Verrena yang keluar dari kamar mandi umum sehabis berbelanja dari pertokoan Delaine di Distrik Craven, membawa tas kertas cukup besar berisi pakaian yang ia pakai sewaktu berhujan-hujanan tadi. Ia telah berganti dengan blus putih berkerah sabrina dan celana jins olive. Tidak lupa dengan tas kecil dan topi anyam lebar karena di musim panas, masih pagi pun ia merasa cukup silau. Ia mengusahakan berpakaian yang wajar dan membaur dengan orang sekitar.
Tidak jauh dari tempatnya berdiri, dilihatnya seorang perempuan muda yang ia pikir sedang kebingungan mencari sesuatu. Ia amati perempuan yang berambut nyentrik—rambut dicat biru itu merogoh tasnya berkali-kali sambil melihat sekitar. Dan seekor monyet yang Verrena kenal—Coco melompat-lompat di antara satu toko ke toko yang lain dengan perempuan kebingungan itu ternganga, kemudian berteriak, "Hei monyet nakal! Kembalikan kalungku!" Dan berlari mengejar Coco yang tidak mau berhenti. Verrena yang melihat "Kekacauan" itu hanya bisa mengumpat dan ikut mencari ke mana arah si monyet peliharaan rekannya itu kabur.
Susah payah ia menjaga topinya agar tidak terbang dan tasnya agar tidak jatuh saat berlari ketika mengejar Coco di antara kerumunan, akhirnya monyet itu berhenti di sebuah barbershop. Mendapati Claude yang menerima sebuah kalung berbandul bundar, hendak diserahkannya ke seseorang bertubuh tambun yang memakai apron—ia tebak orang itu adalah barberman, sampai ia mendekati Claude dengan wajah merah menahan marah, kelelahan dan sangat kesal.
"Aduh! Ver, Lepaskan! Arghh Sakiit! Lepaskan Telingaku, Ver! Ampuun!"
Claude mengaduh ketika Verrena menarik telinganya kencang sampai ia lepaskan, tercetak kemerahan hampir seluruh telinga kanan Claude.
"Kalau kau hendak berbelanja, bayar pakai uangmu sendiri! Hentikan kebiasaan burukmu!" maki Verrena di hadapan barberman yang hanya bisa melongo karena keganasan perempuan itu. Bahkan Coco sebagai pelakunya pun ketakutan dan bersembunyi di belakang si majikan.
"Uangku tertinggal semua di rumah, Ver. Bagaimana lagi supaya aku membayar ini selain mencuri?!" tunjuknya pada rambutnya yang telah disemir pirang. Verrena memutar bola mata kesal, kemudian mengeluarkan dompet dari tasnya.
Tidak lama, seorang perempuan berambut kebiruan itu terengah-engah mendapati mereka dengan memegang kedua lutut kelelahan. Verrena yang telah membayar tagihan Claude pada barberman menoleh padanya. Seakan mengerti, ia merebut kalung berbandul itu dari tangan Claude, memberikannya pada si perempuan.
"Apakah ini kalungmu?" tanyanya, dengan tanpa jawaban perempuan itu mengambil kalung dan membuka bandul berbentuk bundar.
"Iya, terima kasih."
"Lain kali simpan benda berhargamu di rumah," saran Verrena yang kemudian menatap tajam pada Claude yang hanya bisa meneguk ludah.
"Ah, sebenarnya aku hendak menjualnya. Saat ini aku belum bekerja dan hanya benda ini yang masih bisa dijual dari mendiang suamiku," cerita perempuan itu dengan nada merendah di akhir. Verrena hanya terdiam, dapat memaklumi alasannya.
"Kau seperti pernah ku lihat di suatu tempat, tapi di mana ya?" Claude mengusap-usap dagu dan mendekatkan wajahnya pada wajah sang perempuan yang sedikit kaget dan menjauh.
"Ah, aku ingat," Ia mengeluarkan ponsel dari kantong celana, mengetikkan sesuatu di layar sementara Verrena mendekati perempuan itu.
"Jadi, suamimu meninggal?"
"Lebih dari setahun yang lalu. Tidak lama setelahnya anakku meninggal dalam kandungan karena aku terlalu lelah bekerja."
"Kau terlihat masih muda. Mungkin kita seumuran," taksir Verrena mengenai perempuan di depannya.
"Ah, sebulan lagi umurku 25 tahun," jawab si perempuan itu dengan malu-malu.
"Ternyata benar."
"Nah, aku menemukanmu. Kau yang ini, kan?"
Claude menunjukkan ponselnya dengan perempuan di samping Verrena, seketika kedua matanya terbelalak, lalu ia memandangi sekitar.
"Sebaiknya kita tidak membicarakan hal itu di sini." Nada suaranya berubah mendingin, mengingat-ingat tempat di mana ia dan dua orang ini harus menempatkan diri.
"Ck, ceroboh seperti biasa." Verrena mendelik pada Claude yang masih kaku karena mendapati bahwa ponselnya yang menampilkan sebuah profil rekan barunya, tidak berbeda dengan sosok wanita yang menginstruksikan mereka untuk menyingkir dari tempatnya berpijak.
***
"Jadi, nama aslimu Elvyn?"
"Ya." Elvyn, wanita yang berambut kebiruan yang bersama mereka ini hanya menjawab pendek. Verrena terdiam dengan perubahan sikapnya yang ia pikir, cukup mengecoh andai saja Claude tidak melakukan hal seceroboh itu tadi.
Mereka kini berada di sebuah kantor tua yang akan dijadikan sebagai basis untuk mengawasi sekaligus mengumpulkan informasi pergerakan organisasi Dark Shadow dan tentunya, Ronald. Cukup lembab dan berdebu. Perabot-perabot sengaja ditutupi kain putih untuk menghindari kotor, belum juga mereka singkapkan. Dari posisi mereka sendiri, Verrena berdiri menyenderi meja kantor dengan melipat tangan di hadapan, Claude yang duduk di sofa mencondongkan tubuh ke Elvyn, dan Elvyn sendiri duduk dengan merapatkan kaki.
"Kami juga diberi tahu, kau akan jadi pemandu untuk beberapa hari ini."
"Itu benar." Jawaban singkat lainnya. Claude kembali mengurut-urut dagu seperti sedang berpikir. Lalu, ia mendekatkan wajahnya ke Elvyn yang sedikit memundurkan diri.
"Sikapmu berbeda ketika di toko tadi. Tapi, tidak apa-apa. Ternyata partnerku memang cantik."
"Err ... terima kasih."
"Jadi benar kau sudah pernah bersuami?"
"Semua yang kukatakan benar. Kecuali tentang kehilangan pekerjaan. Dan aku memang sudah menjanda."
Verrena lagi-lagi hanya memutar bola mata.
"Kalian benar-benar "Partner". Cerobohnya sama. Tetapi, si bau monyet ini Bodohnya tidak terkira."
"Apa-apaan kau?!" Claude menunjuk Verrena dengan mata melotot, tidak terima dengan hinaan sang rekan padanya.
"Tidak usah menyangkal. Dan kau, kupikir perlu memperkenalkan diri. Kau tidak membalas email Roger, katanya."
"Maaf, ponselku rusak seminggu lalu."
Dan Verrena mengurut dahi menanggapi tuturan Elvyn, mengetahui bahwa rasanya baru beberapa jam yang lalu ia berlabuh, sudah banyak kejadian yang memusingkan kepala dialaminya.
"Jadi, namaku Elvyn. Aku dulunya tinggal di Distrik Carnall, tetapi pindah ke sini untuk tugas bersama suamiku. Aku spesialis garis depan, begitupun dia. Dia meninggal karena tertangkap Dark Shadow. Dan aku sendiri ... yah cukup stres dan kelelahan sampai aku kehilangan anak. Enam bulan lebih aku tidak ikut penyelidikan untuk istirahat dan baru hari ini aku bergabung bersama kalian."
"Baiklah. Bagaimana dengan jobdesc kami?"
"Itu hanya Roger yang berwenang," ungkapnya yang kemudian menoleh pada seorang lelaki yang masih berurusan dengan cerutu di mulut, mengembuskan napas.
"Sejak kapan kau di situ?" Claude bertanya-tanya pada lelaki yang hanya menaikkan sebelah alisnya.
"Aku mendengar percakapan kalian. Besok tim dari Valentino akan datang dengan formasi lengkap. Mengenai jobdesc, kau dan Elvyn ditempatkan di pantai tidak jauh dari dermaga kita berlabuh tadi. Kau harus mengecek apa saja yang Dark Shadow lakukan di dermaga. Berpura-pura menjadi lifeguard atau penjaga dermaga, kau saja yang putuskan. Dan Verrena, kau bisa membuat minuman?"
"Tidak terlalu. Aku bisa meracik Tequilla, Martini, selebihnya tidak mahir."
"Kalau begitu, kau melamar di bar sebagai newbie saja. Berpura-pura saja tidak berpengalaman. Jangan lupa misi kita."
"Baiklah." Verrena mengiyakan, menjauh dari tempatnya berdiri. Mengambil beberapa tas yang tersandar di bawah meja, menyeretnya karena dirasa cukup berat sampai ke depan sofa, duduk di samping Elvyn yang memperhatikan geraknya.
"Apa yang akan kau lakukan setelah ini?" Elvyn bertanya pada Verrena yang tidak juga menoleh padanya dan memilih untuk memilah benda apa saja yang bisa ia keluarkan dari tas-tas itu.
Melihat ke bagian tempat Roger tadi berdiri, orang itu sudah hilang dari sana. Tertinggal ia, Elvyn dan Claude yang sibuk menyisirkan rambut kepala Coco.
"Bisakah kalian berdua meninggalkanku sendiri? Aku perlu berkonsentrasi," pinta Verrena, masih dengan tidak mengalihkan perhatian pada dokumen yang telah ia keluarkan.
Tanpa sahutan, mereka berdua pergi meninggalkan ruangan dan Claude yang menutup pintu. Hanya Verrena dan keheningan tertinggal di sana. Ia mengeluarkan sebuah buku yang cukup tebal, bersampul merah marun. Membuka bagian awal halaman, menemukan sebuah nama yang ditulis dengan tinta emas: "Regina Delocre: a Journal".
"Haruskah aku membaca ini dulu?"
Ia membuka lembar-lembar secara acak, berhenti pada halaman yang ia lihat di pojok kanan atas tertera nomor 291.
6 Febuary, 20xx
Aku tidak mengerti apa yang Daniel dan Verra pikirkan, dan akan tumbuh seperti apa anak mereka nantinya. Melihat mereka berdua melakukan hubungan badan dengan alat penyiksaan itu adalah hukuman bila Ronald berbuat kesalahan? Ia masih anak-anak yang tidak tahu apa-apa! Ya Tuhan, selamatkan anak itu dari pengaruh orang tuanya!
Verrena menahan napas ketika menyelesaikan membaca paragraf itu. Dan makin membesarlah kebenciannya pada keluarga bungsu Delocre itu. Tidak mau membuang waktu, ia kembali beralih pada halaman lain secara acak.
31 Juli, 19xx
Musim panas, dengan pesta luar ruangan keluarga de'Saint. Aku suka pesta, terlebih bila bersama suamiku yang sangat sibuk itu. Herman dan Jane, seperti biasa. Mereka selalu terlambat datang karena Jane sangat memperhatikan penampilan dan membuat Herman pusing dan tidak sabar untuk menghidupkan mobil.
Aku rindu suamiku yang diam-diam membawaku ke luar atau tempat yang cukup sepi hanya untuk mengecup atau mengelus perutku yang sudah besar ini. Tetapi, hari ini aku hanya menghadiri pesta sendiri dengan tentunya, Lunar ikut menjagaku kalau-kalau terjadi sesuatu. Dan Hans menunggu di mobil.
Anak bungsu Isabel sangat lucu, ia selalu bersembunyi di balik ibunya ketika melihatku. Anehnya, ia terlihat menyukai Lunar, dan Lunar membiarkan anak itu bermain dengan rambut violetnya. Gussion, nama anak itu benar-benar asing terdengar tetapi cocok padanya. Lunar berbisik padaku, berandai-andai apabila di masa depan Verrena dijodohkan dengan anak itu, lalu ia tertawa. Ia katakan, itu hanyalah keajaiban karena mereka bukan keluarga bangsawan. Aku hanya tersenyum dan menyahut, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini.
"Ibu, anakmu sudah besar. Ibu, aku ...." Verrena kehilangan kata-kata ketika membaca sampai paragraf terakhir. Ia mendongak, tidak ingin matanya yang mulai berkaca-kaca meneteskan air mata. Ia tidak mau ketika ia merias diri harus mengaplikasikan korektor berlebih di kantung matanya karena terlalu sering menangis.
Ia membalik halaman terakhir yang ditulisi sedikit bergelombang, entah karena apa. Verrena mengernyit ketika melihat di halaman itu penuh bercak air dan tulisan yang tidak rapi.
21 Desember, 20xx
Lalana tahu mereka dalam bahaya. Aku membenci nada bicaranya yang seperti meninggalkan wasiat itu. Tetapi, aku tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali ikut meninggalkan surat wasiat. Harley, anakku. Di masa depan nanti harus menjaga anak Lalana dari bahaya yang mengancamnya. Anakku, Harley tidak boleh melepasnya. Anakku harus menikahinya. Dan anakku, harus menjadi lelaki yang kuat agar bisa melindunginya.
Verrena tidak sadar akan jari-jarinya yang memegang buku itu gemetar seiring kalimat-kalimat yang ia baca. Ia sendiri bungkam, tak mampu mengucap apapun dari bibirnya.
Harley, dan anak perempuan Lalana. Satu dari misi utamanya; menemukan mereka berdua.