Nightfall 5: More Than Just a Friend

1797 Kata
"Kau menyadari sesuatu?" Verrena yang awalnya larut dalam pikiran, dengan pandangan terpaku pada riak air yang tercipta dari tiupan angin berpaling pada Gussion yang berkata, tanpa memandangnya. "Apa?" "Rasanya," sorot mata kebiruan milik Gussion meredup ketika hendak melanjutkan kata-katanya, "Kita, hubungan kita begitu berbeda. Tidak kusangka, empat tahun cukup untuk mengubah semuanya." Awalnya Verrena menyangka itu hanyalah pernyataan nonsense sebagai pengusir sepi—kasarnya, basa-basi. Namun, ia kembali berpikir, hal itu benar adanya. Empat tahun benar-benar mengubah hampir seluruh hidupnya, hampir seluruh kepribadiannya. Ia menjadi terbiasa dengan sepi, terbiasa dengan tubuhnya—bibirnya, wajahnya yang disentuh dan dilumat habis oleh bandot-bandot tua sebelum ia bertukar dengan boneka pengganti. Terbiasa hidup dalam kesendirian, merenung, dan terkadang menangis sendiri di tiap malam sehabis melayani pengunjung. Mengusap air mata diam-diam, lalu beranjak berdiri kembali menantang takdir. Kemudian, bagaimana dengan hubungan mereka? Empat tahun pun cukup untuk mengubah bagaimana hubungan antara mereka berdua. Ketika empat tahun sanggup menyiksa Gussion dengan penyesalan dan perasaan bersalah. Ia terlambat menyadari, bahwa perempuan dengan mata cokelat yang kembali menatap kosong air danau itulah orang yang memang memenangkan hatinya. Dan ia yang jatuh dalam sesal karena tidak bisa melindungi Verrena di "Hari gelap" itu, dan kerinduan yang dirasakan sungguh berat tuk ditanggung. Kadang, di hari-hari pelik itu Verrena muncul dalam bunga tidur, dengan ia yang mengigau memanggil namanya. Hingga berakhir dengan usapan wajahnya yang dipenuhi butiran peluh dan rindu yang semakin menyesak, mendesak. Tidak jauh beda dengan yang Verrena rasakan. Perasaan yang bertahun-tahun ia pendam sendiri itu seakan tumbuh perlahan di satu sudut hatinya. Ia yang berusaha untuk selalu ada untuk seseorang yang ia panggil sahabatdulu, menenangkannya dikala bingung dan gundah. Mencoba tetap menggoreskan senyum manis—meski terasa begitu menyakitkan tiap Gussion menceritakan bagaimana hubungannya dengan sang mantan, sampai hari di mana ia mengetahui bahwa perempuan itu telah mengkhianati sahabatnya sendiri. Hingga hari di mana ia harus menghilangkan diri. Ada harga yang harus dibayar untuk mengungkap seluruh kejadian-kejadian yang menghancurkan kehidupannya. Ia harus berpisah dengan pekerjaannya sebagai detektif kepolisian, berpisah dengan rekan-rekannya. Dan berpisah dengan lelaki yang ia cintai dalam diam. Empat tahun yang membentuk mereka menjadi orang yang berbeda. Apakah dapat dikatakan, waktulah yang sebenarnya menyiksa mereka? Menghabisi mereka? Mereka masih berselimut dalam sunyi dan diam, masing-masing. Hingga Verrena perlahan mendekat pada lelaki di sampingnya sampai jarak antara mereka begitu minim. Tangannya yang bebas, ia beranikan untuk meraih tangan milik Gussion yang kini cukup terkejut dengan perlakuan Verrena yang tiba-tiba. "Tetap seperti ini dulu," pintanya, hampir tidak terdengar. Ia hanya ingin merasakan hangat telapak tangan seseorang yang dirinduinya setelah sekian lama. Gussion mengerti dengan apa yang perempuan ia cintai itu lakukan. Maka, ia mengeratkan genggaman tangannya, merasakan tangan halus milik Verrena yang ia pikir agak dinginmungkin juga karena angin yang cukup deras menerpa. "Kau kedinginan?" Gussion hendak melepaskan genggamannya untuk memakaikan jaket kulit yang dipakainya, tetapi Verrena menguatkan genggaman dan menolak, "Tidak. Biarkan seperti ini dulu." Lelaki itupun terdiam, dan memilih mengurungkan niat untuk memakaikan jaket pada Verrena. Dan mereka kembali membisu, dengan atensi dialihkan pada air danau yang mulai memantulkan cahaya matahari yang hampir tenggelam. Dan Gussion rasakan bahu kanannya sedikit memberat sebelum ia menghadap, pucuk kepala berhelaian violet menyandarinya. "Biarkan seperti ini." Lagi, permintaan yang bernada lirih kembali terdengar dari bibir seorang Verrena. Menyamankan diri, mencoba meluruhkan rindu dan sesak yang dirasakan dengan menyandari lelaki itu. Tidak ada sahutan. Diamnya Gussion kali ini adalah tindakannya yang menyetujui apa yang dikehendaki Verrena. Dan lagi, hanya sunyi yang menjadi entitas ketiga di antara mereka. Hanya dalam diam, seakan mereka dapat mengerti apa yang dirasakan satu sama lain. *** Hari sudah menggelap ketika mereka yang baru saja mencapai kawasan kediaman sementara Verrena berhenti di mulut gang. "Bisakah aku meminta bantuanmu, lagi?" Gussion menaikkan sebelah alisnya, antara bingung dan bertanya-tanya. "Kau lihat mobil itu? Sepertinya mereka sudah mengetahui tempat tinggalku. Aku belum mencari tempat tinggal yang baru. Jadi, bisakah aku menginap di tempatmu malam ini?" Dan Gussion memperhatikan orang-orang berpakaian hitam keluar dari mobil yang ditunjuk Verrena, memang sangat mencurigakan terlebih ketika mereka mencoba mendobrak paksa pintu rumah itu. "Ya. Kita harus secepatnya pergi dari sini." Cepat Gussion mengatur gigi mundur, membanting setir menjauh dari kediaman Verrena. Ia tidak bisa lengah kali ini. Meski ia tidak mengetahui siapa yang mengincar perempuan di sampingnya, ia pikir ia tidak perlu bertanya. Sudah pasti mereka suruhan dari geng Dark Shadow—seperti hasil analisis yang ia dapatkan, atau singkatnya orang-orang dari Ronald Delocre. Menghadapi mereka sama saja dengan bunuh diri karena hal itu akan mencolok sekaligus mereka akan tahu di mana Verrena berada. Ditambah mereka berdua sama sekali tidak membawa senjata, konfrontasi harus dihindari untuk saat ini. *** Verrena mengaktifkan pengetikan suara dari ponselnya. Pelan saja ia menggumamkan hasil analisis dari berkas kasus yang dialami keluarganya dari yang didapatkan Gussion di arsip kepolisian. "Kasus malam 1 Januari, terjadi perampokan oleh kelompok bersenjata di halaman belakang mansion Delocre. Ada 5 korban jiwa, dan 3 orang selamat." Verrena berhenti sebentar. Sekuatnya ia menahan air mata yang jatuh, ia menggigit bibir bawah dalam. Namun, tetap saja air mata turun terlolosi, ia menutup mulut agar tak terdengar isakannya. "Damn." Ia menyumpah lirih, sejenak ia matikan pengetikan suara karena ulu hatinya semakin sesak saja. Ia mencoba lebih tenang, melirik pada Gussion yang tidur di atas sofa. Mengusap wajahnya, ia tidak bisa melanjutkan membaca karena kini yang ia pegang adalah kasus hilangnya ia dan Harley. Ia tidak sanggup mengulang kejadian itu dalam teks. Ia memutuskan untuk meneruskan kasus yang lain. "Dari rekaman CCTV di jalan menuju bandara, sebuah truk tangki tergelincir karena licinnya jalanan dan menabrak mobil. Salju menebal di kiri-kanan jalan. Minyak tumpah sangat banyak dan truk itu meledak, api menjalar ke mobil cukup lambat karena mobil terpelanting jauh sekitar 10 meter. Sebelumnya Harley berhasil dievakuasi, tidak lama setelah hendak mengangkut Regina, mobil meledak dan terbakar. Tak ada yang bisa menyelamatkan Regina. Begitupun dengan sopir truk yang tak diketahui identitasnya, meninggal di tempat. Kasus ini berakibat 2 orang meregang nyawa, ditutup dan dilabeli kecelakaan." Verrena mengurut dahinya frustrasi, ia menengadah, menahan agar air mata tak turun lagi karena teringat bagaimana ia mendapat kabar dari sang paman—Herman yang menyatakan Regina meninggal dunia di perjalanan dan Harley kritis. Selesai dengan ketikannya, ia menyimpan di pengolah kata di ponsel dan mengirim ke laptop Gussion di depannya. Kemudian, ia menghidupkan printer dan mencetak dokumen yang ia simpan tadi, dimasukkan ke map berkas. Ketika mengalihkan pandangan pada benda persegi yang ia pikir sebuah jam dinding—karena desainnya tidak menggunakan angka sama sekali dan hanya memakai garis-garis kecil, jarum jam pendek telah menunjuk garis kedua dan jarum panjang menunjuk garis keempat—jam 1 malam lewat 20 menit, ia simpulkan. Berbalik, mendapati Gussion yang masih tertidur pulas dengan melipat tangan di hadapan. Ia membuang napas berat, tak disadarinya segaris senyum terlukis di wajah. Seluruh pekerjaannya menganalisis hasil penelitian Gussion mengenai kasus-kasus yang menimpa keluarganya ia lepaskan, disusunnya rapi. Lalu, dimasukkannya ke sebuah tas besar. Ia beralih dari meja yang sudah bersih, beranjak ke tempat Gussion yang tertidur. Ia bersimpuh, mengamati lamat-lamat wajah lelaki di depannya. Ia pikir, bisa saja ini adalah hari terakhir ia melihat wajah lelaki itu. Tanpa Gussion ketahui, ia harus pergi lagi. Perlahan, tangannya terjulur menyentuh rahang milik lelaki yang ia cintai. Kembali tersenyum ketika pelan ia beralih membelai helai rambutnya. Gussion yang menyadari ada sentuhan-sentuhan halus pada dirinya membuka sebelah matanya. Membuat Verrena sedikit terkejut, tetapi kembali tersenyum untuk menutupi keterkejutannya. "Tidurlah di ranjang. Badanmu akan sakit bila tidur di sini," sarannya dengan penuh kelembutan. Gussion bangkit, mengusap wajahnya sekali. "Kau saja. Jangan khawatirkan aku." "Temani aku," pinta Verrena tanpa lepas dari mata sewarna safir milik Gussion yang sedikit melebar karena permintaannya. "Aku percaya kau tidak akan melakukan apa-apa," tambah Verrena, masih menatap lelaki di depannya. Tanpa bersuara, Gussion beranjak dari sofa, diikuti Verrena di belakang. Dan pelan, mereka merebahi ranjang bersama. Gussion yang antara sadar dan tidak sadar langsung memejamkan mata saat merebahkan diri. "Gussion," panggil perempuan itu, masih dengan kelembutan nada yang sama seperti tadi. "Bisakah saat ini, kau memelukku dengan perasaan lebih dari sekadar teman?" Sekonyong-konyong matanya terbuka ketika mendengar permintaan Verrena yang tiba-tiba. Hanya terkejut dengan suaranya, tidak terkejut dengan kemauan Verrena padanya. Maka, Gussion mengangguk. Mendekatkan tubuh, mendekap sang wanita sampai wangi rambut burgundi panjang itu dapat dihidunya. "Kau sudah tahu jawabannya. Sejak saat itu, aku tidak bisa menganggapmu sebagai teman, ataupun sahabat biasa," jawabnya dengan suara parau. Hening sebentar, lalu ia melanjutkan, "Karena aku menyadari, aku memang mencintaimu." Ia mengeratkan pelukannya pada sang puan. "Aku tahu itu." Hanya tiga kata itu membuat si lelaki tersenyum dengan mata terpejam, menyandarkan dagunya pada kepala Verrena. Ia ingin berada dalam keadaan seperti itu, selamanya. Harapnya. *** Bisakah kau menungguku, barang sebentar lagi? Ada suatu hal yang ingin kuselesaikan. Tidak mengapa bila kau ingin berpaling, dengan seseorang yang lain. Namun, yang pasti. Aku—seluruh hatiku, akan kujaga untukmu, hingga saat itu tiba. Saat aku sudah terbebas dari segala yang membelenggu, terbebas dari segala kekhawatiranku. Baik-baik di sana. Verrena Kedua mata milik Gussion seakan tak ingin lepas dari memo di tangan. Memo itu dapat dikatakan sebagai penjawab segala kegelisahan akan Verrena yang terlalu misterius dengan tindakannya. Dan jawaban atas hilangnya Verrena secara tiba-tiba, tepat ketika ia terbangun. Pandangannya teralih ketika angin kuat seakan menampar wajah, dari jendela yang terbuka. Tirai mengembang yang tergantung di jendela membuat ia mendekati dan menutupnya. Dari luar, terlihat langit kelam dengan kilat yang selayak pilar-pilar langit. Gussion memilih untuk tidak peduli, lebih-lebih dengan rerintik yang membentuk titik-titik air di kaca jendela. Dalam pikirannya, lebih dari sekedar hujan dengan badai petir. Kali ini, ia benar-benar menyadari. Apa yang ia rasa dapat diatasi dengan mudah, tidak selalu demikian. Seperti mengisi teka teki silang, yang kau rasa jawabannya benar dan dipaksakan akan menghancurkan susunan kata yang lain bila dibiarkan berlarut-larut. Kau harus kembali menghapus bagian yang salah, tak peduli selelah apapun usahamu untuk menghilangkannya. Ia beranjak dari ranjang untuk ke kamar mandi, membersihkan diri. Tidak lama karena hanya ingin mencuci muka dan menyikat gigi. Hari ini jadwal rapat divisi dimajukan di jam 5 pagi—terkutuklah si pembuat jadwal ketika ia mengetahui itu dari Andrew , sehingga ia pikir mandi akan membuang waktu. Lepas dari kamar mandi, ia memungut memo dari Verrena yang terbalik. Betapa terkejutnya ia ketika melihat apa yang tertulis di balik memo itu. Dermaga Sun Bay, 04.30. Ia berpaling ke jam dinding yang sudah menunjukkan jam 3 lebih 55 menit. Gussion mengumpat pelan, cepat menyambar kunci mobil di atas nakas, keluar apartemen dan menutup pintu. Bergegas menuju lift, ia menghitung waktu perjalanannya menuju dermaga yang harusnya 1 jam harus dipangkas secepat yang ia bisa. Ia tidak bisa melewatkan kepergian Verrena kali ini. Memasuki lift yang terbuka, menekan tombol menuju lantai dasar. Memejamkan mata, berharap terlepas dari semua yang telah dilalui. Di masa depan nanti, ia ingin menapak hidup bersama sang wanita—Verrena, apapun yang terjadi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN