Midnight 1: Mina

1187 Kata
"Tambahkan Scotch, cantik," pinta seorang lelaki tua berpenampilan nyentrik—memakai rompi hitam layaknya anggota touring motor besar dan kacamata hitam yang seharusnya tak perlu digunakan dalam bar yang penuh kelip lampu di malam hari. Senyum genit tak lupa ia tujukan pada seorang bartender wanita berhelaian hitam panjang yang dikuncir tinggi. Ia membalas dengan gumam ketus, dengan tangan yang bekerja mengambil botol Scotch, menuangkannya ke gelas tinggi. Gelas yang terisi penuh itupun didekatkannya pada si lelaki tua. Beberapa menit lalu last order telah diserukan di Escot Bar. Ada yang membayar dan langsung pergi, ada juga yang masih memesan. Seperti lelaki ini, misalnya. "Minnie, tambahkan!" Lelaki bertopi yang awalnya menyandarkan kepala di counter menegakkan duduknya dan berteriak meminta pada seorang wanita di depannya. "Namaku Mina, Tuan Valent yang terhormat. Berhenti menyebutku dengan sebutkan konyol itu," sanggahnya dengan memberi penekanan pada kata "Yang terhormat", sambil tetap menuangkan Tequila yang ditambahkan soda dan es batu. Merasa minumannya sudah berada di tangan, dengan rakus lelaki itu meminumnya hingga tersisa setengah. Sloki malang itupun dihentakkannya ke meja dengan kasar, kemudian menggeram. "Violet cintaku, ugh Violeeeet," racau Valent, kemudian menyambung. "Kenapa dia belum memberi jawaban juga atas cintakuuu." Mina menatapnya dengan datar. Ia benar-benar terbiasa dengan situasi di depannya. Para lelaki yang mengeluarkan sumpah serapah dengan wajah memerah, suara tangis wanita yang terkadang diselingi tawa karena mabuk, atau bau busuk karena muntahan pengunjung. Khusus hal ini, ia meminta bantuan Zean untuk membawa pengunjung itu ke kamar mandi dan membersihkan sisanya. Kalau tidak, dia sendiri yang menyeretnya dengan susah payah beserta makian. "Violeeett! Mengapa kau sangat mirip dengan istriku yang sudah mati?!" Valent kembali menggeram ketika minuman yang ia tenggak terasa membakar kerongkongan. "Kau membuatku... semakin ingin memilikimuuu." Kepala bertopi itu kembali bersandar di meja. Tak lama terdengar dengkur nyaring darinya. "Hhh ... brainless." Mina menyumpah dengan sedikit melotot karena jengkel. Antara terlalu lelah karena telah bekerja semalaman, atau sudah muak dengan pekerjaan yang dilakoninya, ia menanggalkan sikap profesional sebagai seorang bartender. Namun, hal itu sudah dimaklumi oleh pengunjung di bar pinggir kota tersebut. Sebagai mantan narapidana dan baru bekerja sebagai bartender selama dua tahun, temperamennya kadang cepat naik. "Mina sayaaang... aw!!" Verrena baru datang dari gudang minuman di belakang, ketika ia dikejutkan oleh teriakan yang membuatnya terperanjat. Bisa-bisanya, Verrena menggelengkan kepala keheranan. Suara keras itu bersumber dari seorang lelaki dengan rambut pirang menyentuh tengkuk datang terhunyung, kemudian duduk dengan meletakkan botol bir tepat di depan Mina. Melipat kedua tangan, menyipit memandang bartender wanita di seberang meja. "Peluk akuuu," rengeknya dengan tiba-tiba merentangkan tangan melewati kepala si lelaki tua dan kepala Valent yang masih terbaring di meja. Mina menanggapinya dengan dengkusan dan membuang napas berat. Orang gila ini lagi, keluhnya dalam hati. "Aku tahu kau tak akan mau, aku memeluk Claire saja." Sekonyong-konyong ia urung bergerak mendekati seorang gadis berambut merah muda yang masih mengerjakan PR nya di meja bundar dekat bartender ketika sabit besar yang mengeluarkan aura keunguan menghalanginya. "Sedikit saja kau menyentuhnya, aku tidak bisa menjamin keselamatanmu." Mina mengancamnya dengan dingin. Lelaki di depannya itu terdiam kaku, seakan kesadarannya yang hampir lenyap karena mabuk berat itu kembali padanya. "Ma-maaf, aku tidak akan menyentuhnya. To-tolong singkirkan benda ini." Ia memelas dengan wajah ketakutan. Mina yang masih menatapnya dengan tajam, seakan menyiratkan aku-mengawasimu, akhirnya menarik kembali sabit miliknya, menyandarkannya ke lemari bagian belakang. Lelaki aneh itu—bagi Mina pergi menjauh. "Mina, apakah tadi ada yang memanggilku?" Claire dengan polosnya bertanya pada sang bartender perempuan, sekaligus kakak baginya. "Tidak ada, Honey. Kerjakan tugasmu saja. Setengah jam lagi kita harus tutup." Sedikit berbohong padanya tidak apa-apa, pikirnya. Claire menjawab dengan gumaman, kembali mengarahkan fokus pada buku PR di depannya. Zean yang sudah selesai mengelap gelas-gelas mendekatinya, barangkali ia bisa membantu Claire mengerjakan PR nya. "Ah, Rena. Sudah kau ambil anggur Victoria dari gudang?" "Ya, letaknya di ujung sana, kan?" Verrena menunjuk sudut kabinet berisi beberapa botol anggur yang masih tersegel. "Benar sekali. Kau sudah mengingatnya meski aku baru menjelaskan padamu kemarin, sangat hebat!" Zean memberikan jempol pada Verrena yang hanya dibalas senyum disertai anggukan. Tak mengindahkan mereka berdua, Mina mengambil botol-botol yang tidak pada tempatnya dari atas meja, meletakkannya ke kabinet. Ketika ia mengarahkan pandangan ke kanan, ia mendapati Claire yang menatap serius pada tugasnya. Sesekali di wajah itu terlukis senyum lebar karena bantuan Zean yang membuatnya berhasil memecahkan soal. Wajah yang juga berlumur darah dan tanah kotor ketika pertama kali melihatnya pingsan di depan bar setahun yang lalu. Saat sudah bangun, ia bercerita bahwa keluarganya meninggal karena rumahnya terbakar dan ia sendiri menggelandang. Mina yang merasa iba meminta Bob, manager bar untuk mengizinkannya merawat dan tinggal bersamanya di lantai dua bar. Kakek tua itu mengabulkan permintaannya, dan di sinilah ia. Sebagai balas budi, Claire membantunya meramu minuman sesuai kehendak pengunjung, meski awalnya Mina tidak mengizinkannya. Ia bersikeras dan berjanji untuk menjaga diri. Akhirnya Mina mengiyakan dengan syarat ia harus berada dalam pengawasannya. Bar mulai ditinggalkan pengunjung ketika waktu telah menunjukkan pukul satu lewat lima belas menit. Artinya, lima belas menit lagi bar akan tutup. Ia berjalan ke sudut ruang sebelah kirinya, mengambil alat pel beserta embernya. Ketika ia menekan bel kecil di meja, kedua lelaki di depannya—Valent dan lelaki tua terbangun. "Tuan-tuan, bar akan tutup sebentar lagi. Keluarlah, aku ingin membersihkan ruangan." Valent yang berdiri terhunyung, antara hangover dan mengantuk mengeluarkan beberapa lembar uang dari saku celananya, kemudian keluar tanpa suara. Dengan langkah yang tidak keruan, pula. Lain dengan si lelaki tua, ia mengambil dompet dan mengeluarkan kartu kreditnya. Mina mendekati mesin kasir, menghitung pembayaran yang harus dikeluarkan si lelaki tua. Tak lama, ia mengembalikan kartu kredit itu. "Panggil aku Gilbert, cantik. Aku akan selalu ke sini untuk melihat wajahmu." Tak lupa menyunggingkan senyum genit padanya. "Ya. Pergilah," jawab Mina dengan nada datar. Lelaki tua itu pergi, melambaikan tangannya kemudian. Mina mendengkus. Ia berbalik ketika mendengar kuapan Claire, yang kemudian menggeliat, sedangkan Zean berjalan menuju pintu untuk menguncinya. "Mina, aku mengantuk." Ia menutup mulutnya karena kembali menguap. "Naik saja dulu, aku harus bersih-bersih." "Oke, Mina." Ia meninggalkan meja dengan setumpuk buku dan alat tulis di tangannya menuju tangga "Biar aku saja yang bersih-bersih," tawar Verrena pada Mina, mengulurkan tangan hendak mengambil alat pel. Mina menggeleng dan berkata, "Tidak perlu, kau harus pulang. Sudah larut malam seperti ini." "Oh, kau baik sekali, terima kasih Mina. Verrena mengemasi tas kecilnya, bersiap untuk pulang. "Ya." Mina hanya menjawab singkat. Ia melirik Verrena yang keluar dari bar lewat pintu depan yang dibukakan Zean. Ketika Verrena sudah tak terlihat, Zean mengunci pintu, merogoh kantong celananya ketika ia mendengar dering ponsel yang bergetar. Tak ingin menguping, Mina membawa alat pel beserta ember ke sudut ruangan bagian kanan, dan mulai mengelap lantai. "Tuan Bob memanggilmu. Katanya ponselmu tidak aktif. Ada yang hendak bertemu denganmu." Zean berujar sambil mendekati Mina yang juga dekat dengan pintu kecil jalan biasa ia naik ke atas—pulang ke rumahnya. "Ponselku kehabisan baterai. Siapa yang mencariku?" Mina bertanya dengan kening berkerut. "Entahlah, mungkin pemilik bar. Datangi secepatnya, katanya." Zean menyampaikan hal itu sebelum benar-benar mengunci pintu. Tinggal seorang perempuan bermata sewarna crimson itu, dengan alat pel yang masih di tangan. Pikirnya, ia harus menyelesaikan pekerjaannya terlebih dulu sebelum menghadap seseorang yang ingin bertemu dengannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN