Berbeda dengan hujan deras yang ia lewati dari sekitar apartemennya, wiper mobilnya hanya sedikit menyapu kaca ketika ia berada di depan gerbang dermaga. Hanya rerintik kecil yang menjatuhi diri saat ia bergegas keluar mobil setelah menekan tombol kunci. Fajar masih belum terlihat ketika ia mencapai dermaga, berlari sesuai jalur untuk mencapai bagian tepi tempat berlabuhnya kapal.
Gussion sedikit kesulitan karena ia pikir, ujung jalan yang ia tuju merupakan tempat labuhnya kapal. Yang memang tidak ada satupun kapal yang tertambat di sana. Ia mengacak rambut dengan memejamkan mata, berpikir mungkin saja ia melewatkan sesuatu.
Kedua mata kebiruan itu kembali terbuka, melihat sekeliling. Sekelebat ia menangkap seseorang berpakaian hitam-hitam di bagian tepi sebelah kiri dari tempatnya berdiri. Merasa yakin dengan yang ia lihat, segera ia berlari mendekati tempat itu. Sedikit kesulitan karena sebuah lampu yang harusnya menerangi jalan tidak berfungsi.
Dan benar saja. Sebuah kapal tidak terlalu kecil, tidak juga terlalu besar tertambat di antara kapal-kapal besar pengangkut kontainer. Langkah Gussion terhenti ketika ia ketahui, seseorang berpakaian hitam-hitam itu memakai topi fedora yang sedikit menampakkan helai-helai rambut violet.
"Verrena?!" Ia berjalan cepat mendekat pada seseorang yang akhirnya berhenti, membalikkan badan. Menghadapnya. Di wajahnya, tersirat keterkejutan dan kelegaan saat melihat lelaki itu akhirnya benar-benar menyusulnya.
"Kau benar-benar datang," ujarnya dengan masih terperangah. Tubuhnya sedikit menggigil karena angin dingin disertai hujan, dan menahan tangis.
"Tidak bisakah kau ... bertahan sedikit lebih lama?"
"Maaf," Verrena mengambil napas panjang, berusaha menyusun kata-kata tanpa menggugurkan air mata yang telah membentuk selaput bening di matanya, "Seperti yang kutuliskan di memo. Ada suatu hal yang belum terselesaikan."
"Kita bisa melaluinya bersama, bukan? Mengapa ... " Gussion mengurut kedua matanya, kemudian melanjutkan, "Kau harus meninggalkanku lagi?"
"Maafkan aku. Tetapi, ini bukan hal yang bisa kita selesaikan bersama. Tetaplah bersama Divisi 1, mereka lebih membutuhkanmu." Ia hanya bisa menunduk ketika menjawabnya, tidak berani untuk menatap lelaki di depannya. Menggigit bibir bawah, terasa sesak di ulu hatinya saat mengatakan hal itu.
"Berapa lama lagi aku harus menunggumu, Rena?" Lidahnya kelu saat menanyakan pertanyaan yang tersirat: berapa lama lagi ia harus menumpuk segala rindu yang belum luruh sepenuhnya itu?
"Dua tahun, mungkin?"
"Terlalu lama." Ia meraih tangan Verrena yang terasa begitu dingin di genggamannya. "Kurangi lagi," pintanya dengan nada gemetar.
"Setahun?"
Gussion memejamkan mata, merasakan rerintik hujan mulai membesarkan volumenya, menghujam tubuh. Lama ia terdiam, hingga terdengar suara dari kapal yang mengharuskan untuk berlayar saat itu juga.
"Baiklah." Ia melepaskan tangan sang wanita yang ia cintai. Pergi meninggalkannya. Untuk yang kedua kali.
Hujan semakin menderas dengan Verrena yang mempercepat langkahnya yang tanpa ia sadari, sang lelaki mengejarnya, meraih tangannya sampai ia harus berhenti.
"Tunggu," pinta Gussion yang kali ini Verrena memberanikan diri untuk menatapnya, mendapati bibir lelaki itu telah membiru karena kedinginan.
"Tutup matamu." Sedikit mengeraskan suara Gussion lakukan agar Verrena bisa mendengarnya. Si perempuan tidak mengerti apa tujuan lelaki itu memintanya. Namun, akhirnya ia turuti saja.
Perlahan, mata sewarna karamel itu ia tutup dengan air hujan turut menuruni kelopak mata. Dan ia tidak menyangka apa yang akan dilakukan lelaki itu padanya, sampai ia rasakan sentuhan lembut tangan kokoh Gussion di rahang, membuat wajahnya sedikit tertengadah. Bersamaan topi yang dikenakan sedikit terangkat.
Dan lebih-lebih ia tidak menyangka. Ketika ia rasakan bibirnya yang gemetar, bertemu bibir milik seorang lelaki di depannya. Dipagut dengan begitu pelan, seakan wanita di hadapannya adalah benda rapuh yang mudah hancur ketika sedikit saja ia tidak berhati-hati.
Dan wanita itu rasakan kedua kakinya melemas, tepat setelah ia rasakan di pipinya mengalir air mata lelaki yang belum juga melepaskan bibirnya darinya. Napasnya menjadi kian sesak—antara belum mengambil udara dan rasa ketidakrelaan akan meninggalkan lelaki itu lagi. Akhirnya, ia sadari setetes air mata pun ikut menuruni pipinya, tersamar dengan dinginnya hujan.
Hujan yang semakin lebat, seakan tak lagi dirasakan oleh dua insan yang akan melakukan perpisahan. Entah perpisahan yang sementara, atau perpisahan untuk selamanya. Mereka sama-sama tidak tahu, ke mana takdir akan membawa mereka. Dan bagaimana waktu akan mempertemukan mereka, bila memang takdirnya adalah kembali bertemu.
Mungkinkah kali ini, takdir akan berpihak pada rindu-rindu yang kembali berserak di hati mereka?
***
"Ver."
Kapal yang ia tumpangi telah bertolak dari pelabuhan, ketika ia tidak dapat menahan matanya yang kembali berkaca-kaca, duduk di samping Claude yang melihat laut lepas.
"Kau menangis?"
Ketika Verrena mendongak, ia melihat Claude pun matanya memerah berselaput bening air mata.
"Kau ... ada apa?"
"Miranda," diambilnya napas berat, kemudian melanjutkan, "Dia telah gugur dalam misi."
"Bagaimana bisa?!"
"Identitasnya ketahuan. Dan mereka, menyiksanya dengan menggunakan Leo. Mereka meracuni Leo sampai ia agresif dan menyerang Miranda."
"Ronald sialan!"
Tangan Verrena mengepal kuat, sorot matanya yang menahan air mata itupun berkilat penuh kemarahan.
"Aku menyesal telah menolak perasaannya padaku, Ver. Harusnya ia merasakan bagaimana rasanya dicintai sebelum ia meninggal," jujur Claude sambil mengusap air matanya yang kembali berjatuhan.
Tidak bersuara, Claude memeluk Verrena dengan mereka berdua tersedu bersama. Meratapi bagaimana mereka yang menghadapi kesedihan dan penyesalan karena meninggalkan dan ditinggalkan orang yang mencintainya.
Dari depan, Roger yang melihat di spion atas kapal hanya membisu. Mengingat mereka berdua yang sering berselisih paham, berdebat dan tidak akur saat bersama. Melihat hal yang seperti ini, ia mengerti bahwa dalam interaksi antar manusia, tidak harus semuanya terisi kebencian.
***
Matahari memang sudah beranjak naik dengan cahayanya yang memantul di gelombang, selayak menimbulkan kilap-kilap kecil. Roger yang hendak mematikan lampu, berbalik mendapati Claude dan Verrena yang tertidur, saling menautkan tangan dan menyandarkan kepala. Ia menahan tawa melihat mereka berdua karena bermata sembab seperti dua saudara kembar yang kelelahan habis berkelahi. Di matanya, mereka berdua tetaplah seperti anak-anak meski beraga dewasa.
"Hei, kalian. Sebentar lagi kita merapat, bersiaplah."
Perlahan Claude mendongak, disusul Verrena yang membuka mata perlahan, mendapati tangannya berdua saling bertaut. Matanya terbelalak, lekas-lekas ia lepas tangannya.
"Apa-apaan kau!"
"Hei, aku juga tidak tahu kenapa kita bisa berpegangan!" balas Claude tak kalah sengit. Verrena menyipit dengan Claude membalas menatap tajam.
"Ck, sudahlah. Roger, aku ikut denganmu. Aku tidak mau dekat dengan bau monyet."
"Kau bau mesiu!"
"Hei, hei, cepatlah." Roger memijit kepalanya, kalau sudah begini ia jadi pusing untuk mengakurkan kedua rekannya itu.
Mereka bertiga, ditambah nahkoda kapal telah naik ke dermaga ketika Coco, monyet Claude dikeluarkan dari kandang, ia melompat terlalu jauh sampai ke belakang Verrena.
"Coco, sini. Jangan dekat-dekat dengan Si Bitchy itu!"
"Heh pencuri!" Verrena membalas dengan ejekan.
"Sesama kotor tidak boleh saling menghina," timpal Roger dengan perhatiannya teralih pada cerutu yang ingin ia nyalakan.
"Predator!"
"Kau predator!" umpat Claude dan Verrena, bersahutan.
"Eve sudah dalam usia legal, tidak usah menghinaku." Jawaban Roger seakan menjadi knockback bagi mereka yang kini hanya bisa mendengkus kesal karena kalah dengan Roger.
Ketika hangat cahaya matahari dirasakan menembus pakaiannya, Verrena menyadari bahwa ia harus mandi dan berganti pakaian setelah berhujan-hujanan. Ia berhenti sebentar, membiarkan Roger dan Claude—dengan Coco, tentunya berjalan lebih dulu. Berbalik mendekati kapal, kembali ke dalam dek sendirian. Dan ia baru menyadari bahwa ia hanya membawa lemari yang penuh dengan makeup dan wig sebagai modalnya menyamar, senapan peninggalan sang ayah, beberapa tas berisi dokumen analisisnya dan dompet. Tidak ada pakaian ganti, juga tidak ada ponsel. Ia mengutuk dirinya sendiri karena malam tadi ia harus tergesa-gesa pergi dari apartemen Gussion. Untungnya, ia sudah mengetahui titik berkumpul mereka di jam 12 siang nanti.
Beranjak keluar kapal, ia mengamati aktivitas di dermaga yang ia pijaki. Puluhan pekerja mengeluarkan barang dari kontainer, truk-truk besar yang baru datang, ataupun kapal-kapal besar yang baru berlabuh tak luput dari pandangan.
Mengenai kata "Dermaga", ia kembali teringat sebegitu lembutnya lelaki itu menciumnya. Sebegitu lembut, yang bahkan belum pernah ada yang memperlakukannya seperti itu, selama hidupnya. Ia terbiasa dengan raupan ganas dari pelanggan-pelanggan yang datang, dan mau tidak mau ia harus melayani dengan tidak kalah buas. Hanya kala itu, ia merasakan dirinya lemastidak mampu membalas dengan kedua kaki seakan tidak lagi dapat bertahan apabila Gussion tidak menyangga tubuhnya agar tidak jatuh.
Ketika mengingat hal itu, ia tidak sadar dengan ia yang menyentuh kedua bibirnya yang sedikit terbuka. Dan tidak juga ia sadari, pipinya sedikit merona dengan ia yang bingung, antara harus merasa sedih, malu atau bahagia dengan perlakuan lelaki itu.
Memejamkan mata, sedikit silau karena pantulan kaca dari kapal yang baru berlabuh menyadarkannya bahwa ia cukup lama bertahan di tempatnya. Segera ia berjalan menjauh dari sana—tanpa membawa rifflenya, hanya membawa diri dan dompet dengan tujuannya kali ini toko pakaian dan kamar mandi.
Dalam hati, ia berjanji. Kalaupun bisa kurang dari setahun—atau lebih sekalipun, ia harus tetap bertahan agar bisa kembali pada lelakinya.