Setelah membuka bungkus irisan salmon, Verrena menyalakan kompor, memanaskan sedikit minyak di wajan. Potongan kentang yang ia panggang sudah disisihkan di piring. Pelan-pelan ia memasukkan salmon ke panci yang sudah panas. Membiarkan potongan salmon itu perlahan memutih.
Teringat kejadian malam tadi, ia sedikit takjub karena baru pertama kali melamar pekerjaan sebagai bartender langsung diterima. Pemilik bar adalah seorang lelaki tua dengan perut buncit dan berselera humor rendah. Tuan Bob, seperti itu ia mau dipanggil. Tidak dengan Pak atau Sir. Setelah mengetahui ia yang mengaku hanya bisa membuat dua jenis minuman, ia langsung dipekerjakan. Bar cukup ramai dengan dua bartender lain yang ada. Zean yang flamboyan dan disukai pengunjung perempuan, sering juga menggoda mereka. Seorang lagi, Mina yang pendiam yang berambut kuncir hitam. Ia perempuan yang cukup ekstrim, tidak segan menodongkan sabitnya ketika ada lelaki yang mengganggu. Ia dengar, Mina dulunya seorang tahanan yang baru bebas dari penjara. Ia tak tahu kelanjutannya dan alasan ia memiliki sabit besar terang-terangan seperti itu.
Ketika ia perhatikan, salmonnya telah matang sepenuhnya. Ia mengangkat salmonnya ke piring kentang. Menambahkan garpu dan pisau makan dari lemari. Sejenak ia berpikir, dari cara Mina mengancam pengunjung yang ada, ia pikir perempuan itu bukan mantan kriminal biasa. Juga, mengapa iris matanya berwarna merah? Apakah ia pernah bergabung di suatu organisasi? Apakah ia dulunya seorang manusia percobaan atau sejenis semi-cyborg? Mengapa Tuan Bob dan Zean menanggapinya biasa saja dengan sikap Mina?
Tempat yang aneh, Verrena berasumsi demikian. Membawa piring ke atas meja, lantas duduk setelah menarik sebuah kursi. Ia melanjutkan kegiatan dengan memakan salmonnya tanpa suara. Hanya sesekali decit lemah dari pisau ke piring yang terdengar. Laporannya hari pertama bekerja belum ia masukkan ke jurnal, dan juga masih belum mendapat informasi apa-apa tentang pergerakan Dark Shadow. Bersantai sebentar mungkin tidak buruk, sembari beradaptasi, pikirnya.
***
Ia lihat lagi ponsel hitam dengan simcardnya yang masih belum dipasang. Rencananya, simcard itu akan diaktivasi dengan nomor identitasnya yang baru sebagai Verrena—tanpa nama keluarga Delocre. Perintah Roger yang mengatakan bahwa seluruh identitas dan kontak dari Mighty Dawn harus ditinggalkan untuk mencegah bocornya informasi pribadi. Artinya, ia juga tak bisa menghubungi Gussion atau teman-temannya yang lain di negara seberang.
Ia membuang napas berat, sebelum ia pasangkan kartu sim ke simtray. Baru beberapa hari, ia merasakan beratnya rindu pada lelaki yang ia cintai. Ingatan mengenai insiden di dermaga itu membuatnya menggelengkan kepala, untuk menepis. Terlalu manis sampai ia merasa ingin terus merasakannya. Namun, misi ini membuatnya harus bersabar lebih lama. Ada yang lebih berbahaya dibandingkan hasrat ingin bertemu pada Gussion yang tertunda; ialah pergerakan Dark Shadow yang hampir tak terprediksi. Dalam beberapa detik saja, tak ada yang tahu apabila seseorang meregang nyawa, atau kerugian apa saja yang ditimbulkan karena perbuatan mereka.
Kini ponsel telah ia hidupkan. Ketika ia mengecek buku telepon, sudah banyak nomor yang diatur dengan nama samaran. Sisanya ia akan mengubahnya sendiri. Nomor penting seperti Roger, Elvyn dan Claude diberi kode 1 di depan nama.
Beralih pada kotak masuk surel. Tak ada yang baru. Sepertinya Roger membiarkan mereka istirahat dan menyesuaikan diri pada lingkungan.
Ia menaruh ponsel ke meja. Beralih pada botol-botol obat antidepresan dan obat penekan kecemasan lain yang ada di atas meja, belum ia rapikan. Beberapa hari setelah tiba di Pulau Madelaine, ia jarang bermimpi buruk. Cukup bersyukur karena ia tak perlu tergesa membuka botol obat dan membersihkan sisa-sisa butiran setelahnya karena berhamburan akibat gemetar dan panik.
Sebuah notifikasi masuk di ponsel. Sebuah pesan singkat dari aplikasi chat, tepatnya dari Elvyn.
[Jangan lupa mengambil foto-foto, berbaur seperti orang kebanyakan.]
Hanya membalas dengan "Ya" ia kembali menaruh ponsel. Ia harus memeriksa peralatan penyamarannya yang belum semuanya dibongkar dari koper. Ada peralatan makeup dengan botol-botol kecil contour stick dan concealer, sangat penting sampai ia pisahkan dari peralatan yang lain. Alat makeup inilah yang mampu menyamarkan dirinya menjadi orang lain. Ia terbiasa menyamar sebagai wanita lebih tua, seorang pria bahkan nenek-nenek. Ditambah dengan latihannya bertahun-tahun mengubah suara menjadi lebih dalam atau parau. Suatu hal yang rekan-rekannya di kepolisian tidak ketahui, karena ia belum menunjukkan kemampuannya yang dulu—masih belum cukup. Ketika ia di firma detektif inilah ia melakukannya. Kecuali di bar, ia hanya menyamarkan iris mata asli dengan softlens warna biru dan menggelung tinggi rambut burgundinya. Harus senatural mungkin agar mereka yang di bar tidak curiga.
Pakaiannya yang ia bawa tidak banyak, hanya beberapa setel dan ditambah seragam bar. Sejenak ia berpikir, melihat jam di ponsel yang dinyalakan, sudah jam 6 sore. Dari lemari ia memutuskan mengambil atasan blush kuning cerah dengan celana jeans putih, disertai topi jerami dengan pita bunga di pinggir. Kali ini, tujuannya pantai yang tak jauh dari pelabuhan pulau Madelaine, sekitar 2 kilometer dari tempat tinggalnya saat ini.
Duduk di depan meja rias, ia menuangkan sedikit primer di punggung tangan, disapukan ke seluruh wajah dengan beauty blender. Berganti dengan cushion, concealer untuk menutupi lingkaran hitam di mata dan contour stick ia gambarkan di wajah sehingga ketika diratakan, pipinya menjadi lebih tirus dengan dahi lebarnya pun tersamarkan. Mengambil puff lain dari bedak compact, mengaplikasikan ke muka sampai dekat telinga. Lalu, merapikan alis sebentar, setelahnya mengoleskan lipcream warna jingga sampai merata di bibir. Tak lupa membuat bulatan kecil menyerupai tahi lalat di atas bibir dengan eyeliner. Memandangi dirinya di cermin, Verrena merasa puas. Ia tak lagi terlihat seperti Verrena yang biasa, ataupun ia yang menjadi wanita penghibur di rumah Mommy Alicia.
Terakhir, ia menggulung rambut panjangnya, disembunyikan dalam topi. Mengambil kamera mirrorless untuk properti penyamaran dan tas kecil, bersiap pergi ke pantai.
***
Peluit panjang terdengar dari arah barat daya tempatnya berdiri. Ketika Verrena menoleh, ia mendapati Claude yang menunjuk seorang anak yang berlari-lari mengejar ombak.
"Hei, jangan pergi ke tengah!" teriaknya, tergopoh-gopoh turun dari kursi penjaga mengejar anak itu. Merasa dikejar, ia malah makin berani ke tengah ombak yang mulai datang menerjang. Ada seorang wanita muda ikut berlari menyusul anak itu. Verrena tebak ia adalah ibu dari si anak yang sudah berhasil ditangkap Claude.
"Maaf karena sudah merepotkan, Pak. Dia memang anak nakal!"
"Awasi anakmu, Miss. Akan berbahaya andai aku gagal menangkapnya." Sang ibu mengangguk dengan membungkukkan badan, tak enak hati karena kelakuan anaknya. Claude berbalik untuk kembali duduk di kursi penjaga.
Baru kembali duduk di atas, terlihat dari pandangan ia sedang mengawasi bagian barat. Apa yang sedang ia lihat? Ketika Verrena mengalihkan penglihatan, ada sebuah kapal angkutan besar yang baru saja berlabuh di dermaga, membawa puluhan kontainer. Claude mengambil teropong, mengawasi ke sebelah mana kapal itu akan tambat.
Verrena sudah berdiri di sisi Claude, tetapi lelaki itu tak menyadari. Ia ingin menanyakan keberadaan Elvyn yang tak ia temui di pantai, sambil mengambil gambar. Baru ketika ia mengetuk tiang kursi, Claude melepaskan teropong dan melongok ke bawah.
"Pretty lady, mau mengambil foto bersamaku? Aku akan menunjukkan spot yang bagus untukmu."
Hampir saja Verrena menyembur tawa, kekonyolan Claude yang tak mengenalinya sungguh membuatnya nyaris tergelak.
“Man without brain, huh?!"
"Y-you?! You donkey! Kutarik kata-kataku barusan, sial!"
“Mengenali rekan sendiri pun kau gagal. Benar-benar tak berguna." Verrena mencibir.
"Siapapun takkan mengenalimu dengan makeup setebal topeng itu!" protes Claude dengan gusar.
"Mana Elvyn?" Ia tak menemukan rekannya itu di sekitarnya berdiri.
"Di belakang." Verrena berbalik, beberapa meter darinya ada sebuah kedai minuman, dan Elvyn terlihat bersantai dengan segelas minuman berwarna jingga.
"Ada yang kau dapatkan?"
"Sejauh ini belum ada yang mencurigakan." Claude kembali mengambil teropong dan mengarahkan pada kapal besar yang kini membongkar muatan. Yah, tugasku hanya bertahan di sini lebih lama. Claude mengedikkan bahu.
Verrena berjalan menjauh.
“Ke mana?”
Ia tak mau menjawab. Dilihat dari arahnya berjalan pun, harusnya Claude tahu bahwa ia hendak ke tempat Elvyn bersantai.
"Hai." Ia berjalan ke samping Elvyn yang masih memakai kacamata hitam.
“Oh, Verrena?! Aku hampir tak mengenalimu andai kau tak bersuara.”
Verrena tersenyum, meneruskan langkah menghampiri kedai.
"Ada yang bisa kubantu, Nona manis?"
"Jus jeruk saja." Verrena berpikir malam ini ia harus bekerja, ia tak boleh membiarkan dirinya mabuk dengan memesan minuman beralkohol—meski toleransinya pada minuman keras cukup tinggi.
"Semenjak Miranda tiada, kupikir mencari informasi semakin sulit." Verrena membuka pembicaraan, duduk di samping Elvyn.
"Mungkin belum waktunya. Roger juga tak ingin mengambil resiko mengirim orang kita lagi sebagai mata-mata. Bersabarlah," saran Elvyn sebelum mengangkat gelasnya, meminum jus jeruk miliknya seteguk-dua.
Sejenak Verrena menatap kosong pada garis pantai dengan ombak yang bersusulan, kadang menyapu pasir, kemudian surut. Ia mengingat bagaimana ia meletakkan obat-obatnya begitu saja, tak diminum. Ia sering diperingati psikiaternya agar meminum obat secara rutin, akan tetapi ia tak menuruti karena sibuk dan memang sudah lelah dengan obat-obatan. Kini, sesi terapinya pun terhenti sementara.
"Apa yang kau pikirkan?"
"Hanya berpikir tentang terapiku berhenti sementara karena psikologku harus pergi ke luar negeri."
"Ah, itu." Verrena sedikit bertanya-tanya dalam hati mengapa pandangan Elvyn padanya meneduh, penuh simpatik.
"Aku sudah tahu apa yang terjadi padamu. And i'm sorry to hear that." Elvyn menangkup kedua tangan Verrena di tangannya, kemudian berucap, "Aku yakin kau bisa melewati ini. Kau wanita yang kuat."
"Terima kasih, El."
"Melawan monster seperti Ronald, artinya kita harus sebanding dengannya, bahkan lebih. Tetapi, bukan berarti kita harus menjadi monster seperti dia."
Elvyn beralih menepuk pundak Verrena, menguatkannya dengan senyum dan mengangguk pelan.
"Kehilangan orang terdekat memang begitu menyakitkan. Begitu juga saat aku kehilangan suamiku, di depan mataku sendiri. Aku hampir gila dan tak tahu harus melakukan apa lagi, tanpa dia. Aku tahu inilah resiko terburuk menghadapi Dark Shadow, tetapi aku tak pernah membayangkan hal itu benar-benar terjadi."
Ia mengambil napas sebentar, kemudian melanjutkan, "Sebenarnya, aku hampir mati sebulan lalu. Aku menusuk diriku sendiri. Andai Roger tak menggebrak pintu rumahku dan membawaku ke rumah sakit, aku sudah tak tertolong lagi."
Elvyn mengelus bagian bawah tubuh kirinya dengan pelan, "Luka jahitan ini mengingatkanku agar terus hidup. Lagipula, sepertinya suamiku di sana tidak suka bila aku menyusulnya dengan cara itu."
Verrena terhenyak. Ia tak menyangka di balik sikap Elvyn yang santai dan seperti tak punya beban hidup, ia memendam kedukaan dan kehilangan yang tak mungkin bisa terobati lagi.
"Lalu, aku mendengar cerita tentangmu. Kau sudah melewati kehilangan-kehilangan dan rasa sakit yang tak tertahankan karena dia. Baru aku sadar, bahwa aku tak boleh berhenti sampai di sini."
"Terima kasih, Elvyn. Kau yang terbaik." Verrena menghambur peluk pada Elvyn.