagaimana mematikannya, sial!" Menekan tombol lagi—dengan asal-asalan, bukannya mematikan malah kembali terdengar erangan. "Ahhh he-hentikaan! Sshhhh Ja-jangan! Ahh sakit!" "Sial!" Gussion yang putus asa melemparkan remote control ke lantai, menutupi wajahnya yang ia rasa memanas dan bersemu merah. Verrena yang baru selesai dengan kardus di depannya mengernyit ketika mendengar sebuah bonekanya hidup. Tanpa menoleh pada Gussion yang terdampar pasrah ia meraih remote control, menekan tombol hitam kecil di bagian belakang remote dan desah-desahan itupun otomatis terhenti. "Ap-apa yang tadi barusan?" Gussion yang masih dalam "shock therapy" bertanya pada Verrena yang memandangnya datar sambil meletakkan remote kembali dalam keranjang. "Remotenya sangat sensitif," jawabnya yang kemudian beranjak berdiri meletakkan keranjang berisi remote itu dalam satu kardus yang masih terbuka. "Kau sudah dua lima, bukan? Mengapa bersikap seperti remaja baru puber? Tidak perlu malu dengan mereka." Ia melepas pakaian sebuah boneka yang tersisa hingga tak ada satupun kain menutupi, dan berkata "Pakai saja bila kau merasa tegang." "Tidak akan," sahut Gussion cepat, menolak tawaran Verrena yang ia pikir sangat mengerikan. "Oh, aku mengerti. Kau lebih suka boneka hidup." Perempuan pemilik boneka-boneka itu menggigit bibir bagian dalam. "Kau tampan, banyak perempuan yang mau memberikan dirinya padamu secara cuma-cuma." Ada sedikit tersirat kecemburuan di balik kalimat kecurigaan yang dilontarkannya. "Demi Tuhan, aku tidak pernah melakukan itu dengan wanita manapun, Rena. Dengan mantanku sekalipun!" Terlepas dari syoknya ia malah dibuat sakit kepala dengan kalimat bernada penuh selidik dari Verrena. Gussion tidak menyadari bahwa perempuan di depannya, yang memunggunginya dengan kardus di hadapan tersenyum tipis. Menepuk-nepuk kedua tangan untuk menghilangkan debu yang menempel di tangan, kemudian ia berbalik menghadap Gussion yang masih terduduk. "Kau bisa menyetir mobil pick-up? Aku tidak bisa menghubungi Si Bau Monyet untuk membantuku membawanya," pinta Verrena ikut bersimpuh di depan sang lelaki. "Um, ya? Siapa Si Bau Monyet?" "Claude." "Kau masih berhubungan dengannya?!" "Ceritanya panjang. Aku akan menjelaskannya di perjalanan."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN