Midnight 2: Missing Him

1559 Kata
Alat pel yang digerakkannya maju-mundur tak terusik tentang kata "pertemuan" yang tiba-tiba terbersit di pikirnya. Ia teringat masa-masa di mana organisasi bawah tanah yang sedang berjaya di masanya, Abbys Ground—tempatnya bekerja. Di mana ia bertemu dengan seorang lelaki berambut cepak hitam yang kemudian menyelamatkannya dikala ia terdesak ketika menyelesaikan misi. Lelaki yang ketika berhasil menyelamatkannya mengedipkan mata dan berujar "Sampai jumpa Scythellica", kemudian pergi dalam bayang malam gelap. Lelaki yang dengan wajah yang kurang mendukung untuk sebuah kemisteriusan karena wajah konyolnya, tetapi tetap sebuah teka-teki bagi Mina. Ia pikir, cerita di mana ada seorang laki-laki yang menyelamatkan perempuan di kala kesulitan hanya ada dalam novel murahan. Namun, keberadaan lelaki itu di kehidupannya, mematahkan anggapannya. Lelaki itu juga yang ia cari-cari keberadaannya ketika ia gagal dalam misinya, tertangkap dan divonis penjara. Lelaki yang tak terasa, ia rindukan keberadaannya ketika menggoreskan kapur di dinding dingin penjara, menghitung waktu yang telah terlewat. Terkadang ia merasakan ribuan kupu-kupu meribut dalam perutnya saat mengingat kedip genit lelaki itu untuknya. Sesekali jantungnya memompa darah lebih kencang dari biasa ketika ia berpikir, mengira-ngira rencana apa yang akan dilakukan lelaki itu untuk membebaskannya dari bilik kecil berteralis itu. Dan kadang ia menjerit selayak gadis polos yang pertama kali merasakan cinta, di waktu ia membayangkan harinya yang mungkin sedikit berwarna bila ia sudah bebas, bersamanya. Namun, tubuhnya memang tidak bisa membohongi pandangan dan waktu. Sepuluh tahun hingga ia terbebas dari kurungan, usianya sudah tak lagi muda. Garis kerut halus telah menjajah wajah, tentunya juga karena dalam penjara ia tidak bisa melakukan perawatan muka seperti biasa. Begitupun dengan punggung tangan. Ia hanya bisa melenguh dan mulai melakukan perawatan anti penuaan. Perawakannya berubah, tetapi tidak dengan perasaannya. Meski dirasa mustahil, ia ingin bertemu kembali dengan orang itu, lelaki yang selalu menyelamatkannya. Ia tidak mau peduli bila lelaki itu sudah bersama perempuan lain dengan anak dalam pangkuan. Ia hanya ingin mengungkapkan kata yang tak sempat tersampaikan. Ia, seorang Mina yang mulai menua. Masih mencintai lelaki itu. Ia terjaga dari lamunan tentang lelaki itu ketika jam kuno yang menempel di dinding berdenting hingga dua belas kali, bertepatan dengan sudut terakhir lantai yang ia bersihkan. Artinya, berakhir juga pekerjaannya hari ini. Ia berjalan ke sudut belakang lemari untuk menempatkan alat pel. Setelahnya, sambil mengurut bahu kirinya yang pegal ia berjalan menuju tangga untuk mencapai lantai tiga, ruangan sang manajer. *** "Tuan Bob?" Mina berseru dari luar disertai ketukan ke pintu beberapa kali. "Ooh, masuk saja, Mina." Mendapat perizinan, Mina memasuki ruangan kerja milik Bob, tak lupa mengunci pintu kemudian. Tampaklah dari kedua netranya ruangan dengan nuansa klasik yang interiornya kebanyakan dipenuhi oleh furnitur kayu dan benda porselen berwarna cokelat. Dilengkapi dengan buku-buku yang tersusun rapi dalam rak tinggi di belakang kursi yang manajer tua itu duduki menambah kesan bahwa pemiliknya bukanlah manajer bar pinggir kota biasa. Tanpa permisi—seperti yang sudah biasa ia lakukan ketika sudah di dalam ruang manajernya—ia duduk di sofa yang menghadap Bob yang duduk di belakang meja, meraih sebuah kaleng bir yang tersusun di atas meja kecil di depannya. Menenggaknya, membiarkan rasa pahit sekaligus membakar melewati kerongkongan. "Kudengar dari Zean ada seseorang yang mencariku." Mina menyandarkan tangannya di sandaran sofa, membiarkan kaleng birnya seperti menggantung di tangan. "Ya." Bob hanya membalas singkat, tetapi pandangannya tak lepas dari perempuan berkuncir di depannya yang kini mengernyitkan dahi. "Orang yang seperti apa? Kuharap tidak ada hubungannya dengan masa laluku." Ia paling menghindari orang-orang dari Abbys Ground. Baginya yang sudah kembali ke jalan yang sedikit benar—sebagai bartender, bertemu dengan orang-orang itu hanya mengingatkan dirinya yang bersimbah darah targetnya dan tangis keluarga yang merasa dunia sungguh tidak adil karena sanak familinya mati di tangan dingin Mina. Abbys Ground yang tersisa hanyalah sampah baginya, termasuk dirinya sendiri. Hanya setelah keluar dari penjara, ia berpikir ia harus membersihkan diri dari label sampah itu. Ralat—tidak semua dari Abbys Ground yang ia hindari, seperti Zean, Bob dan tentunya lelaki misterius itu, yang sampai sekarang tak terbayarkan rindunya padanya. Hanya tiga orang itu. "Tuan, apa anda mendengarku?" Ia memutuskan untuk berdiri, mendekati Bob yang tak terdengar suara olehnya. Barulah Mina menyadari bahwa mata lelaki tua itu tertutup disertai dengkur halus darinya. "Tuan?" Mina yang menepuk-nepuk bahu Bob membuat lelaki tua itu tersentak, mengerjap-ngerjapkan matanya. "Ooh, maafkan aku, Mina. Aku tertidur. Menunggumu datang membuatku mengantuk." Bob terkekeh karena menyadari kelakuan konyolnya, kemudian melepas kacamatanya yang masih menenggeri hidung. "Maafkan aku." Mina meminta maaf dengan nada datar. Bob meninggalkan kursinya, lalu berujar, Sepertinya aku akan kena marah karena menahanmu terlalu lama di sini. Dengan tertawa garing, ia berjalan ke dinding sebelah kanan yang bercorak tidak sama dengan sekitarnya. Memencet sebuah tombol kecil yang Mina tidak tahu bagaimana Bob dapat mengenal tombol sekecil itu—hingga berbunyi beep dan terbukalah dinding itu—lebih tinggi dari kepalanya. "Masuklah, aku harus mengurus yang lain." Alibinya meninggalkan Mina karena tak ingin akan kena semprot orang yang memanggil perempuan itu. Ketika tepat kakinya menginjak ruangan, pintu otomatis tertutup, hingga tidak kelihatan sama sekali bahwa ia tadi masuk lewat pintu. Mina mengernyit karena ia tidak menyangka bahwa bar pinggir distrik ini ternyata memiliki teknologi yang terbilang maju. Melihat ke sisi kiri, ia baru mengetahui ada seseorang yang berdiri menghadap jendela besar yang tak terhalang tirai. Mematung dengan menatap ke luar, mengamati pinggir Distrik Craven yang belum juga tidur, terlihat dari mobil-mobil yang masih berseliweran di jalan, memantulkan cahaya dari lampunya. "Permisi." Mina kemudian melanjutkan, "Saya Mina. Apakah anda yang mencari saya?" Seseorang itu, tanpa Mina ketahui tersenyum tipis. "Aku tahu. Aku memang memanggilmu." Seseorang yang berambut kelabu—hampir putih, panjang dan diikat itu berbalik perlahan. Dari tubuhnya yang dikenakan setelan tuksedo hitam, terlihat sedikit membungkuk ditambah kedua tangan yang disampirkan di belakang. Kembali tersenyum tipis—nyaris membentuk seringai menghias wajahnya—dapat ditebak orang itu bukanlah seseorang yang mengerti bagaimana tersenyum pada seorang wanita dengan benar. "Lama tidak berjumpa." Lelaki di depannya mendekat beberapa langkah. "Duduklah," perintahnya pada Mina yang sedikit terperangah melihat lelaki itu. "Apakah kita pernah bertemu sebelumnya, Tuan?" Mendengar pertanyaan itu membuat lelaki itu menaikkan alis. "Menurutmu bagaimana? tanya balik lelaki itu." "Tidak—mungkin iya, saya hanya pernah melihat anda di sudut dekat pintu masuk... berdiri." Mina mengujarkan hal itu dengan bercicit di akhir. "Ya, anggap saja begitu." Ia mendekati sofa, duduk berhadapan dengan perempuan yang masih memakai seragam bartender. "Kupikir Zean sudah memberitahumu." Lelaki itu mengangguk-angguk. "Yah, terlalu berlarut-larut untuk membahas siapa diriku. Aku hanya ingin memberikan ini." Dari bawah meja kecil, terdapat lemari yang dikeluarkannya sesuatu. Sebuah kotak pakaian. "Aku ingin kau menggantikan Susan yang kupindah ke bar, dan kau menjaga cafe sehari penuh. Sebagai gantinya, kau tidak perlu bekerja di bar." "Ap-apa?" kedua mata sewarna crimson itu membesar mendengar perintah itu. Bibirnya sedikit terbuka, tidak menyangka dengan apa yang baru saja tertangkap di auditorinya. "Ini permintaan mutlak," tandasnya, dengan menyilangkan kedua kaki. Tetap menatap Mina yang masih tidak percaya dengan apa yang ia dengar, menunggu jawaban. Sebenarnya, dalam pikirnya ia tidak keberatan dengan yang ditawarkan lelaki itu. Hanya saja, ia memikirkan bagaimana untuk tabungan uang sekolah untuk Claire. Menjadi seorang bartender memang cukup untuk itu, hanya saja ia pun bekerja dengan shift di cafe untuk menambah keperluan yang lain. Dengan hanya bekerja seharian di cafe, ia tidak yakin apakah masih bisa menghidupi ia dan adik asuhnya sendiri. Ia tidak bisa membayangkan Claire yang bersedih atau bahkan ikut bekerja tetap sebagai bartender untuk dirinya sendiri karena kebutuhan yang tak tercukupi. Ia begitu menyayangi Claire. Hanya anak itu yang membuatnya tetap merasa waras dan selayaknya manusia biasa selepas dari penjara. Terlintas di pikirannya untuk bekerja di tempat lain yang menawarkan gaji lebih besar, tetapi ia urungkan. Memangnya ada yang mau menerima dirinya yang bekas penjahat? "Aku mengerti. Kau mencemaskan anak itu, kan? Tenang saja, setelah kau menerima ini, aku akan menanggung biaya sekolahnya." Mina yang awalnya menunduk merenung, menilik ke depan dengan pandangan bertanya-tanya. Mencari keseriusan akan pernyataan oleh lelaki yang di depannya itu. "Percaya saja. Kau hanya perlu memakai kostum ini, dan bagianmu di rak pastry." Perempuan itu mengangguk, mendekatkan kotak berisi kostum warna warni itu hingga tepat di hadapannya. Ketika ia mengangkat pakaian itu, didapatinya kostum seperti jumpsuit pendek yang didominasi warna cokelat dan merah muda, berhias aneka imitasi kue dan cone es krim di bagian bahu kanan. Menilik ke bawahnya, ia menemukan wig panjang merah muda dengan ombre hijau pastel di bagian poni. Ia tertegun awalnya, kemudian membuang napas. Pasrah dengan yang akan terjadi nanti ketika ia harus memakai pakaian seperti itu dan berpikir akan menambah dosis obat dan krim anti kerutan untuk wajahnya. Artinya, ia harus mengeluarkan uang lebih untuk itu. Tidak mengapa, lirihnya dalam hati. Itu lebih baik daripada diejek nenek tua berpakaian nyentrik oleh pengunjung nantinya. "Dan kapan saya harus mulai bekerja?" "Besok. Jangan lupa wignya, dan sabitmu perlu dihias juga. Setiap pagi sampai jam 10 kau menjaga pintu dengan membagikan donat ke pengunjung, seperti yang biasa Susan lakukan." "Akan saya lakukan. Mina menutup kotak berisi pakaian itu." "Baiklah, kau boleh pergi." Lelaki itu kembali tersenyum—tepatnya menyeringai. Ia beranjak berdiri, meninggalkan Mina yang ikut berdiri sembari mengangkat kotak berisi pakaian. "Permisi." Ketika berbalik, Mina sedikit kaget ketika didapatinya pintu otomatis di depannya telah terbuka. Sedang ia sudah keluar dari ruangan itu, sang lelaki berambut perak itu menatapnya dari belakang. Tak terdengar oleh Mina bahwa lelaki itu bergumam pelan, "Cantik seperti biasa." Dengan seringai yang tak juga lepas darinya, ia melanjutkan, "My Scythellica."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN